Diperbarui: 29 Sep
TAK ada sambutan selamat datang ketika pasukan Inggris (Sekutu) mendarat di Tanjung Priok, Jakarta, pada 29 September 1945. Hanya beberapa anak-anak melambaikan tangan kepada serdadu India yang rata-rata tinggi besar dan berkulit gelap.
Pasukan Sekutu bersiap menjalankan tugas di Indonesia: melindungi dan mengungsikan tawanan perang Sekutu dan tawanan lainnya, melucuti dan mengembalikan tentara Jepang, serta memelihara hukum dan ketertiban. Untuk memenuhi misi itu, Jenderal Lord Louis Mountbatten, pemimpin Komando Asia Tenggara (SEAC), menunjuk Letjen Sir Philip Christison.
Pasukan Sekutu datang dengan keterbatasan. Mereka kekurangan kapal pengangkut, berkas intelijen, dan terutama personel. “Hanya ada satu divisi yang terdiri dari orang-orang Inggris totok di Timur Jauh dan divisi itu sedang bertugas di India dan Burma,” tulis Benedict Anderson dalam Revoloesi Pemoeda. “Karena itu Mountbatten terpaksa menaruh kepercayaan pada pasukan-pasukan India dan Gurkha.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















