top of page

Dolok Martimbang, Pesawat Kepresidenan Indonesia Pertama

Presiden Sukarno mengambil nama salah satu gunung di Tapanuli Utara sebagai nama pesawat kepresidenan pertama. Jadi simbol persatuan dan kedamaian ditengah riuhnya pergolakan daerah.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 21 Mei 2024
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 24 Jan

PESAWAT Uni Soviet Ilyushin (IL)-14 mendarat mulus Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, Cililitan. Pemerintah Uni Soviet menghibahkannya kepada Indonesia sebagai tanda persahabatan kedua negara. Itulah pesawat kepresiden Indonesia yang pertama. Ketika meninjaunya, Presiden Sukarno terlintas sebuah nama. Nama pesawat kepresidenan itu diumumkan sendiri oleh Presiden Sukarno dalam acara serah terima pada 24 Januari 1957.


“Di Tapanuli terdapat daerah pegunungan yang menurut legenda selalu saling bertengkar. Dan Dolok Martimbanglah yang mampu menyatukan mereka kembali. Makanya aku beri nama pesawat ini: Dolok Martimbang,” kata Presiden Sukarno seperti diberitakan Preangerbode, 25 Januari 1957.


Pada acara serah terima yang berlangsung di Pangkalan Halim itu, pemerintah Soviet diwakili oleh Duta Besar Zhukov. Dilansir Het nieuwsblad voor Sumatra, 25 Januari 1957, Dubes Zhukov menyatakan penyerahan pesawat itu sebagai hadiah dari pemerintahnya untuk mempererat tali persahabatan antara masyarakat Uni Soviet dan Indonesia. Pesawat tersebut disumbangkan secara pribadi oleh pemerintah Soviet kepada Presiden Sukarno sebagai penghargaan atas penguatan hubungan diplomatik Indonesia dan Uni Soviet.



Meski orang Jawa, Sukarno menamai pesawat kepresidenan itu dengan mengambil toponimi dari Tapanuli Utara, yang identik dengan suku Batak. Penamaan ini tentu berasal dari pengamatan cermat. Situasi politik dan keamanan dalam negeri saat itu sedang kurang kondusif.  


Sejak akhir 1956, beberapa daerah di Sumatra bergolak menuntut otonomi daerah. Pemutusan hubungan dengan pusat pertama kali berdentum di Sumatra Utara tatkala Kolonel Maludin Simbolon, panglima Teritorium II/Bukit Barisan, mendeklarasikan berdirinya Dewan Gajah pada 22 Desember 1956. Menyusul kemudian pembentukan dewan yang sama di Sumatra Barat dan Selatan oleh panglima daerah masing-masing.


Keadaan itu mengilhami Sukarno akan simbol persatuan yang bisa bergerak atau menjangkau daerah bergolak. Maka dinamakannyalah pesawat kepresidenan itu Dolok Martimbang. Gunung Dolok Martimbang terletak di sisi timur jalan dari Tarutung menuju Sibolga. Di kaki gunung ini terdapat Rura (Lembah) Silindung yang subur dan dipenuhi sawah-sawah luas. Sudah sejak lama masyarakat Batak mendiami lembah ini.


Menurut legenda, di sekitar Lembah Silindung banyak bukit dan gunung yang menurut legenda terus bertengkar satu sama lain. Dolok Martimbanglah yang bisa menyatukan mereka kembali. Selain itu, Dolok Martimbang kerap dijadikan tempat berunding atau mengikat janji antara para raja atau kepala huta (kampung) yang bertikai.


“Dengan Dolok Martimbang ini saya berharap dapat memberikan kekuatan kepada saya untuk membuat reunifikasi dan penguatan rakyat lndonesia, tidak hanya untuk kemakmuran mereka sendiri, tetapi juga untuk kebahagiaan umat manusia,” kata Bung Karno dala Java Bode, 24 Januari 1957.



Nama Dolok Martimbang, seturut penelusuran pemerhati sejarah Akhir Matua Harahap, sudah ada di benak Presiden Sukarno. Pada Maret 1953, Sukarno berkunjung ke Tapanuli. Di kesempatan itulah dia menatap langsung Dolok Martimbang serta mendengar cerita rakyat tentang tempat itu. Arti nama Dolok Martimbang bagi penduduk Tapanuli di Silindung sudah dipahami oleh Presiden Sukarno.


“Oleh karena itulah Presiden Soekarno dengan spontan memberi nama pesawat kepresidenan yang baru mendarat dengan nama Dolok Martimbang,” terang Harahap dalam laman pribadinya.


Dalam Sejarah Angkatan Udara 1950-1959, Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau) merinci spesifikasi pesawat Dolok Martimbang. Pesawat ini mempunyai panjang badan 21,31 meter dan lebar sayap 31,7 meter. Ketinggian terbangnya mencapai 2.400 meter dengan kecepatan maksimal 398 km/jam.


Pesawat Dolok Martimbang diberi nomor register T-14 yang tercantum pada badan pesawat sementara perawatannya diserahkan kepada AURI (kini TNI AU). Sedianya pesawat Dolok Martimbang tidak dirancang sebagai pesawat kepresidenan. Itulah sebabnya, sejak serah terima, pesawat ini kembali harus direparasi kembali ke Moskow untuk penyempurnaan. Ia  baru bisa dioperasikan beberapa bulan kemudian untuk kegiatan perjalanan presiden.  



Dengan Dolok Martimbang sebagai “tunggangannya”, Presiden Sukarno melaksanakan perjalanan dinas ke berbagai daerah di Indonesia. Kapten Udara Sri Mulyono Herlambang ditunjuk sebagai pilot penerbang Dolok Martimbang dengan kru antara lain: Letnan Udara I The Tjing Hoo, Letnan Udara II A. Carqua, Kapten Udara Soesanto, dan Letnan Udara I Basjir. Keberadaan Dolok Martimbang menjadi tonggak dalam perkembangan AURI sekaligus embrio lahirnya Skadron Angkut Khusus (Skadron Udara 17). Skadron ini mempunyai tugas pokok melayani penerbangan VIP/VVIP termasuk penerbangan kepresidenan dengan pesawat khusus.


Selain menjalankan tugas kepresidenan, Presiden Sukarno juga merasakan pengalaman romantis di pesawat Dolok Martimbang. Di pesawat inilah Bung Karno menjalin hubungan dekat dengan salah satu pramugarinya bernama Kartini Manoppo. Sang pramugari kemudian dipersunting menjadi salah satu istri Sukarno.


Pesawat Dolok Martimbang terbilang sebentar beroperasi sebagai pesawat kepresidenan. Pada 1962, dia tak lagi melayani penerbangan untuk Presiden Sukarno yang sudah digantikan dengan pesawat C-140 Jet Star. Pesawat ini resmi dipensiunkan pada 1976 dan menjadi bagian Monumen Pesawat IL-14 Avia di Lanud Abdulrachman Saleh. Atas prakarsa KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahyanto (kini Menkopolhukam), monumen tersebut direlokasi ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogyakarta sebagai koleksi museum.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
As one of the seven important inscriptions from the Tarumanagara heritage, the Tugu Inscription mentions the Bekasi River and the Old Cakung River that exist until today.
bg-gray.jpg
Seorang kiai kampung diadili karena dianggap mengingkari syariat. Sebuah kritik atas pembacaan Serat Cebolek.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung menjadi satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari kalangan seniman. Namun, kehidupannya tak seindah guratan pada lukisan dan sketsanya.
bg-gray.jpg
In addition to the epigraphs found on the seven inscriptions, historical sources regarding Tarumanagara also come from statues and temples at two archaeological sites.
Pasal 33 dan Pasal 34 dalam UUD 1945 dirumuskan panitia khusus pimpinan Bung Hatta. Kakek Prabowo dan kakek Anies Baswedan turut serta di dalamnya.
Pasal 33 dan Pasal 34 dalam UUD 1945 dirumuskan panitia khusus pimpinan Bung Hatta. Kakek Prabowo dan kakek Anies Baswedan turut serta di dalamnya.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Bekas komandan pasukan khusus Belanda yang berkawan dengan Westerling ini sedang ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II ketika tertembak dadanya.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
Museum swasta lebih berperan dalam menopang perkembangan seni rupa. Sementara museum pemerintah masih berkutat dengan administrasi dan birokrasi.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Fenomena Lipstick Effect muncul ketika krisis ekonomi. Perempuan membeli kosmetik untuk memanjakan diri sebagai mekanisme psikologis mengatasi tekanan.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
Beragam faktor, terutama perubahan birokrasi dan pertanian paksa, menyengsarakan rakyat sejak era kolonial hingga Jepang. Memicu konflik antara penduduk dengan penguasa. Kebanyakan dipimpin tokoh agama.
Demi jaga hak, sejarah, asal-usul, dan adat-istiadat suku Muyu bagi generasi-generasi penerusnya, kepala adat marga Kimko di suku Muyu gelar tradisi pesta babi sebagai bentuk perlawanan.
Demi jaga hak, sejarah, asal-usul, dan adat-istiadat suku Muyu bagi generasi-generasi penerusnya, kepala adat marga Kimko di suku Muyu gelar tradisi pesta babi sebagai bentuk perlawanan.
transparant.png
bottom of page