top of page

Main Bola Bukan untuk Pamer Paha

Mulai populer di era 1980-an, sepakbola putri terus menuai penentangan. Alhasil, kini mengalami kemunduran.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 21 Apr 2018
  • 3 menit membaca

SIANG itu tribun Stadion Tamansari, Jakarta Barat, sesak penonton. Mayoritas kaum Adam. Mereka bersemangat memelototi jalannya pertandingan. Maklum, pertandingan yang dimainkan bukan melibatkan klub UMS 80, Warna Agung, atau Arseto, tapi pertandingan Parkit vs Buana Putri alias pertandingan sepakbola putri.


Alhasil, saban para “Kartini” berkostum dengan paha terbuka itu menggiring atau menendang bola, sorakan penonton membahana. Rasa gemas meluap di benak mereka tatkala mendapati pemain terjatuh karena tekel lawan.


Meski itu hanyalah scene dalam film Warkop DKI Maju Kena Mundur Kena (1983), bisa jadi susasana itu merupakan gambaran umum publik terhadap sepakbola putri di negeri ini. Pertandingan dianggap tak lebih dari tontonan menghibur belaka karena sarat aksi “pamer paha” dan goyang payudara. Padahal, bukan itu yang menjadi tujuan perempuan ketika main sepakbola.


Melawan Budaya Ketimuran


Sejak akhir 1960-an, ketika perempuan Indonesia mulai antusias bermain bola, para pesepakbola putri hanya punya dua tujuan: penyaluran hobi dan meraih prestasi. Namun, hal itu tak mampu menghindarkan mereka dari kritik. Akibatnya, perkembangan sepakbola putri dalam negeri terhalang tembok tinggi.


Ketika sepakbola putri mulai makin marak digemari pada 1980-an, cibiran dan kritikan bahwa perempuan di Indonesia tak pantas bermain bola terus mengiringi. Bukan semata soal pakaian yang dianggap terlalu seksi jadi sorotan, tapi juga soal kesehatan bahkan budaya. Dalam budaya Timur, perempuan main sepakbola dianggap bertentangan dengan kodrat.


Tak hanya dari masyarakat, komentar miring bahkan datang dari Menteri Muda Urusan Peranan Wanita Lasiyah Soetanto. “Masih banyak olahraga yang lebih pantas dilakukan wanita timur dan pantas dilihat mata,” katanya sebagaimana dimuat Majalah Femina, 11 Agustus 1981.


Majalah yang sama juga memuat komentar miring pengurus DPP Wanita Katolik Martha Hadi Mulyanto. “Kasihan kalau wanita-wanita itu hanya jadi bahan tertawaan. Apalagi sepakbola itu permainan yang keras. Biarlah kaum pria saja yang melakukannya,” kata Martha.


Akibatnya, beberapa pesepakbola putri mesti membela diri. Muthia Datau, kiper Buana Putri dan timnas putri era 1980-an mengatakan, dia main bola karena hobi dan untuk menyehatkan tubuh.



“Pasti ada pro dan kontranya. Kita kan di Timur. Padahal, seragam enggak ketat juga sebenarnya. Hanya celana pendek kok. Namanya juga main bola. Memang sepakbola itu konotasinya olahraga laki-laki. Tapi seiring perkembangan zaman, laki-laki dan perempuan disetarakan. Tinggal bagaimana orang mau mengartikannya. Saya sih tidak peduli orang mau bilang apa. Memang kenapa? Apa salahnya?” ujarnya kepada Historia.


Hal senada diutarakan Papat Yunisal, eks pemain Putri Priangan dan timnas putri era 1980-an. “Jadi salah kaprahnya dulu, kesannya wanita tidak boleh aktivitas berat. Banyak yang bicara ini-itu. Tapi ya kita harus tunjukkan (kemampuan),” ujarnya kepada Historia.


Ketua Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI) itu justru mempertanyakan kenapa hanya sepakbola putri yang dipermasalahkan pakaiannya, sementara cabang olahraga lain tidak. “Ginideh, ambil contoh cabang renang. Bagaimana itu? Pakaiannya apa enggak (umbar) aurat? Lalu untuk yang lain-lain, tinju, gulat, angkat besi, itu jelas merusak tubuh,” sambung Papat.



Toh, penjelasan-penjelasan itu tetap tak mampu menghapus pandangan miring masyarakat terhadap sepakbola putri. Akibatnya, sepakbola putri dalam negeri mundur jauh dari era ketika Muthia dan Papat masih merumput.


“Jangankan tahun 1980-an, sekarang saja masih begitu kok. Wajar ada yang menentang. Jangankan main bola, keluar rumah saja lewat jam 6 sore, itu enggak boleh. Dulu juga banyak yang berpendapat keperawanan bisa hilang kalau main bola. Padahal tidak begitu. Keperawanan ya harus dijaga masing-masing sampai punya suami,” kata Papat menutup pembicaraan.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
transparant.png
bottom of page