top of page

Aksi Tjipto Mangoenkoesoemo di Dewan Rakyat

Dia rajin mengkritik pemerintah Hindia Belanda terkait keputusan yang merugikan rakyat. Ditunjuk langsung Gubernur Jenderal namun dianggap berbahaya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ki Hajar Dewantara, Ernest Douwes Dekker, dan Tjipto Mangoenkoesoemo. (Wikimedia Commons).

  • 10 Okt 2020
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 4 Mar

PENGESAHAN Omnibus Law RUU Cipta Kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020) diwarnai aksi walk out salah satu fraksi partai. Melalui perwakilannya di DPR, Benny K. Harman, Partai Demokrat memutuskan keluar dari rapat paripurna. Benny juga mengatakan jika partainya tidak bertanggung jawab atas keputusan rapat tersebut.


Aksi walk out Benny merupakan buntut kekecewaan atas sikap pimpinan rapat Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin yang tidak memberinya kesempatan berbicara. Terlebih mikrofon yang digunakannya untuk berbicara diduga dimatikan secara sengaja. Dilansir laman Kompas, Partai Demokrat merupakan salah satu partai yang menolak pengesahan RUU Cipta Kerja pada sesi akhir rapat paripurna.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page