- 20 Agu 2015
- 2 menit membaca
Diperbarui: 25 Apr
AKSI Elanto Wijoyono menghadang rombongan motor gede (moge) di Perempatan Condong Catur, Yogyakarta, 15 Agustus 2015, menjadi pembicaraan dan pemberitaan di media massa. Dia melakukan hal tersebut lantaran kesal dengan klub moge yang sering melanggar rambu lalu lintas saat kovoi dan melakukan tindakan seenaknya tanpa menghiraukan pengguna jalan lain. Ironisnya, mereka biasa dikawal polisi dengan voorijder. Sebenarnya, tak hanya moge, klub motor kecil pun ketika konvoi juga kerap menguasai jalan dan meminggirkan pengendara lain.
Keberadaan klub motor di Indonesia sudah sejak zaman kolonial Belanda. Motor hadir sebelum mobil masuk ke Hindia Belanda. Orang pertama yang memiliki motor adalah seorang Inggris, John C. Potter, yang bekerja sebagai masinis pabrik gula di Umbul, dekat Probolinggo. Potter membeli motor langsung ke Hildebrand Und Wolfmuller, perusahaan penemu sepeda motor pertama pada 1883. Jadi, motor masuk Hindia Belanda tak lama setelah ditemukan.
Setelah motor masuk ke Hindia Belanda, orang-orang terlihat kagum dan heran. “Karena tidak ditarik oleh kuda atau hewan lainnya maka kedatangan sepeda motor pertama di Jawa membuat siapa pun yang melihatnya menjadi tercengang dan terbengong. Orang lantas menamankannya Kereta Setan,” tulis Abdul Hakim dalam Jakarta Tempo Doeloe.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















