- 22 Jun 2021
- 6 menit membaca
Diperbarui: 13 Mar
FIRAUN identik dengan laki-laki. Namun, bukan berarti masyarakat Mesir Kuno menolak sama sekali perempuan menjadi penguasa.
“Mesir pada dasarnya adalah patriarki, [namun] ini tidak berarti bahwa tidak mungkin bagi wanita kerajaan untuk memegang posisi otoritas,” tulis Carolyn Graves-Brown, kurator Egypt Centre, University of Wales Swansea, dalam Dancing for Hathor, Women in Ancient Egypt.
Sayangnya, perempuan tetap tak bisa lepas dari laki-laki ketika punya kesempatan memegang kendali pemerintahan.
Menurut Kara Cooney, egiptolog dan arkeolog, dalam When Women Ruled the World: Six Queens of Egypt, perempuan naik ke singgasana hanya untuk memastikan laki-laki dalam urutan pewaris takhta berikutnya bisa masuk ke lingkaran kekuasaan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












