- 11 Jan 2018
- 3 menit membaca
Diperbarui: 2 Mei
MUAK dengan keputusan dewan juri Pameran Besar Seni Lukis Indonesia (18-31 Desember 1974) yang tak menganggap karya seni modern usungan pelukis-pelukis muda, sejumlah seniman muda melakukan protes.
Mereka membuat keputusan bersama yang menganggap keputusan itu sebagai wajah asli kemunduruan seni rupa Indonesia, kemudian dikenal dengan “Desember Hitam”. Para seniman muda itu lalu bergabung dan melahirkan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB).
Sebelum Desember Hitam ada, dunia seni rupa terbagi dalam dua kubu: Bandung dan Yogyakarta. Kubu Bandung berisi seniman lulusan ITB, karya-karyanya bergaya abstrak, berkeyakinan bahwa praktik seni rupa bersifat universal, dan tak percaya adanya seni rupa khas Indonesia. Karya-karya kubu Bandung sudah memperlihatkan gejala apolitis sejak awal keunculannya pada 1950-an.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















