top of page

Dari Matros ke Banteng Marhaen

Setelah dipecat dari Angkatan Laut, dia masuk pergerakan. Pengikut Sukarno ini kemudian aktif di parlemen.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kromo Lawi, mantan pelaut di AL Belanda yang banting setir menjadi anggota pergerakan kemerdekaan Indonesia (Yusuf "Gondrong"/Historia)

7 Nov 2023
3 menit membaca

Diperbarui: 8 Mei

TAK lama bekerja di perusahaan keretaapi di Comal, pemuda asal Batang, Jawa Tengah ini kemudian mendaftar ke masuk Koninklijk Marine (KM) alias Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Mula-mula dia dididik di Kweekschool voor Indische Schepelingen van de Koninklijke Marine (KIS) Makassar. Setelahnya, dengan pangkat Kelasi Kelas Tiga dia ditempatkan di kapal-kapal perang Belanda.


Lawi Soemodihardjo, begitu namanya. Dia lahir tahun nol, maksudnya 1900 di Batang. Ayahnya  seorang mandor. Posisi ayahnya memungkinkannya mengenyam pendidikan formal di mana dia setidaknya berhasil lulus sekolah dasar berbahasa Belanda hingga bisa diterima di KIS. Selama berdinas di KM, Lawi pernah tinggal di Jagalan nomor 41, Surabaya. Pelaut ini sadar ada yang berbeda antara orang yang berkulit warna sepertinya dengan yang berkulit lebih putih darinya.


“Akibat perbedaan nasib yang sangat menyolok antara 2 (dua) jenis asal keturunan Eropeaan dan Inlander, di kalangan anak Marine di Koninklijk Marine (KM) di Hindia Belanda gagasan untuk perbaikan nasib bagi anak marine di kalangan Pribumi (Inlander) diwujudkan dengan dibentuknya persatuan anak marine pribumi dengan nama Inlandsch Marine Bond,” sebut Lawi Soemodihardjo dalam riwayat yang dibuatnya pada 20 Mei 1973 –kemudian terhimpun dalam koleksi arsip Anton Lucas.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page