top of page

Kerajaan Bisnis Mangkunegara IV

Berkat kepiawaiannya berbisnis para pengelolanya, praja Mangkunagaran berhasil meningkatkan perekonomian di wilayah kekuasaannya. Kopi dan gula menjadi dua komoditas andalan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mangkunegaran IV tahun 1865. (KITLV).

  • 4 Mar 2021
  • 5 menit membaca

SETELAH berakhirnya Perang Jawa (1825-1830), para penguasa di seluruh wilayah Jawa Tengah mulai melakukan perbaikan tatanan ekonomi yang sebelumnya sempat terabaikan. Mereka membangun kembali lahan-lahan pertanian dan perkebunan untuk menutupi segala kebutuhan produksi pangan di wilayahnya, baik untuk keperluan konsumsi rakyat maupun bisnis istana.


Sejumlah penguasa berhasil melakukan perbaikan ekonomi dalam waktu singkat, hanya beberapa tahun pasca perang. Namun tidak sedikit penguasa yang memerlukan waktu lebih lama untuk membuat ekonomi kerajannya kembali stabil. Seperti menimpa Praja Mangkunagaran, yang baru memperoleh keamanan ekonomi ketika Mangkunegara IV bertakhta. Ia menjadi penguasa Karang Anyar yang mempelopori sistem perekonomian modern.


“Untuk menopang keuangan praja, ia tidak hanya mengandalkan pajak secara tradisional sebagaimana yang umumnya berlaku di kerajaan Jawa, tetapi mengembangkan perusahaan-perusahaan perkebunan dan industri pengelolaannya untuk menopang perekonomian praja,” ungkap sejarawan Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunagaran 1896-1944.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Setelah kembali ke Indonesia, Ahmad Subardjo menjadi pengacara yang diawasi ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. Menepi dari aktivitas politik, Subardjo pergi ke Jepang.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah shared a room with Siti Soendari, the youngest sister of Dr. Soetomo. They had different personalities but complemented each other very well.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo bersama rekan-rekan seperjuangan sebangsa maupun lintas bangsa menggalang perlawanan di Eropa, tempat bercokolnya para kolonialis.
bg-gray.jpg
Getol berorganisasi ketimbang kuliah, Ahmad Subardjo mengubah haluan Perhimpunan Indonesia. Menggagas lambang sampai bikin kopiah untuk identitas nasional.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Tiada yang mustahil dalam sepakbola, termasuk ketika berpuasa. Toh, Rasulullah Saw. bersabda, “berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
Tiada yang mustahil dalam sepakbola, termasuk ketika berpuasa. Toh, Rasulullah Saw. bersabda, “berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
Lagu-lagu yang mengabadikan media komunikasi populer di eranya.
Lagu-lagu yang mengabadikan media komunikasi populer di eranya.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Tak hanya menjaga kedaulatan, heli TNI AU juga digdaya dalam uji skill di udara.
Tak hanya menjaga kedaulatan, heli TNI AU juga digdaya dalam uji skill di udara.
Film Gundala berbeda dengan versi komiknya. Tak ada kesan Yogyakarta, latar belakangnya sangat Jakarta.
Film Gundala berbeda dengan versi komiknya. Tak ada kesan Yogyakarta, latar belakangnya sangat Jakarta.
transparant.png
bottom of page