top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jejak Ali Moertopo dalam Kerusuhan Lapangan Banteng

    LAPANGAN Banteng penuh sesak oleh massa simpatisan Golkar hari itu, 18 Maret 1982. Mereka tumpah-ruah dalam merayakan kampanye Golkar menjelang Pemilu 1982. Suasana makin riuh kala penyanyi dangdut Elvi Sukaesih ikut meramaikan kampanye. Setelah asyik digoyang dangdut, juru kampanye utama Golkar yang juga Menteri Penerangan Ali Moertopo siap-siap naik ke pentas hendak berorasi. “Setelah Ali Moertopo tampil di panggung di tengah teriakan yel-yel kampanye, para penjaga panggung serentak mengeluarkan gergaji dan botol bensin dari balik jaket mereka. Gergaji dan bensin itu dipakai untuk merobohkan dan membakar panggung. Keadaan seketika menjadi sangat kacau. Prosesnya berjalan amat cepat,” kenang Sarwono Kusumaatmadjia, sekretaris jenderal (sekjen) Golkar periode 1983—1988, dalam Memoar Sarwono Kusumaatmadja: Menapak Koridor Tengah. Di tengah para hadirin yang kaget dan kebingan, sambung Sarwono, orang-orang berbaju AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), organ pemuda Golkar, membuang jaket dan baret AMPI. Di badan mereka ternyata sudah melekat kaus oblong bergambar lambang Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam suasana yang kacau itu, para perusuh ini memekikkan seruan takbir.

  • Tjong Ling, Mata-mata Sultan Banten

    PRAMOEDYA Ananta Toer ditahan hampir setahun (1960-Agustus 1961) karena menerbitkan buku yang bersimpati kepada Tionghoa, berjudul Hoakiau di Indonesia. Buku itu berisi kumpulan tulisannya setiap minggu di Bintang Timur, koran Partindo (Partai Indonesia). Dalam buku itu, Pram menyebut bahwa Hoakiau (orang Tionghoa) di masa penjajahan Belanda mempunyai sumbangsih yang bisa diperhitungkan, tidak dapat disangkal, sekalipun ada juga Tionghoa yang merusak jasa itu. Misalnya, Sacanegara, seorang Tionghoa, berkong-kalikong dengan Ratu Syarifah Fatimah dari Banten, seorang keturunan Arab, yang bekerja sama dengan Belanda hendak menguasai Kesultanan Banten. Pramoedya mengutip buku Fakta yang Dilupakan karya E.H. Bahruddin untuk menyebut contoh orang Tionghoa yang berjasa. Bahruddin menulis, karena Tionghoa bisa berdagang dan berhubungan, tidak jarang mereka menjadi mata-mata.

  • Jack Charlton, Legenda yang Acap Bikin Kiper Berang

    KARIERNYA tak bergelimang harta. Namanya bahkan kalah beken dari sang adik. Namun mendiang Jack Charlton dikenal luas sebagai pemimpin natural dan berkarakter. Meski jasanya terhadap Inggris di Piala Dunia 1966 acap dibayangi para bintang lain, ia dicintai setiap insan di kampung halamannya, Ashington, hingga akhir hayat. Charlton beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya pada Jumat, 10 Juli 2020 (Sabtu, 11 Juli WIB) di kediamannya karena kanker limfoma di usia 85 tahun. Tak hanya di kota kelahirannya, namanya juga sudah terpatri abadi di benak warga kota Leeds karena ia menghabiskan karier profesionalnya sebagai one-club man di Leeds United (1952-1973). “Dia seorang legenda ketika sepakbola belum seperti sekarang. Dia tak bermain demi banyak uang. Dia mencintai sepakbola dengan sepenuh hati dan dia sosok yang sangat menyenangkan,” tutur Maria Wood, salah satu warga Ashington, dikutipBBC, Sabtu (11/7/2020).

  • Semaoen Anak Didik Sneevliet

    PADA siang hari 16 Juli 1917, untuk sebuah pekerjaan propaganda buruh serikat kereta api, Semaoen dan Henk Sneevliet pergi mengunjungi Probolinggo. Atas anjuran seorang kusir, mereka menuju sebuah hotel di tengah kota Probolinggo. Ketika pesuruh hotel membawa koper masuk dan Sneevliet tengah duduk di kursi goyang, pemilik hotel datang menyambangi Sneevliet dan bertanya, “siapakah inlander yang datang bersamamu itu? Apa pekerjaanya?” “Dia kolega saya, tuan,” kata Sneevliet sopan. “Apakah dia seorang guru?” tanya pemilik hotel berkulit putih itu. Sneevliet kembali mengatakan bahwa lelaki yang pergi bersamanya itu kawannya tak lebih tak kurang. Mendengar jawaban tersebut, pemilik hotel mengatakan bahwa hotelnya tidak biasa menerima seorang tamu bumiputra untuk menginap. Dia berkilah merasa tak enak dengan tamu-tamunya yang lain. “Ada hotel lain di sini, milik seorang Tionghoa, di mana orang seperti kawanmu itu bisa menyewa kamar,” kata pemilik hotel, sontak membuat Sneevliet marah.

  • ABRI Masuk Kampus Calon Guru

    UNTUK ke sekian kalinya, Soeharto dilantik menjadi presiden pada 11 Maret 1998. Ketika itu krisis moneter sudah melanda Asia. Ekonomi Indonesia pun hancur seketika. Harga bahan makanan, yang era itu dikenal sebagai Sembilan Bahan Pokok (Sembako), mendadak naik. Begitu pula harga minyak bahan bakar seperti bensin. Soeharto berusaha membuat masyarakat tetap tenang dan menyerahkan semua padanya. Namun sia-sia, sebagian golongan mulai tak percaya lagi padanya. “Sejak 4 Mei 1998, mahasiswa Medan, Bandung dan Yogyakarta menyambut kenaikan harga bahan bakar minyak dengan demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi itu berubah menjadi kerusuhan, saat para demonstran terlibat bentrokan dengan petugas keamanan,” catat Djadja Suparman dalam Jejak Kudeta 1997-2005.

  • Perlawanan dari Gejayan

    ALIANSI Rakyat Bergerak menyerukan kepada seluruh mahasiswa dan elemen masyarakat Yogyakarta untuk mengikuti aksi #GejayanMemanggil pada 23 September 2019. Massa akan bergerak dari Gerbang Utama Universitas Sanata Dharma, Pertigaan Revolusi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Bundaran Universitas Gadjah Mada, ke pusat titik kumpul di Pertigaan Colombo, Gejayan. “Gejayan di tahun 1998 menjadi saksi perlawanan mahasiswa dan masyarakat Yogya terhadap rezim yang represif. Di tahun 2019, Gejayan kembali memanggil jiwa-jiwa yang resah karena kebebasan dan kesejahteraannya terancam oleh pemerintah,” demikian bunyi seruan #GejayanMemanggil. Dalam selebaran yang viral, #GejayanMemanggil menyebut pemerintah telah memojokan rakyat melalui RKUHP, RUU KPK, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, kriminalisasi aktivis di berbagai sektor, dan ketidakseriusan pemerintah dalam menangani isu lingkungan dan RUU PKS yang tak kunjung disahkan.

  • Mozes Gatutkaca Dibunuh Aparat Waktu Cari Makan

    SORE telah menghilang di Yogyakarta. Perut pun waktunya diisi. Mereka yang tidak memasak di rumah, tentu harus pergi ke warung kaki lima. Di Jalan Mrican, dulu ada banyak warung tenda yang menjual pecel lele, bermacam makanan nasi, lele goreng dengan sambel serta lalapan kubis dan daun kemanginya. Tentu ada banyak menu selain pecel lele di sana. Seperti orang-orang yang lain, Mozes Gatutkaca juga harus makan petang itu demi memenuhi kebutuhan perutnya. Dirinya, yang tidak masak di rumah, pun harus ke luar menyusuri Jalan Mrican. Dalam perjalanan, ada orang Mrican yang mengenalnya memperingatkannya bahwa adanya kekacauan di sekitar Jalan Gejayan pasca-demonstrasi. Karena merasa tak terlibat dalam demonstrasi, Mozes meneruskan perjalanannya ke arah selatan untuk mencari makan.

  • Jejak Kuasa Raja Sunda

    PERJALANAN penjelajah Portugis Tome Pires akhirnya sampai juga di Jawa. Sebuah negeri yang kebudayaannya jelas berbeda dengan Malaka (basis kekuatan Portugis di Asia) cukup membuatnya tercengang. Kondisi budaya dan politik di sana telah memberi pemahaman baru baginya. Satu kerajaan yang menarik perhatian sang penjelajah adalah Kerajaan Sunda, sang penguasa bagian barat Jawa. Keberadaan Sunda telah banyak diketahui Pires sejak pendaratan pertamanya di Jawa. Ia mendapat kabar dari orang-orang di pelabuhan tentang negeri itu. Berdasar informasi tersebut, Pires lalu menulis di dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental, tentang gambaran Kerajaan Sunda. “Sebagian orang menegaskan bahwa Kerajaan Sunda menguasai setengah Pulau Jawa. Sebagian lainnya, yakni orang-orang yang memiliki kedudukan dalam pemerintahan, meyakini bahwa Kerajaan Sunda menduduki sepertiga atau seperdelapan bagian pulau,” tulisnya.

  • Apa yang Salah dengan Lambang Palang Merah?

    PANITIA kerja RUU Palang Merah Indonesia (PMI) DPR RI studi banding ke Denmark dan Turki. Mereka berencana mengubah lambang PMI menjadi Bulan Sabit Merah. Entah atas dasar apa para anggota parlemen itu ingin mengganti lambang PMI. Palang Merah telah ada sejak masa Hindia Belanda. Pada 21 Oktober 1873 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai), yang dibubarkan pada masa pendudukan Jepang. Sekira tahun 1932, Dr. R.C.L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan mengusahakan untuk mendirikan palang merah nasional. Mereka berusaha membawa rancangan itu ke konferensi Nerkai pada 1940, tapi ditolak mentah-mentah. Saat pendudukan Jepang, mereka mencoba lagi, namun kembali gagal. Baru pada 3 September 1945 Presiden Sukarno memerintahkan untuk membentuk badan palang merah nasional. Dua hari kemudian, Menteri Kesehatan Kabinet I, Boentaran Martoatmodjo membentuk Panitia Lima, terdiri dari: dr R. Mochtar (ketua), dr. Bahder Djohan (penulis); dan dr. Djuhana, dr. Marzuki, dr. Sitanala (anggota). Akhirnya, Palang Merah Indonesia berhasil dibentuk pada 17 September 1945.

  • Sirnanya Kerajaan Pajajaran

    MEMASUKI abad ke-15, hampir tidak ada kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara yang mampu menahan gempuran pengaruh Islam di wilayahnya. Bukan hanya di Jawa, fenomena peralihan kuasa agama itu juga terjadi di pulau-pulau lain. Tidak ada yang mampu menghentikannya. Dan keadaan itu akhirnya sampai juga mengancam tanah Pasundan pada abad ke-16. Di Tatar Sunda sendiri usaha menghalau pengaruh Islam di tengah masyarakat sebenarnya telah dimulai sejak pertama kali agama itu masuk. Tercatat sejak era kekuasaan Galuh, para penguasa terus mengupayakan agar pengaruh Hindu-Buddha tetap menjadi yang utama di Jawa Barat. Bahkan ketika salah seorang pangeran Galuh yakni Haji Purwa, menjadi tokoh Muslim penting di tanah Sunda, kerajaan dengan cepat bertindak. Ia selamanya diasingkan dari negerinya sendiri oleh sang ayah. Namun pertumbuhan Islam yang begitu cepat, ditambah semakin melemahnya kekuatan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara membuat usaha raja-raja di tanah Sunda pada akhirnya tidak membuahkan hasil. Kekuasaan Hindu-Buddha semakin terdesak. Puncaknya, raja Sunda memindahkan pusat pemerintahannya dari Kawali (Ciamis) ke Pakuan (sekarang Bogor). Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran pun menjadi benteng terakhir dan salah satu harapan untuk tetap menghidupkan ajaran Hindu-Buddha di Nusantara.

  • Taktik Banten Taklukkan Pakuan Pajajaran

    KERAJAAN Pajajaran didirikan pada 1333 oleh beberapa bangsawan dari Galuh. Kerajaan yang beribu kota di Pakuan (kini, Bogor) itu untuk pertama kalinya berhasil menyatukan seluruh wilayah Jawa Barat, dari selatan sampai utara, di bawah kekuasaan tunggal. Pajajaran melancarkan serangan ke pelabuhan-pelabuhan pesisir utara, termasuk ke Wahanten Girang atau Banten Girang. Sejarawan Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X–XVII mencatat, karena tak ada satu indikasi pun yang memungkinkan dugaan bencana alam, terpaksa disimpulkan bahwa Banten Girang musnah dalam perang sekitar tahun 1400. Banten Girang hancur dan perekonomian berhenti.

  • Kala Pesawat Mata-mata Amerika Dimangsa Jet Tempur Soviet

    BUAT mahasiswa seperti Martin Kakosian –di kemudian hari menjadi seniman-pematung tenar Armenia, kuliah lapangan merupakan kesenangan tersendiri. Selain bisa tetap bersama teman-teman, mereka juga akan terhindar dari kejemuan kuliah dalam ruang dan berpotensi mendapatkan hal-hal baru di luar. Maka begitu perjalanan field trip ke ibukota Yerevan tiba, mereka begitu antusias mengikutinya. Mereka berangkat menggunakan bus pada 2 September 1958 siang menjelang sore. Ketika sampai di Desa Nerkin Sasnashen (Nerkin Sasunashen) di Provinsi Aragatsotn, Armenia, Kakosian dan kawan-kawan “disuguhi” pemandangan tak lazim di langit. Pesawat-pesawat tempur MiG-17 AU Uni Soviet terlihat mengelilingi sebuah pesawat angkut yang berbadan lebih besar. Pesawat angkut itu ternyata merupakan C-130A-II “Hercules” AU Amerika Serikat (AS) bernomor ekor 60528. Pesawat yang berpangkalan di Rhein-Main AB, Jerman Barat, itu sedang menjalani tugas di Pangkalan Udara Adana di Incirlik, Turki.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page