- 8 Jul 2024
- 6 menit membaca
Diperbarui: 6 hari yang lalu
SEUSAI kekalahan Jepang, situasi Jakarta dan sekitarnya kacau. Sebagai petugas Australian War Crimes Detachment yang menyelidiki kejahatan perang Jepang, Frederick George Birchall yang berpangkat squadron leader (sepadan dengan mayor) tahu bahaya bisa datang kapan saja. Dia sudah mempersiapkan diri.
Dalam sepucuk surat kepada sepupunya, Tom Francis di Melbourne, Australia pada Maret 1946, Birchall menulis: “Karena itu, aku berusaha belajar mengucapkan (dalam bahasa Indonesia) ‘Hidup Indonesia’ dan beberapa patah kata lain yang senada. Aku juga akan menggambar bendera Australia dengan ukuran besar di kendaraanku… Aku tidak mau mengambil risiko…” Surat Birchall itu kini tersimpan di Australian War Memorial, Canberra.
Namun, manusia hanya bisa berencana. Sebulan kemudian, Birchall yang masih mengenakan seragam Angkatan Udara Australia (RAAF) ditemukan dalam kondisi membusuk di sebuah bukit kecil di dekat Stasiun Maseng, selatan Bogor. Di sekujur tubuhnya terdapat beberapa luka tembak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















