top of page

Hasil pencarian

9864 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sejarah Ilmu Mengolah Suara Perut

    MASIH ingat Ria Enes dan Suzan? Ria, alias Wiwik Suryaningsih, seorang ventriloquis atau ahli suara perut. Ventriloquis mampu berbicara tanpa terlihat menggerakkan bibir. Sedangkan Suzan boneka perempuan. Ia bisa berbicara, seolah hidup. Ria menggunakan kemampuannya untuk menghidupkan Suzan demi menghibur dan mendidik anak-anak selama dekade 1990-an. Sebelum Ria Enes, Indonesia sempat memiliki sejumlah ventriloquis. Bagaimana mula kemunculan mereka? Ventriloquisme atau ilmu mengolah suara perut berkembang di masyarakat Semit, Yunani, Romawi, dan Mesir Kuno. Menurut Steven Connor dalam Dumbstruck: A Cultural History of Ventriloquism , masyarakat kuno menggunakan ventriloquisme sebagai penghubung orang hidup dengan orang mati. Ventriloquis menduduki posisi terhormat. Para pendeta dan biarawan pada abad pertengahan (abad ke-5 sampai 16) merombak pandangan tentang ventriloquisme. Ilmu ini terlarang. Pelakunya termasuk kaum pagan dan penyihir. Hukuman dan siksaan untuk mereka mulai berlaku. Para ilmuan masa Renaisans (abad ke-17) menghantam balik pandangan biarawan. Mereka berpendapat ventriloquisme tak ada hubungannya dengan keyakinan dan sihir. Ventriloquisme mendapat tempat lagi. Bahkan beralih ke arena hiburan. Melalui pesulap dalam rombongan sirkus, ventriloquisme menyebar ke pelbagai penjuru dunia. Di Indonesia, ventriloquisme berkembang berkat jasa pesulap bernama W. Duve. “Satu-satunya ventriloquis yang pada waktu itu terdapat di Indonesia,” kata Setiawan Tebiono alias Pak Seladri, dikutip Djaja, 1 Februari 1964. Pak Seladri pesulap asal Surabaya. Dia belajar sulap sejak umur 13 tahun pada 1940-an dan tertarik pada ventriloquisme saat bertemu W. Duve memainkan “boneka bicaranya”. Pak Seladri lalu pergi ke Pasar Baru, Jakarta. Dia membeli boneka kayu mungil seukuran 12 cm berwujud anak laki-laki seperti Charlie McCarthy, boneka ventriloquis terkenal Amerika Edgar Bergen. Di bagian tubuh boneka itu terdapat celah untuk memasukkan dua tangan. Dari celah ini, tangan Pak Seladri bisa menggerak-gerakkan bibir boneka seolah kelihatan berbicara. Dia menamakan boneka itu “si Didi”. Untuk mengisi suara boneka, Pak Seladri belajar dari W. Duve. Dia berlatih keras tiap hari. “Bicara dan bernyanyi sendiri di rumah, di kamar tidur, di kamar mandi, atau di manapun. Malah di mobil yang menjemputnya tiap hari ke kantor, ia berlatih terus,” tulis Djaja . Hasilnya, dia mulai mahir dan berani tampil di hadapan khalayak pada 1958. Bersama Didi, dia menghibur anak-anak. “Di manapun Pak Seladri dan si Didi muncul, suasana di antara para hadirin selalu riang gembira dan gelak tertawa memenuhi ruangan,” tulis Djaja . Dalam tiap pertunjukan, Pak Seladri mampu membuat penonton aktif. Dia terutama suka sekali meminta anak-anak turut serta. “Si Didi mengajak mereka berdialog, berkelakar, dan berjenaka.” Pak Seladri melakukan semuanya tanpa bayaran. “Tetapi amatir semacam Pak Seladri dengan kawan-kawan dan murid-muridnya memiliki taraf profesional yang bermutu tinggi.” Gatot Soenjoto, ventriloquis kelahiran 1940, mengikuti jejak Pak Seladri sebagai penghibur yang menekankan mutu penampilan. Sejak mengenal ventriloquisme dari seorang pastur di Surabaya pada 1950-an, Gatot menempa diri dengan latihan keras. Dia belajar ventriloquisme sampai ke Amerika pada 1974, membeli boneka kayu, dan berhasil memperoleh sertifikat dari Michael Tannen, ventriloquis sohor AS. “Saya tak akan menjadi lebih besar kalau saya sendiri menganggap main sulap atau ventriloquist sangat remeh,” kata Gatot, dikutip Kompas , 28 April 1985. Balik ke Indonesia, Gatot tampil bersama boneka bernama Tongki pada 1976. “Filosofinya jadi boneka itu ditemukan dari tong sampah. Saya memberi pengertian pada anak-anak kalau punya barang masih bagus jangan dibuang, nanti akan berguna di kemudian hari,” kata Gatot, dikutip Jakarta-Jakarta , 12 Oktober 1996. Kehadiran mereka di TVRI , pesta anak-anak, dan hajatan lain berhasil menarik perhatian masyarakat. Keterkenalan tak membuat Gatot lantas aji mumpung dan ngoyo . Tarif tampil terjangkau semua kalangan. Dan dia membatasi penampilannya. Banyak tampil bikin persiapan kurang. Sebaliknya, sedikit tampil memberinya waktu persiapan lebih banyak. Dia juga tak mau tampil lama-lama. “Baginya lebih baik sebentar tapi puas, daripada berlarat-larat tanpa mutu,” tulis Kompas , 8 Mei 1988. Kemudian zaman bergerak. Nama-nama ventriloquis itu tidak tampil lagi. Pertunjukan ventriloquis seakan menjadi asing. Baru belakangan melalui ajang pencarian bakat, muncul penampil ventriloquis seperti Jerry Gogapasha, bahkan komedian Iwel Sastra pun menekuninya. Padahal, ventriloquis dapat menjadi penghibur dan pendidik anak-anak.

  • Agar Sulawesi Tetap Indonesia

    PADA 5 April 1950 pukul 05.00 pagi. Kapten Andi Azis, bekas perwira KNIL (Tentara Hindia Belanda), memimpin Pasukan Bebas, terdiri dari bekas pasukan KNIL dan KL (Koninklijk Leger atau Tentara Kerajaan Belanda), menyerang markas APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) di Makassar. Beberapa tentara APRIS/TNI menjadi korban dan beberapa perwira, termasuk Letkol A.J. Mokoginta, ditawan. Padahal sebelumnya, Mokoginta, selaku ketua komisi militer dan teritorial Indonesia Timur, menerima penyerahan Andi Azis dan pasukannya ke dalam APRIS, pada 30 Maret 1950. Andi Azis, bekas ajudan senior presiden NIT (Negara Indonesia Timur) melakukan pemberontakan karena pemerintah RIS mengirimkan sekira 900 tentara APRIS yang berasal dari TNI di bawah pimpinan Mayor HV Worang. Tujuan pengiriman pasukan ini karena situasi di Makassar tidak stabil akibat pertentangan dua golongan. Golongan unitaris mendesak NIT membubarkan diri dan bergabung ke dalam NKRI, sementara para federalis berupaya sekuat tenaga mempertahankan NIT. Pembubaran beberapa negara bagian pada 8 Maret 1950 membuat keadaan bertambah panas. Para unitaris makin keras mendesak pembubaran NIT. Temuan dokumen berisi dorongan untuk membubarkan NIT membuat pemerintah NIT mengirim surat protes kepada pemerintah RIS. NIT bahkan ingin memisahkan diri dari RIS dan mendirikan Republik Indonesia Timur. Pengiriman pasukan APRIS, menurut Marwati Djoened Poeponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia VI , “mengkhawatirkan pasukan bekas KNIL yang takut akan terdesak oleh pasukan baru yang akan datang itu.” Selain itu, menurut Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional Volume 2 , Andi Azis secara mendadak menyerbu dan menduduki markas APRIS, menguasai kota Makassar, dan menghalangi pendaratan batalion Worang, dengan kedok demi keselamatan NIT, namun tanpa meminta persetujuan pemerintah NIT. Karena Makassar jatuh ke tangan Andi Azis, pasukan Worang, yang sudah berada di perairan Makassar, memutuskan mendarat di Jeneponto. Pada 7 April, pemerintah RIS mengirimkan pasukan ekspedisi berkekuatan 12.000 pasukan di bawah Letkol A.E. Kawilarang, namun baru mendarat di Sulawesi Selatan pada 26 April 1950. Di internal NIT, gerakan Andi Azis membuat Kabinet DP Diapari, yang tak mendukung gerakan tersebut, jatuh dan diganti pemerintahan pro-Republik. Pada 8 April 1950, pemerintah RIS mengultimatum Andi Azis agar mempertanggungjawabkan perbuatannya ke Jakarta dalam waktu 2 x 24 jam, mengkonsinyir pasukannya, mengembalikan senjata rampasan, dan membebaskan tawanan. Di lapangan, rakyat pro-Republik bergabung dengan pasukan APRIS untuk bergerilya menyerang pasukan KNIL dan siapapun yang dianggap kaki tangan Belanda. Lantaran sampai batas waktu yang ditentukan Andi Azis belum merespons ultimatum, dia dicap pemberontak. “Pada 13 April Presiden RIS, Soekarno, menyatakan lewat radio bahwa Andi Azis pemberontak dan kepada APRIS diperintahkan untuk menumpas pemberontakan,” tulis Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Volume 1 . Andi Azis akhirnya menyerahkan diri kepada Mokoginta, disusul pasukannya empat hari kemudian. Pada 14 April 1950, Andi Azis ke Jakarta. Pengadilan memvonisnya 13 tahun penjara, namun di tahun ketujuh dia mendapatkan grasi. Pemberontakan Andi Azis, menurut R.E. Elson dalam The Idea of Indonesia, adalah tanda nyata pertama ketidakpercayaan dan keraguan mendalam serta serius di NIT terhadap niat sentralisasi Republik Indonesia.

  • Wayang Wahyu Melakonkan Kisah Injil

    Suatu malam, Oktober 1957, M.M. Atmowiyono, guru di Sekolah Guru Bantu II Surakarta, mementaskan wayang di gedung Himpunan Budaya Surakarta. Dia melakonkan Dawud Mendapat Wahyu Keraton , yang diambil dari Perjanjian Lama. Seorang penonton, Bruder Timotheus L. Wignjosoebroto FIC, kepala SD Pangudi Luhur Purbayan Surakarta, tergerak untuk menjadikan wayang sebagai sarana menyampaikan wahyu atau firman Tuhan. Dia mendiskusikannya dengan banyak orang, termasuk Atmowiyono. Timotheus membentuk tim untuk merumuskan bentuk wayang wahyu, yang kemudian dilukis oleh Roosradi, kepala inspeksi pendidikan jasmani Kota Sala. Urusan penyusunan pedalangan, tulis Anton Sudjiono dalam Mingguan Djaja , Agustus 1963, diserahkan kepada tiga orang: M. Atmawidjaja (guru SMP), Marosudirdjo (kepala Sekolah Rakyat Kanisius), dan A. Suradi (letnan katekis tentara). Timotheus juga meminta tiga orang rohaniwan untuk duduk sebagai penasihat: Sutapanitera, S.J (Semarang), Hadisudjana M.S.F (Salatiga), dan Darmajuwana Pr. (vikaris jenderal di Semarang). Keinginan Timotheus akhirnya terwujud. Pada 2 Februari 1960, dipentaskanlah wayang di gedung Sekolah Kejuruan Kepandaian Puteri Purbayan Solo. Pementasan ini menampilkan serangkaian lakon Malaikat Mbalela , Manusia Pertama Jatuh dalam Dosa , dan Kelahiran Tuhan Yesus Kristus . Wayang ini mulanya disebut wayang Katolik. Namun, atas saran PC Soetopranito SJ, dinamakan wayang wahyu. Pada 17 Oktober 1960, wayang wahyu mendapat kesempatan tampil di depan uskup agung Mgr. Albertus Soegijapranata. Wayang wahyu rekaan Timotheus dan timnya mendapat apresiasi positif dari Soegijapranata. Bahkan, Soegijapranata memberi saran-saran supaya wayang wahyu menjadi lebih baik. Di antaranya adalah wayang wahyu sepenuhnya disetujui dan sebaiknya terus dilakukan perbaikan/percobaan di lingkungan sendiri sebelum imprimatur (pernyataan resmi otoritas gereja yang menyatakan bahwa sebuah buku atau karya-karya cetak lainnya boleh diterbitkan). Perbaikan wayang dan pementasan dilakukan. Wayangnya semula sederhana, terbuat dari karton atau kardus, lalu disempurnakan dan mulai berbahan kulit. Lakon yang dipentaskan juga bertambah yaitu Dawud-Goliat dan Sang Kristus dan Gereja Katholik . Dari sisi pementasan, satu lakon memiliki durasi tak lebih dari tiga jam, tentu tidak mengabaikan seni pedalangan dan karawitan. Wayang wahyu kerap digelar pada hari-hari besar Kristiani (Natal dan Paskah), ulangtahun gereja atau paroki, ulang tahun pastor, dan peresmian gereja. Wayang wahyu, notabene milik Katolik, telah menginspirasi wayang warta (wayang Kristen), sekitar 1970. Wayang warta kreasi dari Hadi Subroto, dengan dalang Sumiyanto, mantan pegawai dinas pendidikan dan kebudayaan, atas inisiatif Sukimin, seorang guru SD di Klaten.

  • Jelang KAA, Presiden Mengganti Nama Gedung dan Jalan di Bandung

    PADA 6 April 1955, Presiden Sukarno didampingi Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo melakukan pemeriksaan terakhir persiapan KAA. Seperti dikutip dari majalah Merdeka , 16 April 1955, Presiden Sukarno memutuskan untuk mengubah beberapa nama gedung dan jalan terkait pelaksanaan KAA. Gedung Concordia diubah menjadi gedung Merdeka, gedung Dana Pensiun menjadi gedung Dwi Warna. Sementara itu Jalan Raya Timur yang membentang di depan gedung sidang pleno, diganti menjadi Jalan Asia-Afrika. Di sepanjang jalan ini, selama KAA berlangsung, kendaraan umum, becak bahkan sepeda dilarang melintas, kecuali kendaraan milik panitia dan pejalan kaki. Sejumlah ruas jalan di Bandung yang masih bolong dan rusak, seperti jalan Braga, Merdeka dan jurusan Lembang, langsung diperbaiki sampai mulus demi lancarnya konferensi. Arus lalu lintas di dalam kota Bandung pun mengalami pengalihan. Bus luar kota yang biasanya boleh masuk ke depan stasiun, demi keamanan penyelenggaraan KAA dilarang ngetem. Presiden Sukarno agaknya tak ingin peserta perhelatan akbar bangsa-bangsa Asia dan Afrika itu kecewa. Bandung, kota di mana presiden pernah melewati masa-masa kuliahnya di TH (Technische Hogeschool, kini ITB) semakin mempercantik dirinya seiring makin dekatnya pelaksanaan KAA.   Gubuk-gubuk pedagang di pinggir jalan ditata sedemikian rupa dan sejumlah toko-toko diperintahkan untuk menata etalasenya. Presiden juga turun langsung untuk mengawasi dalam renovasi gedung-gedung yang akan dipakai sidang-sidang KAA. Dia memberi instruksi langsung kepada para arsitek mengenai desain interior gedung Merdeka, terutama renovasi balkon yang ada di tengah ruangan. “Demikianlah perobahan-perobahan yang terdapat di Bandung menjelang konperensi ini,” tulis majalah Merdeka .

  • Konferensi Panca Negara, Pertemuan Penting di Balik Kesuksesan KAA

    KOTA Bogor berbeda dari hari-hari biasanya. Selain banyak bendera memenuhi jalan-jalan di sekitar Kebun Raya, jalan raya di depan Hotel Salak jadi memiliki gerbang. Sejak sore, masyarakat juga berkerumun di sepanjang jalan-jalan utama.  Mereka terus menunggu kedatangan iring-iringan yang membawa lima pemimpin negara (termasuk Indonesia) ke Istana Bogor. Di tempat itulah kelima perdana menteri lima negara akan mengikuti Konferensi Panca Negara (KPN) selama dua hari, dari 28-29 Desember 1954. Pada pukul delapan malam, sirene sepeda motor voorijder mengaung-ngaung. “Orang-orang mulai bersorak,” tulis majalah Merdeka , 1 Januari 1955. Iring-iringan kepala pemerintahan lima negara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kelima kepala pemerintahan itu adalah, Jawaharlal Nehru (India), Mohammad Ali Bogra (Pakistan), U Nu (Birma),  dan Sir John Lionel Kotelawala (Seilon/Ceylon/Sri Lanka), serta Ali Sastroamidjojo (Indonesia). Mereka datang atas undangan PM Ali Sastroamidjojo. “Maksud Konperensi tersebut ialah untuk membicarakan persiapan-persiapan terakhir daripada Konperensi Asia-Afrika yang telah disetujui dengan lebih tegas oleh 4 perdana menteri daripada ketika saya mengusulkannya di dalam Konperensi Colombo,” ujar Ali dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku . Ali mengatakan kepada empat perdana menteri yang hadir, Indonesia telah menempuh jalur diplomatik kepada negara-negara yang bakal diundang dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA). Upaya tersebut dilakukan bukan semata karena Indonesia menjadi penggagas KAA, tapi juga lantaran tiap negara yang akan diundang punya politik luar negeri yang berbeda-beda dan punya hubungan dengan negara lain yang tak selalu sama. Sebagaimana diakui Ali, masalah politik luar negeri menjadi pembicaraan paling serius dalam KPN. Salah satu pembicaraan yang paling alot adalah perlu-tidaknya mengundang RRC/Tiongkok ke KAA. Masing-masing perdana menteri berteguh pada pendapatnya, yang tentunya terkait dengan hubungan bilateral negerinya dengan Tiongkok. “Konsensus barulah bisa tercapai ketika Perdana Mentri U Nu menegaskan bahwa akan sukarlah bagi Birma untuk turut serta dalam Konperensi Afro-Asia apabila RRC sebagai negara terbesar di Asia tidak diundang. Karena Asia tanpa RRC akan tidak begitu berarti di dalam arena politik internasional,” kenang Ali. Dalam aspek-aspek persiapan lainnya, para perdana menteri tak banyak bersilang pendapat. Mereka mendukung penuh langkah-langkah yang telah diambil Indonesia. Konferensi juga merumuskan tujuan KAA, yakni: mengusahakan kerjasama antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika, membina hubungan bersahabat antara mereka sebagai tetangga baik; membicarakan soal-soal sosial, ekonomi, dan kebudayaan; kedaulatan nasional, soal-soal rasialisme dan kolonialisme; serta sumbangan apa yang mereka dapat berikan untuk memajukan perdamaian dan kerjasama dunia. KPN berjalan lancar hingga usai di hari kedua. Pada 29 Desember, konferensi mengeluarkan komunike bersama yang terdiri dari delapan butir. Selain menetapkan Bandung sebagai tempat berlangsungnya KAA, butir-butir lainnya antara lain adalah nama negara yang akan diundang ke KAA. Komunike juga menyebutkan KAA tak bertujuan membentuk blok baru di luar dua blok yang ada, kelima perdana menteri KPN mendukung langkah Indonesia atas Irian Barat, dan kekhawatiran mereka terhadap ujicoba senjata nuklir negara adikuasa. “Akhirnya kelima perdana menteri itu menyatakan harapannya pada ambang pintu tahun baru bahwa tahun 1955 akan mengalami kamjuan dalam kerjasama di antara negara-negara itu dan dengan negara-negara lain dan dengan demikian memajukan usaha-usaha ke arah perdamaian,” tulis Majalah Merdeka , 1 Januari 1955.

  • Sekelumit Kisah Gedung Merdeka

    TIBA-tiba Presiden Sukarno marah pada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan Sekjen KAA Roeslan Abdulgani. Kemarahannya bermula saat dia temukan renovasi gedung yang semula bernama Concordia itu tak sesuai harapannya. Padahal penyelenggaraan KAA tinggal sebelas hari lagi. Menurut wartawan senior Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil: Petite Histoire Indonesiajilid 2 , keinginan Sukarno tak segera terlaksana karena Ali Sastroamidjojo tak segera mengucurkan dana renovasi sementara Roeslan tak bergegas menjalankan perintah Sukarno. “PM Ali tidak bersedia memberikan duit. Murah meriah saja. Dan Roeslan punya jadwal sempit,” tulis Rosihan. Menemukan gedung belum sempurna ditata saat menginspeksi persiapan KAA, Sukarno menyindir Ali tak bakal mampu membikin revolusi. “Dengan sarjana hukum (SH) orang tidak bisa membuat revolusi,” ujarnya sebagaimana dikutip Rosihan. Setengah bercanda, Sukarno mengejek Ali yang sarjana hukum. Menurut presiden yang terkenal pecinta karya seni itu renovasi yang dilakukan Ali hanya membuat gedung terlihat seperti ruang pengadilan. Dalam waktu yang serba mepet, akhirnya presiden menunjuk arsitek F Silaban untuk mendesain renovasi tersebut, sekaligus mengganti namanya menjadi Gedung Merdeka. Sukarno ingin menjadikan gedung itu tempat penyelenggaraan KAA yang megah dan membanggakan. Memang bukan perkara mudah menjadikan Gedung Concordia sebagai tempat KAA. Jauh sebelum dikuasai pemerintah, gedung tersebut berfungsi ajang sosialita warga elite Belanda di Bandung. Societeit Concordia , demikian nama klab orang kaya Belanda itu, selalu disambangi para pengusaha perkebunan. Setelah kemerdekaan, kepemilikan tetap ada di tangan mereka dan enggan melepaskan kepemilikannya kepada siapa pun. “Tetapi setelah mereka dihadapkan dengan kemungkinan pengambilalihan demi kepentingan negara, akhirnya gedung Concordia tersebut dijual kepada pemerintah,” kenang Ali Sastroamidjojo dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku . Penanda kota Bandung peninggalan era kolonial itu merupakan karya arsitektur Van Gallen Last dan CP Wolf Schoemaker itu berdiri pada 1895. Semasa pendudukan Jepang, Gedung Concordia berubah nama menjadi Dai Toa Kaikan. Pemerintah militer Jepang menggunakannya sebagai kantor propaganda dan pusat kebudayaan. Ketika Jepang kalah perang, gedung itu lalu kosong hingga era Republik Indonesia Serikat (RIS) berdiri, di mana Negara Pasundan memfungsikan Gedung Concordia menjadi gedung pertemuan. Bubarnya Negara Pasundan kembali membuat gedung terbengkalai. Oleh karena itulah ketika menjelang penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika, panitia lokal di bawah pimpinan Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata memilih gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun (Pensioenfonds) menjadi dua gedung yang paling memungkinkan untuk dijadikan wahana perhelatan KAA.

  • Sudan Belum Merdeka, Benderanya Sudah Berkibar di KAA

    BEBERAPA minggu sebelum Konferensi Asia Afrika dimulai, Sekretariat Bersama memerlukan bendera-bendera negara peserta untuk dikibarkan di berbagai tempat, dari lapangan udara, jalan raya, sampai gedung-gedung. Ketika semua negara peserta sudah mengirimkan benderanya, Sudan belum juga memberikan benderanya, sekalipun diminta berkali-kali melalui kawat (telegram). “Rupanya karena Sudan belum merdeka penuh, maka mereka belum mempunyai bendera nasional. Akhirnya kita putuskan saja untuk mengibarkan sebuah bendera putih dengan tulisan Sudan warna merah di tengah-tengahnya,” kata Roeslan Abdulgani, sekretaris jenderal KAA, dalam The Bandung Connection . Sekretariat Bersama memberitahukan keputusan tersebut melalui telegram ke pemerintah Sudan di ibukota Khartum. Ali Sastroamidjojo, ketua KAA sekaligus perdana menteri Indonesia, terperanjat waktu mengetahui keputusan Sekretariat Bersama tersebut. Dia menegur Roeslan dan mengingatkan bahwa pemerintah Sudah tentu akan tersinggung. “Sebab menentukan bendera nasional adalah atribut pokok dari bangsa itu sendiri. Bukan dari Joint Secretariat (Sekretariat Bersama, red ). Emosi bangsa terhimpun dan tersimpan di dalamnya. Seperti halnya dengan Lagu Kebangsaannya,” tegas Ali. “Saya agak ngeri juga mendengarkan teguran Pak Ali Sastroamidjojo ini,” kata Roeslan. Roeslan akhirnya bisa bernapas lega. Sekretariat Bersama menerima balasan dari pemerintah Sudan yang menyetujui bendera buatan panitia itu. “Selama konferensi, Sudan mengibarkan bendera ‘ciptaan’ kita,” kata Roeslan. Rosihan Anwar, wartawan yang meliput KAA, melihat langsung bendera Sudan yang beda dari negara-negara lain. Bendera negara-negara peserta berkibar di Jalan Asia Afrika Bandung. “Sebuah negara Afrika yang baru merdeka, Sudan, belum punya bendera sendiri, tetapi sekjen konferensi Roeslan Abdulgani tidak kehabisan akal. Ia bikin bendera sendiri untuk Sudan, sehelai kain putih yang bertulisan Sudan,” catat Rosihan dalam Sejarah Kecil “petite histoire” Indonesia Volume 2 . Sudan menghadiri KAA dalam status negara merdeka tapi belum sepenuhnya. Hal ini dikemukakan ketua delegasi Sudan, Perdana Menteri Sayed Ismail El Azhari, dalam sambutannya, “Lebih dari limapuluh tahun, Sudan berada di bawah kekuasaan asing dan belum lama, benar-benar lepas dari genggamannya…konferensi ini menjadi upaya pertama kami menjalankan kedaulatan dan kemerdekaan kami di luar negeri.” Bendera kebangsaan Sudan baru dikibarkan dalam upacara kemerdekaan pada 1 Januari 1956, dikerek langsung oleh Sayed Ismail El Azhari.

  • Daftar Nama Tokoh Indonesia yang Jadi Nama Jalan di Belanda

    Nama aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalib, atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Munir, akan diabadikan sebagai nama jalan di kota Den Haag, Belanda. Suciwati, istri almarhum Munir mengatakan peresmian nama tersebut akan dilaksanakan pada hari Selasa, 14 April 2015. Adapun nama Munir rencananya akan disematkan untuk sebuah jalur sepeda dalam kota dengan nama Munirpad . Pada 7 September 2004, Munir bertolak dari Jakarta menuju Amsterdam untuk menempuh pendidikan masternya. Namun dalam perjalanan udara, ia tewas diracun. Pelakunya adalah Pollycarpus Budihari Priyanto, mantan pilot Garuda Indonesia yang belakangan juga diketahui berprofes sebagai spion. Sudah jadi rahasia umum pembunuhan Munir adalah cara menutup mulut kritis aktivis kelahiran Malang tersebut. Munir meninggal pada usia 39 tahun. Munir bukan tokoh pertama yang namanya diabadikan jadi nama jalan. Relasi historis Belanda-Indonesia membuat beberapa nama tokoh Indonesia tersemat sebagai nama jalan di negeri kincir angin tersebut. Berikut beberapa nama tokoh Indonesia yang diabadikan sebagai nama jalan di Belanda. Thomas Matulessy (Pattimurastraat) Thomas Matulessy, atau yang lebih dikenal dalam sejarah sebagai Pattimura (1783-1817), disematkan sebagai nama jalan di Wierden, Pattimurastraat , pada 2011 sebagai cabang dari jalan lain, Jan Jansweg . Penyematan nama itu diusulkan oleh komunitas Maluku  telah menetap di Wierden sejak beberapa dekade lalu. Pattimura adalah seorang kelahiran Ambon yang memimpin pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda di Maluku. Pada 16 Mei 1817 ia memimpin penyerangan ke Benteng Duurstede di Saparua, Maluku, dan berhasil merebutnya. Setelahnya ia ditasbihkan sebagai pemimpin orang-orang Maluku dalam menghadapi pemerintah kolonial. Setelah dikhianati oleh Raja Booi, Pati Akon, Pattimura tertangkap dan dihukum gantung pada 16 Desember 1817. Martha Christina Tiahahu (Martha C. Tiahahustraat) Namanya disematkan di area pemukiman dan waktu yang sama dengan Pattimurastraat di Wierden. Martha Christina Tiahahu (1800-1818) diabadikan sebagai Martha C. Tiahahustraat yang letaknya dapat ditemukan begitu keluar dari jalan Pattimurastraat . Sejak kecil Tiahahu sudah aktif dalam kegiatan militer melawan pemerintah kolonial. Ia tergabung bersama pasukan Pattimura dan ikut dalam beberapa pertempuran bersamanya. Sempat tertangkap pada  1817, ia kemudian dilepaskan oleh Belanda karena masih dianggap anak-anak. Namun Tiahahu terus melawan, sampai ia akhirnya ditangkap kembali dan dikirim ke Jawa untuk bekerja paksa. Tiahahu meninggal di perjalanan pada usia 17 tahun. Seperti Pattimura, namanya harum sebagai tokoh perlawanan yang penting dalam komunitas masyarakat Maluku. R.A. Kartini (R.A Kartinistraat dan Kartinistraat) Surat menyurat yang dilakukan dengan teman-temannya di Eropa membuat nama Raden Ayu Kartini (1879-1904) harum di tengah masyarakat Belanda. Pada tahun 1911, kumpulan suratnya dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Litch (Habis Gelap Terbitlah Terang). Pandangan kritisnya terhadap situasi perempuan di Jawa kala itu mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi. Dan bagi pemerintah Indonesia Kartini dianggap sebagai pelopor kebangkitan kaum perempuan Indonesia. Nama Kartini disematkan di empat kota berbeda. Ada R.A Kartinistraat di kota Utrecht yang merupakan salah satu jalan utama. Lalu Kartinistraat di pemukiman Zuiderpolder di Haarlem. Begitu juga dengan Kartinistraat , sebuah jalan yang berbentuk lingkaran di Venlo. Terakhir, nama Kartini disematkan dengan lengkap sebagai nama jalan di wilayah Zuid-oost Amsterdam, Raden Adjeng Kartinistraat , yang menghubungkan Emmeline Pankhurstsraat dengan Bijlmerdreef. Mohammad Hatta (Mohammed Hattastraat) Mohammad Hatta (1902-1980) pergi ke Belanda pada tahun 1921 untuk melanjutkan studi ekonominya di Rotterdam. Hatta tinggal di Belanda sampai tahun 1932, yang ia isi tidak hanya dengan belajar namun juga turut aktif dalam pergerakan melalui Perhimpunan Indonesia. Sekembali ke tanah air, Hatta tetap meniti garis perjuangan dan terlibat beberapa kali dalam berbagai perundingan antara Indonesia dengan Belanda, baik itu dalam kapasitasnya sebagai Wakil Presiden Indonesia (1945-1956) atau sebagai Perdana Menteri Indonesia (1948-1950). Nama Hatta tersemat di jalan pemukiman Zuiderpolder di kota Haarlem. Mohammed Hattastraat , jalan kecil dengan deretan gedung di sisi kiri dan pepohonan rindang di sisi kanannya tersebut berakhir di sebuah perempatan antara Vrijheidsweg dan Salvador Allendestraat. Robbert Christiaan Steven Soumokil (Chris Soumokilstraat) Salah satu nama yang kontroversial dalam sejarah Indonesia. Chris Soumokil (1905-1966) sempat belajar hukum di Universitas Leiden dan lulus pada tahun 1934. Saat Perang Pasifik pecah, Soumokil ditawan dan dikirim ke Burma dan Siam. Ia kemudian menjadi jaksa agung dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT), sebelum akhirnya mendirikan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1950 dan menjadi presidennya. RMS memberontak pemerintahan Indonesia dan pada tahun 1963 ia tertangkap dan dieksekusi mati setahun setelahnya. Jalan atas nama Chris Soumoukil terdapat di dua kota, Wierden dan Haarlem. Seperti Pattimurastraat , Chris Soumokilstraat tersambung dengan jalan Martha C. Tiahahustraat di pemukiman komunitas Maluku, Wierden. Yang kedua terletak di kota Haarlem dan disematkan pada tahun 1987, masih di komplek pemukiman Zuiderpolder. Chris Soumokilstraat tersambung dengan Kartinistraat dan Mohammed Hattastraat . Sutan Sjahrir (Sjahrirstraat) Sutan Sjahrir (1909-1966) sempat mengenyam pendidikan hukum di Universitas Amsterdam dan Universitas Leiden. Di sana ia mendalami sosialisme dan aktif dalam wacana kaum pergerakan bersama Perhimpunan Indonesia dan Mohammad Hatta. Di masa perjuangan kemerdekaan, bersama dengan Hatta, Sjahrir sebagai Perdana Menteri Indonesia pertama (1945-1947) menjadi sosok terdepan diplomasi Indonesia melawan Belanda di pentas politik internasional. Nama Sjahrir harum di Belanda sebagai seorang "ksatria politik terhormat dengan idealisme yang tinggi", sebagaimana disematkan oleh Wim Schermerhorn, mantan Perdana Menteri Belanda (1945-1966) pada 1966 sesaat setelah kematian Sjahrir. Wim adalah sahabat dekat Sjahrir semenjak masa-masa mahasiswa di Belanda. Tiga kota di Belanda menyematkan nama Sjahrir. Di Leiden, kota bekas Sjahrir menimba ilmu, Sjahrirstraat membentang lurus bersinggungan dengan Gandhistraat sebelum tersambung ke Martin Luther Kingpad. Di kota Gouda, ada Sjahrirsingel yang menyambungkan Sacharovstraat dengan Gandhiweg. Nama terakhir terletak di permukiman Zuiderpolder di Haarlem, Sutan Sjahrirstraat , dinamakan pada 1987, yang menyambungkan jalan Mohammed Hattastraat dengan Chris Soumokilstraat . Irawan Soejono (Irawan Soejonostraat) Ia seorang mahasiswa Indonesia yang datang ke Belanda pada tahun 1934 untuk menempuh studi di Universitas Leiden, dan ketika Perang Dunia II pecah dan Belanda diduduki Jerman (1940-1945) ia ikut melawan fasisme sebagai pasukan bawah tanah. Namanya Irawan Soejono (1919-1945). Ia aktif dalam penerbitan surat kabar propaganda anti fasis, De Bevrijding (Pembebasan) dan ikut pula tergabung dalam satuan tempur mahasiswa Indonesia di Belanda (Barisan Mahasiswa Indonesia). Namanya terkenal di kalangan gerakan perjuangan bawah tanah, sampai ia dijuluki sebagai Henk Van de Bevrijding . Irawan tewas ditembak oleh tentara Nazi-Jerman pada 13 Januari 1945. Namanya diabadikan oleh pemerintah Amsterdam pada 4 Mei 1990 di wilayah Osdorp sebagai Irawan Soejonostraat . Jalan itu menghubungkan Rudi Bloemgartensingel dan Trijn Hullemanlaan, juga diapit oleh Geertruida Van Lierstraat dan Jacob Paffstraat.

  • Inilah Asal-Usul Profesi Tukang Catut

    MENYAMBUT Hari Film Nasional pada 30 maret 2015, sejumlah bioskop memberi promo bagi calon penonton film nasional pada hari-H. Calon penonton cukup beli satu tiket untuk nonton dua film nasional. Tawaran lain berupa kemudahan pembelian tiket bioskop secara online , tak perlu mengantre. Tapi puluhan tahun silam, tiket bioskop jadi lahan subur tukang catut. Sejak kapan profesi tukang catut karcis bioskop dimulai? Kerja mencatut kali pertama muncul pada masa pendudukan Jepang. “Orang yang jadi catut memang bukan sengaja. Karena itu tempo memang banyak yang tidak kerja,” tulis Piso Tjoekoer (kemungkinan nama samaran) dalam Warisan Djepang terbitan 1946. Mingguan Djaja , 4 Mei 1963, bahkan menyebut inilah awal masa merajalelanya tukang catut di negeri ini. Liberty , 1 April 1946, mendeskripsikan mencatut sebagai “gampangnya mendapat untung besar… lantas orang jadi tidak suka berusaha putar otak lebih keras atau gunakan tenaga urat lebih banyak buat mencipta apa-apa yang kekal.” Tukang catut hadir di segala tempat. Termasuk bioskop. Ini terekam dalam film Tiga Dara buatan Usmar Ismail, sutradara sohor Indonesia, pada 1956. Toto dan Nenny, sepasang muda-mudi, datang ke bioskop pada malam hari. Mereka agak telat. Calon penonton telah mengantre hingga luar bioskop. Toto dan Nenny berada di baris paling belakang. Belum lama mereka mengantre, petugas loket bilang tiket habis. Toto dan Nenny lekas ke parkiran bioskop. Seorang lelaki tukang catut menawarkan tiket bioskop ke mereka. Harganya tiga kali lipat ketimbang harga normal di semua kelas tempat duduk: loge (kelas satu), stalles (kelas dua), kelas kambing (kelas tiga), dan kelas balkon (khusus). Firman Lubis (alm), seorang dokter dan penulis, punya gambaran serupa dengan Usmar Ismail tentang tukang catut. Saat masih remaja pada 1950-an, dia sering nonton di bioskop. Jika film lagi bagus dan bintangnya pun terkenal, bioskop bakal ramai. Tukang catut pun bersliweran di bioskop. “Mereka sudah mengantre duluan di depan, atau menyelak (biasanya mereka berkelompok sehingga orang tidak berani menegur) begitu saja ke depan,” tulis Firman dalam Jakarta 1960-an . Untuk menjadi tukang catut, orang harus punya  keahlian beladiri dan keberanian. Firman menyebut beberapa nama tukang catut sohor pada masa itu. Antara lain si Jaim alias Eddy dan Lorens. Kehadiran mereka bikin beberapa calon penonton kesal. Sebab “Harga yang mereka tawarkan bisa berlipat dua, tergantung ramainya orang yang mau menonton,” tulis Firman. Sementara sebagian calon penonton dari kalangan atas justru mencari mereka. Berapapun harga tiket, calon penonton ini pasti membeli. Lagi pula calon penonton ini enggan capek-capek mengantre lama. Menilai sepak terjang tukang catut lebih banyak merugikan orang, pemilik bioskop di Jakarta meminta bantuan polisi mengawasi catut pada 1960-an. “Di Bioskop Menteng, alat-alat negara bukan saja menjaga keamanan dan keberesan penjualan karcis bioskop dari luar loket, tetapi juga dari dalam loket,” tulis Djaja . Menghadapi penjagaan ketat, tukang catut tak kehilangan akal. Mereka bekerja sembunyi-sembunyi. Strategi ini berhasil. “Tukang catut masih saja sempat berbisik-bisik ke telinga penonton yang tidak kebagian karcis: loge…loge… stalles…stalles! ” tulis Djaja . Ali Sadikin, Gubernur Jakarta, turun tangan mengatasi tukang catut pada 1970. Dia bilang butuh kerjasama menghadapi tukang catut. Dia berjanji bakal menurunkan harga tiket bioskop. Sebaliknya, dia juga meminta calon penonton jangan malas antre. Dengan cara ini, tukang catut perlahan menghilang dari bioskop. Beralih ke tempat lain seperti terminal dan stasiun kereta api.

  • Nabi Muhammad Perangi Pengkhianat

    Gagal menaklukkan Madinah dan umat Islam yang dimulai pada 31 Maret 627, pasukan Abu Sufyan, pemimpin suku Quraisy di Mekah, menarik diri dari pengepungan berlarut-larut, yang menandakan kemenangan umat Islam di Madinah. Umat Islam kemudian mengalihkan perhatiannya kepada suku Quraizah. Suku Quraizah adalah satu dari tiga suku Yahudi yang menetap di Madinah, sebelum kedatangan umat Islam yang mengungsi dari Mekah. Yang lainnya adalah suku Nadir dan Qainuqa. Nabi Muhammad meneken Piagam Madinah tahun 622 untuk mengikat beragam komunitas di Madinah, termasuk Yahudi, agar hidup berdampingan di Madinah. Namun ketika suku Nadir dan Qainuqa mengkhianati perjanjian itu, mereka pun diusir dari Madinah. Keduanya kemudian bergabung dengan pasukan Abu Sufyan. Pada Perang Parit, suku Quraizah berniat memberontak dengan menyerang umat Islam dari dalam. Namun Muhammad berhasil menggagalkan persekongkolan mereka dengan pasukan penyerang. “Orang-orang Islam secepatnya memobilisasi dan menyerang pertahanan orang-orang Yahudi itu. Suku Quraizah menahan serangan, yang dipimpin oleh Ali, selama 25 hari. Sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa menang dan meminta untuk bernegosiasi,” tulis Yahiya Emerick dalam Critical Lives: Muhammad. Buku-buku yang ditulis penulis Barat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad kemudian memerintahkan mengeksekusi mati sekitar 600-900 laki-laki Quraizah karena telah melanggar Piagam Madinah dan bersekongkol dengan musuh. Peristiwa ini kemudian menjadi perdebatan di antara sejarawan Islam di masa modern. Philip K. Hitti agaknya memilih moderat dengan menyebut 600 orang Quraizah tewas akibat diserang. “Setelah pengepungan berakhir, Muhammad menyerang orang-orang Yahudi karena ‘bersekongkol dengan pasukan penyerang’ yang mengakibatkan terbunuhnya 600 orang suku utama Yahudi, Banu Quraizah, dan sisanya yang masih hidup, diusir dari Madinah,” tulisnya dalam History of the Arabs . Setelah kemenangan di Perang Parit, Madinah menjadi basis umat Islam. Nabi Muhammad kemudian menundukkan suku-suku Arab yang masih menyembah berhala tanpa bisa dihalangi oleh Mekah. “Pasukan Muslim hampir selalu menang dalam serangan-serangan tersebut, dan suku-suku Arab yang kalah menerima otoritas Muhammad. Suku-suku lain, mendengar kekuatan Muhammad yang kian besar, berdatangan ke Madinah dengan sendirinya untuk menjalin aliansi dan bersumpah untuk mengikuti sang nabi,” tulis Gabriel Said Reynolds dalam The Emergence of Islam: Classical Traditions in Contemporary Perspective . Pada periode Madinah ini, tulis Philip K. Hitti, Arabisasi atau nasionalisasi Islam dilakukan. “Nabi baru itu memutuskan ketersambungan Islam dengan agama Yahudi dan Kristen: Jumat menggantikan Sabat (Sabtu, red. ), azan menggantikan suara terompet dan gong, Ramadan ditetapkan sebagai bulan puasa, kiblat (arah salat) dipindahkan dari Yerusalem ke Mekah, ibadah hajike Ka’bah dibakukan dan mencium Batu Hitam –ritual pra-Islam– ditetapkan sebagai ritual Islam.”

  • Siasat Jitu Perang Khandaq

    Pada 31 Maret 627, pasukan persekutuan (al-ahzab) pimpinan Abu Sufyan asal Mekah tiba di Madinah. Namun, alangkah terkejut mereka ketika melihat sekeliling Madinah telah dibentengi dengan parit-parit yang dalam. Abu Sufyan, yang memusatkan daya gedornya pada pasukan kavaleri, hanya bisa keheranan melihat strategi perang yang tak biasa di tanah Arab tersebut. Karena itulah perang ini disebuat Perang Parit atau Perang Khandaq. Perang Parit dipicu kebangkitan umat Islam Madinah yang menurunkan pamor Mekah sebagai pusat keagamaan dan dagang utama di jazirah Arab. Hal ini membuat Abu Sufyan, pemimpin suku Quraisy di Mekah, geram. Dia menghimpun pasukan dari berbagai suku di Mekah, suku Yahudi, serta tentara bayaran dari suku Badui dan Abissinia, untuk menaklukkan Madinah dan umat Islam. Sekira 10.000 prajurit terkumpul, jumlah terbesar di seluruh Arab saat itu. Nabi Muhammad mengumpulkan pengikutnya untuk mendiskusikan strategi perang. Ide melindungi kota dengan membangun parit ditelurkan seorang Persia, Salman al-Farisi. Sekira 3.000 prajurit yang mempertahankan kota dikerahkan untuk membangun parit selama enam hari. Parit dalam bahasa Arab (khandaq) berasal dari bahasa Persia ( kandan artinya menggali), melalui bahasa Aramaik. “Menghadapi kekuatan yang begitu besar, kelihatannya tidak mungkin penduduk Madinah akan berhasil mempertahankan diri,” tulis Irving M. Zeitlin dalam The Historical Muhammad . “Tapi seorang Persia menyarankan Muhammad untuk menggali parit di sekitar Madinah, sebuah inovasi militer yang menurut orang-orang Arab Badui itu sebagai taktik paling curang yang pernah mereka hadapi.” Hal itu karena tradisi pertempuran antara dua pasukan selalu terjadi di tanah terbuka. Mereka tidak terbiasa menghadapi musuh yang bertahan di dalam kota. Menghadapi situasi perang yang terbilang baru itu, pasukan Abu Sufyan hanya bisa membangun kemah untuk mengepung. Salah satu dari mereka, Amr bin Wadd, sempat meloncati parit dan mencapai tengah kota sebelum akhirnya tewas setelah berduel dengan Ali bin Abi Thalib, sepupu Muhammad. “Tidak percaya dengan taktik perang semacam itu, yang menurut orang-orang Badui merupakan tindakan paling tidak jantan yang pernah mereka lihat, pasukan penyerang akhirnya bergerak mundur pada akhir April 627, setelah jatuh korban sebanyak 20 orang dari kedua pihak,” tulis Philip K. Hitti dalam History of the Arabs . Pengepungan berlangsung selama 27 hari dan terasa begitu menyiksa bagi pasukan penyerbu yang hanya bisa menunggu di tengah dinginnya gurun. Selain itu, usaha persekongkolan mereka dengan satu suku Yahudi yang tersisa di Madinah, suku Qurayza, pun tak ada kabarnya. Ternyata, Muhammad sudah mencium benih pemberontakan itu.

  • Candrasengkala Prasasti Batutulis

    ADOLF Winkler, seorang kapten VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), dibantu seorang ahli ukur, 16 pasukan Eropa, dan 26 orang Makassar, melakukan ekspedisi untuk membuat peta lokasi “bekas kerajaan Pajajaran”. Pedomannya: hasil laporan ekspedisi pertama pasukan VOC yang dipimpin Sersan Scipio tiga tahun sebelumnya. Pada 25 Juni 1690, rombongan Winkler tiba di daerah yang kini dikenal dengan daerah Batutulis, Bogor. Mereka mendapati batu prasasti setinggi dua hasta yang memuat informasi penting terkait sejarah Sunda Kuna. Winkler mencatat temuannya dalam Daghregister 1690 . Laporan Winkler memantik perhatian orang-orang Eropa untuk menyelidiki lebih lanjut prasasti Batutulis. Hasil penyelidikan mereka hanya membahas letak dan betuk prasasti Batutulis. Penelitian epigrafis baru dilakukan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles pada 1817, yang dituangkan dalam karya monumental, The History of Java . Raffles melampirkan transkripsi prasasti Batutulis sebagai objek penyelidikannya, namun dia menyebut kondisi prasasti itu kurang baik. Sarjana Belanda, R. Friederich, menentang pendapat itu. Dalam “Verklaring van den Batoe-toelis van Buitenzorg,” dimuat jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde , I. 1853, dia menganggap prasasti itu masih layak baca. Walaupun hasil kajiannya menyisakan celah soal transliterasi, dia merupakan perintis kajian isi prasasti Batutulis. Dia membuat alih aksara dan terjemahan ke bahasa Belanda lengkap dengan transkripsinya pada 1853. Prasasti Batutulis, yang memuat teks beraksara Jawa Kuna dalam sembilan baris susunan dan berbahasa Sunda Kuna, tak seluruhnya menampilkan bentuk aksara yang tampak dan ajeg. Satu aksara di depan frasa ban yang hanya tampak tanda diakritik ( pepet ) merupakan objek yang kerap diperdebatkan dan ditafsir ulang para ahli. Pasalnya ia berkaitan dengan candrasengkala atau atau kronogram (gambaran waktu dalam penentuan angka tahun) prasasti Batutulis. Candrasengkala itu berbunyi panca pandawa ban bumi . Dalam “Het jaartal op den Batoe-toelis nabij Buitenzorg”, jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde , LIII, 1911, etnolog Belanda, CM Pleyte, menafsirkan aksara yang tidak terbaca di depan kata ban adalah huruf Ä›, kemudian dia menyisipkan huruf m , menjadi emban ( Ä›(m)ban ). Pleyte memberi taksiran bahwa kata emban beroleh angka empat berdasar jumlah panakawan: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Dengan demikian jumlah sengakalan itu; panca (5), pandawa (5), emban (4), dan bumi (1). Jadi, prasasti Batutulis bertarikh 1455 Çaka atau 1533 M. Taksiran angka tahun Pleyte disanggah sejarawan Hoesein Djajadiningrat. Dia menjadi bumiputera pertama yang mengkaji prasasti Batutulis, dalam disertasi Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten pada 1913 di Rijksuniversiteit Leiden. Tanpa alasan pasti, Hoesein berpendapat bahwa ngemban lebih patut berangka tiga. Sehingga, angka tahun prasasti Batutulis ialah 1355 Çaka atau 1433 M. Pendapat lain dipaparkan ahli epigrafi Poerbatjaraka. Dalam “De Batoe-Toelis bij Buitenzorg” jurnal TBG (Tijdschrift Bataviaasch Genootschap), 59, 1920, dia menyebut frasa ngemban adalah dua. Dasarnya, arti kata ngemban yang bermakna menggendong atau mengemban/mengutus selalu berjumlah dua: menggendong dan yang digendong, mengutus dan yang diutus. Jadi, tarikh prasasti Batutulis ialah 1255 Çaka atau 1333 M. Hasan Djafar, ahli epigrafi yang kerap mengkaji prasasti masa kerajaan Sunda, mencoba menjernihkan silang pendapat para ahli. Dia menyelaraskan angka tahun yang dipaparkan para ahli dengan masa bertahta raja yang mengeluarkan prasasti Batutulis. Bila merujuk pendapat Hoesein, angka tahun Batutulis bertepatan dengan masa Niskala Wastukancana bertahta (1363-1467). Sedangkan pendapat Poerbatjaraka justru menempatkan prasasti Batutulis pada masa Prabu Maharaja (1350-1357) yang tewas di tanah lapang Bubat. Kedua pendapat itu, menurut Hasan, berbeda jauh dari informasi dalam prasasti. Isi prasasti Batutulis menyebut bahwa prasasti dibuat pada masa Prabu Surawisesa bertahta untuk mengenang jasa-jasa Prabu Ratu, cucu dari Niskala Wastukancana yang mangkat di Nusalarang. Prabu Ratu dinobatkan dengan nama Prabu Dewataprana, dan kembali dinobatkan bernama Sri Baduga Maharaja yang mangkat di Gunatiga. “Dari Carita Parahiyangan dan Pustaka Rajya I Bhumi Nusantara, terutama parwa IV, Sarga I, diketahui bahwa Prabu Surawisesa memerintah pada tahun 1521-1535 dan berkedudukan di Pakuan-Pajajaran,” ujar Hasan kepada Historia . “Maka angka tahun yang paling mendekati adalah angka tahun 1433 M.” Pendapat Hasan Djafar selaras dengan tafsiran Pleyte. Isi prasasti Batutulis, menurut Hasan, dapat dibagi menjadi tiga bagian: pembuka ( manggala ) yang memuat seruan wang na pun dan permohonan keselamatan kepada Dewa; tujuan ( sambandha ) pembuatan prasasti sebagai sakakala atau tanda peringatan untuk mendiang Sri Baduga Maharaja atas jasanya dalam membuat parit pertahanan sekeliling ibukota Pakuan-Pajajaran, membuat jalan yang diurug batu, membuat hutan larangan ( samida ), dan membuat Telaga Warna Mahawijaya; titimangsa atau candrasengkala bertulis panca pandawa ngemban bumi berangka 1455 Çaka atau 1533 M.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page