- 2 Apr 2021
- 4 menit membaca
Diperbarui: 29 Mar
PADA 1 April 1981, Suryohadi, wartawan harian sore Sinar Harapan mereportase keadaan pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang baru saja dibebaskan dari upaya pembajakan. Saat melongok ke dalam kabin, dia menemukan sehelai kertas bertuliskan puisi. Perasaan getir terungkap dari sajak berjudul “Oh Kapal” itu, yang kemudian diberitakan Sinar Harapan, 2 April 1981.
Bila hari tiba dengan terang
Tentu engkau akan padam pada dari derita
Tetapi jika engkau waktu itu
Sudah habis nasibmu yang baik
Tentu ajalmu akan bersamaku
Dan semua itu akan harus
Berpisah dengan dunia ini
Yang fana ini
Selain bau amis darah yang mengering, sajak itu menjadi saksi bisu peristiwa teror dalam pesawat “Woyla” yang dibajak selama 65 jam. Penderitaan itu berakhir pada selasa dini hari, 31 Maret 1981 dalam operasi militer yang dilakukan pasukan elite Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Laporan resmi pemerintah menyebutkan semua pelaku pembajakan berhasil ditewaskan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















