top of page

Kisah di Balik Gudeg

Gudeg lahir dari tangan para prajurit Mataram. Kini, ia menjadi makanan populer dan disantap kapan pun kita menginginkannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mbah Lindu berjualan gudeg di Jalan Sosrowijayan, Yogyakarta. (Risa Herdahita Putri/Historia.ID).

14 Jul 2020
4 menit membaca

Diperbarui: 25 Apr 2025

BELUM juga pukul 07.00. Tapi pos kamling di depan Hotel Grage Ramayana, Jalan Sosrowijayan Yogyakarta, dirubung banyak orang. Di tempat itu Mbah Lindu berjualan gudeg setiap pagi. Orang lokal, luar kota, bahkan bule rela mengantre. Maklum, lokasi berjualan Mbah Lindu berada di tengah-tengah kawasan hotel, tak jauh dari Malioboro. Ditambah lagi ketenaran gudeg Mbah Lindu yang dikenal sebagai gudeg tertua di Yogyakarta.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
transparant.png
bottom of page