top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Bung Karno Pahlawan Islam

Dalam Konferensi Islam Asia Afrika 1965, Presiden Sukarno dianugerahi gelar Pahlawan Islam dan Kemerdekaan. Meski tersanjung, Bung Karno lebih senang dirinya disebut sebagai Hamba Allah saja.

7 Mar 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Presiden Sukarno menerima laporan pelaksanaan Konferensi Islam Asia Afrika dari Sekjen Ahmad Syaikhu di Stadion Gelora Bung Karno, 14 Maret 1965. (Perpusnas RI).

SEDERET gelar kehormatan tersemat kepada Presiden RI ke-1 Sukarno. Mulai dari Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi, hingga Penyambung Lidah Rakyat. Dari sekian banyak gelar kehormatan, tak semua berkenan bagi Bung Karno. Seperti misalnya gelar Rimbawan Agung dari Departemen Kehutanan, yang mengingatkan orang kepada tarzan si manusia hutan. Atau gelar “nabi” pemberian kelompok Agama Djawa Asli Republik Indonesia (ADARI), yang tentu saja ditolak Bung Karno karena menjurus bid'ah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page