top of page

Aroma Dendam Konflik Balkan

Selebrasi gol sarat kontroversi. Dianggap provokasi.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 26 Jun 2018
  • 3 menit membaca

USAI mencetak gol pertama Swiss atas Serbia di matchday kedua Grup E Piala Dunia 2018, Sabtu (23/6/2018), gelandang Granit Xhaka langsung merayakannya dengan selebrasi berupa mendekapkan dua tangan membentuk elang berkepala dua, mirip simbol Albania. Selebrasi serupa dilakukan Xherdan Shaqiri usai mencetak gol yang memastikan kemenangan Swiss di Kaliningrad Stadium itu.


Selebrasi kontroversial tersebut jadi bumbu tersendiri dalam lagi penuh gengsi itu. Ia berkalang masa lalu nan pahit. Meski Swiss dan Serbia secara formal tak pernah berkonflik, komposisi tim Swiss di Piala Dunia 2018 berisi banyak pemain berdarah Balkan. Selain Granit dan Shaqiri, Swiss juga diperkuat Blerim Dzmaili dan Valon Behrami yang –di lengan kirinya bertato bendera Kosovo dan lengan kanannya bertato bendera Swiss– juga berdarah Albania. Selain itu, ada Haris Seferovic dan Mario Gavranovic (Bosnia), dan Josip Drmic (Kroasia). Mayoritas punya masa lalu yang belum selesai dengan Serbia. 


Granit dan Shaqiri seakan merupakan eksponen dari konflik itu. Selebrasi keduanya dengan mendekapkan dua tangan berbentuk elang berkepala dua, mirip simbol Albania, jelas provokasi terhadap tim dan suporter Serbia. Keduanya merupakan warga berdarah Albania asal Kosovo, negeri yang pernah diperangi Serbia dalam konflik Balkan.


Sebelum pertandingan, aroma dendam konflik Balkan sudah terasa saat muncul beragam pemberitaan tentang sepatu Nike Mercurial yang dikenakan Shaqiri. Di sepatu kirinya, Shaqiri memamerkan gambar bendera Swiss, sementara di kanannya bendera Kosovo, negara kelahirannya 26 tahun silam.



Hanya dengan mengenakan sepasang sepatu itu saja Shaqiri sudah memicu provokasi buat Serbia. “Jika mereka sangat mencintai Kosovo, kenapa mereka tidak bermain untuk negeri mereka sendiri saja ketimbang Swiss,” kata penyerang Serbia Aleksandar Mitrovic merespons psy war jelang laga, dikutip Washington Post, 21 Juni 2018.


Kenangan Kelam Masa Silam


Aksi Granit dan Shaqiri jelas politis. Emosi akibat pengalaman pahit masa lalu, disebabkan oleh Konflik Kosovo, keduanya beserta keluarga mereka belum sirna.


Konflik di Kosovo meningkat jadi kekerasan bersenjata pasca-lahirnya Ushtria Clirimtare e Kosoves (UCK) alias Tentara Pembebasan Kosovo pada 1991. Hingga berakhirnya perang (11 Juni 1999), ratusan ribu sipil jadi korban. Menurut Tim Judah dalam The Serbs: History, Myth and the Destruction of Yugoslavia, sekitar 848-863 ribu atau 90 persen populasi Albania di Kosovo terpaksa mengungsi. Sekira 8.661 lainnya tewas atau hilang. Sementara di pihak Serbia, 230 ribu warga kehilangan tempat tinggal dan sekira 3.500 jiwa lainnya tewas atau hilang.


Granit dan Shaqiri hanya dua dari 200-an ribu korban perang di Kosovo. Shaqiri, misalnya, sudah harus mengungsi saat masih bayi. Lahir di Gjilan, Yugoslavia (kini wilayah Kosovo) 10 Oktober 1991, Shaqiri dan tiga saudaranya dibawa kedua orangtuanya keluar dari Kosovo. Mereka mengungsi lebih dari 1000 mil hingga mencapai Augst, Swiss.



“Saya tak pernah lupa bahwa saya lahir di Kosovo. Negeri yang sangat miskin. Tak banyak lapangan pekerjaan, tak banyak uang. Rumah paman saya dibakar, namun rumah saya masih berdiri meski rusak di sana-sini, barang-barang dicuri dan tembok rumah saya dicorat-coret,” kenang Shaqiri, dilansir Independent, 23 Juni 2018.


Sementara, Granit lahir di Basel, Swiss 25 tahun lampau dari pasangan berdarah Albania, Ragip dan Eli Xhaka. Pasangan itu awalnya tinggal di Kursumlija, Serbia. Begitu konflik pecah, orangtua pemain yang kini berkarier di Arsenal FC itu harus berpindah-pindah dari Kursumlija ke Podujevo (Kosovo) sebelum mencapai Swiss pada 1990.


Saat diwawancara Dave Hytner dari The Guardian, 17 November 2017, Granit membeberkan, ayahnya pernah dipenjara pemerintah Serbia saat masih mahasiswa. “Sejauh yang saya tahu, dia baik-baik saja di awal masa tahanannya. Namun kemudian dia juga ikut dipukuli di tahanan,” kenang Granit.


Ragip Xhaka diciduk pemerintah gara-gara ikut berdemonstrasi pada 1986. Demonstrasi itu bagian dari Revolusi Anti-Birokratik 1986-1989 yang menentang pemerintah otonomi Serbia di Kosovo dan Montenegro. Demonstrasi menjalar ke Pristina hingga Vojvodina.


Ragip dipenjara tiga setengah tahun. Setelah dibebaskan dan menikah, dia pindah ke Swiss dan beranak-pinak di sana.


Berbeda dari kakaknya, Taulant Xhaka, yang memilih membela timnas Albania, Granit memilih mengabdi buat timnas Swiss. Namun, bukan berarti dia dan Shaqiri boleh provokatif dalam sebuah pertandingan lantaran FIFA berulangkali menegaskan ingin menjauhkan sepakbola dari politik.


“Komite Disiplin FIFA membuka pemeriksaan terhadap Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri terkait selebrasi gol di pertandingan Swiss vs Serbia,” ungkap FIFA, dikutip Sky Sports, 24 Juni 2018. Menilik regulasi kedisiplinan FIFA pasal 54, provokasi terhadap publik umum dalam pertandingan hukumannya dua kali larangan bertanding dan denda paling sedikit USD 5.062.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Banyumas is one of Central Java’s rice-producing regions. However, floods and malaria caused famine in the area. This issue caught the attention of a member of the House of Representatives.
bg-gray.jpg
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
transparant.png
bottom of page