- 11 Agu 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 16 Apr
UNTUK menghantam lagi kombatan Permesta di Sulawesi Utara, sekitar tahun 1961 batalyon kedua Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dikirim ke Sulawesi Utara. Sebelum berangkat, batalyon ini tujuh bulan latihan di bawah tembakan di Jawa.
Meski Permesta sudah terdesak ke pedalaman, pergerakan pasukan RPKAD di bawah pimpinan Mayor Seno Hartono itu tidaklah mudah. Dengan susah payah pasukan RPKAD itu menghadapi pasukan PRRI yang terlatih dalam berperang. Senjatanya pun tidak kalah dari RPKAD. “Bagi Prajurit Yusman Yutam, Permesta terbukti sebagai lawan yang gigih,” catat Ken Conboy dalam Kopassus Inside Indonesia's Special Forces.
Prajurit Yusman merupakan anggota RPKAD yang bersama tiga rekannya bergerak di depan. Kendati usianya belum genap 21 tahun, dia sudah menjadi bagian korps elite AD itu lantaran awal era 1960-an RPKAD kekurangan perwira. Kekurangan itu disiasati pimpinan antara lain dengan memberi kesempatan pada beberapa prajurit rendahan RPKAD yang punya ijazah SMA untuk ikut tes Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang. Salah satunya Yusman.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















