Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
Suatu peristiwa penting yang mempererat solidaritas dunia Islam di Asia dan Afrika sekaligus pernyataan sikap bersama mereka. Inilah Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA).
Lewat pendekatan budaya, Abdul Rasjid, delegasi Srilanka dalam KIAA melancarkan diplomasinya yang membuat para delegasi lainnya berderai tawa. Dia juga sosok di balik gelar Pahlawan Islam dan Kemerdekaan yang melekat pada Bung Karno.
Meski tak diakui, PLO mewakili Palestina dalam Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) I di Bandung. Konferensi Islam global pertama ini mendukung kemerdekaan Palestina.
Dalam Konferensi Islam Asia Afrika 1965, Presiden Sukarno dianugerahi gelar Pahlawan Islam dan Kemerdekaan. Meski tersanjung, Bung Karno lebih senang dirinya disebut sebagai Hamba Allah saja.
Tuan rumah Indonesia sukses menggalang solidaritas anti-kolonialisme di antara negara-negara Islam Asia-Afrika. Malaysia yang dibekingi negara imperialis tak mau kalah berebut simpati.
Konferensi Islam Asia Afrika I diselenggarakan sepuluh tahun setelah Konferensi Asia Afrika. Presiden Sukarno menyebut konferensi ini sebagai lonceng kematian bagi neo-kolonialisme dan imperialisme.