- 22 Nov 2024
- 6 menit membaca
Diperbarui: 4 Mar
TAK ada yang menduga peristiwa naas ini terjadi. Pada akhir 1956, Radius Prawiro bersama beberapa rekan menghadiri sebuah konferensi di Woudschoten, Zeist, Belanda. Sebagai sibuk kuliah di Nederlandsche Economische Hogeschool, Rotterdam, Belanda, Radius memang aktif dalam Perserikatan Kristen Indonesia (Perki) cabang Rotterdam, bahkan jadi ketuanya.
Usai acara, mereka pulang dengan menumpang bus. Namun, di sebuah perempatan, bus yang mereka tumpangi ditabrak oleh kendaraan dari arah samping. Radius mengalami luka-luka, sementara seorang temannya meninggal dunia. Mereka segera dilarikan ke sebuah RS di Leiden.
Kondisi Radius ternyata cukup parah. Dia mengalami gegar otak hingga harus dirawat intensif. Selepas opname, dia menjalani rawat jalan di rumah suami-istri Moekarno Notowidigdo, orangtua angkatnya yang merupakan kawan dekat ibunya. Selama masa pemulihan, beberapa kawan menjengguknya. Salah satu yang rajin datang adalah Leonie “Onie” Supit, sekretaris Perki.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












