- 13 Nov 2024
- 5 menit membaca
Diperbarui: 4 Mar
JAM belum menlunjukkan pukul 05.00 ketika Radius Prawiro sudah beranjak dari tempat tidur dan memulai aktivitas rutinnya. Menyaring susu dan memasukannya ke dalam botol-botol. Setelah itu menyusun botol-botol susu ke keranjang sepedanya.
Tepat jam 05.45, dia mulai mengantarkan susu sekaligus mengambil botol-botol kosong dari para pelanggan di kawasan Kotabaru dan Klitren Lor, Yogyakarta. Setelah rampung, dia pulang ke rumah untuk sarapan dan berangkat ke sekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat sekolah menengah pertama, yang berada di Kotabaru.
Itulah aktivitas rutin Radius sebagai pengantar susu pada 1940-an. Upahnya, sebesar yang biasa diterima para loper susu, dipakainya untuk membayar iuran sekolah. Sosok yang mengajarkannya untuk mencari uang sendiri adalah Wakidin Wirjopawiro, kakeknya dari garis ayah yang jadi pemilik perusahaan susu di Yogyakarta.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












