- 11 Agu 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 22 Feb
KAMPUNG Sindurejan, awal 1900-an. Malam baru saja memasuki sepertiga waktunya. Lima bocah mengendap-endap di kebun belakang rumah besar Mantri Guru Isa. Bayangan mereka yang berjingkat-jingkat tertimpa sinar bulan purnama. Rombongan kecil bocah nakal itu dipimpin Ndoro Sidik, panggilan akrab orang-orang kampung kepada Muhammad Sidik, putra sulung pasangan Mantri Guru Mohamad Isa Soemohardjo dan Raden Ajeng Rochjasih.
Begitu mencapai pohon kemiri besar di tepi sumur tua, anak-anak itu berhenti. Sesuai kesepakatan, mereka mendapuk sang pemimpin naik terlebih dahulu dan menjadi saksi pertama dari rasa kepenasaran mereka selama ini: apakah makhluk halus penghuni pohon kemiri itu menampakkan wujudnya atau tidak. Namun, belum setengah menit Ndoro Sidik meluncur ke atas, tiba-tiba terdengar suara benda keras menghantam tanah. Rupanya, saat meniti dahan pohon, sang ndoro kecil terpeleset lalu terjatuh. Maka, gegerlah Sindurejan di malam Jumat itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












