top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Mula Istilah Kuda Gigit Besi

Kereta kuda menjadi alat transportasi andalan penduduk sebelum motor dan mobil hadir di Hindia Belanda. Melahirkan istilah kuda gigit besi yang populer hingga kini.

19 Jan 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Kereta roda dua yang ditarik seekor kuda dan kusir di Medan. (Geheugen van Nederland).

  • 19 Jan 2023
  • 2 menit membaca

Zaman kuda gigit besi biasa disebutkan saat seseorang bicara mengenai kondisi kehidupan di masa lalu. Namun, tahukah Anda dari mana istilah ini bermula?


Istilah kuda gigit besi berkaitan dengan perkembangan alat transportasi di Hindia Belanda. Pada masa itu, kendaraan yang digunakan masyarakat mengandalkan kuda, seperti dokar dan dos a dos atau sado.


Dukut Imam Widodo dalam Sidoardjo Tempo Doeloemenyebut dokar yang memiliki nama asli dogcart merupakan kendaraan impor. Salah satu pengimpor dokar ke Hindia Belanda adalah Firma Bosch & Co. di Surabaya. Seiring berjalannya waktu, kendaraan ini mulai diproduksi di dalam negeri hingga muncul wagenmakerij atau pembuat dokar.



Pada mulanya, kata Dukut, kuda penarik dokar bertubuh tegap dan gempal menyesuaikan ukuran dokar yang besar. Ukuran dokar kemudian lebih kecil, cukup menggunakankuda Jawa yang kecil dan kurus tetapi lincah. “Sehingga kalau diajak blusukan ke desa-desa yang nylempit sekalipun ndak masalah,” sebutnya.


Selain dokar, alat transportasi lain yang populer adalah dos a dos atau sado. Menurut Abdul Hakim dalam Jakarta Tempo Doeloe,dos a dos berarti beradu punggung. Kendaraan berpenumpang empat orang ini terbagi menjadi dua bagian.Jok depan diduduki kusir dan seorang penumpang,sementara di bagian belakang ditempati dua penumpang. Posisi duduk penumpang saling membelakangi sehingga kendaraan itu disebut dos a dos atau sado.


Namun, tak sedikit penumpang yang merasa tak nyaman dengan posisi duduk saat menaiki sado. Para pembuat dokar dalam negeri juga menyadari cara duduk saling membelakangi kurang tepat. “Lantas merekapun membuat inovasi bagaimana caranya agar penumpang bisa enjoy ketika naik kendaraan ini. Maka jadilah tempat duduk dokar seperti yang kita lihat sekarang ini,” tulis Dukut.



Masyarakat berkantong tebal memiliki kereta kuda sendiri sebagai alat transportasi, yaitu bendi. Kereta kuda ini biasanya hanya mengangkut dua penumpangmenghadap ke depan.

Sarana transportasi lain yang digunakan masyarakat tempo dulu adalah kahar, kendaraan beroda dua yang ditarik seekor kuda. Abdul Hakim menyebut jumlah kuda yang menarik kahar dapat bertambah hingga empat ekor bila kereta melakukan perjalanan jauh seperti keluar kota.


Tak berbeda dengan kahar yang populer di Batavia, G.H. von Faber dalam Oud Soerabaia menyebut di Surabaya ada kereta beroda empat yang ditarik dua ekor kuda. Kereta kuda ini disewakan kepada penduduk, bahkan beberapa ada yang eksklusif seperti kereta bermerek Americana, Hand Chaise, Palanguin, dan Milord. Kuda yang menarik kereta ini merupakan kuda-kuda pilihan yang bertubuh tegap dan gempal.



Kereta kuda lain yang biasa disewakan adalah delmansepaket dengan kusir.Delman sewaan membuat kusir mendapat gaji bulanan sehingga tak perlu mencari penumpang harian untuk mendapatkan setoran.


Guna mengendalikan kuda yang menarik kereta, dimasukan besi melintangke dalam mulut kuda, yang di dua ujungnya ditambatkan ke tali kendali. Hal itu dilakukan karena kereta kuda tak memiliki rem seperti motor atau mobil.


“Dengan cara itulah maka kusir dokar atau sais kuda bisa ngerem kuda,” tulis Dukut. Batang besi yang dimasukan ke dalam mulut kuda kemudian melahirkan istilah jaran nyokot wesi atau kuda gigit besiyang digunakan untuk menggambarkan keadaan zaman yang masih kuno.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
Dari KNIL Jadi Tentara Republik

Dari KNIL Jadi Tentara Republik

Hidayat Martaatmadja memutuskan pensiun dari KNIL setelah menyaksikan penindasan Belanda terhadap bangsanya. Dia beperan dalam pendirian PDRI.
bottom of page