Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kedaulatan Ekonomi, Pesan Inti yang Terlupa dari KAA
KENDATI sudah 71 tahun berlalu, makna, pesan, hingga gaung Konferensi Asia-Afrika (KAA) belum usang untuk dibicarakan. Konflik yang terjadi di dunia selama tujuh dekade hingga kini adalah problem lama yang juga jadi perhatian di forum KAA di Bandung: neo-kolonialisme dan neo-imperialisme yang terus mencengkeram negara-negara dunia ketiga. Hal itu disampaikan sejarawan asal India Vijay Prashad dalam public lecture “The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis” di peringatan ke-71 KAA, Minggu (19/4/2026) siang di Gedung Merdeka, Bandung. Event tersebut disiarkan secara daring di akun Youtube Historia.ID. Hingga kini pun, menurut Vijay, kolonialisme dan imperialisme Barat terus berusaha membungkam mayoritas dunia. Kolonialisme tidak hanya mencuri kekayaan. Hal dramatis tentang kolonialisme dan imperialisme yang terjadi di abad ke-19 dan abad ke-20 adalah pembungkaman gagasan-gagasan dari masyarakat dunia ketiga dan negeri-negeri Selatan yang dianggap tidak penting. Negara-negara dunia ketiga dianggap tidak penting sebagai kontributor dari sejarah dunia. Dengan kata lain, mereka membuat sejarah dan negara-negara dunia ketiga hanya berpartisipasi di dalamnya.
- Memantik Global Selatan Melawan Kolonialitas
KOLONIALISME memang sudah jadi kata usang karena sudah terkikis sedikit demi sedikit pasca-Perang Dunia II. Namun, mental kolonial dan kolonialitas itu sendiri dari para mantan penjajah tak serta-merta hilang. Begitu kata sejarawan dan anggota DPR RI Bonnie Triyana mengutip sosiolog Peru Aníbal Quijano dalam esainya, “Coloniality of Power, Eurocentrism, and Latin America” di Jurnal Nepantla tahun 2000. “Pertanyaannya, apakah dunia hari ini sudah berubah sejak berakhirnya Perang Dunia II? Kolonialisme mungkin sudah berakhir namun kolonialitas, seperti yang didefinisikan sosiolog Aníbal Quijano, terus eksis sampai hari ini. Dominasi imperialis terus berjalan dalam bentuk-bentuk baru melalui eksploitasi sumber daya alam, produksi pengetahuan yang Eurosentris, dan dikotomi-dikotomi Barat-Timur dan sekarang Utara-Selatan,” kata Bonnie dalam pengantar public lecture sejarawan India Vijay Prashad bertajuk “The Global South Today: Crisis, Resistance and New Possibilities” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Senin (20/4/2026) petang dan juga disiarkan secara daring melalui Youtube Historia.ID. Meski perang besar itu sudah lama berakhir dan ada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai “penjaga perdamaian”, ironisnya perjuangan untuk perdamaian masih jauh kata usai. Krisis dan konflik terus mendera dan hukum internasional kini sedang diterpa masalah besar oleh ulah Amerika Serikat (AS) dan Israel.
- Ngalap Berkah Kala Ziarah
HARI Raya Idul Fitri atau lebaran tak hanya kental dengan tradisi silaturahim dengan tetangga, keluarga, kerabat, dan sahabat. Di beberapa daerah, di masa lebaran juga kental dengan tradisi ziarah ke makam keluarga, leluhur, maupun makam orang-orang besar yang dikeramatkan demi minta berkah. Menurut sejarawan Johan Wahyudhi dalam program Dialog Sejarah bertajuk “Kisah di Balik Budaya Ziarah Makam Keramat di Jakarta” di kanal Youtube Historia.ID, 28 Februari 2026, tradisi itu sudah eksis di Nusantara sejak era pra-Hindu. Ziarah kubur sudah dipraktikkan masyarakat pra-Islam sejak zaman purba hingga masa Hindu-Buddha “Tradisi mengunjungi [makam] orang suci kalau kita runut sudah ada sejak zaman purbakala, di mana misalnya kita melihat peninggalan-peninggalan seperti punden berundak. Kemudian kenapa makam-makam atau tempat-tempat yang dikeramatkan selalu berhubungan dengan posisi yang ada di atas secara geografis, di gunung atau di lereng bukit dan lain-lain, karena memang ada semacam aura positif ketika seseorang itu dekat ke tempat-tempat yang di atas yang dianggap suci. Maka itu menentramkan batin. Kemudian menyambungkan secara spiritual dengan para leluhur,” ujarnya.
- Ali Moertopo Moncer di Banteng Raider
UNTUK ukuran pemuda di zamannya, Ali Moertopo tergolong orang beruntung. Pada 1941, ia lulus MULO (Meer Uitgebrid Lager Onderwijs), SMP kolonial yang tidak semua pemuda Indonesia pernah bersekolah di dalamnya. Sepanjang hidupnya ia dianggap orang pintar. Sebelum Indonesia merdeka, pemuda kelahiran Blora, 23 September 1924 ini tak pernah mendapat pelatihan sebagai perwira militer seperti kebanyakan jenderal di zamannya. Setelah 1945, dalam revolusi Indonesia, ia menjadi tentara rendahan, seperti kebanyakan orang yang pendidikan lebih rendah darinya. Selain itu, ia pernah jadi anggota laskar Hizbullah di Pekalongan. Ali Moertopo bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dalam Resimen ke-17 di Pekalongan. Setelah 1947, daerah Pekalongan tak bisa dipertahankan lagi oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hebatnya Ali tidak mundur dari Pekalongan.
- Dari Banteng Raiders ke Baret Merah
SETELAH lebih dari satu dekade, pasukan Banteng Raiders di Jawa Tengah makin berpengalaman dalam banyak pertempuran. Baik melawan DI/TII di Jawa Tengah, PRRI di Sumatra Barat, maupun terlibat dalam perebutan Irian Barat. Jumlah personelnya semakin besar. Ketika Ahmad Yani, perintis Banteng Raiders menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Banteng Raiders sudah sebesar tiga batalyon. Batalyon Infanteri 436 menjadi Banteng Raiders I di Magelang, Batalyon Infanteri 454 sebagai Banteng Raiders II di Srondol, dan Batalyon Infanteri 441 sebagai Banteng Raiders III di Jatingaleh. Banyak anggota Banteng Raiders I kemudian masuk ke dalam Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno pada 1962. Termasuk Sersan Bungkus dan Kopral Ishak Bahar. Meski demikian batalyon Banteng Raiders I dan III tetap ada.
- Mengacau Banten, Kamid Tewas di Jakarta
SUATU hari di awal tahun 1955, rumah Jaksa Agung Raden Soeprapto di Jakarta kedatangan seseorang dari Banten. Orang itu bukan orang sembarangan di Banten. Dia seorang bendeleider alias pemimpin gerombolan yang mengacau di daerah Banten. Kamid namanya. “Kamid menyatakan bahwa ia bersama kelompoknya akan menyerah dan seterusnya setia kepada pemerintah RI. Sebagai bukti niat itu, ia menyerahkan sepucuk senjata api miliknya,” catat Iip D. Yahya dalam Mengadili Menteri Memeriksa Perwira: Jaksa Agung Soeprapto dan Penegakan Hukum di Indonesia Periode 1950-1959. Sebuah janji lanjutan diutarakan Kamid si pengacau keamanan yang terkenal kejam meski punya niat untuk menyerah kepada pemerintah itu. Penyerahan massal akan diadakan di Serang, katanya.
- Pawang Hujan dalam Pernikahan Anak Presiden Soeharto
AWALNYA Presiden Soeharto ingin pernikahan anak pertamanya, Siti Hardijanti dan Indra Rukmana, putra pengusaha Edi Kowara Adiwinata, diadakan sederhana di rumahnya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Namun, Ibu Tien tidak setuju karena menganggap kurang pantas seorang presiden menikahkan anaknya seperti itu. “Bagaimana rakyat kita nanti? Bagaimana kita bisa memberi tuntunan dalam membina budaya dan adat-istiadat kita kepada mereka di dalam upacara-upacara yang dianggap penting. Mantu itu ‘kan penting dan diharapkan hanya sekali,” kata Ibu Tien. Akhirnya, diputuskan upacara pernikahan diselenggarakan di Istana Bogor pada 29 Januari 1972. Ibu Tien seorang muslimah yang memegang teguh budaya Jawa. Sehingga, untuk kelancaran acara pernikahan, dia meminta kepada Sukamdani Sahid Gitosardjono untuk membuat sesajen. Sukamdani (1928–2017) adalah pengusaha hotel pendiri Grup Sahid dan ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) selama dua periode.
- Kala Prabowo Mempersunting Putri Soeharto
SUATU hari, Prabowo Subianto membuat ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, terkejut. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, dia minta izin hendak memperkenalkan pacarnya. Bowo, sapaan akrab Prabowo, akhirnya mendapat lampu hijau. Sumitro terkesan dengan kepribadian pacar anak ketiganya itu saat mereka bertemu kemudian. Pak Cum, sapaan akrab Sumitro, juga merasa mengenal perempuan itu. “Siapa wanita ini? She looks familiar,” ujar Sumitro membatin, tulis Hendra Esmara dan Heru Cahyono dalam biografi Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang. Alih-alih menjelaskan lengkap, Bowo cuma memberitahu bahwa pacarnya itu termasuk salah satu murid Sumitro. Belakangan, Sumitro mengetahui bahwa pacar anaknya adalah Siti Hediyati, putri keempat Presiden Soeharto. Selain senang, Sumitro juga agak khawatir dengan keseriusan anaknya menjalin hubungan dengan Titiek, sapaan akrab Siti Hediyati.
- Dari Matros ke Banteng Marhaen
TAK lama bekerja di perusahaan keretaapi di Comal, pemuda asal Batang, Jawa Tengah ini kemudian mendaftar ke masuk Koninklijk Marine (KM) alias Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Mula-mula dia dididik di Kweekschool voor Indische Schepelingen van de Koninklijke Marine (KIS) Makassar. Setelahnya, dengan pangkat Kelasi Kelas Tiga dia ditempatkan di kapal-kapal perang Belanda. Lawi Soemodihardjo, begitu namanya. Dia lahir tahun nol, maksudnya 1900 di Batang. Ayahnya seorang mandor. Posisi ayahnya memungkinkannya mengenyam pendidikan formal di mana dia setidaknya berhasil lulus sekolah dasar berbahasa Belanda hingga bisa diterima di KIS. Selama berdinas di KM, Lawi pernah tinggal di Jagalan nomor 41, Surabaya. Pelaut ini sadar ada yang berbeda antara orang yang berkulit warna sepertinya dengan yang berkulit lebih putih darinya. “Akibat perbedaan nasib yang sangat menyolok antara 2 (dua) jenis asal keturunan Eropeaan dan Inlander, di kalangan anak Marine di Koninklijk Marine (KM) di Hindia Belanda gagasan untuk perbaikan nasib bagi anak marine di kalangan Pribumi (Inlander) diwujudkan dengan dibentuknya persatuan anak marine pribumi dengan nama Inlandsch Marine Bond,” sebut Lawi Soemodihardjo dalam riwayat yang dibuatnya pada 20 Mei 1973 –kemudian terhimpun dalam koleksi arsip Anton Lucas.
- Kerjasama Gagal Semaoen dan Hatta di Belanda
PEMBERONTAKAN Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jawa dan Sumatra pada November 1926 dan Januari 1927 dapat dengan cepat ditumpas oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemberontakan gagal disebabkan buruknya organisasi, terpecahnya pimpinan, hingga represi yang sebelumnya dilakukan pemerintah kolonial Belanda terhadap organisasi berhaluan kiri. Pemberontakan itu telah disiapkan jauh-jauh hari oleh sejumlah pimpinan PKI. Sebuah pertemuan yang kemudian dikenal dengan Kongres Prambanan dihadiri kader-kader pucuk PKI pimpinan Sardjono pada 25 Desember 1925. Hasilnya, peserta kongres menyepakati keputusan melawan pemerintah kolonial Belanda.Pemberontakan diharapkan terwujud selambatnya enam bulan setelah kongres. Meski begitu, tak semua orang setuju dengan pemberontakan itu. Salah satunya adalah adalah Tan Malaka yang menilai situasi revolusioner di Hindia Belanda belum benar-benar memenuhi syarat untuk sebuah revolusi. Apa yang dikatakan Tan Malaka terbukti. Pemberontakan gagal dan dalam sepekan, polisi kolonial menangkap ribuan orang yang diduga terlibat pemberontakan. Hukuman berat diberikan kepada mereka; beberapa pemimpin pemberontakan dihukum gantung, sementara ratusan orang lainnya dibuang ke Boven Digul, Papua.
- Lampung Tanam Lada Gegara Banten Jualan
BUDIDAYA lada (Piper nigrum) di Lampung saat ini cenderung berkurang. Menurut penelusuran Abd Rachman Hamid, pengajar sejarah Universtas Islam Negeri Radin Intan, dan kolega penelitinya di Lampung, saat ini perkebunan lada Lampung masih ada di daerah Sukadana, Lampung Timur. Lampung Timur dan Selatan yang tanahnya relatif rendah, kemungkinan daerah penanaman lada. Terlebih, keduanya lebih dekat dengan Banten. Banten adalah kerajaan penting di ujung barat pulau Jawa di masa lalu sekitar abad ke-16 hingga ke-17. Pengaruhnya tak hanya di sekitar bagian barat Jawa, tapi juga sampai ke Sumatra. Letak Banten cukup strategis karena berada di persimpangan jalur pelayaran laut Jawa, Laut Cina, dan Samudra Hindia.
- Jejak Ali Moertopo dalam Kerusuhan Lapangan Banteng
LAPANGAN Banteng penuh sesak oleh massa simpatisan Golkar hari itu, 18 Maret 1982. Mereka tumpah-ruah dalam merayakan kampanye Golkar menjelang Pemilu 1982. Suasana makin riuh kala penyanyi dangdut Elvi Sukaesih ikut meramaikan kampanye. Setelah asyik digoyang dangdut, juru kampanye utama Golkar yang juga Menteri Penerangan Ali Moertopo siap-siap naik ke pentas hendak berorasi. “Setelah Ali Moertopo tampil di panggung di tengah teriakan yel-yel kampanye, para penjaga panggung serentak mengeluarkan gergaji dan botol bensin dari balik jaket mereka. Gergaji dan bensin itu dipakai untuk merobohkan dan membakar panggung. Keadaan seketika menjadi sangat kacau. Prosesnya berjalan amat cepat,” kenang Sarwono Kusumaatmadjia, sekretaris jenderal (sekjen) Golkar periode 1983—1988, dalam Memoar Sarwono Kusumaatmadja: Menapak Koridor Tengah. Di tengah para hadirin yang kaget dan kebingan, sambung Sarwono, orang-orang berbaju AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), organ pemuda Golkar, membuang jaket dan baret AMPI. Di badan mereka ternyata sudah melekat kaus oblong bergambar lambang Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam suasana yang kacau itu, para perusuh ini memekikkan seruan takbir.





















