top of page

Sebait Puisi dari Pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

Setelah operasi pembebasan sandera, ditemukan sebait puisi dalam pesawat yang diduga berasal dari seorang pembajak. Hingga kini masih misterius, pembajak mana yang menuliskannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi pembajak pesawat Garuda DC-9 "Woyla". Kiri-kanan: Imran bin Muhammad Zein (dalang pembajakan), Mahrizal (pemimpin pembajakan), dan Zulfikar (anggota). (Betaria Sarulina/Historia.ID).

2 Apr 2021
4 menit membaca

Diperbarui: 29 Mar

PADA 1 April 1981, Suryohadi, wartawan harian sore Sinar Harapan mereportase keadaan pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang baru saja dibebaskan dari upaya pembajakan. Saat melongok ke dalam kabin, dia menemukan sehelai kertas bertuliskan puisi. Perasaan getir terungkap dari sajak berjudul “Oh Kapal” itu, yang kemudian diberitakan Sinar Harapan, 2 April 1981.


Bila hari tiba dengan terang

Tentu engkau akan padam pada dari derita

Tetapi jika engkau waktu itu

Sudah habis nasibmu yang baik

Tentu ajalmu akan bersamaku

Dan semua itu akan harus

Berpisah dengan dunia ini

Yang fana ini


Selain bau amis darah yang mengering, sajak itu menjadi saksi bisu peristiwa teror dalam pesawat “Woyla” yang dibajak selama 65 jam. Penderitaan itu berakhir pada selasa dini hari, 31 Maret 1981 dalam operasi militer yang dilakukan pasukan elite Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Laporan resmi pemerintah menyebutkan semua pelaku pembajakan berhasil ditewaskan.  

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
transparant.png
bottom of page