top of page

Jalan Sunyi Kecap Zaman Revolusi

Tak perlu menjadi kecap nomor satu. Bertahan sejak zaman revolusi pun sudah menjadi penanda jaminan mutu. Itulah kecap cap Zebra yang diproduksi di Bogor.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pabrik kecap cap Zebra di Cihideung Ilir, Bogor. (Aryono/Historia.ID).

30 Nov 2023
5 menit membaca

Diperbarui: 6 Agu

KABAR Proklamasi akhirnya sampai ke Bogor. Masyarakat menyambut gembira. Bendera merah putih berkibar. Pasar menjadi lebih ramai. Di tengah euforia kemerdekaan, Soedjono datang mengadu nasib ke Bogor, meninggalkan tanah kelahirannya di Juwana, Pati, Jawa Tengah. Modalnya cuma satu: keahlian membuat kecap manis. 


Soedjono (Cheng Tjong Tian) lahir dari keluarga pengusaha tahu dan kecap di daerah Juwana, Pati, Jawa Tengah, sekira tahun 1907. Dari orang tuanya, Soedjono mewarisi keahlian membuat kecap. “Dengan bakat membuat kecap dari engkong (kakek) dari Juwana, ayah saya membuka usaha di Bogor,” ujar Soenardi, 82 tahun, putra sulung Soedjono. 


Di Bogor, Soedjono tinggal di Purbasari, kawasan Gunung Batu –sekarang masuk wilayah administrasi kecamatan Bogor Barat. Di sana dia membeli rumah dengan lahan seluas sekira 1.500 meter persegi. Dibantu empat pekerja, mulailah dia membuat kecap manis, yang mendapat label kecap cap Badak. Awalnya dia hanya memenuhi kebutuhan kecap masyarakat setempat. Usahanya laris manis. Setelah usahanya mapan, Soedjono memboyong istri, anak, dan orang tuanya ke Bogor. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page