Hasil pencarian
9863 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sudiro Sang Guru Pergerakan
AKHIR 1939, datanglah ke Kota Magelang seorang juara dunia catur dari Belanda bernama Max Euwe. Di sana dia bertanding catur melawan 41 orang. Koran De Locomotief, 23 September 1930, memberitakan, dari 41 pertandingan yang dimainkan Max, 36 laga dimenangkannya, dua seri (melawan Soejono dan Ratib, pelajar Hogare Kweekschool, HKS), dan tiga kalah. Kekalahannya terjadi saat melawan Residen Van Pelt, Liem Tjay An, dan Sudiro seorang pelajar HKS. Sudiro adalah siswa tahun terakhir di HKS Magelang. Putra kepala laboran (pengelola laboratorium) pabrik gula di Klaten itu lulus dari sekolah tersebut pada 1931. Dari Magelang, Sudiro kemudian pindah ke Madiun. Memulai kariernya sebagai guru. Guru Rival Aparat Kolonial Di Madiun, Sudiro ditampung di sekolah-sekolah milik Boedi Oetomo, yang sudah memiliki sekolah menengah MULO (Meer Uitgebrid Lager Onderwijz) dan sekolah guru Kweekschool. Sudiro dipercaya menjadi direktur MULO-Kweekschool Boedi Oetomo.
- Cerita Lucu dari Demonstrasi Mahasiswa
AKSI gerakan mahasiswa 2019 di berbagai kota kini tengah menjadi pemberitaan luas di media massa dan media sosial. Bukan hanya sekitar tuntutan mereka saja, berbagai cerita lucu nan konyol di sekitar demonstrasi juga bertebaran di Instagram, Facebook dan Twitter. Sejatinya pengalaman konyol nan jenaka itu juga dimiliki oleh gerakan-gerakan mahasiswa sebelumnya. Soe Hok Gie sempat merekam cerita-cerita lucu itu di buku hariannya yang kemudian dibukukan menjadi Catatan Seorang Demonstran. Bagi Soe Hok Gie, kisah-kisah itu tidak hanya sekadar membuat hiburan namun juga menjadi ikatan penguat dari perjuangan mereka. “…Dalam petualangan inilah lahir kisah humor-humor mahasiswa.”
- Cerita Menarik di Balik Gelar Anumerta Raja Gowa
SUASANA siang di salah satu kantin di bawah kolong Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Makassar cukup gerah. Beberapa dosen menikmati kopi dan bediskusi lepas. Topiknya beragam dari ekonomi, politik, hingga makna di balik nama. Sesekali diskusi diselingi candaan atau tertawa lebar terbahak-bahak. Akhirnya, tersebutlah beberapa nama raja dan bangsawan. Seperti nama raja di wilayah Pangkep, yakni Petta Tallese Lesee, yakni raja yang dikebiri agar fokus tetap berperang dan tidak memikirkan hal lain. Kamudian diurutlah beberapa nama raja. Salah seorang adalah pendiri Benteng Somba Opu, Tumapa’risi’ Kallonna. Nama lengkap raja ini adalah Daeng Matanre, Karaeng Mangutungi, Tumapa’risi’ Kallonna (Raja Gowa IX periode 1510-1546). Selama berkuasa, dia menciptakan undang-undang tata pemerintahan dan aturan perang.
- Cerita di Balik Gambar Sultan Hasanuddin
PADA 1951, Jawatan Penerangan Provinsi Sulawesi Selatan akan menerbitkan sebuah majalah. Nomor perdananya memuat laporan pemberontakan Kahar Muzakkar yang memimpin Brigade Hasanuddin. Para redaktur memutuskan untuk menghiasi sampul majalahnya dengan gambar Sultan Hasanuddin (1631-1670). “Tapi di mana bisa ditemukan potret dari Sultan? Dokumen sejarah tak mewariskan gambarnya. Ada Sinrili (legenda atau cerita rakyat yang dituturkan dengan diiringi oleh alat musik yang dinamakan keso-keso atau rebab), tapi itu pun masih ditimbang-timbang kebenarannya,” tulis majalah Mimbar, No. 14 Tahun II, 20 April 1972. Akhirnya, para redaktur memutuskan untuk membuat gambar Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI. Tarekat Kimin, pelukis Jawatan Penerangan Provinsi Sulawesi Selatan, ditugaskan membuat sketsa di atas kertas dengan pensil. “Saya kerjakan dua jam,” kata Tarekat yang saat itu berusia 48 tahun.
- Otto Skorzeny yang Ditakuti
SOROT mata Otto Skorzeny begitu tajam. Codet di pipi kiri sang hauptsturmführer (kapten) dari pasukan komando Schutzstaffel (SS) Jerman itu menambah kesan garang kala mencoba meyakinkan jenderal polisi Italia Fernando Soleti dengan setengah memaksa. Sang jenderal pun “menurut” dibawa ke sebuah misi penting: menyelamatkan Il Duce Benito Mussolini. Sejak ditangkap Carabinieri (polisi militer) Italia pada 25 Juli 1943, posisi Mussolini sebagai perdana menteri telah dilengserkan. Pelengseran dilakukan setelah Gran Cosiglio del Fascismo (Dewan Fasisme Italia) menetapkan mosi tidak percaya terhadap Mussolini pasca-invasi Sekutu ke Pulau Sisilia dan pemboman terhadap ibukota Roma. Raja Vittorio Emanuele III pun menetapkan Marsekal Pietro Badoglio untuk menggantikan posisi Mussolini. “Perintah untuk membebaskan Mussolini diberikan kepada Skorzeny oleh Hitler sendiri, sekalipun tindakan itu diambil Hitler lebih didorong pertimbangan politik daripada pertimbangan sentimentil,” tulis P.K. Ojong dalam Perang Eropa: Jilid II.
- Dinamika Majalah Sastra di Indonesia (Bagian 3)
SEJAK Orde Baru, Horison tampil sebagai majalah sastra yang mendominasi penerbitan karya sastra di Indonesia. Sebagai majalah sastra paling berpengaruh, Horison menjadi tolok ukur karya kesusastraan. Belum afdol jadi sastrawan kalau karyanya belum pernah dimuat dalam Horison. Begitulah pandangan umum yang berlaku saat itu. Namun, memasuki dekade 1990-an, Horison mengalami penurunan. “Pada saat yang sama, muncul juga media-media sastra dan budaya alternatif yang penting. Misalnya, jurnal kebudayaan Kalam yang terbit pada 1994, yang dikelola oleh Goenawan Muhammad dan kawan-kawan, kemudian juga menguatnya otoritas koran,” terang kritikus sastra Zen Hae. Pada 1992, harian Kompas, menggagas penghargaan anugerah cerita pendek (cerpen) terbaik. Cerpen pilihan Kompas dibukukan dari tahun ke tahun. Sejak itu, cerpen-cerpen bermutu bermunculan dalam Kompas maupun koran lain. Hal ini mulai menggeser perhatian para sastrawan, khususnya penulis cerpen. Orientasi mereka yang semula ingin diterbitkan dalam majalah sastra beralih ke media cetak.
- Aksi Spionase di Balik Kematian Leon Trotsky
BERITA kegagalan kelompok David Alfaro Siqueiros, muralis terkemuka Meksiko, membunuh Leon Trotsky sampai ke telinga Joseph Stalin. Pemimpin Uni Soviet itu geram saat tahu tokoh revolusi Bolshevik yang lahir dengan nama Lev Davidovich Bronstein tersebut selamat dari serangan pada Mei 1940. Sejarawan Rusia Dmitri Volkogonov dalam Trotsky: The Eternal Revolutionary menulis bahwa Stalin mendesak Lavrenti Beria, polisi rahasia yang pernah memimpin Komisariat Rakyat untuk Urusan Dalam Negeri Uni Soviet (NKVD), untuk melanjutkan operasi menyingkirkan Trotsky. Yang mendapat tugas menjalankan operasi tersebut adalah Naum Isakovich Eitingon atau Leonid Eitingon. Baik Beria maupun Eitingon tahu betul bahwa operasi kali ini tidak boleh ada kesalahan. “Yang dipertaruhkan bukan hanya nyawa orang yang bersembunyi di Meksiko, tetapi nyawa Eitingon dan keluarganya. Ia harus menemukan cara untuk menyusupkan anak buahnya ke dalam rumah Trotsky, karena sejak percobaan pembunuhan di bulan Mei, Trotsky telah menghentikan kebiasaannya melakukan perjalanan ke bukit-bukit untuk mencari kaktus,” tulis Volkogonov.
- Kontes Memasak Tempo Dulu
KOMPETISI memasak Master Chef Indonesia (MCI) musim ke-11 baru saja usai. Pada babak final, Belinda keluar sebagai juara mengalahkan Kiki. Hasil ini tidak begitu memuaskan penonton. Kiki lebih diunggulkan karena kemampuan memasaknya acapkali memenangi tantangan. Kedua finalis masih sama-sama muda dan berpotensi. Kiki berpengalaman sebagai pegawai restoran (kitchen helper) di Medan. Sementara itu, Belinda adalah jebolan sekolah masak ternama Le Cordon Bleu, Selandia Baru. Keluhan para penonton itu terlihat dalam komentar di berbagai laman media sosial -seperti Twitter, Facebook, dan Instagram- hingga menjadi topik yang sedang sejak kemarin. Jauh sebelum MCI menjadi tontonan populer, kontes memasak sudah eksis setidaknya pada warsa 1980-an. Pada 1988, majalah Femina untuk kali pertama menyelenggarakan kompetisi memasak untuk amatir bertajuk “Lomba Masak Pria”. Kontes ini dihelat dalam rangka memeriahkan Festival Telur dan Ayam. Tujuannya untuk menggalakan konsumsi protein di tengah masyarakat.
- Petualangan Pelancong Inggris Mencari Suku Baduy Dalam (3)
TEPAT setelah jam lima pagi, Nina Epton terbangun oleh kilatan cahaya dan suara berisik di belakang rumah kepala desa. Cahaya itu berasal dari obor yang dibawa penduduk desa ke dan dari sungai. Sementara suara berisik berasal dari dapur di mana para wanita tengah menumbuk padi untuk memisahkan gabah dari sekam. Setelah sarapan, Epton bersama rombongan melanjutkan perjalanan untuk menemui Suku Baduy Dalam, yang ia sebut the invisible people atau orang-orang tak terlihat. “Kami kini telah terbiasa berjalan tanpa alas kaki, dan kami membuat kemajuan yang baik sehingga kami sampai di Ciboleger, desa terdepan di perbatasan wilayah Baduy, sebelum tengah hari,” tulis Epton, mantan wartawan BBC London, dalam Magic and Mystic of Java. Desa Ciboleger berada di lereng bukit berhutan lebat dan dikeliling hamparan sawah yang membentang luas. Bersama dengan Darmono, Japar, dan para porter yang membawa barang-barang keperluan ekspedisi, Epton menuju rumah kepala desa Ciboleger. Setelah tiba di sana, Japar menyeberang ke wilayah Baduy untuk menyampaikan berita kedatangan mereka bersama pesan Hilman Djajadiningrat tentang Epton dan rombongannya, kepada puun di desa terdekat.
- Petualangan Pelancong Inggris Mencari Suku Baduy Dalam (2)
TUKANG becak mengantar Nina Consuelo Epton, pelancong asal Inggris, dari tempat Hoesein Djajadiningrat ke sebuah bungalow di sudut jalan yang sepi di daerah permukiman Jakarta. Setibanya di sana, ia disambut pelayan yang mengantarkannya ke ruangan yang nyaman dan berperabot lengkap. Tak lama kemudian Hilman Djajadiningrat masuk ke dalam ruangan. “Sama sekali tidak ada gunanya kamu pergi sendirian, kamu tidak akan bertemu siapa-siapa dan tidak ada yang bisa masuk ke wilayah Baduy Dalam kecuali orang Baduy,” kata Hilman sebagaimana ditulis Epton dalam Magic and Mystic of Java yang berisi catatan perjalanannya selama mengunjungi Indonesia pada 1950-an. Hilman pernah menjabat bupati Serang (1935–1945) dan gubernur daerah federal Batavia (1948–1950). Ia bercerita kepada Epton bahwa salah satu anggota keluarganya mempekerjakan seorang Baduy pelarian bernama Japar di perkebunan karetnya. Seperti nenek moyang Djajadiningrat kami dari abad ke-17, ia juga anak seorang Pu’un atau pemimpin Suku Baduy Dalam.
- Petualangan Pelancong Inggris Mencari Suku Baduy Dalam (1)
PERJALANAN mengunjungi sejumlah wilayah di Indonesia pada 1950-an menjadi pengalaman yang berkesan bagi Nina Consuelo Epton (1913–2010). Tak heran bila tiga tahun setelah perjalanan pertamanya, wanita yang pernah bekerja sebagai wartawan BBC London itu kembali ke Indonesia untuk melakukan ekspedisi. Kali ini misinya menemui Suku Baduy yang ia sebut sebagai “the invisible people” atau “orang-orang tak terlihat”. Dalam bukunya, Magic and Mystic of Java, Epton berkisah awal mula perkenalannya dengan Suku Baduy. Wanita kelahiran Hampstead, London tahun 1913 itu mulai tertarik dengan suku yang mendiami wilayah Banten tersebut sejak membaca tentang mereka di buku The History of Java karya Sir Thomas Stamford Raffles. Mantan Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa itu menulis bahwa Suku Baduy yang tinggal di pedalaman Banten merupakan keturunan dari orang-orang yang lari ke dalam hutan setelah runtuhnya bagian barat kota Pajajaran pada abad kelima belas. Meski tidak sempat bertemu orang-orang Baduy selama masa tugasnya di Hindia Belanda, Raffles memiliki ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar terhadap masyarakat tersebut. Oleh karena itu, ia mengumpulkan informasi mengenai Suku Baduy dan menuliskannya ke dalam salah satu bagian bukunya.
- Jiwa Seni Asrul Sani
NAMA Asrul Sani turut mewarnai sejarah kebudayaan Indonesia modern. Sebagai seniman, karya-karyanya sohor dalam berbagai puisi, cerpen, drama, dan film. Meski telah wafat pada 11 Januari 2004 silam, namanya dikenang sebagai salah satu seniman terbesar Indonesia. “Asrul Sani sosok yang tidak hanya menghasilkan karya-karya tetapi juga membentuk arah perkembangan kebudayaan nasional. Sebagai penyair Angkatan ‘45, dia turut menghadirkan semangat kemerdekaan dan kemanusiaan dalam sastra Indonesia. Sebagai penulis skenario dan sutradara, karya-karyanya menjadi tonggak penting dalam sejarah perfilman nasional,” kata Sekjen Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta dalam pembukaan pameran “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” di Perpustakaan Nasional, Jakarta, 9 Juni 2026. Asrul Sani lahir di Rao, Pasaman, Sumatra Barat, pada 10 Juni 1925. Bungsu dari tiga bersaudara ini berayah-ibu Sultan Marah Sani Syair Alamsyah dan Nuraini Nasution. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Bukittinggi, Asrul melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Setamatnya dari sekolah Taman Siswa, dia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Kedokteran Hewan Bogor. Tapi, ketertarikannya pada sastra dan suasana perjuangan kemerdekaan saat itu menyebabkan kuliah kedokteran hewannya mangkrak.





















