top of page

Dari Teologi ke Ilmu Semit

Snouck Hurgronje belajar teologi dari “modernis Leiden”. Menerapkan pendekatan kritis-historis terhadap Al-Qur’an.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Christiaan Snouck Hurgronje dan Herman Bavinck. (Wikimedia Commons).

  • 31 Des 2022
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 5 Mar

LARUT malam di Leiden, Belanda. Lampu kamar asrama mahasiswa teologi Fakultas Sastra Universitas Leiden masih menyala. Ada dua orang di dalam kamar: Snouck Hurgronje dan Herman Bavinck. Mereka belum juga kelar mendaras halaman-halaman Alkitab tua.


Snouck menikmati kuliahnya di Leiden. Para pengampunya merupakan “modernis Leiden” yang saat itu mendominasi wacana baru tentang penafsiran Alkitab di Eropa. Antara lain Abraham Kuenen, C.P. Tiele, L.W.E. Rauwenhoff, dan Julius Welhausen. Label “modernis Leiden” disematkan lantaran pendekatan analitis kritis mereka terhadap kitab suci.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page