- 17 Jun 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 5 Mar
DALAM sebuah pertemuan Kabinet di gedung kepresidenan pada 26 Juni 1947, ketegangan di tubuh Republik mencapai puncaknya. Tiap-tiap menteri, serta perwakilan partai memberikan pandangan mereka tentang situasi politik terkini. Mereka saling melempar kritik terhadap satu sama lain, yang membuat suasana debat menjadi panas.
Sorotan utama di dalam perdebatan tersebut adalah sikap Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang dianggap terlalu lemah saat berhadapan dengan pemerintah Belanda. Sebagai ujung tombak perjuangan di ranah diplomasi, dia diharapkan dapat bersikap tegas dan bertindak cepat. Terutama dalam situasi genting pasca mendaratnya kembali Belanda di Indonesia yang baru merdeka.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












