- 26 Feb 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 6 hari yang lalu
JATUHNYA Wirasaba (sekarang Mojoagung) ke tangan Mataram pada 1615, membuat bupati-bupati daerah timur (Surabaya, Tuban, Japan, dan Madura), merapatkan barisan. Pada 1616, mereka berkumpul di Surabaya untuk mempersiapkan menyerang Mataram.
Dalam menentukan rute yang akan ditempuh, seorang kajineman (mata-mata) menyarankan agar mengambil jalan lewat Madiun, karena tanahnya datar, beras murah, dan banyak air. Namun, seorang mata-mata Mataram, Randu Watang, yang telah lama bekerja pada adipati Tuban, melarangnya.
"[Karena] Madiun, Jayaraga, dan Ponorogo ada di bawah kekuasaan Mataram, dan untuk melalui tempat-tempat tersebut, mereka harus bertempur berat. Ia menganjurkan untuk mengambil jalan melalui Lasem dan Pati. Nasihat yang buruk ini disetujui, dan penasihat yang baik (kajineman) itu dibunuh," tulis H.J. de Graaf, ahli sejarah Jawa, dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















