top of page

Kapten Matheus Sihombing, Jago Revolusi dari Tapanuli

Ia dikenal dengan julukan beken Si Mitraliur. Pentolan laskar yang hidupnya berakhir tragis.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 15 Nov 2022
  • 4 menit membaca

Nama Matheus Sihombing mengisi halaman suratkabar Belanda sepanjang pekan terakhir bulan Oktober hingga awal November 1948. Pemberitaannya sehubungan dengan aksi kekerasan dan saling melucuti di antara pasukan TNI dan laskar. Banyak korban berjatuhan dalam pertempuran antara saudara sebangsa itu.


Het Dagblad, 23 Oktober 1948, melaporkan bahwa Matheus Sihombing berhasil lolos dari upaya penangkapan. Ia bersama tokoh laskar lainnya macam Timur Pane yang tergabung dalam Divisi Banteng Negara disebut-sebut bertanggung jawab atas tindakan pelucutan terhadap Korps Polisi Militer di Tarutung. Mayor Bedjo, komandan Brigade B, yang ditugaskan untuk menangkap. Timur Pane dikabarkan tertangkap bersama pasukannya di Sibolga, Tapanuli Tengah.  


“Menurut informasi terakhir, Banteng Negara kini terkonsentrasi di Tapanuli Utara,” lansir Het Dagblad.



Sementara itu, suratkabar Nieuw Nederland, 11 November 1948, membubuhkan predikat khusus kepada Matheus Sihombing, yakni “Bung Mitraliur”. Mitraliur adalah istilah dalam palagan untuk menyebut pistol senapan mesin. Namun, bila merujuk Matheus Sihombing maknanya jadi berbeda. Julukan Si Mitraliur pada diri Matheus berkenaan dengan kebiasaannya yang doyan meludahi senapannya untuk menguji nyali lawan. Ludah berarti liur, sehingga mitraliur boleh berubah pengertiannya menjadi orang yang suka meludahi senapan.

   

Letkol Alex Kawilarang ditunjuk pemerintah untuk menertibkan sejumlah komandan pasukan di Tapanuli. Dalam memoarnya Untuk Sang Merah Putih: Pengalaman 1942—1961, Kawilarang menyebut Laskar Banteng Negara, sebelum Agresi Militer Belanda I, berada di front Medan Area. Ia juga mencatat nama Matheus Sihombing alias “Mitraliur” sebagai salah satu pimpinan kelompok laskar itu.


“Nama-nama yang memang kedengarannya istimewa,” kata Kawilarang.



Sastrawan Sitor Situmorang dalam otobiografinya Sitor Situmorang: Seorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba, mengatakan Matheus Sihombing pernah mengancam Gubernur Sumatra Teuku Mohammad Hasan. Ia memaksa sang gubernur untuk menyerahkan sejumlah uang sebelum ludah pada ujung pistolnya mengering. Begitulah gaya eksentrik ala Matheus Sihombing.


Namun, gertakannya tak selalu mempan. Setelah November 1948, Matheus Sihombing pernah melakukan aksi serupa terhadap Mayor Ibrahim Adjie. Saat itu, Matheus Sihombing menjadi komandan Batalion V Sub Sektor Padang Lawas Sipirok. Sementara, Adjie yang didatangkan dari pusat bertugas membantu Panglima Alex Kawilarang. Waktu diperintahkan Adjie untuk berpindah basis, Matheus Sihombing malah meludahi pistolnya. Ia lalu menghardik Adjie dan memintanya pergi sebelum ludahnya kering. Belum selesai menggertak, tiba-tiba Si Mitraliur kena todong balik.


“Tak perlu menunggu ludah itu kering, sekarang juga kau ku tembak jika tidak ikut perintahku,” bentak Adjie.



Meski berangsan, Matheus Sihombing termasuk pimpinan laskar yang cukup diperhitungkan. Sejak mula revolusi kemerdekaan, ia telah mengorganisasi barisan laskar dalam Pertempuran Medan Area. Menurut buku Sejarah Daerah Sumatra, Matheus Sihombing termasuk salah satu pentolan Nasional Pelopor Indonesia (Napindo), laskar terkuat di Sumatra Utara yang terpecah ke dalam delapan kelompok. Matheus menamakan kelompoknya Napindo Penggempur.


Pasukan Matheus Sihombing, sebagaimana diungkap Forum Komunikasi Ex Teritorium VII Komando Sumatra dalam Perjuangan Semesta Rakyat Sumatra Utara, berasal dari pemuda-pemuda Tapanuli yang bermukim di Medan. Kebanyakan dari mereka bukanlah kombatan profesional, melainkan bekas preman atau pemuda pengangguran yang menggabungkan diri secara sukarela.


Di bawah Matheus Sihombing, Laskar Napindo Penggempur diakui pemerintah setempat. Ia sendiri menyandang pangkat kapten. Menurut S.M. Amin, gubernur pertama Sumatra Utara, dalam memoarnya Kenang-Kenangan dari Masa Lampau, Matheus Sihombing menjadi salah satu figur yang sangat ditakuti, di samping nama-nama lain seperti –, Payung Bangun, Jamat Ginting, dan Timur Pane.



Dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi, Maraden Panggabean menyebut kekuatan pasukan Matheus Sihombing setara resimen, atau terdiri dari beberapa batalion. Meski demikian, Matheus Sihombing bersama kelompok laskarnya sukar dikendalikan seperti kebanyakan laskar. Napindo Penggempur yang dipimpin Matheus Sihombing dan berkedudukan di Tanah Merah (Galang), disebut Kementerian Penerangan dalam Republik Indonesia: Sumatra Utara, menyerang Ksatria Pesindo serta melucuti persenjatannya.


Ketika Belanda melancarkan agresi pertamanya medio 1947, Wakil Presiden Mohammad Hatta sedang berada di Pematang Siantar. Di sana, Bung Hatta berpidato mengobarkan semangat mempertahankan kemerdekaan. Sebagai Komandan Napindo Penggempur, Kapten Matheus Sihombing datang melapor.


Matheus Sihombing, seperti dikisahkan Midian Sirait, eks tentara pelajar Sumatra Utara, memberitahu pasukannya akan memasuki Kota Medan. Ia juga menjanjikan begitu pasukannya mengalahkan tentara Belanda, Bung Hatta dapat memasuki kota dan menginap di Hotel de Boer (kini Hotel Dharma Deli). Bung Hatta mengangguk saja menanggapi sang kapten.



Matheus lalu menyambung, “Suma satu yang kurang, Bapak.”


“Kurang apa yang satu itu?” tanya Bung Hatta.


“Ya, Bapak, suma satu,” jawab Matheus.


“Sebut saja yang satu itu,” balas Bung Hatta.


Setelah ada yang membisiki, barulah Bung Hatta paham bahwa yang dimaksud suma satu oleh Matheus Sihombing adalah “cuma catu”. Catu berarti jatah beras. Dengan kata lain, Matheus Sihombing sedang menagih jatah beras kepada Bung Hatta untuk menyerang Belanda.



Sebagaimana aksen Batak yang kental, “Rupanya lidah khas Komandan Matheus Sihombing bisanya menyebut ‘suma satu’. Semua huruf ‘c’ menjadi huruf ‘s’. Bung Hatta hanya bisa tersenyum, soal ‘suma satu’ pun menjadi jelas,” tutur Midian Sirait dalam catatannya Revitalisasi Pancasila – Catatan-catatan Tentang Bangsa yang Terus Menerus Menanti Perwujudan Keadilan Sosial.


Namun, Matheus Sihombing tak berhasil menunaikan janjinya terhadap Bung Hatta. Pematang Siantar jatuh ke tangan Belanda. Bung Hatta batal ke Medan dan mundur ke Sumatra Barat lewat perjalanan darat.     


Nama Matheus Sihombing sendiri hanya bertahan hingga akhir tahun 1948. Menjelang Agresi Militer Belanda II, kelompok laskar di Sumatra Utara saling bentrok dan bertempur sama lain memperebutkan wilayah kekuasaan. Matheus Sihombing dikabarkan terbunuh oleh rekannya sesama pimpinan kelompok laskar. Tamatlah riyawat Si Mitraliur yang kesohor dengan aksi pistol berludahnya.  


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page