top of page

Hasil pencarian

9725 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Lebaran dan Natalan Terakhir Bersama Wiji Thukul

    FAJAR Merah terduduk di sebuah lahan berumput. Meski badannya menghadap ke kamera yang dipasang Yuda Kurniawan sang sutradara, matanya seringkali melengos ke kanan-kiri. Butuh satu helaan nafas panjang baginya sebelum bisa menjawab satu pertanyaan sulit yang dilontarkan Yuda.  “Sejauh apa aku mengenal bapakku? Gimana ya,” cetus Fajar berupaya menjawab pertanyaan tentang Wiji Thukul ayahnya. Scene ini jadi salah satu inti cerita dokumenter Nyanyian Akar Rumput karya Yuda Kurniawan, yang diputar sejumlah bioskop mulai 16 Januari 2020. Kegagapan Fajar menggambarkan Wiji Thukul bisa dimaklumi lantaran sang ayah tak bisa berperan sebagai ayah sebagaimana umumnya di sebuah keluarga akibat aktivitasnya sebagai aktivis HAM di masa Orde Baru yang anti-kritik. Fajar baru berusia lima tahun kala Wiji Thukul jadi korban penghilangan paksa pasca-Tragedi Mei 1998.

  • Berlebaran di Tahanan

    LEBARAN tahun 1966. Mia Bustam, perempuan pelukis Lekra yang jadi tahanan politik (tapol) 1965, sibuk bukan kepalang begitu gerbang Vredeburg dibuka. Besek-besek mengalir deras tak henti-henti. Ada yang berisi lontong, ketupat, jadah, gula, dan makanan tahan lama seperti serundeng dan abon. Besek-besek itu merupakan bingkisan lebaran yang dikirim keluarga kepada para tapol. Bingkisan itu menjadi satu-satunya tali penghubung antara keluarga dan tapol di hari raya lantaran bertemu para tapol tak diperbolehkan.

  • Keindahan dalam Kartu Lebaran

    INGATKAH kapan Anda pertama kali menerima kartu ucapan selamat Idulfitri atau Lebaran? Apakah kartu itu masih tersimpan dengan baik? Percayalah, semakin tua usia kartu Lebaran Anda, maka nilainya akan semakin tinggi. “Kalau nuruti pasar lelang untuk kartu Lebaran dan kartu/surat sejenisnya setara dengan harga kartu pos yang sezaman. Kartu pos, kartu lebaran, foto lawas hitam putih, benda cetak lembaran menurut katalog lelang Java Auction sudah terbilang 6 sampai 7 digit. Artinya ratusan ribu hingga dua jutaan rupiah per biji. Tergantung dari kelangkaannya,” ujar Mikke Susanto, staf pengajar ISI Yogyakarta yang suka mengoleksi benda seni kepada Historia .

  • Pertempuran Usai Lebaran

    AWAL Agustus 1948. Menjelang datangnya waktu lebaran, para prajurit Divisi Siliwangi dari Batalyon Rukman mulai resah. Alih-alih mendapat gaji, mereka tak melihat tanda-tanda pemerintah akan memberikan tunjangan hari raya. Sementara itu istri dan anak di asrama penampungan mulai merengek-rengek. “Itu menjadikan kami tak fokus lagi menjalankan tugas sebagai tentara,” ungkap Soempena (92), mantan kopral di Batalyon Rukman. Sesampainya di wilayah Jawa Tengah, kondisi ekonomi para prajurit Siliwangi  dan keluarga yang turut berangkat, hampir  bisa dikatakan sehari-harinya berlangsung morat-marit. Jangankan hidup layak, untuk sekadar tidur pun mereka harus berdesak-desakan di asrama-asrama sempit dan kotor.

  • Lebaran di Mata Kolonialis

    “Tahun Baru Pribumi ( Inlands Nieuwjaar ),” demikian orang Eropa dan pejabat Belanda di Hindia Belanda menyebut hari Lebaran. Mereka juga menganggap bulan Syawal selayaknya bulan Januari. Bulan penuh perayaan. Orang Eropa dan pejabat Belanda di Hindia Belanda merasakan suasana berbeda selama hari Lebaran dan beberapa hari setelahnya dalam bulan Syawal. Sebab orang-orang tempatan berkegiatan dan berpenampilan secara khusus. Saat itulah orang muda dan kaum bawahan memberikan selamat kepada orang tua dan kaum atasannya. Kemudian mereka saling bermaafan atas silap kata dan perilaku, sembari bikin hajatan bareng.

  • Lebaran Bersama Gajah Oling

    DIIRINGI dentuman musik, puluhan peragawan dan peragawati melenggang di catwalk . Para model membawakan busana batik hasil kolaborasi puluhan desainer lokal dan nasional dengan para pembatik lokal Banyuwangi. Karya-karya menarik disuguhkan, dari yang bergaya kasual, busana kerja, hingga busana pesta. Ribuan penonton antusias menyaksikan pagelaran puncak Banyuwangi Batik Festival 2019, yang digelar di Gelanggang Seni Budaya, Taman Blambangan, Banyuwangi, akhir November tahun lalu. Salah satu yang ditunggu adalah penampilan karya-karya Samuel Wattimena, perancang busana nasional yang dikenal suka mengangkat kain Nusantara. Samuel membawakan 10 desain rancangannya yang memadukan kain Nusantara seperti lurik dan tenun dengan batik motif blarak sempal khas Banyuwangi.

  • Merayakan Lebaran di Masa Lampau

    LEBARAN telah tiba. Orang-orang mengisi lebaran dengan beragam cara perilaku. Mereka beranjangsana ke kerabat dan tetangga, berekreasi ke tempat wisata, membagi amplop berisi uang, atau sekadar berkirim ucapan selamat lebaran dan permohonan maaf melalui gawai elektronik. Sebagian merupakan tradisi turun-temurun dari lebaran masa lampau. Berikut ini cara orang merayakan lebaran sekira setengah hingga satu abad lampau di beragam kota.

  • Bung Hatta Bebas di Hari Lebaran

    SETELAH menghadiri Konferensi Liga Internasional Wanita, Mohammad Hatta kembali ke Belanda via Paris. Dia tinggal beberapa hari di Paris. Sesampainya di Den Haag, pada 23 September 1927, dua polisi datang membawa surat perintah penahanan. Hatta dibawa ke penjara di Casiusstraat. Bersamanya ditahan Nazir Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojodiningrat. Mestinya tujuh orang yang ditahan, namun Ahmad Soebardjo, Gatot Tarumihardjo, dan Arnold Mononutu berada di luar Belanda sehingga tak bisa ditahan. Keesokan harinya, Mr. Duys, seorang advokat dan anggota Tweede Kamer (parlemen Belanda) dari SDAP (Partai Buruh Sosial Demokrat), bersama temannya, Mr. Mobach, mendatangi Hatta di penjara dan menawarkan pembelaan dengan cuma-cuma.

  • Nyanyi Sumbang dari Palembang

    ABDUL Malik bukanlah orang terkenal. Dia bukan berasal dari keluarga raden, sekalipun berada di lingkaran anggota-anggota keluarga terkemuka yang punya kaitan dengan Kesultanan Palembang. Dia seorang guru HIS (Hollandsch Inlandsche School) atau sekolah dasar Belanda untuk bumiputra, yang kemudian jadi kepala bagian pendidikan dan kebudayaan Keresidenan Palembang. Namun, ketika Belanda mendorong berdirinya negara federal Sumatra Selatan, namanya tiba-tiba mencuat. “Recomba membutuhkan orang Palembang semacam dia yang dapat ‘dipakai’ untuk menghadapi tokoh-tokoh Republik di Palembang yang menurut Belanda didominasi ‘elemen asing’,” tulis Mestika Zed dalam Kepialangan Politik dan Revolusi: Palembang 1900–1950 .

  • Jenderal Pertama di Sumatra Selatan

    MULANYA Raden Mas Panji Soehardjo Hardjowardojo (1900–1969) merupakan perwira dalam Legiun Mangkunegaran. Ketika berseteru dengan Loem Tjien Goen di pengadilan Malang atas tuduhan pemalsuan, ia sudah berpangkat kapten. Demikian diberitakan koran De Locomotief , 2 Februari 1937. Soehardjo, disebut koran Soerabaijasch Handelsblad , 7 Juni 1937, juga aktif dalam organisasi bernama Menoedjoe Membrantas Penganggoer Pemoeda (MMPP) yang mengadakan pelatihan pertanian di Jawa Timur. Di antara hasil pelatihan itu ada yang diarahkan ke Lampung sebagai daerah transmigrasi. Soehardjo juga akhirnya pindah ke Lampung yang sudah banyak didiami transmigran Jawa yang mencari hidup.

  • Partai Pamungkas Tan Malaka

    DALAM pengap penjara Magelang, pada 31 Juli 1948, Tan Malaka menulis surat buat kawan-kawannya mengenai pandangan dan langkah Partai Rakyat. Dia menyebut menulis surat itu dengan “tergopoh-gopoh. Kalau-kalau merpati hinggap!” Tapi sejatinya surat itu ditulis beserta “kata sambutan” untuk memenuhi permintaan dari pengurus Partai Rakyat yang akan menggelar kongres pertama. Tan menulis, kendati berdiri di atas lapangan (basis sosial) yang lebih luas ketimbang Partai Buruh Merdeka (PBM) dan Angkatan Communis Muda (Acoma), Partai Rakyat haruslah memakai pedoman yang jauh dan jelas. Tan mengusulkan kerjasama erat di antara partai-partai itu yang menentukan dan membatasi daerah kerja. Bahkan, dia mengusulkan kemungkinan fusi di antara semua partai murba umum seperti Partai Rakyat, Partai Rakyat Djelata, dan Partai Wanita Rakyat.

  • Soesalit Djojoadhiningrat, Anak Kartini Jenderal Kiri

    R.A. Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat –nama terakhir dari ayahnya, Raden Adipati Djojoadhiningrat, bupati Rembang. Soesalit diasuh oleh neneknya, M.A. Ngasirah, ibu Kartini. Soesalit sempat menjadi asisten wedana di Banyumas sebelum akhirnya meniti karier di kemiliteran. Pada masa pendudukan Jepang, Soesalit mengikuti pendidikan sekolah militer ( Renseitai ) di Magelang dan melanjutkan ke Pembela Tanah Air (Peta). Dia kemudian menjadi komandan batalion ( daidancho ) Peta di Banyumas II (Sumpiuh) pada 1943-1945. Setelah Indonesia merdeka, Kolonel Soesalit menjadi Komandan Divisi III/Yogyakarta. Pengangkatan ini sebenarnya tidak disetujui oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Namun, Soesalit dipilih oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin.

bottom of page