Hasil pencarian
9725 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Asad Shahab, Jurnalis Arab Pro Republik
SEJARAH mencatat Mesir adalah negara pertama yang mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para pelajar Indonesia yang ada di sana menerima berita tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dari kantor berita Arabian Press Board ( APB ). Berita-berita itu diteruskan dalam konferensi Liga Arab. Walhasil, negara-negara Islam di Timur Tengah bersimpati dan memberikan dukungannya. Menurut Nabiel A. Karim Hayaze, peneliti Menara Center –Lembaga Riset Keturunan Arab– dari berita-berita itulah negara di Timur Tengah mendapat informasi tentang Indonesia; negara berpenduduk Muslim dengan presidennya yang bernama Ahmad Sukarno. Dan sejak itu pula masyarakat Mesir memantau perjuangan Indonesia melawan Belanda yang berujung pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir.
- Hoesin Bafagieh, Guru Menulis AR Baswedan
SAMBIL membawa tulisannya supaya dimuat, A.R. Baswedan menemui Hoesin Bafagieh di kantor Majalah Zaman Baroe . Di hadapan Maskati, Bafagieh langsung menolak keinginan Baswedan. “Saya telah mengejeknya dengan kata-kata yang menghina, nyatakan bahwa karangannya belum bisa mendapat tempat di halaman Zaman Baroe dan ia perlu belajar kembali,” ujar Bafagieh dalam Aliran Baroe Tahun II No. 6 Januari 1939. Menurut Nabiel Karim Hayaze, penyusun buku Kumpulan Tulisan dan Pemikiran Hoesin Bafagieh , Hoesin jauh lebih senior dari Baswedan. “Ketika Baswedan mulai semangat menulis, Hoesinlah yang mengajarkan Baswedan menulis,” kata Nabiel dalam diskusi buku yang diselenggarakan di Universitas Indonesia, Selasa, 7 November 2017. Nabiel melanjutkan, keturunan Arab yang aktif dalam pergerakan bukan hanya Baswedan meski dia yang paling dikenal.
- Kisah Surat Hatta untuk Baswedan
GERAM. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hati keluarga salah satu bapak pendiri bangsa, Mohammad Hatta, saat mengetahui surat beratasnamakan ayahandanya tersebar luas di jagat maya. “Hidup Bung Hatta menginspirasi keturunannya. Kami selalu ambil nilai-nilai baik dari teladan beliau. Tapi heran masih juga ada kelompok yang mau mempecundangi nama besar Bung Hatta,” ucap Halida Nuriah Hatta, putri bungsu Mohammad Hatta, kepada Historia . Halida Hatta pernah membagikan foto surat tersebut dalam akun media sosialnya. Di sana ia menyebut jika surat tersebut palsu dan isinya tidak sesuai dengan kepribadian Hatta. "Pelajarilah kiprah Bung Hatta dari masa remajanya sampai dengan akhir hidupnya," tulis Halida.
- Kisah A.R. Baswedan dan Calon Mertua
PERTEMUAN Abdurrahman Baswedan dengan perempuan yang kemudian menjadi istrinya terjadi di usia yang masih sangat muda. Baswedan ketika itu masih berusia 17 tahun, sementara Syaikhun berusia 12 tahun. Keduanya memang telah lama saling kenal karena Syaikhun adalah putri pamannya sendiri. Suatu hari di tahun 1925, Baswedan menyampaikan maksudnya menikahi Syaikhun kepada kedua orangtuanya. Keputusan itu cukup mengejutkan, mengingat remaja seusianya masih mengikuti segala kehendak orangtua, termasuk soal perjodohan. Namun sebelum meneruskan maksud itu ke sang paman, ayah Baswedan meminta anaknya merubah sikap-sikap yang mungkin tidak bisa diterima pamannya.
- Bertanah Air Indonesia, Bukan Hadramaut
PARA peserta Konferensi Peranakan Arab di rumah Said Bahelul di Kampung Melayu, Semarang, tegang. Suasana perkenalan berjalan canggung, karena sejak lama komunitas Arab mengalami konflik yang dipicu soal strata sosial antara sayid dan non-sayid. Sayid, atau disebut juga alawi, adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keturunan Nabi Muhammad dan karenanya membuat mereka merasa istimewa. Abdul Rahman (A.R.) Baswedan mencairkan suasana dengan mengajukan jalan tengah. “Solusi sederhananya panggil semua Arab dengan ‘saudara’ atau al-akh . Tidak peduli alawi atau non-alawi, you are my brother ,” ujar Samhari Baswedan, anak kesebelas A.R. Baswedan, kepada Historia . Kompromi tersebut mendapat sambutan baik. Konferensi Peranakan Arab, yang dimulai pada 3 Oktober 1934, dihadiri sekira 40 orang Arab peranakan dari Arrabitah, organisasi pro-sayid, dan Al-Irsyad, organisasi non-sayid. Mereka berasal dari Surabaya, Semarang, Pekalongan, dan Jakarta.
- Demi Mudik, Serdadu Indo-Jawa KNIL Pilih Desersi
KERETA api Istimewa disediakan pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk membawa rombongan Dr Koets dari Komisi Belanda ke pedalaman Jawa di daerah Republik Indonesia pada 15 September 1946, dua minggu setelah lebaran. Saat itu antara pemerintah dengan Belanda sedang berdiplomasi guna mencari kata sepakat atas konflik keduanya. Adalah Des Alwi (1927-2010), keponakan angkat Wakil Presiden Hatta, yang menngusahakan keretaapi tersebut. Pria asal Banda itu punya akses untuk ikut Kereta Istimewa dari Jakarta lantaran punya banyak kawan ketika berada di Surabaya dan Jakarta. Jumlah kawannya bertambah setelah Indonesia merdeka dan banyak yang lebih tua darinya. Salah satu kawannya, George Reuneker, menumpang dalam Kereta Istimewa itu. “George Reuneker menyelundupkan senjata itu di bawah tempat duduk Dr. Koets di kereta api,” kenang Des Alwi dalam Seri Dimata: Pribadi Manusia Hatta . George berhasil membawa masuk setidaknya tiga pucuk Tommy Gun beserta peluru-pelurunya ke dalam kereta itu. Tommy Gun adalah sebutan untuk senapan mesin ringan rancangan Brigadir Jenderal Amerika bernama John T. Thompson pada 1918 dan banyak dipakai dalam Perang Dunia II. George mencuri senjata-senjata itu dari markas kesatuannya. George adalah anggota tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Sebelum tentara Jepang menduduki Indonesia, George serdadu milisi zeni KNIL di Magelang. Nomor stamboeknya 107917 dan dia sempat menjadi tawanan perang yang ditahan sampai Jepang. Kartu tawanan perangnya menyebut dia kelahiran 19 Januari 1917 dari pasangan Johan Leonard Reuneker (1872-1952) dan Siti Amanah. Keluarga mereka tinggal di Krajan, Salatiga. George dengan demikian seorang Indo-Jawa. Setelah bebas dari kamp tawanan perang, George mau-tak mau bergabung ke KNIL lagi. Itu berlangsung hingga ketika Des Alwi memberi jalan mudik untuknya dengan ikut serta naik Kereta Istimewa. Merasa sudah diberi jalan, George “membayarnya” dengan menuruti apa yang diminta Des. Waktu naik Kereta Istimewa yang mengangkut pejabat-pejabat Belanda itu, George bukan sedang bertugas mengamankan sesuai perintah dinas dari KNIL. Alhasil dia mesti menyamar. Singkatnya, George sedang melakukan desersi di Kereta Istimewa. “Reuneker selamat dalam penyamaran di kereta api, dan bisa keluar dari pos pemeriksaan Belanda di daerah Klender, lalu berhasil tiba di Yogya,” ujar Des Alwi. Setelah George lolos, Des Alwi melapor kepada Bung Hatta yang dikenal amat berhati-hati dan correct . Maka begitu mendengar laporan Des yang masih sangat muda, Bung Hatta menganggap tindakan Des itu membahayakan diplomasi kemerdekaan Indonesia. “Ini tidak lucu, Des,” kata Bung Hatta, yang mengkhawatirkan kabar desersi George Reuneker sampai ke telinga delegasi Belanda dan diplomasi bisa terganggu. Beruntung, dalam perjalanan hingga selama di Yogyakarta Koets tak mengalami hal buruk. Setelah beberapa hari di Yogyakarta, Koets kembali ke Jakarta. Pada 20 September 1946 sore, Koets langsung mengadakan konferensi pers di Hotel Des Indes tak lama setelah tiba di Jakarta. “Bangsa Indonesia sudah mengalami kelahiran baru,” kata Koets seperti dicatat Rosihan Anwar dalam Belahan Jiwa: Memoar Kasih Sayang, Percintaan Rosihan Anwar dan Zuraida Sanawi . Rosihan ikut dalam perjalanan pulang-pergi bersama Koets. Ketika di Yogyakarta, dia bertunangan dengan Zuraida Sanawi. Petualangan George Reuneker dalam Kereta Iistimewa rupanya tak menjadi masalah yang mengganggu. Maka sesampainya di Yogyakarta, George yang pernah jadi montir radio di KNIL bisa menjadi tambahan tenaga bagi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang baru saja berdiri. Selain di zeni KNIL, George juga pernah berada di Dinas Penerbangan KNIL yang disebut Militaire Luchvaart (ML). ”Rupanya Mas Cok sendiri waktu berniat desersi dari ML, dan menggabungkan diri dengan TNI,” aku Boediardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi . Boediardjo, perwira AURI yang kelak jadi menteri penerangan di pemerintahan Soeharto, terhitung masih sepupu jauh dari George Reuneker yang ibunya orang Jawa itu. George yang pandai menari Jawa ini kerap dipanggil Cok oleh keluarganya. Ayahnya yang suka budaya Jawa dikenal sebagai Romo Reuneker. Keluarga ini punya rumah di Salatiga yang belakangan dianggap angker. George lalu dijadikan perwira AURI. Mulanya mendapat pangkat Opsir Muda Udara I (setara letnan satu). Pada 1947, seperti diberitakan Nieuwe Courant tanggal 15 November 1947, George naik pangkat menjadi Opsir Udara III (setara kapten). Namun setahun kemudian George keluar dari AURI dengan pangkat Mayor. Buku Awal Kedirgantaraan di Indonesia menyebut George pernah menjadi kepala Bagian Penerbangan Sipil dan kepala Biro Aero Club di AURI. George lalu terjun ke bisnis penerbangan hingga meninggal dunia pada 30 Januari 1974.*
- The Bitter Life of Sutan Sjahrir
SITI Rabyah Parvati was only five years old when she accompanied her father, Sutan Sjahrir, to Zurich, Switzerland, for medical treatment. Sjahrir had to seek treatment in Europe after suffering a stroke, which was caused by high blood pressure he had endured while in prison. With the permission of President Sukarno, Sjahrir was allowed to seek treatment abroad. In 1965, Sjahrir and his family left for Zurich. “We got permission for Papa to seek treatment, as long as it wasn't in the Netherlands. So, we finally got permission to go to Zurich and receive treatment there. I was five years old back then,” recalled Siti Rabyah in a discussion titled “Sjahrir: Our Struggle” held at the Nasdem Library. In 1962, Sjahrir was given political prisoner status by the Sukarno regime. Sjahrir, along with several opposition figures known as the “Bali Connection,” was accused of conspiring to harm President Sukarno. Shortly after Sjahrir was detained, his party, the Indonesian Socialist Party (PSI), was disbanded by the government. The PSI was disbanded along with Masyumi because its cadres were involved in the PRRI-Permesta regional movement.
- Penculikan Kepala Stasiun CIA
PADA pertengahan 1983, Letnan Kolonel William Francis Buckley menjabat Kepala Stasiun CIA dengan menyamar ( cover ) sebagai pejabat urusan politik di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut, Lebanon. Dia ditugaskan untuk membantu Lebanon mengembangkan metode menghadapi terorisme. Buckley juga berusaha membangun kembali intelijen Amerika Serikat setelah pengeboman Kedutaan Besar Amerika Serikat beberapa bulan sebelumnya. Serangan itu menewaskan 17 orang Amerika, termasuk Robert C. Ames, kepala analis CIA Timur Tengah, dan beberapa petugas CIA. “Satu sumber mengatakan Buckley dipilih untuk tugas berbahaya karena dia tidak punya keluarga,” tulis Bob Woodward dan Charles R. Babcock di Washington Post , 26 November 1986.
- Brutal dan Primitifnya Sejarah Roma dalam Romulus
LANGIT di Alba Longa masih benderang. Mendung dan hujan masih belum terlihat tanda-tandanya. Tetapi di suatu hari pada abad ke-8 SM itu nasib suku Alba dan 29 suku lain yang sudah enam bulan mengalami kekeringan dan terancam kelaparan bakal ditentukan. Numitor (diperankan Yorgo Voyagis), raja Alba yang dijadikan tetua dari 30 suku yang terhimpun dalam Liga Latin, menyambut hangat kedatangan Ertas (Emilio De Marchi), raja dari suku Gabi, dan Spurius (Massimiliano Rossi), raja dari Velia. Keduanya datang terakhir menyusul para raja dari 27 suku yang berkumpul di Alba Longa. Mereka akan menggelar ritual keramat yang dipimpin seorang ahli nujum. Sang ahli nujum menyampaikan bahwa tanah di 30 suku itu akan terselamatkan oleh hujan jika Raja Numitor dan putrinya, Silvia (Vanessa Scalera), mengasingkan diri ke Meridian, sebuah kawasan terpencil di selatan.
- Julius Caesar Menyeberangi Rubicon
RUBICON trending topic karena mobil Jeep itu digunakan oleh Mario Dandy Satrio ketika menganiaya David hingga koma. Warganet pun menyelam untuk mencari jejak digital pelaku penganiayaan itu. Dari postingan di media sosialnya, pelaku suka mengendarai dan memamerkan kendaraan mewah: mobil Rubicon dan motor gede Harley Davidson. Mirisnya, kendaraan itu disebut menunggak pajak. Padahal, ayahnya seorang pejabat Ditjen Pajak. Publik pun mempertanyakan bagaimana pejabat eselon tiga bisa memiliki kekayaan Rp56 miliar. Bila Mario mengendarai Rubicon, maka Julius Caesar menyeberangi Rubicon. Sama-sama menentukan dalam hidup mereka.
- Senjakala Telenovela
SEBAGAI stasiun televisi swasta penyedia tayangan telenovela, SCTV kerap diplesetkan menjadi “Saluran Cerita TelenoVela”. Sepanjang dekade 1990-an, sejumlah serial telenovela unggulan ditayangkan SCTV dan memperoleh rating tinggi. Sebut saja Kassandra (1992), Maria Mercedes (1993), Morena Clara (1994), Maria de lal Bario (1995), hingga Esmeralda (1997). Pada 2000, SCTV untuk kali kedua menayangkan Esmeralda. Penayangan ulang serial telenovela asal Meksiko (Televisa) ini karena minat penonton yang tinggi. Esmeralda (diperankan Leticia Calderon) berkisah tentang gadis buta yang tertukar sejak bayi, cintanya terhalang status sosial, serta perjuangannya mendapatkan penglihatan dan pengakuan cinta. Penayangan perdana Esmeralda menggunakan sulih suara berbahasa Inggris. Sementara penayangan ulang menggunakan bahasa Indonesia. Namun, penayangan kedua tak berjalan mulus lantaran menuai protes. “Tayangan telenovela Esmeralda dihentikan karena adanya protes dari Front Pembela Islam (FPI),” lansir Bali Post , 1 Juli 2000.






















