- 14 Jul 2010
- 3 menit membaca
Diperbarui: 5 Mar
KETIKA Benyamin Sueb wafat pada 5 September 1995, sontak semua stasiun televisi, untuk beberapa jam lamanya, menunda program acaranya dan menggantinya dengan acara inmemoriam Benyamin Sueb. Hal itu seakan meneguhkan sebuah pameo: seseorang baru berarti ketika dia mati.
Ben sangat berarti, paling tidak buat orang Betawi. Ia juga memperkaya khasanah dunia hiburan kita.
Ben menghadirkan realitas. Wajah Ben adalah potret orang Betawi. Akting Ben di dalam film adalah realita keseharian orang Betawi: yang acapkali harus menerima nasib tersingkirkan oleh derap pembangunan kota Jakarta. Namun di antara segala penderitaan itu selalu terselip rasa humor yang tinggi, seperti juga yang dilakukan Ben dalam setiap aksi panggung dan filmnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












