top of page

Wanita (Tak) Dijajah Pria Sejak Dulu?

Di masa Jawa Kuno, kedudukan perempuan bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari laki-laki. Kesetaraan hadir hampir di semua bidang kehidupan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur menggambarkan peran perempuan pada zaman dahulu.

14 Sep 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 31 Jan

BEGITU malam tiba, 20-30 perempuan keluar dari rumah masing-masing. Di bawah cahaya rembulan, mereka saling bergandengan tangan lalu berjalan keliling. Sebaris tembang keluar dari mulut pemimpin mereka dan segera diikuti yang lainnya. Mereka menyambangi rumah sanak-famili, orang-orang kaya, dan orang-orang terpandang. Uang kepeng dan bermacam barang lain menjadi buah tangan yang mereka bawa pulang.


Para perempuan Jawa kuno itu rutin menggelar seni hiburan bernama “musik dalam cahaya bulan”. Aktivitas mereka tercatat dalam berita Tiongkok Ying yai Sheng-lan (1416 M), dan menjadi bukti perempuan sudah berkiprah di ranah publik. Mereka tak hanya menjadi penonton, tapi juga aktif sebagai aktor/pemain. Banyak pula yang menjadi pemain seni pertunjukan untuk mencari nafkah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page