top of page

Hari Tua Seorang Mata-mata

Zulkifli Lubis sempat berkiprah dalam intelijen pada masa Orde Baru. Namun, dia kemudian kecewa dengan pemerintahan Soeharto yang dinilainya tidak demokratis.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Zulkifli Lubis dan istrinya, Siti Zaenab. (Dok. Keluarga Zulkifli Lubis).

4 Mei 2023
5 menit membaca

Diperbarui: 8 Mei

FURQAN Lubis ingat betul masa ketika screening yang dijalankan pemerintah Orde Baru menghentikan jalannya menjadi dosen. Dia tak tahu apa yang membuatnya tak lulus. Alih-alih memberi tahu, si petugas malah berpesan: “Kamu jangan mencontoh orang tuamu, ya.” Penasaran, Furqan menceritakan pengalaman itu kepada ayahnya. Zulkifli Lubis, ayahnya, menjawab singkat: “Itu kan orang yang tidak mengerti perjuangan.”


Zulkifli Lubis tak pernah menceritakan kiprahnya dalam politik dan militer kepada anak-anaknya. Meski punya peran penting di kancah politik nasional pada 1950-an, dia menutupinya rapat-rapat. Pekerjaan dan keluarga adalah dua hal yang terpisah baginya. Anak-anaknya pun akhirnya tak ambil pusing. “Justru yang lebih tahu orang lain daripada anaknya sendiri,” ujar Furqan, anak keenam Zulkifli Lubis.


Pergantian kekuasaan membuat Lubis seolah jadi orang asing. Konstelasi politik yang baru terasa kabur baginya. Sejak paruh pertama 1960-an, dia mendekam di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta. Rezim Sukarno, yang menjebloskannya ke penjara, berada di ambang kehancuran. Sukarno sendiri menjadi tahanan rumah, dengan akses sangat terbatas. Lubis, yang dibebaskan dari tahanan pada 1966, pun tak beroleh izin dari militer untuk menjenguknya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page