top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

JJ Nortier Kabur dari Nazi ke Front Pasifik

Dia kabur dari Negeri Belanda yang diduduki Nazi ke Australia. Ikut pertempuran Tarakan.

9 Feb 2024

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pasukan KNIL tempat Joop Nortier mengabdi sedang berparade di Melbourne saat mengungsi ke Australia selama Perang Pasifik. (Australian War Memorial/Wikipedia.org)

  • 9 Feb 2024
  • 3 menit membaca

KETIKA tentara Jerman menduduki Negeri Belanda sejak 10 Mei 1940, para taruna di Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda sedang menjalani pendidikan. Termasuk empat taruna dari Indonesia: Soemiarto Abdurachman, Victor Louise Makatitta, Saleh Sadeli, dan Kanido Rachman Masjhur.


"Saya sedang berlatih sebagai perwira infanteri KNIL di akademi militer di Breda ketika perang pecah," kata Joop Nortier alias Johanis Jan Nortier (1917-2002), dikutip De Telegraaf, 3 September 1988.


Kala itu Nortier sudah berpangkat sersan kadet, harusnya tinggal sebentar lagi dia belajar di Breda dan kemudian menjadi perwira dalam tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Namun kedatangan Jerman menghalangi karier pria kelahiran Poortvliet, 6 Agustus 1917 ini.



Beruntung, di Negeri Belanda ada kelompok pertahanan bawah tanah yang membuat Nortier tidak jadi tahanan tentara Jerman. Dengan begitu, Nortier bisa melarikan diri ke Swiss lewat Prancis sekitar tahun 1941. Petualangannya dalam Perang Dunia II pun dimulai.

Dia lalu mencari induk pasukan KNIL. Usahanya berhasil.


"Dari sana saya pergi melalui Suriname ke KNIL di Australia. Pada tahun 1944 saya ikut serta dalam pendaratan Australia di Tarakan," aku Nortier, yang mendapat penghargaan Kruis van Verdienste.



Sesampainya di Australia, putra Willem Nortier dan Dingena Cornelia Vos itu menjadi orang yang sangat dibutuhkan oleh KNIL yang sedang mengungsi ke Australia. Dia lalu menjadi letnan dua KNIL. Di Front Pasifik yang melawan tentara Jepang ini, Nortier diberi peran cukup menegangkan tapi penting. Nortier ditugaskan untuk operasi tentara Sekutu di Kalimantan.


“Saya menjadi komandan sebuah kompi,” aku Nortier di koran Nederlands Dagblad, 5 Maret 1994.


Kompi yang dipimpinnya adalah kompi gado-gado, terdiri dari tentara Inggris yang tersesat, anggota KNIL yang mengungsi dari Hindia Belanda, relawan dari Suriname, dan tawanan perang yang dibebaskan kompinya.


“Mereka senang pergi bersamaku," aku Nortier.



Bersama pasukannya, Nortier bertugas di Tarakan sekitar Mei 1945. Kehadiran KNIL dalam pembebasan Tarakan dari tangan tentara Jepang adalah sesuatu bagi Belanda yang sepanjang perang kecil kontribusinya jauh di bawah Inggris, Amerika, dan Australia.


“Pada Mei 1945, pasukan Australia mendarat di Tarakan. Untuk pertama kalinya setelah kapitulasi Hindia Belanda (Maret 1942), satuan infantri KNIL ikut ambil bagian dalam penaklukan kembali bagian Hindia Belanda,” catat Nortier dalam artikelnya di Militaire Spectator nomor 149-7 tahun 1980, “Tarakan Januari 1942 Een gevecht uit de vergeten oorlog”.


Nortier dan pasukannya terlibat pertempuran kecil melawan tentara Jepang. Petualangannya itu amat dinikmati Nortier. Dia menyebut era 1945 itu sebagai hari-hari kejayaannya.


“Namun sayangnya saya tidak dapat benar-benar membebaskan Hindia Belanda, karena ketika Jepang menyerah pada bulan Agustus 1945, kami masih berada di Tarakan. Wah, saya kecewa saat itu. Betapa saya ingin sekali mengalahkan orang Jepang itu sendiri!" kata Nortier.

Setelah tentara Jepang menyerah, Nortier terus menjadi perwira KNIL. Pada 1949, pangkatnya sudah kapten.



Dia lalu ditugaskan di Purworejo, Jawa Tengah. Pada masa itulah Nortier menemukan kawannya waktu di akademi militer Breda. Dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950, Benjamin Bouman menyebut Nortier bertemu dengan Soemiarto Abdurachman alias Otto Abdurachman, yang sebelumnya pernah menjadi perwira penting Kementerian Pertahanan RI. Setelah mengenalinya, Nortier menangkap Otto.


Setelah tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia pada 1950 dan KNIL bubar, Nortier terus berdinas di Koninklijk Landmacht (KL) sampai pensiun sebagai kolonel. Pria yang tutup usia pada 30 April 2002 di Harderwijk ini di masa tuanya menulis buku tentang Perang Dunia II, salah satunya De Japanse Aanval op Java, Maart 1942.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
bottom of page