top of page

Hasil pencarian

9725 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dari Uang Panas hingga Selebritas

    MASYARAKAT Indonesia pernah dibikin geger oleh sebuah video hubungan mesum pada 2006. Kalau pelakunya orang biasa barangkali tak terlalu heboh. Pasalnya “aktor” di video itu seorang anggota DPR RI, Yahya Zaini. Sementara artisnya adalah Maria Eva, seorang penyanyi dangdut. Keduanya bukan pasangan suami-istri yang sah. Geger hampir serupa kembali melanda. Ahmad Fathanah, yang dekat dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishak, diketahui punya beberapa istri dan berhubungan dengan banyak perempuan. Kepada mereka, Fathanah sungguh royal. Segala rupa harta diberikan: rumah, mobil, jam tangan mahal. Padahal itu semua asalnya dari duit negara yang diselewengkan. Selain Fathanah, beberapa perempuan itu pun jadi bahan pemberitaan bak selebritas.

  • Bernapas dalam Film Panas

    SUPINAH pergi ke Jakarta mencari suaminya. Bukannya bertemu sang suami, dia malah diperkosa dua orang tak dikenal dalam satu malam. Ketika luntang-lantung di jalan, seorang lelaki menawarinya tempat tinggal. Di rumah lelaki ini, dia diperkosa oleh anak tuan rumah. Dia lalu diusir. Nasib malang Supinah berlanjut. Dia bertemu suaminya, namun sayangnya sang suami sudah menikah lagi. Dia pun kembali luntang-lantung hingga bertemu dengan Rais. Laki-laki yang menolongnya sekaligus menjerumuskannya ke dalam dunia pelacuran. Supinah ialah tokoh utama dalam film Bernafas Dalam Lumpur (1970) yang dibintangi oleh Suzanna dan Rahmat Kartolo. Film yang disutradarai oleh Turino Djunaedy ini merupakan salah satu film Indonesia pertama yang menonjolkan adegan seks, pemerkosaan, dan dialog kasar. Setelah Bernafas Dalam Lumpur , film-film dengan resep serupa menjadi populer di Indonesia.

  • Nonton Film Porno Tempo Dulu

    KELURAHAN Srengseng Sawah di Jagakarsa, Jakarta Selatan terkenal dengan tempat wisata Perkampungan Betawi Setu Babakan. Namun, beberapa pekan belakangan ini, warga Srengseng dihebohkan oleh kasus penggerebekan rumah produksi film porno. Hendaru Tri Hanggoro adalah salah satu warga Srengseng Sawah yang turut kaget atas pemberitaan menyangkut lingkungan tempat tinggalnya itu. Rumah yang digerebek hanya berjarak 1 km dari kediamannya. “Enggak tahu [ada studio film porno ]. Gua biasa lewat depan rumah itu. Kebetulan itu rumah kan kayak rumah toko gitu. Di pinggir jalan pula. Jadi ya, biasa aja ngelewatinnya. Engga pernah ada aktivitas syuting film,” tutur Hendaru kepada Historia.ID . Tim Patroli Siber Polda Metro Jaya, dikutip dari, mengungkap rumah produksi Karya Bintang Studio (KBS) difungsikan sebagai studio pembuatan film porno di Jalan Raya Srengseng Sawah. Rumah produksi ini telah beroperasi sejak 2022 dan menghasilkan sekitar 120 film yang ditayangkan di tiga situs daring berbayar. Keuntungan yang diraup ditaksir berjumlah 500 juta rupiah. Beberapa pemerannya melibatkan artis dari kalangan selebgram.

  • Eksperimen Pertama Negara Federal

    SEBAGAI pemuka politik Sulawesi Selatan, Nadjamoedin Daeng Malewa kecewa tak diikutsertakan dalam delegasi yang dipimpin Dr. G.S.S.J. Ratulangi ke sidang PPKI di Jakarta pada Agustus 1945. Dia pun memutar haluan. Sementara Ratulangi jadi gubernur Sulawesi, Nadjamoedin memutuskan bekerja sama dengan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Pada Februari 1946, Nadjamoedin menghadap Letnan Gubernur Jenderal Hubertus Johannes van Mook dan para pejabat Belanda di Jakarta. Kunjungan Nadjamoedin memuluskan jalan Van Mook merealisasikan idenya untuk menerapkan bentuk negara federal.

  • Jalan Terjal Negara Federal

    TAK rela negeri bekas jajahannya lepas, yang tentu bakal merugikan kepentingan Belanda, pemerintah Belanda mengirimkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus Johannes van Mook ke Indonesia. Dia dianggap orang yang tepat. Lahir di Indonesia (Semarang), intelektual, dekat dengan sejumlah cendekiawan Indonesia yang relatif progresif. Namun, situasi sudah berubah. Van Mook pun menyiasatinya dengan menawarkan konsep negara federal. Sejak lama, dia mengidamkan Hindia Belanda lepas dan tak diperintah dari Belanda tetapi dari Batavia. Dia juga ingin gubernur jenderal memiliki kekuasaan yang kuat. Kali ini, Van Mook punya pertimbangan lain. Akibat perang, Jawa menjadi miskin sedangkan luar Jawa punya peluang memulihkan ekonomi. Politik kesatuan akan membebani luar Jawa yang harus menanggung pemulihan Jawa, tetapi di sisi lain luar Jawa akan tertulari (nasionalisme) Jawa. Kabinet Republik Indonesia Serikat. (Repro 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1949 ). Van Mook memulainya dengan Konferensi Malino, yang membuka jalan bagi munculnya sejumlah negara bagian. Langkah politiknya melalui perundingan dengan Republik Indonesia juga berujung pada pembentukan Republik Indonesia Serikat. Namun, dia harus menelan pil pahit karena berseberangan jalan dengan pemerintahnya dan kelompok federalis yang dia bentuk. Gagasan Van Mook bukan hanya gagal tetapi juga mematikan alternatif dari bentuk negara kesatuan. Setiap kali wacana federalisme muncul, ia langsung tenggelam dengan alasan ia alat devide et impera  (politik pecah belah atau adu domba) Belanda. Selain itu, sejarah federalisme di Indonesia selalu dikait-kaitkan dengan kekuasaan kaum feodal. Bagaimana pengalaman masa-masa negara federal dijalankan? Berikut ini laporan khusus jalan terjal negara federal. Langkah Van Mook di Tengah Amok Dalam Bayang-bayang Unitarisme Eksperimen Pertama Negara Federal Presiden Negara Indonesia Timur dari Bali Jalan Hidup Perdana Menteri Negara Indonesia Timur Pulihnya Kekuasaan Melayu Negara Madura Benteng Pengaman Negara Menak Sunda Dilema Menak Sunda Nyanyi Sumbang dari Palembang Pemerintahan Seumur Jagung BFO Kekuatan Ketiga Setelah RIS Habis

  • Kue Asida dari Arab untuk Raja dan Rakyat Maluku

    DI BULAN puasa Ramadhan, Asida masih jadi salah satu panganan paling favorit untuk berbuka di Maluku. Di Masjid Raya Bula, Seram Timur, asida menempati posisi teratas jajanan paling laris untuk takjil. “Rata-rata yang paling laku itu Asida dan Lontar yang paling banyak, biasa sampai seng  (tidak) ada sisa, kalau ada juga itu paling sedikit,” ujar Masita, penjual takjil, dikutip ambon.tribunnews.com , 11 Maret 2025. Hidangan ringan khas Maluku yang mirip dengan dodol itu dengan demikian tidak kehilangan penggemar kendati telah eksis sejak berabad-abad silam. Asida merupakan salah satu produk budaya yang tersisa dari era perniagaan rempah yang melibatkan berbagai bangsa dan telah mencapai Maluku sejak abad ke-16. Dalam kasus asida, tak bisa dilepaskan dari relasi niaga penduduk Maluku dengan bangsa Arab.

  • Ending Discrimination Against Arabs

    ALI Shahabudin had been talking for three hours, yet he showed no sign of fatigue. His mouth and pointed nose emitted cigarette smoke. The ashtray on the table in front of him was overflowing with cigarette butts and ash. Meanwhile, his coffee is gone, leaving only the dregs. “I still have many stories about people of Arab descent,” he told Historia . Ali is of Arab descent, the grandson of Ali bin Ahmad bin Shahab, popularly known as Ali Menteng. Of Sayyid blood, Ali Menteng was one of the founders of Jamiat Khair. Until now, Ali Menteng's descendants still think that they have sayyid blood. Sayyid is an honorific title of the descendants of the Islamic Prophet Muhammad through his grandsons Hasan and Husayn. “Regarding this sayyid status, I had a unique experience in Aceh,” said Ali.

  • Arab Business Empire in Indonesia

    THREE Arab brothers from Padang, West Sumatra, arrived in Batavia in the 1920s. They were all businessmen with abundant wealth, the result of their parents' inheritance and their business profits. However, their main mission in Batavia was not to do business, but to introduce Batavian citizens to Arabic distinctive musical and theatrical traditions. “Apart from being business-minded, they, Sayid Idrus, Sayid Syehan, and Sayid Abubakar, were also artistic; they loved entertainment,” Mudrik bin Shahab told Historia . According to Mudrik, they belong to the bin Shahab clan. “They are still related to Ali Menteng.” Ali Menteng was a renowned journalist and a pioneering figure in Indonesia.

  • Orang Arab di Nusantara

    SELINTAS tak ada yang aneh dari foto itu. Di serambi sebuah rumah, tiga orang duduk di kursi rotan: seorang perempuan berkebaya diapit dua lelaki mengenakan beskap dan blangkon. Satu dari dua lelaki itu berkacamata dan berhidung mancung. Lelaki itu adalah Abdul Rahman (A.R.) Baswedan, seorang keturunan Arab.   Foto itu dimuat di suratkabar berbahasa Melayu, Matahari , sontak bikin geger masyarakat Arab. Dianggap menghina dan menurunkan derajat, terutama bagi kalangan sayid. Terlebih, dalam sebuah tulisan yang dimuat di edisi yang sama, Baswedan menulis: “Di mana seseorang dilahirkan, di situlah tanah airnya.”   Sejak lama, orang-orang Hadramaut meninggalkan tanah air mereka di Yaman Selatan yang tandus. Untuk memperbaiki hidup, mereka berdiaspora ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Nusantara. Berdagang, mengajarkan agama, berasimilasi dengan penduduk setempat. Foto A.R. Baswedan memakai baju beskap atau surjan dan blangkon yang memuat geger masyarakat Arab di Indonesia. Ditulis dengan gaya sastra, dalam suratnya kepada A.R. Baswedan tertanggal 21 November 1974, Buya Hamka menulis: “Arab Indonesia dibesarkan dengan gado-gado, bukan dengan mulukhia. Dengan durian, bukan dengan kurma. Dengan sejuknya hawa gunung, bukan dengan panasnya padang pasir. Mereka dihidupkan bukan di pinggir Dajlah dan Furat, tapi di pinggir Musi, Kapuas, Bengawan, dan Brantas. Lebih gurih minyak kelapa daripada minyak samin. Sebab itu jalan selamat bagimu, di hari depanmu ialah leburkan diri ke dalam bangsa ibumu. Tanah airmu ialah Indonesia!”   Hamka hanya menegaskan. Sebab, jalan itu sudah diambil A.R. Baswedan dan orang-orang keturunan Arab di Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai tanah air mereka, bukan Hadramaut. Dan kini mereka adalah warga negara Indonesia.*  Berikut ini laporan khusus orang Arab di Nusantara:  Mencari Cincin Nabi Sulaiman Bangkit Lewat Sekolah Berbisnis di Rantau Dari Diskriminasi ke Aspirasi Bertanah Air Indonesia, Bukan Hadramaut Setelah PAI Tak Ada Lagi Mendekat kepada Habib Busana dari Kesalehan hingga Mode Citarasa Hadrami, Citarasa Indonesia Petikan Gambus Entakkan Gendang Generasi Para Penghibur

  • Arab dan Tiongkok Berebut Rempah di Riau

    HARI ini, Rabu, 19 Juni 2024, KRI Dewaruci kembali melanjutkan pelayarannya. Pelayaran KRI Dewaruci yang membawa rombongan berisi Laskar Rempah, jurnalis, dan para peneliti yang concern pada sejarah rempah itu merupakan pelayaran yang diadakan TNI AL dengan tajuk “Muhibah Budaya Jalur Rempah”. Sabang yang menjadi tujuannya, berjarak lebih dari 800 kilometer dari tempat pemberangkatannya sekarang: Dumai di pesisir timur Riau. Di Riau, KRI Dewaruci singgah selama dua hari. Riau merupakan salah satu provinsi kaya di republik ini. Sedari dulu, Riau memang kaya.  Bila sekarang sumber kekayaan itu berasal dari sektor migas dan perkebunan sawit, dulu kekayaan Riau bersumber dari perdagangan rempah. Sebelum agama Islam masuk dan berkembang di Riau, daerah itu sudah jadi salah satu daerah perdagangan rempah.

  • Dardanella Jadi Saksi Konflik Yahudi-Arab di Palestina

    VLADIMIR Klimanoff alias A. Piedro punya banyak mimpi besar saat merintis The Malay Opera Dardanella di Sidoarjo pada 1920-an. Salah satunya menjadikan Dardanella sebagai rombongan pertunjukan nomor satu di Nusantara. Piedro mendirikan Dardanella tepat di hari ulang tahunnya yang ke-23 pada 21 Juni 1926. Mulanya hanya memberikan pertunjukan di tempat-tempat kecil di Jawa Timur. Seiring berjalannya waktu, dengan bergabungnya sejumlah pemain berbakat, di antaranya Tan Tjeng Bok, Soetidja yang kemudian dikenal dengan nama Miss Dja atau Dewi Dja, Astaman, hingga Miss Riboet II, Dardanella menjelma menjadi kelompok pertunjukkan yang dikenal di berbagai wilayah Nusantara.

bottom of page