- 14 Sep 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 31 Jan
BEGITU malam tiba, 20-30 perempuan keluar dari rumah masing-masing. Di bawah cahaya rembulan, mereka saling bergandengan tangan lalu berjalan keliling. Sebaris tembang keluar dari mulut pemimpin mereka dan segera diikuti yang lainnya. Mereka menyambangi rumah sanak-famili, orang-orang kaya, dan orang-orang terpandang. Uang kepeng dan bermacam barang lain menjadi buah tangan yang mereka bawa pulang.
Para perempuan Jawa kuno itu rutin menggelar seni hiburan bernama “musik dalam cahaya bulan”. Aktivitas mereka tercatat dalam berita Tiongkok Ying yai Sheng-lan (1416 M), dan menjadi bukti perempuan sudah berkiprah di ranah publik. Mereka tak hanya menjadi penonton, tapi juga aktif sebagai aktor/pemain. Banyak pula yang menjadi pemain seni pertunjukan untuk mencari nafkah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












