top of page

Di Balik Kematian Wolter Mongisidi

Sikap para pejabat Negara Indonesia Timur menjadi penyebab utama Robert Wolter Mongisidi tetap dieksekusi mati.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Robert Wolter Mongisidi diapit dua kawan seperjuangannya. (Koleksi keluarga M.A. Kamah).

21 Feb 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 14 Feb

SEMASA hidupnya, Maulwi Saelan kerap terlihat geram jika membahas kematian sahabatnya, Robert Wolter Mongisidi. Bagi pejuang kemerdekaan asal Sulawesi Selatan itu, sejatinya nyawa Bote, panggilan akrab Wolter, masih bisa diselamatkan andaikan para pejabat Negara Indonesia Timur (NIT) memohonkan amnesti kepada Ratu Juliana di Den Haag, Belanda.


“Nyatanya mereka tidak pernah memiliki niat baik itu karena bagi para pejabat NIT, Bote tak lebih sebagai penjahat biasa yang harus dienyahkan,” ungkap Saelan kepada Historia.


Wolter ditembak mati oleh tim eksekusi dari Polisi Militer Belanda di sebuah lapangan yang masuk ke wilayah Tello, Makassar, pada 5 September 1949. Sebelumnya, pengadilan yang dipimpin oleh Hakim Mr. Dr. B. Damen meluluskan tuntutan tim oditur militer untuk memberikan vonis mati kepada pemuda kelahiran Malalayang, Sulawesi Utara, pada 14 Februari 1925 itu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page