- 3 Agu 2021
- 6 menit membaca
Diperbarui: 10 Jul
OLIMPIADE Tokyo 2020 menjadi momen makin ditinggalkannya budaya patriarki. Keikutsertaan para atletnya yang imbang antara putra dan putri merupakan salah satu indikatornya. Selain itu, olimpiade kali ini juga menjadi yang pertama kali mengikutsertakan seorang transgender, yakni Laura Hubbard (Selandia Baru), yang bertanding di cabang angkat besi nomor +87 kg putri. Komite Olimpiade Internasional (IOC) juga memprogramkan, setiap kontingen diwajibkan membawa dua pengusung bendera, satu atlet putra dan satu putri, dalam defile upacara pembukaan.
“IOC berkomitmen terhadap kesetaraan gender di semua area, dari atlet-atlet yang bertanding maupun perempuan yang berperan dalam kepemimpinan di organisasi olahraga. Gerakan Olimpiade mulai bersiap menyongsong tonggak sejarah baru dalam upaya menciptakan dunia olahraga yang setara bagi semua gender –menjadi Olimpiade yang paling berimbang dalam sejarah,” ujar Presiden IOC Thomas Bach di laman IOC.
Mengutip laman resmi IOC, 8 Maret 2021, keikutsertaan atlet putri nyaris mencapai 48,8 persen dari keseluruhan 11.090 atlet yang berlaga. Angka tersebut naik dari Olimpiade Rio de Janeiro 2016 yang mencapai 45 persen. Kontingen China menjadi kontingen dengan atlet putri terbanyak. Dari 433 atlet yang ikut serta, 69 persennya adalah atlet putri.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















