- 17 Des 2022
- 10 menit membaca
Diperbarui: 30 Apr
DALAM sejarah dinasti Jawa Mataram (abad XVI sampai sekarang) sudah diketahui ada beberapa perempuan yang memainkan peranan penting. Akan tetapi sumber-sumber sejarah yang masih ada jarang menjelaskan peranan mereka secara memuaskan. Babad-babad dan sumber-sumber lain lebih menekankan kegiatian para tokoh pria seperti pangeran, raja, kyai dan sebagainya. Namun demikian, di antara para perempuan berpengaruh yang paling menonjol dalam sejarah Mataram, Ratu Pakubuwana (lahir sekitar 1657; wafat 1732) merupakan tokoh yang kehidupannya dan pengaruhnya cukup jelas.
Ratu Pakubuwana keturunan kaum bangsawan Jawa yang tertinggi, kisahnya dimulai dari seorang anak Panembahan Senapati Ingalaga (bertakhta 1584–1601), raja yang meletakkan fondasi-fondasi kerajaan Mataram. Anak Panembahan Senopati itu bernama Pangeran Juminah atau Blitar. Anak, cucu, dan cicit Pangeran Blitar itu juga dinamakan Pangeran Blitar. Yang terakhir ini adalah ayah Ratu Pakubuwana. Selama hidupnya, seperti biasa di kalangan bangsawan Jawa, Ratu Pakubuwana diberi nama-nama yang berlainan. Nama yang paling lama dipakai adalah Ratu Mas Blitar, yaitu nama Blitar yang merupakan tradisi keturunannya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















