top of page

Penyergapan di Bogor Selatan

Tiga perwira Australia dibunuh di perbatasan Bogor-Sukabumi. Pelakunya, dua tentara Jepang buronan utama Sekutu, bunuh diri di penjara.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Stasiun Maseng, tempat eksekusi Frederick George Birchall oleh kompi Bustomi. (Nugroho Sejati/Historia.ID).

8 Jul 2024
6 menit membaca

Diperbarui: 3 Mei

SEUSAI kekalahan Jepang, situasi Jakarta dan sekitarnya kacau. Sebagai petugas Australian War Crimes Detachment yang menyelidiki kejahatan perang Jepang, Frederick George Birchall yang berpangkat squadron leader (sepadan dengan mayor) tahu bahaya bisa datang kapan saja. Dia sudah mempersiapkan diri.  


Dalam sepucuk surat kepada sepupunya, Tom Francis di Melbourne, Australia pada Maret 1946, Birchall menulis: “Karena itu, aku berusaha belajar mengucapkan (dalam bahasa Indonesia) ‘Hidup Indonesia’ dan beberapa patah kata lain yang senada. Aku juga akan menggambar bendera Australia dengan ukuran besar di kendaraanku… Aku tidak mau mengambil risiko…” Surat Birchall itu kini tersimpan di Australian War Memorial, Canberra.


Namun, manusia hanya bisa berencana. Sebulan kemudian, Birchall yang masih mengenakan seragam Angkatan Udara Australia (RAAF) ditemukan dalam kondisi membusuk di sebuah bukit kecil di dekat Stasiun Maseng, selatan Bogor. Di sekujur tubuhnya terdapat beberapa luka tembak.  

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page