- 8 Jan 2022
- 4 menit membaca
Diperbarui: 8 Jun
SETIAP pagi, seorang pemuda Ambon pergi naik tram dari Lapangan Banteng menuju pasar Jatinegara yang dulu namanya Meester Cornelis. Pulangnya dia membawa belanjaan: beras, telur, sayuran, dan segala macam.
Para pemuda pejuang menguntitnya. Ternyata, dia berbelanja ke pasar untuk keperluan musuh. “Terbukti dia membawa belanjaannya ke markas Batalion ke-10 yang merupakan musuh besar para pejuang Republik,” kata Adnan Buyung Nasution, pengacara, dalam biografinya, Pergulatan Tanpa Henti Volume 1.
Buyung menjelaskan bahwa Batalion ke-10 merupakan serdadu NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) yang terkenal kejam. Markasnya di bekas tangsi Batalion KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) ke-10 yang terletak di Waterlooplein (kini Lapangan Banteng). Sebagian dari mereka adalah para bekas serdadu KNIL yang direkrut kembali, yang kebanyakan orang Ambon dan Indo-Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















