- 29 Apr 2021
- 4 menit membaca
Diperbarui: 18 Feb
“Kalau politik otaknya partai, maka sastra dan seni adalah hatinya partai,” kata Aidit.
“Kau yakin bahwa sastrawan dan politisi itu bisa kerjasama?” tanya Utuy.
“Kau sendiri yakin tidak, bahwa kita bisa kerjasama?” jawab Aidit.
Utuy tertawa lalu mereka berjabat tangan. Perbincangan itu tampaknya menandai bergabungnya Utuy Tatang Sontani, seorang dramaturg besar Indonesia, dengan PKI. Namun, baru enam bulan bergabung badai G30S menerpa.
Utuy Tatang lahir di Cianjur pada 13 Mei 1920. Ayahnya seorang saudagar batik yang kemudian alih profesi menjadi jurutulis. Utuy sempat masuk ke sekolah desa, kemudian pindah ke sekolah Schakel dan mendapat pelajaran bahasa Belanda. Namun, di sekolah ini Utuy justru mendapat hinaan “inlander!” dari kepala sekolah Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












