- 19 Agu 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 4 Jul
BEBERAPA pentolan laskar di pantai timur Sumatra masuk dalam radar intelijen Belanda. Di wilayah yang semasa kolonial Hindia Belanda bernama Karesidenan Sumatra Tmur itu, mereka dicap sebagai pengacau. Perusahaan perkebunan Belanda dijarah oleh laskar-laskar itu tanpa sisa. Kebanyakan berasal dari kelompok laskar Nasional Pelopor Indonesia (Napindo).
“Si pencopet Timur Pane berhasil menjadi jenderal mayor di Republik itu dengan bantuan geng-gengnya. Perusahaan-perusahaan perkebunan dijarah dan instalasi pabriknya dijual ke Malaka. Bahkan alat produksi pun hilang. Beberapa juta dolar diambil untuk kepentingan Napindo, organisasi pejuang Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Dr. (A.K) Gani. Pemimpin Napindo saat itu adalah Matheus Sihombing yang terkenal, dijuluki 'Bung Mitraliur',” demikian sentil koran Belanda Nieuwe Courant, 17 Oktober 1947.
Timur Pane dan Matheus Sihombing merupakan tokoh Napindo. Timur Pane menamai pasukannya laskar “Naga Terbang” sementara Matheus Sihombing dikenal sebagai pemimpin Napindo di Medan. Namun, keduanya bukanlah pemuka utama dalam pembetukan Napindo.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















