top of page

Hasil pencarian

9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pionir Sarung Tangan Kiper

    IBARAT belahan jiwa bagi seorang kiper, sarung tangan selalu menemani dalam segala situasi kemelut di muka gawang. Sebuah perlengkapan sepele dan jarang diperhatikan orang namun bagian tak terpisahkan dari kiper dalam sepakbola dan menarik sejarahnya, sampai PSSI mengunggah pengetahuan asal-mula sarung tangan kiper lewat berbagai akun media sosialnya. Menurut keterangan yang diunggah PSSI, kiper pertama yang menggunakan sarung tangan adalah Amadeo Carrizo, kiper River Plate dan timnas Argentina, pada tahun 1940. “Sarung tangan berbahan wol tersebut digunakan sebagai penghangat untuk menghadapi cuaca dingin. Bahkan jari tangan para penjaga gawang dapat terasa beku hingga kesulitan saat menangkap bola. Seiring berjalannya waktu, pada 1973, perusahaan sarung tangan asal Jerman menggandeng Sepp Maier, penjaga gawang timnas Jerman Barat untuk merancang sarung tangan khusus penjaga gawang sepak bola. Sarung tangan ini dirancang agar bisa membantu dan meningkatkan performa di bawah mistar gawang,” tulis PSSI di Facebook , Twitter dan Instagram-nya , Selasa (14/7/2020). Baca juga: Kiper Der Panzer Keblinger Blunder Disebutkan kiper pertama yang mengenakan sarung tangan adalah Amadeo Raúl Carrizo asal Argentina  (Foto: Facebook PSSI) Entah admin PSSI mencomot sumber dari mana, informasi yang diunggah tidak tepat. Kiper sudah menggunakan sarung tangan jauh sebelum era Carrizo. Perusahaan peralatan olahraga yang pertamakali merancang sarung tangan pun bukan dari Jerman. Bukan Sekadar Penghangat Sarung tangan bukan perlengkapan kiper yang diwajibkan FIFA lewat regulasinya sampai saat ini. Dalam “Equipment Regulations” FIFA , kiper diperbolehkan memakainya, boleh juga tidak. Warna sarung tangan yang diperbolehkan adalah warna apapun kecuali warna serupa dengan jersey . Banyak kiper mencopot sarung tangannya, semisal Ricardo Pereirakiper Portugal di Euro (Piala Eropa) 2004. Untuk pemain non-kiper, sarung tangan lazimnya dikenakan sebagai penghangat ketika udara dingin. Tetapi bagi kiper, sarung tangan lebih dari sekadar penghangat. Ia merupakan pelindung terpenting selain deker di tulang kering. Oleh karenanya maka teknologi dalam sarung tangan terus dikembangkan produsen sejalan dengan sepatu bola dan jersey. Baca juga: Kiper Brasil yang Dilaknat hingga Akhir Hayat Dimulai dari berbahan wol, sarung tangan kiper terus disempurnakan dengan menggunakan bahan kulit, karet, hingga dilengkapi fitur pelindung tambahan di bagian jari-jarinya. Tujuannya mencegah jari membengkok atau patah ke arah belakang. Contohnya adalah sarung tangan evoDISC buatan Puma, produsen alat olahragaasal Jerman, yang kemunculannya pada 2017 bikin heboh ketika mulai dipakai Petr Cech, kiper klub Inggris Arsenal. Keunggulan sarung tangan evoDISC yakni bagian punggung tangannya dilapisi lateks sebagai pelindung dan di pergelangan tangan dilengkapi sistem cakram evoDISC untuk menyesuaikan ukuran tangan. Jadi untuk mengencangkan sarung tangan, tak lagi pakai velcro atau strap pelekat “kreket”. Sarung tangan buatan William Sykes pada 1885 (kiri) & yang termutakhir evoDISC buatan Puma pada 2017 (Foto: dpma.de/puma.com ) Sebagaimana sepakbola modern itu sendiri, sarung tangan kiper pertamakali dibuat dan dipatenkan desainnya di Inggris. Mengutip situs Deutsches Patent- und Markenant , adalah Wm. Sykes & Sons, pabrik peralatan olahraga asal Inggris, yang pertama mendesain dan mematenkannya pada awal 1885. Pabrik milik pebisnis Inggris William Sykes (sejak awal abad ke-20 merger menjadi Slazenger) ini mulanya memproduksi alat olahraga kriket berbahan kulit. “William Sykes mematenkan sepasang sarung tangan kulit untuk kiper. Sarung tangannya dilapisi karet India untuk perlindungan dan bantalan (tangan kiper),” tulis situs itu. Baca juga: Skandal Kiper Cile Robert Rojas demi Piala Dunia Namun, masih jadi misteri apakah saat itu sudah ada kiper yang menggunakannya di kompetisi resmi atau belum, lantaran Sykes tak memproduksi massal. Kiper pertama yang mengenakan sarung tangan yang pasti bukan Carrizo (1945) yang hanya menggunakannya kala suhu di lapangan amat dingin alias bukan saban pertandingan. Situs goalkeepersdifferent.com mengungkapkan, kiper pertama yang tercatat memakai sarung tangan adalah Archibald ‘Archie’ Pinnell. Kiper asal Skotlandia itu mulai mengenakan sarung tangan wol kala membela Chorley FC di Liga Lanchasire tahun 1894. Dokumentasi yang diunggah di laman klub menjadi bukti, Pinnell tampak mengenakannya ketika terduduk membelakangi gawang. Tidak hanya mengenakan sarung tangan, ia juga sudah melindungi kakinya dengan sepasang deker. Archi Pinnell pada 1894 (kiri) & Leigh Richmond Roose pada 1905 (Foto: Chorley FC/Repro "For Club and Country: Welsh Football Greats") Selain Pinnell, kiper yang acap mengenakan sarung tangan adalah Leigh Richmond ‘Dick’ Roose, ketika mengawal mistar gawang Stoke City pada 1905. Kiper asal Wales itu, disebutkan dalam Dictionary of Welsh Biography , merupakan kiper nyentrik dan kerap beraksi nekat demi menyelamatkan gawangnya. Roose biasanya membawa sepasang sarung tangan wol putih ke dalam lapangan. Seringkali Richmond juga mengenakan mantel wol ketika bermain di cuaca dingin. Pada 1930-an, beberapa kiper mulai mengenakan sarung tangan berbahan kulit lantaran bahan wol mudah basah ketika hujan. Selain Carlo Ceresoli (Timnas Italia/Inter Milan), ada Giampiero Combi (Italia/Juventus), dan Anders Rydberg (Swedia/IFK Göteborg) di Piala Dunia 1934. Baca juga: Lev Yashin, Raja Diraja Pengawal Mistar Dunia Meski begitu, sarung tangan wol masih lebih dominan dipilih kiper, utamanya kiper-kiper di Inggris pasca-Perang Dunia II. Pasalnya, sarung tangan wol dianggap lebih lengket ketimbang sarung tangan kulit ketika hujan dan bola basah. “Memang terasa licin ketika kondisi kering tapi Anda akan mendapat manfaat yang lebih di waktu basah (karena hujan). Saya pribadi lebih sering meninju bola tapi itupun akan lebih beresiko dan berbahaya tanpa sarung tangan di waktu hujan,” tutur Gordon Banks , kiper timnas Inggris era 1961-1972, dalam Charlie Buchan’s Soccer Gift Book. Sepp Maier sudah menggunakan sarung tangan khusus kiper di Piala Dunia 1974 buatan Reusch (Foto: fifa.com ) Pada 1973, sarung tangan khusus kiper muncul, dibuat oleh perusahaan Jerman Reusch. Bekerjasama dengan kiper Jerman Josef ‘Sepp’ Maier, Reusch mengembangkan sarung tangan dengan bantalan berbahan karet untuk pelindung telapak tangan. Pengembangan berawal dari eksperimen unik Maier. “Mulanya saya mengeringkan bola dengan handuk dan ternyata handuknya menempel ke bolanya. Jadi saya punya sarung tangan dengan bahan ini,” papar Maier dikutip Paul Simpson dan Uli Hesse dalam Who Invented Stepover and Other Crucial Football Conundrums? “Lalu Gebhard Reusch berkolaborasi dengan Maier yang hasilnya pada 1973 menghadirkan sarung tangan kiper dengan nama Maier. Di waktu yang bersamaan juga muncul eksperimen dari kiper Jerman lain, Wolfgang Fahrian. Ia bermitra dengan pebisnis alat olahraga Kurt Kränzle, di mana eksperimennya menggunakan lembaran karet yang lazimnya terdapat di raket tenis dan dilem ke sarung tangan untuk daya cengkeram bola yang lebih baik,” lanjut Simpson dan Hesse. Sejak saat itu sarung tangan kiper pun berkembang dengan beragam fitur. Besarnya pasar dan keunikannya yang mensyaratkan fitur-fitur tertentu mendorong hampir semua produsen alat olahraga di dunia terjun ke dalam bisnis sarung tangan kiper. Dengan menggandeng kiper-kiper ternama, yang namanya acap tertera di tiap sarung tangan, para produsen berlomba-lomba menyuguhkan teknologi termutakhir dibalut dengan unsur fesyen lewat sarung tangan produk mereka sehingga sarung tangan kiper “ngetren” di tiap laga sepakbola. Baca juga: Kiper Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

  • Datang ke Medan Terjerat Pelacuran

    Lagi-lagi selebriti tanah air tersandung kasus prostitusi. Seorang artis FTV berinisial HH yang juga selebgram tenar kena ciduk polisi. Sang artis kedapatan melakukan perbuatan asusila dengan seorang pengusaha di kamar hotel bintang lima di kota Medan. Sejatinya jejak prostitusi di Medan dapat terlacak sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Ketika itu, Medan masih berupa kampung lahan perkebunan untuk tanaman tembakau Deli. Dalam panen perdananya, tembakau Deli laku keras ketika diekspor ke pasaran Eropa. Sejak itulah, permintaan pun kian meningkat. Untuk mengupayakannya tetap stabil, para tuan kebun memerlukan pasokan tenaga kerja. Mempekerjakan buruh perempuan jadi pilihan karena perempuan lebih teliti untuk pekerjaan ringan dan mau dibayar murah. Prostitusi di Perkebunan Pada 1873, para tuan kebun mendatangkan pekerja perempuan yang berasal dari Jawa. Kuli perempuan ditugaskan untuk menyortir daun tembakau atau mengambil ulat hama. Upah mereka terbilang kecil, hanya setengah dari upah yang diterima kuli laki-laki. Lagi pula, kuli perempuan tidak diberi fasilitas tempat tinggal sehingga harus membaur dengan kuli laki-laki. Maka tidak heran, untuk memenuhi kebutuhan dasar, para kuli perempuan terpaksa melacurkan diri di lingkungan pekerja kebun. “Menurut anggapan yang berlaku di perkebunan; semua kuli perempuan adalah pelacur, atau terpaksa menjadi pelacur,” tulis Jan Breman dalam  Menjinakan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20.  “Walaupun demikian, para tuan kebun memanfaatkan juga pelacur kontrak itu untuk memuaskan nafsu seksual mereka, yang berarti bersaing dengan dengan kuli lelaki.” Menurut Ann Laura Stoler dalam  Kapitalisme dan Konfrontasi di   Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979 , banyak dari kuli perempuan yang datang dari Jawa ke Medan karena tipu daya. Sebelum hijrah, mereka dijanjikan pekerjaan sebagai buruh perkebunan dengan upah tinggi. Setiba di perkebunan, kenyataan berbicara lain. Mereka menjadi alat untuk membuat kuli laki-laki betah bekerja di kebun. Dengan demikian, para kuli bersedia memperpanjang kontraknya. Tenaga para kuli yang mengerjakan lahan perkebunan mengubah wajah kampung Medan. Memasuki abad 20, tanah rawa yang subur itu menjadi kota koloni yang ramai. Pada 1891, Sultan Deli, Makmun Perkasa Alam memindahkan pusat pemerintahannya dari Labuhan ke Medan. Pada 1 April 1909, Medan memperoleh statusnya sebagai  gementee  (kota) baru. Dalam Sejarah Medan Tempo Doeloe, Tengku Luckman Sinar mencatat, dalam sekejap saja berduyun-duyun maskapai-maskapai dan pengusaha asing meminta tanah yang baik dan subur kepada Sultan Deli agar diizinkan membuka lahan perkebunan. Sepanjang jalan raya antara Labuhan dengan Medan telah penuh dengan rumah-rumah pelacuran dan rumah-rumah judi. “Kuli-kuli yang baru gajian, sekejap mata telah kehilangan gajinya sehingga terpaksa harus menandatangani kontrak baru,” tulis Luckman Sinar. Prostitusi di perkebunan menyebabkan munculnya berbagai penyakit kelamin danpenyakit sosial seperti maraknya kelahiran “anak-anak kebon” hingga tindakan kriminal. Surat kabar Pewarta Deli  3 September 1916 memberitakan maraknya pencurian di toko-toko di Medan. Pencurian terjadi karena gaya hidup kuli perkebunan yang suka menghamburkan uang di meja judi dan pelacuran.   Medan Kota Metropolitan Memasuki zaman Indonesia merdeka, kota Medan terus berbenah. Di era Orde Baru, pertumbuhan ekonomi meningkat pesat. Lazimnya kota-kota besar, gaya hidup hiburan malam pun ikutan berkembang di Medan. Tempat-tempat hiburan seperti klub malam, diskotik, salon kecantikan, panti pijat, sampai lokalisasi bermunculan di pusat kota. Di tempat-tempat seperti itulah praktik prostitusi acap kali terjadi. “Bioskop yang memutar film porno bermunculan. Bisnis hiburan malam, nyaris tak terkendali, bahkan ada yang berani menjajakan perawan gres.  Protes-protes seakan tak digubris. Hiburan bagi pria iseng, banyak digelar di klub khusus dan salon kecantikan,” tulis majalah Matra  No. 93, April 1994. Soal bursa seks, sebagaimana termuat dalam  liputan khusus Matra , Medan tampaknya tidak kalah dengan Jakarta. Matra  menyebutkan, banyak perempuan muda yang memiliki profesi ganda di Medan. Ada sarjana yang jadi simpanan pengusaha, para istri yang melakukan kerja sampingan untuk menambah penghasilan, para mahasiswi yang menutup kebutuhan uang kuliah dan hidupnya dengan profesi sebagai perempuan panggilan. Semua itu, agaknya bukanlah berita yang aneh lagi bagi masyarakat setempat. Beberapa kawasan yang diinisialkan Matra  seperti NR, NB, JA, GP, dan K adalah tempat berkumpulnya perempuan panggilan kelas tinggi.     “Kemunculan prostitusi kelas tinggi adalah konsekuensi logis dari perkembangan masyarakat, peningkatan taraf hidup, dan meningkatnya kemampuan perekonomian. Dan prostitusi kelas menengah atas itu memang menjadi ciri khas kota besar,” ujar dr. Baren Ratur Sembiring, ahli kebidanan dan penyakit kandungan kepada Matra . Selain itu, prostitusi jalanan di Medan masih jadi pilihan bagi Perempuan Seks Komersil (PSK) yang tidak memiliki akses di tempat hiburan. Menurut Yuyung Abdi, jurnalis foto Jawa Pos, sebelum 2008, PSK yang  menjajakan diri di pinggir Jalan Iskandar Muda dapat ditemui saat malam telah larut. Namun, setelah beberapa kali polisi pamong praja gencar melakukan razia mereka lebih nyaman menjajakan diri sekitar Jalan K.H. Wahid Hasyim atau Jalan Gajah Mada. “Razia pemkot tentu sangat melelahkan. Mengejar mereka tengah malam butuh biaya dan energi. Meski, jumlah keseluruhan pekerja seks di kawasan jalanan tidak masif. Tidak lebih dari 100 orang,” kata Yuyung dalam Prostitusi: Kisah 60 Daerah di Indonesia. Selama belasan tahun mereportase potret prostitusi di Indonesia, Yuyung mengatakan dari segi jumlah, tempat hiburan syahwat di Medan memang cukup banyak. Namun entah mengapa keberadaannya seolah "terpinggirkan”. Para PSK tidak banyak bermain di kota tersebut. Mereka lebih memilih Batam, yang barangkali lebih menjanjikan dari sisi lancarnya arus rezeki prostitusi. Kendati demikian, prostitusi jalanan di Medan masih tetap awet sampai saat ini.

  • Menanti Gelar Pahlawan Nasional untuk Ali Sastroamidjojo

    Sumbangsih Ali Sastroamidjojo terhadap Republik Indonesia (RI) tak bisa dianggap enteng. Selain dikenal sebagai tokoh pejuang sejak era pegerakan, berbagai jabatan menteri dalam sejumlah kabinet, jabatan formatur, hingga menjadi diplomat telah diemban lelaki berjanggut lebat itu. Sayangnya, sejarah Republik ini mengingat Ali hanya sebatas Wakil Ketua Mejlis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), seperti terukir di tempat peristirahatan terakhir Ali di Taman Makam Pahlawan Kalibata: “Ali Sastroamidjojo SH, eks Wakil Ketua MPRS”. Sejatinya peran Ali tidak hanya sebatas wakil ketua MPRS periode 1960-1966 saja. Ketika berkuliah di Negeri Belanda dia sudah aktif di Perhimpunan Indonesia bersama Mohammad Hatta. Sebagai wadah pergerakan nasional pertama bangsa Indonesia, PI membangun kesadaran perjuangan Ali. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein, Ali juga aktif di Partai Nasional Indonesia (PNI), menemani Bung Karno selama zaman pergerakan. Tidak hanya berperan aktif di tubuh PI dan PNI, Ali juga pernah dipercaya menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada kabinet Amir Sjarifoeddin (1947-1948) dan kabinet Hatta I (1948-1949). Bahkan selama proses perundingan dengan Belanda, Ali tercatat sebagai anggota delegasi RI dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Dia pun diketahui sebagai duta besar pertama Indonesia untuk Amerika Serikat. “Jelas dalam sejarah Indonesia, Ali Sastroamidjojo adalah seorang nasionalis,” tutur Rushdy saat mengisi acara webinar Dialog Sejarah “Ali Sastroamidjojo yang Terlupakan” di historia.id . Ali Sastroamidjojo pernah ditunjuk menjadi formatur kabinet. Jabatan Perdana Menteri itu dijalankan sebanyak dua kali (1953-1955 dan 1956-1957). Bahkan ketika menjabat formatur di kabinet keduanya, Ali juga merangkap menjadi Menteri Pertahanan. Pernah juga Ali Sastroamidjojo diangkat sebagai Menteri Penerangan. Di dalam tugasnya sebagai PM, kabinet Ali berhasil menyelenggarakan pemilu pertama pada 1955. Satu sumbangsih terpenting Ali bagi kedaulatan Indonesia adalah Konferensi Asia Afrika (KAA). Menurutnya, ide penyelenggaraan KAA muncul ketika dia hadir dalam konferensi lima negara (India, Sri Lanka, Burma, Pakistan, dan Indonesia) di Colombo tahun 1954. Diceritakan di dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku , gagasan untuk melanjutkan dan mempererat kerjasama antara negara-negara Asia-Afrika segera disampaikan Ali. “… Alhasil, Pak Ali ini betah di mana saja dan menjalankan semua tugas dan tanggung jawab yang diberikan,” imbuh Rushdy. Namun beberapa perwakilan delegasi meragukan gagasan Ali tersebut. Banyak yang merasa jika ide bagus itu akan sulit untuk dipraktekan. Bahkan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru khawatir konferensi itu hanya akan menimbulkan perbedaan pandangan di antara negara-negara Asia-Afrika, yang malah menimbulkan perpecahan. Menolak menyerah, Ali terus melakukan pendekatan-pendekatan diplomatik secara lebih intim kepada seluruh kepala negara peserta Konferensi Colombo. Dia mencoba memberi pemahaman tentang ide konferensi yang coba digagasnya. Hasilnya, seluruh peserta menyutujui diadakannya KAA dan sepakat memilih Indonesia sebagai tuan rumah pertama perhelatan akbar diplomasi negara-negara di Asia dan Afrika. “Waktu dibicarakan dengan Presiden Sukarno tentu saja dia sangat setuju dengan ide Pak Ali tersebut. Pastinya itu sesuai dengan misi Bung Karno yang ingin memosisikan Indonesia sebagai garda terdepat pembebasan negara-negara Asia-Afrika yang saat itu banyak yang masih dijajah negara-negara Barat,” ujar Rushdy. Proses Gelar Pahlawan Meskipun demikian, hingga kini Ali Sastroamidjojo belum dianugerahi gelar pahlawan nasional. Menurut Tarida Ali Sastroamidjojo (salah seorang cucu Ali), proses pengajuan sedang berlangsung. Sejumlah kendala sempat dihadapi pihak keluarga, sehingga pelaksanaan pengajuan sang kakek sempat terhambat. Awalnya, tutur Tarida, pihak keluarga tidak merasa perlu untuk mengajukan gelar pahlawan nasional untuk sang kakek. Baginya, perjuangan Ali untuk kemerdekaan sudah tentu dilakukan secara ikhlas, semata-mata bagi bangsa Indonesia. Dia dan keluarga besar baru terpikir melakukan pengajuan setelah beberapa pihak menyarankan untuk mengajukan gelar pahlawan tersebut. Kali pertama usulan gelar pahlawan nasional tersebut datang di tahun 2010, ketika keluarga besar Ali diundang hadir pertama kali dalam acara peringatan KAA di Bandung. Setelah proses diskusi panjang, barulah pada 2013 keluarga sepakat mengurus pengusulan gelar pahlawan nasional untuk Ali Sastroamidjojo. “Motivasinya besar, jasa-jasa beliau; beliau tidak pernah berkhianat, tidak pernah berbuat sesuatu yang melawan kebijakan pemerintah, dan sebagainya, Alhasil, Ali itu sudah memenuhi syarat,” ujar Rushdy. Secara administratif, proses pengajuan gelar pahlawan memang cukup sulit. Menurut Rushdy prosedur yang harus dipenuhi biasanya membuat pihak keluarga enggan untuk mengurusinya. Belum lagi waktu yang lama, serta hambatan-hambatan lain yang mengharuskan pihak pengusul mencurahkan waktu dan tenaga di dalam prosesnya. Salah satu pihak yang secara serius melakukan pengusulan gelar pahlawan untuk Ali adalah GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Dilansir laman resmi GMNI , pihaknya telah melakukan langkah audiensi dengan Kementerian Sosial bidang Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan, dan Restorasi Sosial (K2KRS). Direktur K2KRS, Joko Irianto, yang turut hadir dalam audiensi tersebut, menyebut Kemensos menyambut baik usulan tersebut. Dia juga menuturkan jika syarat-syarat pengusulan tersebut harus ditempuh sesuai prosedur agar dapat diterima kemudian ditetapkan. “Kita dari Kemensos selalu terbuka untuk menerima setiap masukan usulan gelar pahlawan nasional. Selanjutnya tinggal melengkapi persyaratan yang dibutuhkan, serta melaksanakan langkah-langkah sesuai yang diatur dalam UU No. 20 Tahun 2009,” ungkapnya.

  • Ali Sastroamidjojo, Sang Diplomat Ulung

    Tarida Ali Sastroamidjojo masih ingat kata-kata Mahendra Siregar (sekarang  Wakil Menteri Luar Negeri RI) pada suatu hari. Dalam pertemuan yang terjadi beberapa tahun lalu itu, sang petinggi Kemenlu RI itu memuji visi Ali Sastroamidjojo (Duta Besar pertama RI untuk Amerika Serikat, 1950-1953) yang telah menginisiasi pembelian tanah yang sekarang di atasnya berdiri gedung Kedutaan Besar RI di negeri Paman Sam itu. “Beliau bilang Kedutaan Besar RI di AS merupakan kedutaan milik kita yang letaknya paling strategis dari kedutaan-kedutaan RI yang ada di dunia,” ungkap cucu Ali Sastroamidjojo tersebut. Gedung yang terletak di Massachusetts Avenue No. 2020 itu memang termasuk tempat istimewa di Washington (ibu kota AS). Selain terletak di kawasan yang dikenal orang AS sebagai tempat bersejarah (eks tempat tinggal MacLean, pionir pertambangan tembaga di barat AS), juga lahan dan gedungnya sangat luas. Jauh lebih mencukupi dibanding gedung kedutaan lama yang terletak di Massachusetts Avenue No. 2523. Namun itu bukan satu-satunya peran Ali selaku seorang diplomat bagi Republik ini. Tokoh legendaris Partai Nasional Indonesia (PNI) tersebut juga memiliki peran-peran penting dalam memosisikan Indonesia di kancah pergaulan internasional. Salah satunya adalah Konferensi Asia Afrika (KAA). Menurut Ali dalam otobiografinya Tonggak-Tonggak di Perjalananku , ide KAA muncul di benaknya ketika dia diundang untuk mengikuti konferensi 5 negara (Sri Langka, India, Pakistan, Burma dan Indonesia) di Colombo. Undangan itu secara langsung dilayangkan oleh Perdana Menteri Sri Langka Sir John Kotelawala pada awal 1954. “Maka timbullah gagasan di pikiran saya untuk melanjutkan dan mempererat kerjasama antara negara-negara Asia-Afrika…” ungkap Ali Sastroamidjojo. Ide itu tidak serta mera diterima oleh para peserta Konferensi Colombo. Banyak yang meragukan bahwa ide yang dipuji bagus tersebut akan mulus saat dipraktekan. Perdana Menteri India J. Nehru bahkan mengkhawatirkan konferensi tersebut hanya akan meruncingkan perbedaan di antara  negara-negara Asia Afrika. Ali tidak patah arang. Dia kemudian melakukan pendekatan-pendekatan diplomatik kepada seluruh kepala negara peserta Konferensi Colombo. Hasilnya, seluruh peserta menyetujui diadakannya KAA dan menyepakati untuk menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan besar itu. “Waktu dibicarakannya dengan Presiden Sukarno tentu saja dia sangat setuju dengan ide Pak Ali tersebut. Pastinya itu sesuai dengan misi Bung Karno yang ingin memosisikan Indonesia sebagai garda terdepan pembebasan negara-negara Asia-Afrika yang saat itu banyak yang masih dijajah negara-negara Barat,” papar sejarawan Rushdy Hosein. Sejarah kemudian mencatat, KAA berjalan sukses.  Perhelatan internasional yang diadakan di Bandung pada 18-24 April 1955 diikuti oleh 29 negara dan menghasilkan kesepakatan bersejarah yang diberi nama sebagai Dasa Sila Bandung:   Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas   yang termuat di dalam piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional Kepiawaian Ali selaku diplomat pun terbukti saat pada Desember 1959 dia pergi ke Havana untuk menjajaki hubungan dengan Kuba yang saat itu baru saja dipimpin oleh Fidel Castro. Karena sikapnya yang luwes, dia langsung disukai oleh Fidel dan pemimpin revolusi Kuba lainnya yakni Che Guevara. “Eyang saya sampai diundang oleh Fidel ke pelosok Kuba untuk melihat langsung bagaimana situasi rakyat Kuba sesungguhnya,” ungkap Tatiek Kemal, salah satu cucu Ali sastroamidjojo. Hasil dari dari kunjungan itu, Presiden Sukarno setuju untuk membuka perwakilan negara masing-masing di Kuba maupun Indonesia. Bahkan lebih lanjut, Presiden Sukarno berkenan mengunjungi Kuba dan bertemu dengan Fidel Castro dan Che Guevara pada Januari 1960.

  • CIA Gagalkan KAA II di Aljazair

    PADA 19 Juni 1965 dini hari yang sepi terdengar berondongan senapan mesin, mungkin ke udara. Deru panser bergerak membawa tentara yang bertugas memutus semua kawat telepon yang terhubung ke istana presiden. Pasukan bersenjata menyerbu istana dan membawa Presiden Aljazair Ahmed Ben Bella yang sedang tertidur lelap. Gerakan militer itu hanya berlangsung sepuluh menit.

  • Karena Beras Pelabuhan Banyuwangi Dibom Belanda

    BILA mengingat peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang terjadi pada awal Juli, umumnya orang mengingat usaha kelompok yang berafiliasi dengan Persatuan Perjuangan (PP) Tan Malaka untuk memaksa Sukarno agar menyetujui perubahan struktur pemerintahan yang mereka ajukan. Sebenarnya, pada permulaan Juli 1946 ada kejadian lain yang juga patut diperhatikan, walaupun jauh dari ibu kota Republik Indonesia dan sangat jarang disebut orang. Kali ini tidak hanya berkenaan dengan konflik internal di tubuh kaum Republiken, melainkan dalam konteks perang Indonesia-Belanda, dengan India yang terlibat secara tidak langsung. Peristiwa itu adalah pengeboman Belanda atas pelabuhan Banyuwangi, Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung, Belanda membombardir pelabuhan itu dari laut dan udara selama tiga hari berturut-turut. Penyebabnya karena pelabuhan itu menjadi tempat penyimpanan dan pengapalan beras ke India yang menderita kelaparan. Pada April 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir, sebagai salah satu gestur diplomatik untuk meraih dukungan internasional, menawarkan bantuan beras kepada India sebanyak 500.000 ton. Bantuan itu disambut baik India yang menjanjikan bahan pakaian –yang sangat dibutuhkan Indonesia– sebagai balasan. “Diplomasi beras” Sjahrir ini penting bagi Republik Indonesia yang usianya belum genap setahun dan lautnya tengah diblokade oleh Belanda.

  • Perubahan Peran Perempuan di Nusantara

    Penelitian genetis menunjukkan kemungkinan migrasi Austronesia ke kepulauan Nusantara hingga Oceania didominasi oleh masyarakat yang menganut paham matrilineal. Ini menyiratkan bahwa perempuan berperan besar dalam kependudukan di kawasan itu. "Mereka sepertinya telah sangat mendominasi migrasi pada masa lalu. Sistem kekerabatan matrilokal atau matrilineal pun diduga mendukung fenomena itu," ujar Marlin Tolla, peneliti Balai Arkeologi Papua dalam diskusi via zoom , yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Kesimpulan itu berdasarkan sampel data DNA mitokondria yang ditemukan pada penduduk Papua. DNA mitokondria diwarisi lewat garis ibu, sedangkan DNA kromosom diwarisi dari garis ayah. Karenanya data DNA mitokondria itulah yang kemudian bisa menunjukkan adanya kontribusi perempuan dalam menciptakan dinamika demografi di wilayah persebaran para penutur Austronesia. "Berkembangnya bahasa Austronesia bisa saja adalah campur tangan sistem matrilokal," kata Marlin. Marlin menjelaskan, kependudukan manusia paling awal di Papua diperkirakan dimulai sejak 40.000-55.000 tahun lalu. Pihaknya menemukan adanya haplogroup (kelompok gen) DNA mitokondria, yakni haplogroup P, Q, dan N, tersebar sangat pesat di wilayah ini sebelum masa persebaran Austronesia. Haplogroup N diperkirakan muncul di Afrika Timur pada 55.000 hingga 67.000 tahun lalu, yangdikuatkan oleh temuan arkeologis dan genetis. " Haplogroup N adalah salah satu cikal bakal atau tertua yang ditemukan terutama di Papua hingga saat ini," kata Marlin. Tertinggi adalah haplogroup Q terutama ditemukan di dataran tinggi Papua dari sekira 28.000 tahun lalu. Didapatkan pula di dataran rendah sebagian. Sedangkan haplogroup P diperkirakan muncul sekira 45.000 tahun lalu. Persebaran terbanyak di dataran tinggi Papua. "Tentu dengan haplogroup ini berpengaruh terhadap bagaimana hubungan mereka ketika penutur Austronesia masuk ke Papua pada masa holosen," kata Marlin. Berdasarkan teori Out of Taiwan , sekira 4.000 tahun yang lalu para penutur Austronesia tiba di kepulauan Nusantara dari Taiwan, lalu menyebar hingga kepulauan Oceania. Mereka datang membawa paket budaya Neolitik, di antaranya budaya gerabah, beliung, bahasa, kemampuan berlayar, bertani, menciptakan teknologi, mengolah makanan, dan domestikasi hewan. "Sebaran penutur Austronesia kita dapatkan bahkan juga di Papua yang kita pikirkan hanya orang-orang berbahasa Papua yang hadir di sana. Nanti kita lihat dari sisi genetik," kata Marlin. Sepertinya, kata Marlin, perempuan dan komunitas yang menganut paham matrilineal merupakan cikal bakal kependudukan Austronesia di Papua. Pihaknya menemukan sebaran haplogroup B dari masa persebaran Austronesia. Adapun haplogrup B diperkirakan berasal dari Taiwan atau Cina Selatan. "Ternyata mitokondria DNA leluhur Asia sangat tinggi ditemukan sebanyak 94 persen, sementara mitokondria DNA leluhur Melanesia hanya menyusun enam persen dari garis keturunan mama yang didapat pada pemukim di Papua," kata Marlin. Adapun Y kromosom, yang menandai garis keturunan ayah, ada sebanyak 28 persen, berasal dari leluhur Asia. Kemudian 66 persennya adalah leluhur Melanesia atau penutur bahasa Papua. Artinya, kata Marlin, pengaruh perempuan Austronesia sangat kuat pada saat itu, terutama di antara penduduk Polinesia kala itu. Sebaliknya, pengaruh perempuan Melanesia sangat sedikit. "Fenomena apa ini? Apakah Austronesia perempuan sangat kuat? Kenapa laki-laki atau orang Melanesia yang berdiam di Papua sebelum kedatangan Austronesia lebih memilih mengadakan percampuran dengan penutur Austronesia perempuan yang datang?" kata Marlin. Teorinya, penutur Austronesia kemudian mewarisi sistem matrilokal atau matrilineal. Ini yang lalu mempengaruhi peranan besar perempuan dalam pengambilan keputusan, kepemilikan atas kekayaan, dan status dalam kehidupan masyarakat. Bahkan di daerah asalnya, dominasi perempuan ini tampaknya sudah ada. Ini didapati lewat temuan di situs kubur yang berada di Cina Selatan. Komunitas di sini merupakan para penutur Austronesia awal. Bekal kuburnya yang melimpah, yaitu berupa perhiasan, keramik, dan tumpukan kerang menjadi penanda status perempuan dalam komunitas itu. "Penutur Austronesia mewarisi sistem kekerabatan matrilokal atau matrilineal sebelum patrilokal terjadi seperti pada masa sekarang," kata Marlin. Pada masa kini, warisan dominasi perempuan masih bisa dilihat jelas di Papua. Misalnya, penduduk perempuan di sekitar Danau Sentani telah dikenal sebagai nelayan andal. Beberapa klan di Papua hingga Oceania juga diketahui memiliki pemimpin perempuan. Ada pula rumah adat yang diperuntukkan bagi perempuan sebagai kepala suku. Namun, karena adanya difusi budaya, respons adaptasi, gaya hidup, dan sebagainya, dalam perkembangannya dominasi semacam itu hanya dianut oleh beberapa suku di Papua dan terutama di Oceania. "Tidak ada salahnya dengan sistem patrilineal, tapi ini kadang menjadi faktor perempuan menjadi orang kedua dan tidak berperan dalam hal besar," kata Marlin. Masyarakat Agraris Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris , para antropolog telah mempelajari bahwa di masyarakat Indonesia bagian timur pembagian tugas dan kekuasaan merata antara kedua jenis kelamin. Lebih jauh, ia membandingkan perempuan yang hidup di lingkungan masyarakat agraris memang lebih bebas daripada di kota-kota niaga di pesisir. Sebagai wilayah yang juga menjadi pendaratan para penutur Austronesia, di Jawa gelar kebangsawanan juga bisa diturunkan lewat garis ibu. Ada beberapa data sejarah yang membenarkan bahwa perempuan pada masa lalu mengambil bagian besar dalam kehidupan ekonomi dan politik. Tersebutlah penguasa Ho-ling dari 674 bernama Sima (Hsi-mo) yang diyakini sebagai perempuan. Pada masa-masa berikutnya tercatat nama Sri Isanatunggawijaya dari Kerajaan Medang, sebagai perempuan pertama di atas singgasana raja yang tercatat dalam prasasti. Kemudian ada Tribhuwanattunggadewi Jayawisnuwarddhani dan Dewi Suhita dari masa Majapahit. Beberapa prasasti juga menyebut bangunan suci yang didirikan oleh para ratu ( bini-haji ). Prasasti tertua, Prasasti Teru I Tepusan (842) mencatat peristiwa dibukanya lahan persawahan milik Sri Kahulunan. "Agaknya ia adalah permaisuri raja yang berkuasa," kata Lombard. Prasasti lain menyebut peran perempuan sebagai pemilik tanah. Prasasti Taji (901) yang ditemukan di Ponorogo memberitakan pembukaan tanah untuk pembangunan candi. Tercatat nama-nama perempuan pemilik tanah yang tanahnya dibeli:Si Padas, ibunya Ni Sumeg, dan Si Mendut, ibunya Ni Mangas. Kebebasan perempuan dalam usaha juga disebut dalam prasasti. Prasasti Kinawe dari masa Kadiri (928) menyebutkan sebuah kawasan tanah milik perempuan bangsawan bernama Dyah Muatan yang ternyata penguasadari Gunungan. Dijelaskan bahwa yang bakal menjadi pewarisnya ialah putranya sendiri Dyah Bingah serta keturunan Dyah Bingah. Bukan saudara tirinya, baik laki-laki maupun perempuan, hasil perkawinan Dyah Muatan dengan suaminya sekarang. "Sebab tanah milik itu bukan kepunyaan rakryan suaminya," kata Lombard. Di luar itu, dikenal pula tokoh perempuan dalam pewayangan Jawa yang menonjol karena keberaniannya. Srikandi, salah seorang istri Arjuna, selalu siap sedia menyambar musuh dengan busurnya. "Seperti juga Srikandi, di kalangan perempuan Jawa masih tetap ada segi jantan dan semangat juangnya," kata Lombard. Diketahui juga kalau raja-raja Jawa mempunyai pasukan pengawal yang terdiri dari perempuan perkasa. Di antaranya yang terkenal adalah korps perempuan dari keraton Jawa, prajurit estri Mangkunegaran. Pengaruh yang Mengubah Lombard berpendapat kecenderungan untuk membatasi kebebasan perempuan dan mengawasi segala gerak-geriknya muncul bersamaan dengan perkembangan bandar-bandar dan agama Islam. "Bahkan di Jawa Tengah, para priyayi mengembangkan suatu kesusastraan sok moralis yang sangat seksis sifatnya dengan tujuan menampilkan perempuan sebagai makhluk yang tak pernah dewasa," kata Lombard. Lombard mengutip pepatah terkenal wong wadon iku suargane nunut, nerakane katut. Artinya perempuan itu, baik ke surga maupun ke neraka selalu mengikuti suaminya. "Mereka boleh dikatakan disisihkan dari kehidupan politik yang sebelumnya menjadi ajang mereka berkiprah," lanjut Lombard. Menurut Lombard, tak seorang pun perempuan bertakhta ketika Mataram Islam atau kota-kota di pesisir Jawa naik ke atas panggung sejarah. Terkecuali adalah Ratu Kalinyamat yang menguasai pelabuhan Jepara pada abad ke-16. Terlepas dari pendapat Lombard, ketika perkembangan budaya India di Nusantara pun kedudukan perempuan tak selalu setara dengan laki-laki. Kedudukan perempuan yang lebih rendah, salah satunya, muncul dalam praktik sati, di mana perempuan harus mengikuti suaminya hingga ajal menjemput. Jika tidak ia bukanlah istri setia. Namun, kebiasaan yang ditemukan di Jawa sedikit berubah dari asalnya di India. Menurut Titi Surti Nastiti, epigraf Puslit Akenas, dalam berita Portugis disebutkan sati tidak hanya dilakukan perempuan. Laki-laki bangsawan diketahui melakukan bunuh diri sebagai tanda setia kepada rajanya. Ada lagi anggapan kalau perempuan pada masa Jawa Kuno sering kali dijadikan hadiah untuk raja. Misalnya, dikisahkan dalam naskah Nagarakrtagama , Raja Majapahit Hayam Wuruk bersuka cita menikmati gadis-gadis ketika mampir di suatu desa dalam lawatan agungnya bekeliling negeri. Soal ini, kata Titi, konteks zaman haruslah diperhatikan. Perbuatan Hayam Wuruk kala itu belum tentu dipandang buruk. Justru mungkin ia akan dianggap sebagai raja yang dicintai. Apalagi jika mengingat Mpu Prapanca sebagai penulis Nagarakrtagama , tak akan mungkin menuliskan hal buruk tentang rajanya. Sementara itu, sejarawan Peter Carey pernah berpendapat saat acara bedah bukunya, Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Pada Abad ke XVIII dan XIX, bahwa tatanan perempuan berubah 180 derajat setelah Perang Jawa. Pada masa Hindia Belanda (1818-1942) yang menandai era kolonial sesungguhnya, Jawa mengadopsi sistem patriarki. Ini terasa pada masa berkuasanya Herman Willem Daendels (1808-1811). "Daendels mengumumkan bahwa 'perempuan tidak punya tempat dalam penghormatan umum, dengan perempuan hanya ada urusan pribadi'," kata Carey. Pilihan sebagai Manusia Modern Ayu Utami, sastrawan yang banyak mengangkat tema feminisme, dalam diskusi yang diadakan PuslitArkenas itu, berpendapat perlunya melihat apa yang membedakan kondisi dulu dengan kini. Khususnya soal apa yang membuat struktur masyarakat yang tadinya memberi peran besar kepada perempuan kemudian bergeser ketika masuknya pengaruh dari India, Arab, dan Barat? “Masyarakat Asia Tenggara memberi peran lebih besarkepada perempuan. Lalu bagaimana pergeserannya dari struktur Asia Tenggara tadi ketika bertemu dengan pengaruh India, Arab, dan Barat?” kata Ayu. Yang jelas, lanjut Ayu, kini ada hal istimewa yang dimiliki oleh masyarakat modern, yaitu kesadaran akan hak asasi manusia. Dulu, mungkin tak ada kesadaran itu sehingga bisa menjadikan perempuan tak dilihat sebagai manusia yang berdiri sendiri. Mereka dianggap dalam perlindungan tuan, suami, atau ayahnya. “Kita mendukung emansipasi, mendukung siapapun manusia mengaktualisasi dirinya tanpa diskriminasi. Itulah kesadaran modern, juga kesadaran yang dimungkinkan sistem masyarakat modern yang sudah mengakui hak asasi manusia,” kata Ayu. Menurut Ayu, dalam kehidupan modern di mana ada perlindungan langsung dari negara, pandangan lama tentang perempuan semacam itu harus diubah. “Masalah kita sekarang bagaimana menggunakan hasil penelitian tadi kepada pilihan modern atau pilihan kita hari ini. Bagaimana hasil penelitian ini mempengaruhi sikap kita dan mutu argumentasi kita dalam membuat pilihan, baik politik maupun sehari-hari,” kata Ayu .

  • Papa T. Bob, Pencipta Lagu Anak Generasi 1990-an

    Papa T. Bob, pencipta lagu anak-anak ternama era 1990-an, meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit pada Jum’at, 10 Juli 2020. Jenazahnya dimakamkan pada hari itu juga sore harinya di Tempat Pemakaman Umum Jurang Mangu Timur, Tangerang Selatan, Banten. Selama dekade 1990-an, Papa T. Bob menciptakan banyak lagu anak-anak dan menjadi hits di radio serta televisi. Lagu-lagu itu kemudian dijual dalam bentuk kaset dan laris manis di pasaran. Berkat lagu-lagunya, sejumlah nama penyanyi cilik menjadi tenar. Seperti Enno Lerian, Dhea Ananda, Leony, Alfandy, Joshua Suherman, dan Tina Toon. Papa T. Bob bernama asli Erwanda Lukas. T. Bob adalah nama anaknya. Dia menyebut dirinya Papa T. Bob setelah menciptakan lagu anak-anak untuk kali pertama pada awal 1990. Theodore K.S., pengamat musik yang pernah mewawancarai Papa T. Bob, mengatakan kepada Historia , lagu “Semut-semut Kecil” terinspirasi setelah Erwanda memperhatikan gerak-gerik T. Bob sewaktu berusia satu tahun enam bulan. Bermula dari Musik Humor dan Rock Erwanda Lukas lahir pada 22 Oktober 1960. Tak seperti pencipta lagu anak-anak generasi sebelumnya seperti Ibu Sud (Saridjah Niung), Pak Kasur, dan Pak Dal (Daldjono Hadisudibjo), dia termasuk terlambat dalam urusan mencipta lagu anak-anak. Sebab dia sebelumnya lebih sering bermesraan dengan lagu humor dan musik rock. Sebagian lagu humor itu sempat bermasalah. “Humornya nakal. Sering berurusan dengan pihak yang berwajib,” kata Theodore. Kemudian Erwanda beralih ke jalur rock dengan membentuk grup Caesar Rock Group One. Nama panggung Erwanda adalah Wanda Chaplin. Menurut Kelompok Penyanyi Jalanan dalam Catatan Seperempat Abad Kelompok Penyanyi Jalanan , Wanda Chaplin tak sungkan tampil di jalanan. Baca juga:  Ibu Sud Bahagiakan Anak Indonesia Erwanda berupaya masuk ke jalur profesional dengan menawarkan lagu-lagu rock ciptaannya kepada produser. Tapi tak seorang produser pun menerimanya. “Malah dia ditanya, ‘punya lagu anak-anak nggak ?’” terang Theodore. Di sinilah titik balik hidup Erwanda. Dia melihat ini kesempatan untuk menapak jalur profesional. Erwanda menjawab sekenanya. “Ada!” Padahal saat itu dia belum punya lagu anak-anak. “Saya pikir apa salahnya dengan lagu anak-anak? Maka saya bilang ada, jadilah ‘Semut-semut Kecil’ yang dinyanyikan Melisa dan diterbitkan Gajah Mada Records,” tulis Kompas , 12 Mei 1991. “Semut-semut Kecil” menjadi hits . Bersama terbitnya lagu itu, Erwanda meninggalkan nama Wanda Chaplin dan menggantinya dengan Papa T. Bob. Sukses lagu pertamanya bikin kepercayaan diri Papa T. Bob dalam berkarya tumbuh pesat. Dia menciptakan lagu anak-anak lainnya, seperti “Si Kodok” dan me-­ medley dua lagu anak-anak tradisional, “Cublak-Cublak Suweng” dan “Soleram”, dengan cita rasa musik pop. Tapi liriknya tetap bermuatan pendidikan. Baca juga:  Liku-Liku Hidup Ibu Sud Kombinasi Papa T. Bob ini ternyata berhasil mengerek penjualan kaset berisi empat lagu tadi. “Rata-rata mencapai angka penjualan 200.000–800.000 kopi kaset,” catat Barut Junia Sandra dalam Jenis Kalimat dan Pola Kalimat Lagu Populer Kanak-Kanak , penelitian di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1993. Karya-karya Papa T. Bob merupakan hasil kompromi keadaan pada masa itu. Sebab, saat itu dia harus mempertimbangkan pula aspek komersil lagu anak. Tapi di sisi lain, dia enggan mengurangi muatan pendidikannya. Papa T. Bob (kiri) bersama anak-anak binaannya dulu yang kini telah dewasa, Tina Toon dan Leony. (Instagram @papatbob_official) Mencari Trio Anak-anak Kaprah pada masa itu lagu anak-anak bercita rasa musik pop laris di pasaran. Tapi unsur pendidikannya sangat kurang. Lirik lagu juga menjadi lebih panjang daripada lirik lagu periode sebelumnya. Lagu ciptaan Papa T. Bob termasuk berlirik panjang. “Syair lagu anak-anak pada dekade tahun 90-an memiliki kecenderungan untuk berlawanan dengan realitas sehari-hari yang memiliki konsep yang salah terhadap pemahaman akan sesuatu,” tulis Djoko Marihandono dalam laporan penelitiannya di Universitas Indonesia, “Perkembangan Tematis Syair Lagu Anak-Anak”. Baca juga:  Mengenal Pak Dal, Pencipta Lagu Bintang Kecil Setelah selesai dengan penciptaan lagu, Papa T. Bob melangkah lebih jauh. Dia mencari anak-anak untuk menyanyikan lagu ciptaannya. “Maka dia mengintip penyanyi anak-anak yang setiap hari Minggu manggung di Pasar Seni Ancol. Keinginannya membentuk sebuah trio,” kata Theodore. Kebetulan saat itu ada tiga anak tampil: Johani, Johermin, dan Indah Pratiwi. Usia ketiganya baru menginjak sepuluh tahun. Papa T. Bob terkesan dengan kualitas vokal mereka sehingga mengajaknya masuk dapur rekaman. Dia menamainya Trio Anak Manis. Selama bersama anak-anak itu, Papa T. Bob menerapkan psikologi anak-anak. Dia tak pernah memaksa mereka untuk memenuhi misi pribadinya. “Bisa saja sedang take (merekam) vokal, mereka mengeluh capai, haus, mengantuk, dan sebagainya,” kata Papa T. Bob dalam Kompas . Dia menyesuaikan cara kerjanya dengan keadaan mereka seperti kapan harus memulai rekaman atau menghentikannya. Baca juga:  Balonku dan Rahasia Penciptaan Lagu Anak-anak Papa T. Bob membuat terobosan baru dalam penggarapan album Trio Anak Manis. Dia mengisi musiknya dengan irama disko. Tujuannya agar pasar menerima album ini. Dengan cara demikian, dia juga tetap dapat menyampaikan pesan dalam lirik lagu ciptaannya. Tercatat, selama lebih dari sepuluh tahun lagu ciptaan Papa T. Bob mendominasi pasar lagu anak-anak. Anak-anak binaannya juga tenar dimana-mana. Anak-anak Indonesia kelahiran 1980-an akhir dan 1990-an awal, hapal di luar kepala lirik lagu ciptaannya. Hilang dari Peredaran Papa T. Bob mendulang rupiah dari mencipta lagu anak-anak dan mengorbitkan anak-anak ke televisi. Dia langsung bisa menebus sebuah apartemen hanya dengan sebuah lagu. Tapi saban kali merayakan hari ulang tahunnya, dia memilih berbagi kebahagiaan dengan sesama yang kurang beruntung. “Bagi pencipta lagu anak-anak ini, ulang tahunnya cukup dirayakan di rumah yatim piatu atau dengan sunatan massal,” catat Ummat , Vol . 2, Isu 8-13. Nama Papa T. Bob sempat hilang beberapa lama pada dekade 2000-an. Inilah dekade kebangkrutan lagu anak-anak. Beberapa pencipta lagu anak-anak sudah marhum sejak dekade sebelumnya. Sementara itu, industri televisi juga mulai menyingkirkan beberapa acara anak-anak dan enggan menayangkan lagu anak-anak. Baca juga:  Lima Dekade Lagu Anak-anak Indonesia Masa itu Papa T. Bob terbelit sejumlah kasus dan tuduhan tak sedap: pelecehan, perjudian, dan penipuan. Dia sempat aktif kembali menulis lagu pada 2005. Tapi masa jayanya sudah lewat. Lagu-lagu itu tak laku. Kondisi ekonominya merosot. “Saya tidak bisa hidup lagi di dunia orang kaya. Dunia saya sekarang ada di warteg (warung tegal),” kata Papa T. Bob dalam Tabloid Bintang, 9 Juni 2010. Ketika kekerasan terhadap anak-anak mulai jadi perhatian orang di negeri ini, Papa T. Bob muncul lagi. Dia membuat satu lagu khusus berjudul “Anti Kekerasan Anak” pada 2014. Setelah itu, nama Papa T. Bob lenyap lagi dari peredaran. Dia mengidap penyakit diabetes dan harus menjalani perawatan rutin. Semua sakit Papa T. Bob berakhir Jum’at kemarin. Dia wafat meninggalkan lagu-lagu anak-anak hasil kompromi zaman. Anak-anak yang pernah mendengar lagu ciptaannya dulu, kini telah tumbuh dewasa. Melalui media sosial, mereka mengungkap rasa kehilangannya. Selamat jalan, Papa T. Bob.

  • Kisah Sunyi Ali Sastroamidjojo

    Mendung membekap Jakarta senja itu. Matahari malas menampakan diri. Di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sunyi terasa ketika beberapa laki-laki dan perempuan berdoa pada sebuah makam. Wajah-wajah syahdu tefekur dalam diam, memandang lurus nisan putih bertuliskan: Ali Sastroamidjojo SH, eks Wakil Ketua MPRS. Sejatinya hidup Ali Sastroamidjojo adalah kisah sunyi yang nyaris tak tersampaikan. Terlalu sempit sumbangsih-nya jika hanya dibatasi sekadar jabatan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Terlebih dalam sejarah Indonesia, namanya lekat sebagai pejuang empat zaman dan ikut membidani kelahiran bayi Republik Indonesia. “Pak Ali itu satu angkatan dengan Bung Karno. Pada zaman pergerakan, mereka sama-sama aktif di PNI (Partai Nasional Indonesia) dan bahkan dia pernah dipenjara pula oleh pemerintah Hindia Belanda karena kegiatan politiknya,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein. Pernyataan Rushdy tentunya bukan isapan jempol semata. Dalam otobiografinya Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (ditulis Cindy Adams), Sukarno beberapa kali menyebut nama Ali Sastroamidjojo dan memanggilnya secara akrab sebagai “kawan lama”. Ali sendiri mengenang nama Sukarno sudah ada di benaknya saat dia belajar ilmu hukum di Belanda. Namun secara pribadi, dia kali pertama berkenalan dengan Sukarno pada akhir 1928 di Yogyakarta. Saat itu sebagai anak muda berusia 25 tahun, dia menyaksikan langsung bagaimana Sang Singa Podium beraksi. “Saya sangat terpukau oleh cara dan kata-kata yang digunakannya…”ungkap Ali dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku . Sejak itulah Ali bersahabat dengan Sukarno yang usia-nya lebih tua dua tahun darinya. Bahu membahu mereka membangun PNI dan menjadikannya alat untuk melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Akibat kegiatan politik itulah, Ali sempat masuk penjara. Ali tidak lama ditahan di penjara. Dia kemudian dibebaskan dengan syarat tidak terlibat aktif lagi dalam kegiatan politik. Syahdan, tak lama setelah pembebasan itu, Ali diajak Sukarno untuk hadir dalam pidato umumnya di Madiun. Entah bagaimana ceritanya, tetiba Sukarno menawarkan Ali untuk menyampaikan pidato pokok. “Tidak Bung. Bung tahu saya baru keluar dari penjara. Saya harus menjaga gerak-gerik saya…” tolak Ali.   Singkat cerita, tibalah waktu Sukarno bicara di depan khalayak. Seperti biasa, sebelum pidato, dia memanjatkan doa. Kemudian setelah meminum seteguk air putih, barulah dia melangkah ke atas mimbar dan berteriak lantang: “Saudara-saudara! Di sebelah saya duduk salah seorang dari saudara kita yang baru saja keluar dari penjara, tidak lain karena dia berjuang demi cita-cita. Tadi dia menyampaikan kepada saya keinginannya untuk menyampaikan beberapa pesan kepada saudara-saudara…” Ali tentu saja terhenyak. Dia sadar telah “dikerjain” oleh sahabatnya itu. Namun menurut Sukarno dalam otobiografinya, hal tersebut dia lakukan justru demi mengangkat mental Ali  dan memberinya kepercayaan diri kembali. Selain itu, dia ingin memberi contoh kongkret kepada rakyat tentang perlawanan kepada kaum kolonialis yang tak mengenal kata berhenti. “Aku tidak mau menjerumuskannya dalam kesukaran. Akan tetapi secara psikologis hal ini penting buat yang hadir, supaya mereka bisa melihat wajah salah seorang dari pemimpinnya yang telah meringkuk dalam penjara karena memperjuangkan keyakinannya dan masih saja mau mencoba lagi.” Menolakkah Ali? Tentu saja tidak. Dia pun berpidato di depan khalayak. * Bisa dikatakan Ali sangat setia dengan jalan nasionalisme. Itulah yang kemudian menjadikannya kembali aktif di PNI pasca Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Lewat partai lamanya itu, Ali yakin bisa menyumbangkan segala kemampuan terbaiknya untuk negara. Di awal era revolusi, Ali aktif sebagai orang ke-2 di Kementerian Penerangan RI setelah Amir Sjarifuddin. Sebagai Wakil Menteri Penerangan RI, tugasnya mencakup berbagai hal termasuk ikut mengurusi kelahiran tentara. Ketika Didi Kartasasmita (seorang eks opsir KNIL)  menyatakan akan mengkoordinir kawan-kawannya untuk mendukung RI, Ali ikut patungan bersama Amir untuk membiayai safari Didi keliling Jawa. Hal itu diakui oleh Didi dalam otobiografinya, Pengabdian bagi Kemerdekaan (disusun oleh Tatang Sumarsono). “Saya dibekali oleh Ali Sastroamidjojo dua ribu rupiah…” Begitu pula ketika kemudian sejumlah eks perwira KNIL yang dikoordinasi Didi itu membuat petisi dukungan kepada pemerintah RI, Ali-lah yang mengusulkan kepada Amir Sjarifuddin (yang kala itu berlaku juga sebagai Menteri Pertahanan add interim ) untuk diumumkan selama 10 hari berturut-turut di Radio Republik Indonesia (RRI). Akhir 1948, ketika Yogyakarta diduduki militer Belanda, Ali juga ikut ditawan bersama Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mochamad Hatta. Padahal setahun sebelumnya, dia menjadi salah satu anggota delegasi dalam perundingan Indonesia-Belanda di atas kapal perang Amerika Serikat (AS) bernama Renville. Pasca penyerahan kedaulatan oleh Belanda pada 27 Desember 1949, Ali ditugaskan sebagai Duta Besar RI yang pertama untuk AS. Jabatan itu pula yang kemudian mengantarkannya ke posisi sebagai perdana menteri selama dua kali pada 1953-1955 dan 1956-1957. Banyak kalangan menyebut Ali sebagai pengikut setia Sukarno. Pendapat itu tentu saja ada benarnya mengingat kedekatan Ali dengan Sukarno yang sudah berusia lama. Soal ini bahkan diakui sendiri oleh Tatiek Kemal (66), salah seorang cucu Ali Sastroamidjojo. “Kedekatan itu bahkan sampai menjadikan nenek saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Ibu Fatmawati,” ujar Tatiek. Kendati demikian, tidak serta merta kedekatan itu menjadikan Ali berlaku sebagai pembebek. Alih-alih menuruti semua kata Sukarno, yang ada Ali malah pernah berselilih paham secara keras dengan sahabatnya itu. Ceritanya, saat kembali dipercaya untuk menyusun kabinet yang kedua kali-nya pada 1956, Ali tidak melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai salah satu mitra koalisi-nya. Selain sudah merasa cukup berkoalisi dengan Masyumi dan NU yang menolak berkoalisi dengan PKI, Ali pun melihat kecenderungan jika PKI dilibatkan dalam pemerintahannya maka itu sama saja memberi peluang partai komunis ke-3 terbesar di dunia tersebut akan menjadi lebih kuat pada pemilu berikutnya. Suatu hal yang tentu saja tidak dikehendaki oleh PNI. Apa yang terjadi kemudian? Bung Karno marah besar. Dia menuduh Ali telah berlaku tidak adil dan mengidap penyakit komunisto-phobi. “Saudara sebagai formatur bersikap tidak adil terhadap PKI. Bagaimana suatu partai besar yang mendapat suara dari rakyat  lebih dari 6 juta itu, tidak kau ikut sertakan dalam kabinet baru? Ini tidak adil!” sergah Bung Karno. Kendati Ali mengemukakan alasan-alasan di atas kepada Si Bung Besar, namun tindakannya tetap disalahkan. Tak ada titik temu. Ali akhirnya menyarankan presiden untuk mencabut mandat yang diberikan kepadanya dan menyerahkan kepada formatur baru. “Saya tidak bisa merubah susunan kabinet karena saya sudah terikat pada kesepakatan bersama dengan partai-partai koalisi itu,” ujar Ali. “Kau menempatkan persoalan selalu dengan cara yang terlampau tajam. Saya belum mengatakan bahwa saya menolak hasil susah payah kau ini!” jawab Sukarno. Alhasil, presiden pada akhirnya mau menandatangani susunan kabinet yang disodorkan Ali. Kendati demikian Ali tahu, Bung Karno hanya setengah hati menerimanya. (Bersambung).

  • Pengungsian Lena Mokoginta dari Desa ke Desa

    HADIDJAH Lena Mokoginta-Soekanto lahir di Desa Kotabangon, Sulawesi pada 23 Mei 1912. Ayahnya pejabat Rijkbestuur yang dalam bahasa setempat disebut Yogugu. Sementara, ibunya merupakan putri sulung Raja Bolaang Mongondow. Lena bersekolah di HIS Kotamobagu lalu melanjutkan ke MULO di Tondano, Sulawesi Utara selama enam bulan sebelum pindah ke MULO Pasar Baru. Ketika menginjak kelas dua, Lena pindah ke Christelijke MULO di Gang Menjangan. Di sinilah Lena berkawan dengan Johanna Tumbuan yang kemudian dikenal dengan Jo Masdani. Lena juga bergabung dengan Jong Celebes yang kala itu diketuai Empu Senduk (dr. Senduk).   Ketika organisasi kedaerahan itu difusikan mejadi Indonesia Muda (IM), Lena terpilih menjadi ketua peretemuan tersebut. Di IM ia akrab dengan Soenarti, yang kemudian hari menikah dengan Soelistio Wironagoro. Soenartilah yang mengenalkan Lena pada kakaknya, Soekanto. “Tadinya terjadi perang batin ketika aku hendak menentukan pilihan hati, siapa yang akan menjadi suami. Hati sudah tertambat pada Mas Kanto tapi sayang dia seorang pegawai pemerintah Belanda,” kata Lena dalam kumpulan memoar perempuan Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi.  Keraguannya terhapuskan setelah dinasihati Mr. Sartono. Kata Sartono, pilihan Soekanto justru mendapat dukungan dari para pemimpin pergerakan karena bila Indonesia merdeka kelak, mereka pasti membutuhkan personil yang ahli di bidang masing-masing. “Mendengar hal itu, mantaplah hatiku untuk memilih Mas Kanto sebagai suamiku,” kata Lena. Di masa pendudukan Jepang, Lena dan Soekanto tinggal di asrama Sekolah Kepolisian di Sukabumi. Soekanto mengajar di sana. Sementara, Lena bergabung dengan Palang Merah di Rumahsakit Bunut, membantu dr. Abu Hanifah dan mengajar baca-tulis serta keterampilan lain pada perempuan muda buta huruf. Setelah Proklamasi, Soekanto ditunjuk Bung Karno untuk membentuk polisi nasional yang disebut Jawatan Kepolisian, di bawah Kementerian Dalam Negeri. Dalam Bapak Kepolisian Negara Republik Indonesia yang disusun Awaloedin Djamin dan G Ambar Wulan, disebutkan, ketika ibukota pindah ke Yogyakarta, Kementrian Dalam negeri juga memindahkan kantornya, namun ke Purwokerto. Kantor Jawatan Kepolisian Negara yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri juga dipindah ke Purwokerto. Soekanto beserta staf memulai tugasnya di sana. Kebetulan, ayah dari ajudan Kepala Kepolisian Negara Toti Soebianto menjabat sebagai Patih Banyumas yang berkedudukan di Purwokerto. Raden Mochammad Poerwodirejo (ayah Toti Soebianto) kemudian menyediakan tempat untuk dijadikan markas kepolisian negara.   Lena mengikuti Seokanto pindah ke Purwokerto. Seminggu sekali, Soekanto berangkat ke Yogyakarta untuk melapor pada Bung Karno dan Hatta. Pada Juli 1947, tentara Belanda membombardir Purwokerto. Penduduk kalang kabut, termasuk tantara Indonesia. Lena sendiri terpisah dari Soekanto yang sedang menghadap presiden di Yogyakarta. Lantaran tak memungkinkan bertahan di Purwokerto, ia pun berjalan kaki ke Yogyakarta dan mengungsi dari desa ke desa bersama pembantunya, Mbok Irah. “Di desa pertama yang kami singgahi aku bertemu seorang teman, Zus Do Walandouw dan suaminya yang seorang dokter hewan, setelah berjalan dua hari kami bertemu dengan Keluarga Mudang,” kenang Lena. Dalam perjalanan bersama keluarga Mudang, Lena bersimpati pada Nyonya Mudang, seorang putri Solo, yang harus meniti terjalnya tebing sungai. Namun Lena yang ingin lekas sampai ke Yogyakarta harus meninggalkan keluarga Mudang karena mereka harus beristirahat lantaran Nyonya Mudang sakit. Wajah Lena yang tak terlihat seperti orang Jawa membuat penduduk suka menanyakan identitasnya selama di perjalanan. Mbok Irah selalu pasang badan dan menjawab dalam bahasa Jawa bahwa Lena merupakan menantunya.  Ketika keduanya sampai di sebuah desa, penduduk sudah mengungsi. Mereka lantas menginap di rumah lurah yang hanya dijaga oleh dua orang suami-istri lanjut usia. Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan. Ketika sedang beristirahat di tepi sungai, Lena dikagetkan dengan kedatangan dua orang pemuda. Karena takut, Lena berusaha sembunyi namun kemudian diteriaki dua pemuda itu.  “Bu Kanto, kami disuruh Bapak mencari Ibu!” teriaknya dari jauh. Lena kemudian diantar ke Wonosobo, kemudian melanjutkan perjalanan ke Magelang. Di sana sudah menanti suaminya. Begitu berkumpul lagi dengan Soekanto, Lena berangkat menuju Yogyakarta. Di Yogya, mereka tinggal di kediaman Bung Hatta yang sudah ditinggal pergi pemiliknya mengungsi ke Madiun. Lena dan Soekanto mendapat kamar di depan. Alangkah senangnya Lena karena bisa berbaring di kasur setelah beberapa hari berjalan dan tidur tidak menentu.

  • Bung Karno yang Kesepian

    Ketika mengikuti delegasi Suratkabar HarianRakyat ke Vietnam pada 1964, Mendiang Amarzan Lubis, redaktur budaya harian itu, ikut menemui pemimpin Vietnam Ho Chi Minh. Delegasi bertemu Paman Ho di tempat tinggalnya, sebuah rumah kecil di kompleks Istana Kepresidenan Vietnam. Rumah itu terletak di belakang istana. “Antara rumah itu dengan istana ada tali yang direntangkan. Paman Ho harus meloncati tali itu setiap kali ke istana. Itulah caranya melatih fisiknya, kata Amarzan kepada Historia beberapa tahun silam. Dalam kesempatan itu, Paman Ho tak lupa menanyakan kabar Bung Karno. Namun begitu mendapat jawaban Bung Karno secara umum sehat, Paman Ho bertanya lebih jauh apakah mereka sudah lama tidak bertemu dengan presidennya alias tidak setiap saat bisa menghadapnya. “Kalau di sini, Paman Ho bisa ditemui kapan pun oleh wartawan,” kata Paman Ho, dikutip Amarzan.    Sukarno memang tak lagi leluasa bergerak menemui sembarang orang sejak dibentuknya Tjakrabirawa. Meski dirinya sempat menolak, pendirian pasukan pengawal presiden yang digagas KSAD Jenderal Nasution itu tetap dilanjutkan karena pengamanan lebih kepada presiden menjadi keniscayaan mengingat beberapa upaya percobaan pembunuhan dilakukan terhadap Sukarno. Dengan sendirinya Sukarno harus merelakan “kemerdekaannya” sedikit dikurangi. “Biasanya dulu aku bisa keluar istana dengan diam-diam, kadang-kadang seorang diri. Semenjak berdirinya Cakrabirawa ini tak mungkin lagi kulakukan,” kata Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia .   Sejak menempati Istana pada 1950 hingga sebelum Tjakrabirawa, 1962, Sukarno kerap melakukan hobinya “turba” keliling kota hanya dengan seorang ajudan berpakaian preman yang mengawal. “Kami pergi dengan mobil kecil tanpa tanda pengenal. Kalau hari sudah malam aku menukar pakaian, pakai sandal, pantalon dan kalau hari terlalu panas aku hanya memakai kemeja. Dan dengan kacamata berbingkai tanduk rupaku lain samasekali. Aku dapat berkeliaran tanpa dikenal orang dan memang kulakukan. Ini kulakukan karena ingin melihat kehidupan ini. Aku adalah kepunyaan rakyat, aku harus melihat rakyat, aku harus mendengarkan rakyat dan bersentuhan dengan mereka,” sambungnya. Berbeda-beda jalan dilaluinya, berbagai sudut kota didatanginya, bermacam orang ditemui Sukarno dalam “turba”-nya. Obrolan, perdebatan, guyonan , rayuan orang yang sedang bermesraan, dan semua dinamika kehidupan rakyat menjadi “santapan rohani” Sukarno dalam turba itu. Sukarno kadang mengajak komunikasi orang-orang yang ditemuinya. Namun itu jarang dilakukannya karena khawatir suaranya dikenal orang. Suara “singa podium” memang familiar di telinga rakyat. Suara itulah yang pernah membuat “penyamarannya” ketahuan. Terbongkarnya penyamaran itu bermula dari ketika Sukarno menanyakan seorang kuli yang sedang mengangkat batu bata. Suara Sukarno itu terdengar oleh seorang perempuan yang tak jauh darinya. Karena kaget mengetahui ada presiden di tengah kampungnya, perempuan itu segera berteriak mengumumkan bahwa Bung Karno ada di situ. Orang-orang pun berduyun-duyun datang sehingga pengawal terpaksa melarikan presiden ke dalam mobil untuk kemudian meninggalkan kerumunan. Selain meminimalisir komunikasi, untuk menghilangkan kecurigaan orang dalam penyamarannya, Sukarno melakukannya dengan meniru kebiasaan yang ada pada rakyat. Ketika lapar, dia akan langsung menuju pedagang kaki lima yang diinginkan dan makan sebagaimana pembeli lain makan. “Ada kalanya aku membeli sate di pinggir jalan. Kududuk seorang diri di pinggir trotoar dan menikmati jajanku dari bungkus daun pisang. Sungguh saat-saat yang menyenangkan,” kata Sukarno. Saat-saat menyenangkan itu tak bisa lagi dilakukan Sukarno ketika Tjakrabirawa sudah mengelilinginya 24 jam dalam tiap harinya. Praktis “nyantai” hanya dilakukan Sukarno di lingkungan Istana entah dengan menteri-menterinya yang dia panggil ikut sarapan bareng atau dengan para pegawai Istana yang tinggal di kompleks Istana. Ketidakbisaan berada di tengah rakyat itu amat menyiksa batinnya. “Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden tak ubahnya seperti pengasingan yang terpencil. Seringkali aku duduk-duduk seorang diri di beranda Istana Merdeka. Merenung. Dan memandang keluar ke taman indah yang menghilangkan kelelahan pikiran, taman yang kutanami dengan tanganku sendiri. Dan batinku merasa sangat sepi. Aku merasa terpisah dari jelata. Aku ingin bercampur dengan rakyat. Itulah yang menjadi kebiasaanku. Akan tetapi aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas, napasku akan berhenti apabila aku tidak bisa keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku,” ujarnya.

  • Ada Trump di Sudut Ring Mike Tyson

    Grand Ballroom Plaza Hotel, New York, 11 Juli 32 tahun silam (1988) penuh sesak oleh para jurnalis olahraga dan bisnis. Keriuhan mengemuka seiring dua sosok yang dinanti naik ke podium. Para fotografer bertubi-tubi membidik dua obyek foto utama mereka: Donald Trump dan Mike Tyson. Ajang menghebohkan itu merupakan konferensi pers bahwa Trump mulai hari itu jadi penasihat keuangan petinju kelas berat yang tengah naik daun berjuluk “Leher Beton” itu. Trump bakal jadi “pekerjanya” Tyson dalam manajemen yang belum lama didirikannya, Mike Tyson Enterprise. Senyum Tyson dan Trump tak henti mengembang ketika hendak mengumumkannya. Trump, yang saat itu tengah naik daun sebagai miliuner real estate, dan anggota dewan penasihat lainnya di dalam manajemen akan membawa Tyson ke masa depan yang lebih cerah. Baca juga:  Penjelajahan Antariksa dari JFK hingga Trump “Saya teman baik Mike dan saya ingin memastikan dia memiliki masa depan yang substansial. Dia juga respek terhadap saya, jadi saya berada dalam posisi menawarkan nasihat yang bermanfaat,” tutur Trump, dikutip suratkabar The New York Times , 12 Juli 1988. “Apapun yang saya hasilkan dari posisi ini akan diserahkan untuk amal melawan AIDS, celebral palsy (kelumpuhan otak, red. ), sklerosis ganda (penyakit autoimun), dan membantu para tunawisma. Dan sebagai penasihat di pertarungan-pertarungan Mike berikutnya, menjadi kewajiban moral saya untuk membawanya dalam kesepakatan bisnis yang tinggi,” lanjutnya dengan bangga. Donald John Trump (kiri) bangga jadi penasihat keuangan Mike Tyson. (Twitter @darrenrovell). Hari itu Trump resmi jadi penasihat untuk membenahi kekacauan finansial pemilik sabuk gelar kelas berat WBA, WBC, dan IBF itu. Sebelumnya, Tyson terlibat perseteruan dengan promotor dan manajer lamanya, Bill Cayton. Perseteruan dengan Cayton muncul ketika Cayton masih memanajeri Tyson bersama dua mitra lainnya, Jim Jacobs dan Kevin Rooney. “Sebelumnya Cayton dalam kontraknya selalu mendapat 30 persen dari uang pertarungan Mike. Tetapi setelah Jacobs meninggal karena kanker pada Maret 1988, bagian yang diterima Cayton menjadi lebih besar dan itu dipermasalahkan (istri Tyson, Robin) Givens,” tulis John R. O’Donnell, pebisnis kasino yang pernah bekerja sebagai chiefoperating officer (COO) Trump Plaza Hotel and Casino, dalam Trumped! The Inside Story of the Real Donald Trump . Baca juga: Presiden Jago Tinju, Gulat Hingga Jiu-Jitsu Dalam klausul kontrak itu disebutkan bahwa jika salah satu dari tiga manajer itu tiada, bagiannya akan diberikan ke mitra lainnya. Dalam kasus ini Cayton. Pasalnya Tyson tak tahu ketika ia meneken kontraknya, Jacobs sudah sakit parah. Hasilnya setelah Jacobs meninggal, sebagian besar pendapatan Tyson beralih ke Cayton. Tyson nyaris tak mendapat apa-apa dari pertarungannya sendiri. Pertarungan Mike Tyson vs Michael Spinks di Trump Plaza. (Griffins Boxing and Fitness). Ketika Tyson bersama istrinya ingin menegosiasi ulang kontraknya, Cayton menolak. Terlebih pada 27 Juni 1988, Tyson mendapatkan deal pertarungan terbesar dalam kariernya saat itu, melawan Michael Spinks. Tyson yang tengah mempertahankan ketiga gelarnya (WBA, WBC, IBF), menang KO di ronde pertama hanya dalam kurun 1 menit 31 detik. “ Deal pertarungan itu antara Trump dan manajemen Tyson. Pertarungannya pun digelar di Trump Plaza Hotel and Casino, Atlantic City. Pertarungan itu menjadi pertarungan tinju dengan nilai bisnis terbesar di dunia pada saat itu. Pihak (manajemen) Tyson pada saat itu menerima USD20 juta, sementara Spinks USD13,5 juta,” ungkap Thomas Pentzek dalam King of Debt: Businessman Donald J. Trump . Trump Selingkuhi Istri Tyson? Trump sudah mengagumi Tyson sejak lama dan meyakini Tyson akan jadi petinju terhebat dunia sejak 1987. Trump saat itu tengah menjajaki perluasan jaringan bisnisnya dari bisnis kasino ke bisnis tinju. Lewat Tyson, Trump meyakini dia bakal bisa masuk ke lingkaran bisnis tinju global yang kala itu dipegang promotor kondang nan flamboyan Don King. “Donald selalu terkesima akan kemampuan Mike di ring. Dia senang melihat Mike latihan. Jika Mike berlatih tanding di gym kami dan Donald sedang berada di Atlantic City, dia pasti akan selalu menyempatkan hadir. Donald kemudian melihat kesempatan bermitra dengan Tyson ketika manajer lamanya, Clayton, berseteru dengan Robin Givens dan mertua Tyson, Ruth Roper,” sambung O’Donnell. Alih-alih jadi penengah, Trump malah dituduh selingkuh dengan Robin Givens (kanan). (Twitter @MichaelDeLauzon). Sayangnya kerjasama Tyson-Trump hanya seumur jagung. Pemicunya urusan rumah tangga Tyson. Pada September 1988 hubungan Tyson dan istrinya mulai retak. Dalam wawancaranya dengan The New York Times , 30 September 1988, Givens mengklaim jadi korban kekerasan dalam rumahtangga (KDRT). “Mike seorang manic depressive . Hidup bersama Tyson adalah siksaan seperti di neraka, lebih buruk dari yang bisa saya bayangkan,” ujar Givens yang juga seorang aktris itu. Baca juga: Tinju Kiri Muhammad Ali di Jakarta Masalah itu jadi lebih kusut lantaran Trump malah ikut campur. Trump dikabarkan main serong dengan Givens. Dalam TrumpNation: The Art of Being the Donald Tim O’Brien mengungkapkan, Tyson sampai datang melabrak Trump di kantornya dan nyaris kena bogem mentah si “Leher Beton”. “Dia bilang: ‘Saya tanya, apakah Anda meniduri istri saya?’ Saya pun diam membeku. Mati saya, nol kesempatan untuk selamat. Dia juara kelas berat dunia dan saya hanya seonggok samsak,” kata Trump dikutip O’Brien. Namun Trump tak menyingkap bagaimana akhirnya. Kepada O’Donnell, Trump hanya menyampaikan bantahannya. “Bisakah Anda bayangkan saya berselingkuh dengannya? Masak saya mau terlibat hubungan di tempat tidur dengan istri Mike Tyson?” kata Trump, dikutip O’Donnell. Desiree Washington, ratu kecantikan yang disebutkan jadi korban perkosaan oleh Tyson. ( Indianapolis Monthly /Indiana Dept. of Correction). Meski masih jadi misteri, kemungkinan besar tuduhan itu sekadar gosip belaka. Buktinya, Tyson masih sudi minta tolong pada Trump ketika dia terbelit kasus dugaan pemerkosaan terhadap Desiree Washington, ratu kecantikan asal Rhode Island. “Satu orang yang dihubungi Tyson setelah ditahan adalah Trump. Beberapa pekan sebelum sidang putusan vonis, Trump mengadakan konferensi pers untuk mengajukan proposal bahwa Tyson tak semestinya dipenjara karena dugaan itu dan harus diperbolehkan tetap berlatih dan bertarung. Sebagai timbal-baliknya, yang didapat Tyson dalam pertarungannya akan disumbangkan untuk Desiree Washington dan para korban kasus pemerkosaan lainnya,” tulis Michael Kranish dalam Trump Revealed: The Devinitife Biography of the 45 th President. Baca juga:  Kakek Donald Trump Korban Pandemi Kendati begitu, Pengadilan Tinggi Marion County tetap menjatuhkan vonis hukuman enam tahun penjara pada Tyson pada 26 Maret 1992. Tyson akhirnya hanya menjalani hukumannya kurang dari tiga tahun karena bebas bersyarat pada Maret 1995. “Bertahun-tahun kemudian ketika saya datang ke kantornya Trump, saya mendapati satu sabuk kejuaraan tinju terpajang milik Tyson. Trump menjelaskan bahwa itu jadi bayaran terhadap utang yang ‘tak bisa dijelaskan’,” tambahnya, menjelaskan persahabatan Tyson dan Trump yang tetap terpelihara. “Tyson kembali memberi bukti akan rasa terimakasihnya dengan memberi dukungan pada Trump saat hendak maju ke pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2015, meski isu Islamofobia begitu kencang dilantangkan dalam kampanye Trump,” tandas Kranish.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page