top of page

Harimau-Harimau Garut

Pasukan Pangeran Papak dibentuk dari dua kelompok pemuda pejuang yang tidak mengharapkan kembali kedatangan Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tugu peringatan pembentukan Pasukan Pangeran Papak di Cinunukan, Garut. Foto: Hendi Jo.

30 Des 2018
3 menit membaca

Diperbarui: 6 Mar

DUA BELAS pusara tua itu terpuruk dimakan zaman. Nisan-nisan mereka yang bentuknya serupa nampak sudah agak berlumut. Sementara sisi kanan dan kiri, depan-belakang, ratusan ilalang berdiri tegak lengkap dengan bulu-bulunya yang berwarna putih kecoklat-coklatan.


Sedikit orang yang paham asal muasal pusara-pusara itu berada di Kompleks Pemakaman Umum Cinunukan (masuk dalam wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut). Salah satunya adalah Dadang Koswara. Menurut lelaki berusia setengah abad tersebut, sejatinya 12 pusara itu diisi oleh jasad-jasad para pejuang dari Pasukan Pangeran Papak (PPP) yang gugur dalam berbagai pertempuran melawan militer Belanda di Garut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page