top of page

Hasil pencarian

Search this site

9969 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Leluhur Ahmad Subardjo

    BUNGA kamboja putih bersih bertaburan di atas makam Teuku Muhammad Usman di tepi sungai Cimanuk, dekat Penganjang, Jawa Barat. Di atas batu nisannya tertulis: “leluhur dan guru kami yang tercinta dari Aceh.” “Dia meninggal dalam usia lanjut pada 1895, setahun sebelum aku dilahirkan, dikuburkan oleh orang-orang sekampungnya dan murid-muridnya yang merasa berterima kasih kepadanya,” kata Ahmad Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional. Sekira 55 tahun lalu, sebuah kapal layar kandas di pantai utara Cirebon, dekat kota kecil Indramayu. Kapal layar itu terdampar setelah tak berdaya melawan topan yang menyerang. Layarnya terkoyak yang menyebabkan kapal terbalik.

  • Masa Muda Ahmad Subardjo

    PADA 1913, Ahmad Subardjo tercatat sebagai murid sekolah menengah pertama di Koning Willem (KW III) School di Batavia (kini menjadi Perpustakaan Nasional di Jl. Salemba Jakarta Pusat). Tahun itu bertepatan dengan seabad kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis. Rakyat jajahan di negeri koloni Hindia Belanda harus ikut menyumbang, dengan embel-embel pungutan uang derma, untuk membiayai perayaan. Namun, rencana perayaan besar-besaran itu dikecam oleh seorang bumiputra, Soewardi Soerjaningrat, melalui tulisan “Als ik een Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) dalam suratkabar De Express, 13 Juli 1913. Soewardi menyindir masa lalu Belanda yang juga pernah menjadi negeri jajahan. Betapa tak tahu malunya Belanda yang pernah dijajah, kini merayakan kemerdekaannya di hadapan rakyat koloni yang masih terjajah. Soewardi sungguh malu, andai dia orang Belanda. Artikel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu untuk disebarluaskan kepada kalangan bumiputra.

  • Usaha Menteri Keuangan A.A. Maramis Menyelamatkan Ekonomi Indonesia

    BELUM genap dua tahun usia Republik Indonesia, semenjak 17 Agustus 1945. Beragam ujian politik dan ekonomi mewarnai kehidupan republik. Kabinet pemerintahan jatuh bangun. Belanda juga masih ingin menguasai Republik Indonesia kembali. Di dalam keadaan itu, Alexander Andries Maramis (Alex Maramis) menunaikan tugasnya sebagai menteri keuangan. Keadaan ekonomi Indonesia 1947-1949 masih seperti di tahun 1945. Pendapatan negara tiris, produktivitas pangan rendah. ”Meskipun produksi pangan pada tahun 1948-1949 lebih tinggi dari tahun sebelumnya, namun itu sekitar 10 persen di bawah rata-rata produksi sebelum perang tahun 1937. Sebaliknya, penduduk Indonesia mungkin telah meningkat sejak perang dari 70 menjadi 73 Juta,” lapor United States Departement of Agriculture, dalam World Food Situation 1949, 12 Januari 1949. Beng To Oey dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia: (1945-1958) mengemukakan hal senada. “…Ekspor komoditi penting dari Indonesia, yang sesungguhnya merupakan sokoguru utama bagi perekonomian, untuk beberapa tahun setelah pengakuan kedaulatan tidak akan mampu mencapai tingkat sebelum perang, sedangkan beras sebagai bahan makanan utama rakyat untuk sementara harus diimpor dalam jumlah yang cukup banyak,” terang Beng.

  • Makam di Sisi Masjid Perlawanan

    SEBUAH masjid berdiri megah di ruas Jalan Jatinegara Kaum Raya, Jakarta Timur. Namanya Masjid Jami’ As-Salafiyah (Masjid Tertua), berdiri pada 1620. Tepat di sisi kanan masjid berdiri sebuah bangunan, mirip pendopo, yang berisi lima makam: Pangeran Achmad Jayakarta, Pangeran Lahut, Pangeran Surya, Pangeran Shogeri, dan makam Ratu Rafi’ah. “Pangeran Lahut itu anak dari Pangeran Achmad Jayakarta. Pangeran Shogeri masih kerabatnya dan anak dari Sultan Agung Titayasa. Sedangkan Ratu Rafi’ah adalah istri dari Pangeran Shogeri,” kata Raden Manaf, generasi kesembilan dari keturunan Pangeran Jayakarta. Banyak orang sempat meragukan makam di sisi masjid itu adalah makam Pangeran Jayakarta. Keberadaannya juga pernah dirahasiakan dari publik dan baru diberitakan pada 1950. Menurut Raden Manaf, Pangeran Jayakarta berwasiat agar keberadaan makamnya baru diberitakan bila Belanda sudah tak lagi bercokol di Nusantara. Sebab, bila diketahui pihak Belanda, keturunannya akan dihabisi.

  • Pengalaman Ahmad Subardjo di Eropa

    KAPAL Sindoro memulai perjalanan menuju negeri Belanda pada awal tahun 1919. Dari Tanjung Priok, Batavia, kapal milik perusahaan Rotterdamsche Llyod itu berlayar melewati Selat Sunda menuju Emmahaven (Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang, Sumatra Barat. Kapal singgah sementara untuk mengambil batu bara. Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati Aden, Suez, Port Said, Marseille, dan melalui Selat Gibraltar ke Terusan Inggris dengan tujuan Rotterdam. Salah satu penumpang kapal berukuran 5.000 ton itu adalah Ahmad Subardjo. Dua tahun sebelumnya dia menamatkan pendidikan sekolah menengah umum pertama Koning Willem III (KW III) School di Batavia. “Di Terusan Inggris (English Channel) kapal harus berlayar sangat perlahan-lahan. Karena sudah waktu malam tiba di sana, kami berlabuh dekat pantai Inggris. Ini untuk menghindarkan kapal dari ranjau-ranjau yang banyak mengambang di Lautan Utara (North Sea). Ada kapal Rotterdamsche Llyod yang tenggelam karena melanggar ranjau,” kata Ahmad Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional.

  • Spirit Merah Putih Ahmad Subardjo di Negeri Belanda

    TEUKU Abdul Manaf. Itulah nama yang diberikan kepada Ahmad Subardjo saat menyapa dunia pada 23 Maret 1896 di Teluk Jambe, Karawang. Sejak namanya diganti, sosok keturunan Aceh itu hampir tak pernah menggunakan nama Abdul Manaf lagi, kecuali pada saat darurat di Belanda maupun Jerman. “Nama Teuku Abdul Manaf kadang-kadang dipakai untuk siasat saja ketika di Belanda. Jadi waktu pelarian di Berlin, dia pakai nama Teuku Abdul Manaf karena waktu itu kan Pak (Mohammad) Hatta dan teman-teman ditangkap di Belanda tapi Pak Subardjo, karena lagi ada di luar Belanda, enggak tertangkap. Dengan menggunakan Teuku Abdul Manaf sepertinya hilang dari jejaknya Belanda. Jadi strategislah. Teuku Abdul Manaf tetap dipakai sebagai kebanggaan dia sebagai orang Aceh,” demikian Hutomo Said Effendi, cucu Ahmad Subardjo, berkisah saat disambangi Historia.ID di Bintaro, Tangerang Selatan. Pelarian Subardjo terjadi medio 1927. Tak lama setelah Subardjo dan rekan-rekannya dari Perhimpunan Indonesia (PI) menghadiri Kongres Anti-Imperialisme dan Anti-Kolonialisme.

  • Ahmad Subardjo Melawan Penjajahan dari Sarangnya

    NUN jauh dari tanah kelahirannya, Ahmad Subardjo untuk kali pertama menginjakkan kaki di Belgia. Sejak merantau ke Eropa, dia bermukim di Leiden, Belanda. Namun, pada pekan kedua Februari 1927, dia berkunjung ke Brussel, ibu kota Belgia, untuk menghadiri Kongres Anti Imperialisme sedunia. “Mereka berkumpul di sana dan saling bersuara untuk melawan kolonialisme dan imperialisme,” kata Hutomo Said, cucu Ahmad Subardjo, kepada Historia.ID. Subardjo datang ke Belgia bersama rekan sesama mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia. Mereka antara lain Mohammad Hatta, Gatot Tarunamihardja, dan Muhammad Nazir Datuk Pamuntjak. Para pemuda Indonesia inilah yang menjadi delegasi dalam Kongres Anti Imperialisme.

  • Ahmad Subardjo Menjadi Pengacara dan Merantau ke Jepang

    SETELAH meraih gelar Meester in de Rechten atau sarjana hukum dari Universitas Leiden, Belanda, Ahmad Subardjo kembali ke Indonesia pada April 1934. Sejalan dengan sikapnya yang nonkooprasi atau tidak bekerja sama dengan Belanda, Subardjo memilih bekerja sebagai pengacara. Mula-mula Subardjo bekerja di kantor hukum Mr. Sastromulyono di Semarang. Setelah beberapa bulan dia pindah ke Surabaya dan bekerja sebagai ahli hukum junior di kantor hukum Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo. Sekembali dari studi di Belanda, Mr. Iskaq aktif dalam Bandung Studie Club yang dipimpin Sukarno. Kelompok ini kemudian menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Pemerintah kolonial menuduh PNI bermaksud menumbangkan pemerintah kolonial. Sukarno sebagai ketua partai bersama Gatot Mangkupradja, Maskun, dan Supriadinata dipenjara dan PNI menjadi perkumpulan terlarang.

  • A History Teacher at Red Schools

    ONE day in August 1934, a letter arrived from Batavia. The sender was Soegiarti, Maria’s friend from her college days in Leiden. The letter contained an offer: inviting Maria to become a teacher at a Muhammadiyah school in Batavia. The letter arrived just as Maria’s contract as a temporary employee in Cirebon Regency was coming to an end. “Soegiarti sent me a letter. She offered me a teaching position at a Muhammadiyah school. She already knew me and she was familiar with my character,” Maria told Dewi Fortuna Anwar, who interviewed her. Soegiarti had once shared a boarding house with Maria at Witte Single 25. She was studying to become a teacher in order to earn her hoofdacte diploma, a kind of certification to become a school principal. In Batavia, Soegiarti taught at a Muhammadiyah secondary school. Maria didn't turn down Soegiarti’s offer because the opportunity was a perfect fit for her. Mohammad Achmad, Maria’s father, who was the regent of Kuningan at the time, gave her permission to go to Batavia. “My father was quite progressive. So, he simply allowed me to do as I wished,” Maria said.

  • Menilik Koleksi Lukisan Adam Malik

    SELAIN sebagai tokoh pejuang Angkatan ‘45, Adam Malik juga dikenal sebagai tokoh pers, diplomat, dan wakil presiden periode 1978–1983. Tetapi, tak banyak yang tahu bahwa Adam Malik merupakan kolektor seni yang loyal. Ketika Museum Seni Rupa dan Keramik berdiri setengah abad silam, fondasi awalnya berasal dari koleksi Adam Malik. “Beliau menghibahkan koleksi lukisan dan koleksi keramik kepada Museum Seni Rupa dan Keramik. Ada lebih dari 50 lukisan dan lebih dari 50 keramik yang dihibahkan Bapak Adam Malik kepada Museum Seni Rupa dan Keramik,” kata Sri Kusumawati, kepala Unit Pengelola Museum Seni Jakarta, dalam seminar kuratorial “The Adam Malik Collection: 50 Tahun Museum Seni Rupa dan Keramik” di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, 20 Agustus 2026. Sebelum menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik, museum ini bernama Balai Seni Rupa Jakarta, yang merupakan tonggak penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Ia menjadi galeri seni rupa pertama untuk publik dengan koleksi berstandar nasional, jauh sebelum hadirnya Galeri Nasional. Balai Seni Rupa Jakarta dibuka pada 20 Agustus 1976 dengan 50 koleksi lukisan langka yang dikenal sebagai Koleksi Adam Malik. Seminar Kuratorial “The Adam Malik Collection: 50 Tahun Museum Seni Rupa dan Keramik” di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, 20 Agustus 2026. (Martin Sitompul/Historia.ID). Karena itulah, menurut Sri, peran Adam Malik dalam pendirian Museum Seni Rupa dan Keramik sangat krusial. Di luar kiprahnya sebagai pejabat negara, Adam Malik adalah patron dan kolektor seni yang melampaui zamannya. Tak sekadar menghibahkan koleksi lukisan, Adam Malik juga membagikan rekam jejak persahabatan dengan para seniman. Dia memiliki kedekatan personal dengan sejumlah pelukis maestro. “Kedekatan ini terjadi dengan tokoh-tokoh besar, mulai dari Basoeki Abdullah sampai dengan S. Sudjojono. Di tengah dinamika dan masa sulit yang dialami Sudjojono, Adam Malik hadir memberikan dukungan nyata,” imbuh Sri. “Beliau mengoleksi dan membeli lukisan secara langsung dari Sudjojono. Hubungan yang timbal balik dan kedekatan inilah yang membuat koleksi Adam Malik begitu bernyawa.” Pameran lukisan koleksi Adam Malik. (Martin Sitompul/Historia.ID). Adam Malik mengumpulkan koleksinya sejak 1949 melalui jaringan persahabatan dengan para seniman di Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Seniman Indonesia Muda (SIM), dan Pelukis Rakyat. Kedekatannya dengan peristiwa sejarah dan para seniman membentuk koleksi lukisan yang khas. Beberapa lukisan yang dikoleksi Adam Malik antara lain karya Harijadi Sumadidjaja, Trubus Soedarsono, Batara Lubis, Popo Iskandar, Sudjojono, Basoeki Abdullah, Wakidi, Agus Djaya, Rusli, Dullah, Roeliati Soewardjono, Affandi, Zaini, Fadjar Sidik, Amri Yahya, Nasjah Djamin, dan Soedibio. Adam Malik mengoleksi lebih dari satu lukisan karya Sudjojono. Hubungan baik antara keduanya terjalin sejak pembentukan Persagi. Sudjojono sendiri dikenal sebagai pelukis beraliran realis yang bernaung di bawah Lekra. Salah satu lukisan ikonik karya Sudjojono bertajuk “Maka Lahirlah Angkatan ‘66”. Dilukis di tengah pergolakan politik tahun 1966, karya ini merekam suasana Jakarta ketika ruang publik dipenuhi slogan grafiti dan tuntutan perubahan. Di tengah komposisi berdiri seorang pemuda berjaket merah menggenggam kaleng cat, dikelilingi tulisan-tulisan protes yang merujuk pada peristiwa politik saat itu. Lukisan “Maka Lahirlah Angkatan ‘66” karya Sudjojono koleksi Adam Malik. (Martin Sitompul/Historia.ID). Identitasnya sengaja dibiarkan ambigu, mengundang beragam penafsiran tentang perubahan dan ketidakpastian zaman. Karya ini menjadi satu-satunya dan lukisan terakhir yang dibuat Sudjojono. Kemudian lukisan potret Adam Malik karya Basoeki Abdullah, tidak hanya menghadirkan kemiripan fisik, tetapi juga menangkap kewibawaannya sebagai diplomat sekaligus negarawan dan kolektor seni. Karya ini menunjukkan persahabatan Adam Malik dan Basoeki Abdullah. Pada 1976, karya ini disumbangkan Adam Malik kepada Balai Seni Rupa Jakarta sebagai salah satu koleksi awal. Seperti Adam Malik, Basoeki Abdullah juga berperan penting dalam pembangunan Balai Seni Rupa Jakarta. Pada Februari 1976, dia menyelenggarakan pameran tunggal di Hotel Borobudur. Hasil keuntungan pameran itu menjadi modal pendirian Balai Seni Rupa Jakarta. “Pameran Basoeki Abdullah ini menghasilkan sekitar Rp7.300.000 atau setara dengan US$17.500. Uang tersebut disumbangkan kepada Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin untuk pendirian suatu museum seni nasional,” terang kurator seni Amir Sidharta. Lukisan potret Adam Malik karya Basoeki Abdullah. (Martin Sitompul/Historia.ID). Adam Malik, yang saat itu menjabat menteri luar negeri, menjadi sponsor pameran Basoeki Abdullah. Reputasinya telah dikenal sebagai penyokong seniman Indonesia lewat koleksi mandiri dan filantropi seni. Menurut Farah Wardani, kurator dan konsultan seni budaya independen, Adam Malik boleh dibilang sebagai orang kedua yang menjadi patron seni Indonesia setelah Presiden Sukarno. Meski demikian, antara Adam Malik dan Sukarno memiliki preferensi yang sangat berbeda. Farah mencontohkan, tidak banyak koleksi lukisan Adam Malik yang memperlihatkan potret perempuan cantik dan seksi, berbeda dengan koleksi Bung Karno. Beberapa koleksi lukisan Adam Malik memang ada yang objeknya perempuan, namun lebih menyorot aspek humanisme, keluarga, dan tradisi. “Menariknya, ada lukisan karya pelukis perempuan seperti N.H. Dini di koleksinya Adam Malik. N.H. Dini lebih dikenal sebagai sastrawan,” ujar Farah. “Dari koleksinya itu, kita bisa melihat sosok seperti apa Adam Malik itu.”* Koleksi lukisan Adam Malik di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, 20 Agustus 2026. (Martin Sitompul/Historia.ID).

  • Partai Murba Seperti Tan Malaka

    PEMBAHASAN mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di media sosial. Pendeknya, Tan Malaka kini menjadi buah bibir banyak orang setelah berpuluh tahun dilupakan. Kisah petualangan politiknya serupa cerita detektif yang selalu menarik untuk dibicarakan. Namun demikian sedikit saja pembahasan tentang partainya, Murba. Partai yang didirikan pada 7 November 1948 itu tak pernah sempat dia ketuai. Tan Malaka hanya mendirikannya dan lantas menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada kader-kadernya. Dia memilih untuk berkeliling, menempuh jalan gerilya walaupun kemudian mati di ujung senapan saudara sebangsa. Partai Murba sempat hidup lama. Paling tidak melintasi masa kemerdekaan sampai kemudian peralihan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, hingga tiba masa fusi pada 1973 yang menghilangkan eksistensi partai era revolusi ini dari atas panggung politik nasional. Tapi peran dari tokoh-tokohnya masih lumayan terlacak. Sebut saja semisal Adam Malik. Adam Malik, si kancil cerdik, bisa selamat melampaui zaman pancaroba kekuasaan. Dia berjaya di masa Sukarno, dan tak tergusur di era Soeharto. Sedangkan sederet tokoh Partai Murba lain eksis sebagai politikus yang mengkader anak-anak muda penerus ideologi Murba, salah satunya Wasid Suwarto. Tapi Partai Murba seperti Tan Malaka. Ia bergelap-gelap dalam terang dan berterang-terang dalam gelap. Partai ini sempat hidup kembali setelah Soeharto jatuh, menjadi peserta Pemilu 1999. Namun, lagi-lagi sebagaimana yang pernah dialami pada Pemilu 1955, Partai Murba gagal meraih kursi di dalam parlemen. Historia merekam perjalanan Partai Murba, mulai berdiri hingga mati suri dan lantas berdiri lagi di masa Reformasi untuk kemudian tenggelam lagi. Partai yang punya akar sejarah ke masa lalu seorang tokoh legendaris dalam sejarah di Indonesia itu ternyata tak membantu eksistensinya. Tapi paling tidak partai era revolusi itu pernah mewarnai sejarah Indonesia. Berikut ini laporan khusus Partai Murba: Partai Pamungkas Tan Malaka Riwayat Laskar Rakyat Jalan Murba Menuju Pertempuran Media Massa Murba Murba Berseteru dengan PKI Dalih Pembubaran Murba SOBRI Bukan SOBSI PRRI Kecil Hingga Pulau Terpencil Perwamu dari Politik Hingga Sosial Perta Membendung Pengaruh BTI Mahasiswa Murba Berburu Tikus Okra Menjalin Kerjasama Budaya Murba Hidup Lalu Redup Senjakala Partai Murba Misi Murba dalam PDI Murba Bangkit Lagi Gagal Lagi

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page