Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Curhat Soe Hok Gie Kepada Arief Budiman
TAK banyak orang tahu, sejak remaja Soe Hok Gie sempat tak pernah akur dengan Soe Hok Djin, sang kakak yang kemudian merubah namanya menjadi Arief Budiman. Menurut Arief, situasi itu terjadi cukup lama: hampir 10 tahun. Gegaranya hanya soal-soal sepele saja. “Terkait soal-soal remaja-lah, misalnya saya kesal Hok Gie kadang malas mengurus piaran-piarannya yang sebenarnya itu adalah kewajibannya,” ungkap Arief kepada Rudy Badil (sahabat Soe Hok Gie) pada suatu hari. Namun seiring waktu, permusuhan itu mulai mencair ketika mereka berdua sama-sama kuliah di UI. Bahkan tiga tahun menjelang kematian Soe Hok Gie pada 16 Desember 1969 di Puncak Mahameru, bisa dikatakan hubungan Soe Hok Gie dan Arief terbilang sangat akrab.
- Hamid Arief, Aktor Film Lintas Genre
REZA Rahadian mungkin saja satu dari segelintir aktor yang mampu berperan dalam berbagai genre film. Sementara dunia film Indonesia lawas punya nama besar Abdul Hamid Arief, yang bermain baik dalam film-film bergenre drama, aksi, maupun komedi. Hamid Arief dilahirkan di Jakarta, 25 November 1924. Menurut Wim Umboh dalam majalah Aneka edisi 1 November 1952, studi Hamid harus berhenti di tengah jalan saat masih duduk di bangku MULO―Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah lanjutan setingkat SMP. Sebab, waktu itu Jepang keburu mengambil alih kekuasaan atas Indonesia pada 1942. Di masa Jepang, Hamid terjun di bidang kesenian. Menurut majalah Siasat edisi 26 Juni 1949, Hamid ikut dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya, sebuah perkumpulan sandiwara besar yang dibentuk pengusaha bioskop era kolonial, Fred Young.
- Antara Sukarni dan Sukarno
SUKARNI Kartodiwirjo bersama Adam Malik, Chaerul Saleh, dan Wikana menculik Sukarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Peran istrinya, Nursjiar Machmoed, tak bisa diabaikan begitu saja. “Di rumah ada dua anak. Bapak berani bilang saya begini, saya begitu itu karena di rumah ada mama. Kalau mama nggak ada, dengan anak dua, apa berani Bapak? Nggak berani,” kata Emalia Iragiliati Sukarni, putri Sukarni, dalam peluncuran bukunya, Sukarni dan Actie Rengasdengklok, di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta (20/4/2013). Namun, Emalia mengatakan dia tak pernah mendengar cerita soal pekerjaan ataupun kiprah ayahnya. Dia pernah bertanya, semisal, kenapa ayahnya dipenjara Sukarno tapi dia tak mendapat jawaban memuaskan. Ayahnya selalu menjawab singkat dan menutup kesempatan untuk bertanya lagi. Di sisi lain, orangtuanya menjadikan rumah steril dari urusan politik.
- Bertemu Gadis Kala Menyamar, Sukarni Lari
DI TENGAH kesibukannya mempersiapkan Kongres Indonesia Muda (IM) VI di Surabaya, Desember 1936, Roeslan Abdulgani dikagetkan oleh kunjungan seorang pemuda. Roeslan, pejabat Ketua Pengurus Besar IM yang dipilih untuk menggantikan Ketua Sukarni yang menghilang setelah digerebek oleh PID pada 19 Juni 1936, tak menyangka pemuda yang mendatanginya itu adalah Sukarni yang selama ini dicari-cari. “Dia datang naik perahu dan berpakaian hitam-hitam ala orang Madura. Perahunya berhenti malam-malam di pinggir Sungai Kalimas, sekitar daerah Kampung Plampitan, dekat rumah saya,” kata Roeslan dalam testimoni “Pejuang Kemerdekaan yang Merakyat” yang termuat di buku Sukarni Dalam Kenangan Teman-Temannya suntingan Sumono Mustoffa. Oleh Roeslan dan kawan-kawannya, Sukarni pun langsung disembunyikan. Sukarni, yang sudah kehilangan jabatan di IM, dalam kunjungan rahasia itu hanya ingin memesankan kepada rekan-rekannya agar IM tetap berjiwa radikal-revolusioner meski situasi yang dibuat pemerintah kolonial sudah amat membahayakan gerakan nasionalisme.
- Ketika Sukarni Berkerudung
PADA 1952, Sukarni selaku ketua Partai Murba mengajak Husein Yusuf, jurnalis Suara FONI yang pernah menjabat sebgai Ketua Umum Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Kalimantan Timur, ke Balikpapan untuk napak tilas. Sukarni akan menemui teman-teman lamanya ketika bekerja di Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Lebih-kurang tiga tahun Sukarni tinggal di Kalimantan, tempat dia berkenalan dengan Yusuf. Selama di Kalimantan, ia pindah-pindah tempat untuk menghindari endusan dan penangkapan aparat PID. Aktivitas politiknya di Indonesia Muda (IM) dan Parindra yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dianggap pemerintah kolonial amat meresahkan. Akibat aktivitas politiknya itu, kata Sukarni kepada Yusuf, dia dijadikan target penangkapan. “Dari informasi yang didapatnya Belanda telah siap untuk menangkapnya, dan akan mengasingkannya ke Boven Digul di Nieuw Guinea (sekarang Irian Jaya),” kata Yusuf dalam testimoninya, “Maidi di Kalimantan”, yang terhimpun di buku Sukarni dalam Kenangan Teman-Temannya.
- Sukarni dan Proklamasi
SUKARNI terlibat dalam pergerakan kemerdekaan sejak masa kolonial Belanda. Dia kemudian berperan dalam peristiwa penting sejarah Proklamasi kemerdekaan. Pemimpin Asrama Angkatan Baru di Menteng 31 Jakarta ini tak hanya menculik Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Dia juga menjadi wakil pemuda dalam perumusan naskah Proklamasi. Sukarno dan Hatta kembali ke Jakarta setelah dijemput oleh Ahmad Subardjo. Anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) kemudian diminta berkumpul di rumah Laksamana Tadashi Maeda karena Hotel Des Indes tidak bisa menyediakan tempat. Sementara itu, menurut Adam Malik dalam Riwayat Proklamasi Agustus 1945, Sukarni bersama Subardjo, Iwa Kusumasumantri, dan Jusuf Kunto, pergi ke Jalan Bogor Lama. Di sana sudah menunggu para pemuda, antara lain Chairul Saleh, Adam Malik, Wikana, Pandu Karta Wiguna, Maruto Nitimihardjo, Kusnaeni, dan Sjahrir juga dipanggil.
- Babak demi Babak Kehidupan Julisa Rastafari
PELUIT hijau bertali hitam itu senantiasa dikalungi. Selama sesi dua jam latihan di arena outdoor Gelora Bung Karno sore itu, Julisa Moertoetyana Rastafari memilih tarik suara untuk memberikan setiap arahan pada anak-anak asuhnya, tim basket putri Indonesia Muda (IM). Tidak hanya lihai memainkan telunjuk untuk memberi instruksi, ia acapkali memberi contoh dengan berlarian mendribel bola melewati hadangan anak-anak didiknya hingga bola masuk ke dalam ring dengan sempurna. Padahal, usianya sudah tak lagi muda. Pada 30 Juli lalu ia menginjak usia 57 tahun. Lebih dari separuh usianya dihabiskan di arena basket, baik sebagai pemain, pelatih, maupun pengurus Perbasi. “Ya melatih sampai saya enggak kuat aja. Lagipula Indonesia Muda sudah seperti rumah bagi saya,” tutur Julisa kepada Historia.ID menjawab pertanyaan sampai kapan akan berkiprah di dunia basket.
- Catatan Digoelis Perempuan dari Tanah Pembuangan
DI ATAS kapal yang berisi ratusan orang-orang yang sengaja disingkirkan ini aku memulai kisahku sebagai orang buangan. Kami, ratusan orang yang terombang-ambing di tengah laut menuju wilayah timur Nusantara, akan dibawa ke tempat tinggal baru, yaitu Boven Digoel. Tempat buangan bagi orang-orang yang dianggap pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai pengganggu ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat. Kami dibuang karena dianggap ikut ambil bagian dalam pecahnya pemberontakan 1926/1927 yang terjadi di wilayah Jawa dan Sumatra. Tidak, kami tidak melakukan tindakan keji seperti apa yang dilakukan para penjajah itu di negeri kami. Kami hanya menuntut hak yang sudah sepatutnya didapatkan oleh seorang tuan rumah yang wilayahnya dieksploitasi secara besar-besaran oleh pihak lain, yang menganggap wilayah itu sebagai milik mereka tanpa memikirkan nasib para penduduk lokal yang terdampak besar atas perlakuan sewenang-wenang yang mereka lakukan. Namun, bagi pemerintah kolonial, perlawanan kami yang meminta kembali hak-hak untuk mengelola wilayah kami sendiri justru dianggap sebagai sebuah kejahatan berat. Oleh sebab itu, hukuman yang diberikan harus lebih kejam dari dinginnya jeruji penjara. Dibuang dan diasingkan dari lingkungan tempat tinggal kami menjadi pilihan. Mereka ingin kami jera dan tidak lagi membangkang.
- Sukarno dan Jah Rastafari
KEDEKATAN Presiden Sukarno dengan para pemimpin dunia tak diragukan lagi. Bukan hanya dengan para pemimpin negara-negara Asia, Bung Besar juga menjalin persahabatan dengan para pemimpin benua hitam. Dari Presiden Aljazair Ben Bella hingga bapak bangsa Ghana, Kwame Nkrumah. Tak ketinggalan, salah satu pemimpin Afrika kharismatik, Haile Selassie. Haile Selassie merupakan kaisar Ethiopia periode 1930 hingga 1974. Tak hanya sebagai pemimpin Ethiopia, Haile Selassie bahkan dianggap sebagai “Yesus”-nya gerakan Rastafari atau biasa disebut “Jah”. Istilah Rastafari sendiri diambil dari nama Haile sebelum berkuasa, yakni Ras Tafari Makonnen. “Ras” merupakan gelar pangeran. Gerakan Rastafari memiliki banyak pengikut sejak pertama kali berkembang pada 1930-an. Gerakan yang lekat dengan musisi Bob Marley ini bahkan berkembang pesat di Jamaika dan wilayah Karibia lainnya. Nama besar Haile ini tentu tak luput dari perhatian Sukarno.
- Sebelum Sersan Pongoh ke Petamburan
SEBAGAIMANA wilayah-wilayah lain di ibukota, wilayah Petamburan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta juga dilanda panas terik hampir saban hari sejak beberapa bulan ke belakang. Banyak orang terlihat berteduh sembari minum atau makan di taman yang terletak di pojok yang mempertemukan Jalan KS Tubun dan Jalan S. Parman. Ibarat oasis, taman itu menjadi tempat berteduh yang ada di Petamburan. Satu ruang terbuka teduh lain di Petamburan adalah TPU Petamburan. Namun, dengan pos penjagaan yang mirip benteng, tak setiap orang bisa masuk dan berteduh di sana. Di TPU itulah Sersan Pongoh dimakamkan. Pongoh merupakan serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang mendapat bintang jasa karena terlibat dalam operasi-operasi militer Belanda. Sersan Jesajas Pongoh lahir di Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara pada 7 Mei 1878. Menurut catatan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 6 Oktober 1934, dia telah menjadi serdadu KNIL sejak 10 Februari 1897. Pongoh memulai kariernya dari pangkat bawah. Antara 1898-1904, dia ikut serta dalam operasi militer di Aceh sebagai anggota Korps Marsose Jalan Kaki, sebuah pasukan khusus anti-gerilya KNIL.
- Memandang Laku Menggelandang
BERJARAK satu kilometer dari Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, terhampar sebuah taman kecil. Pepohonan menaunginya. Begitu rindang. Cukup untuk menghalau terik matahari. Suatu siang, dua lelaki duduk beralas matras di taman. Pakaian mereka lusuh, dari atas sampai bawah. Di dekat mereka ada buntelan sarung berisi pakaian. Laki-laki pertama masih muda, berusia 30 tahun. Dia pendiam dan tertutup. Dia menyebut dari Papua. Laki-laki kedua sudah renta, kelahiran Jakarta tahun 1944. “Kami bertemu untuk satu alasan: sama-sama menggelandang,” ujar Bambang Sucipto, lelaki renta itu. Lalu Bambang bercerita tanpa jeda. Dia menggelandang sejak 1994. “Kegagalan cinta. Rumah tangga saya hancur,” katanya. Dia masih punya anak dan saudara, tapi tak mau tinggal bersama mereka. “Biar saja saya jadi gembel. Biar bisa merasakan panas, hujan, kelaparan. Jadi orang kecil,” ujar Bambang, terkekeh.
- Perburuan Gelandangan
WETBOEK van Strafrecht (WvS) atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 1915 menempatkan gelandangan sebagai pelaku pidana. Karena itu, pemerintah kolonial menangkapi banyak gelandangan melalui serangkaian operasi. Sasaran awalnya para anggota Sarekat Kere, organisasi penaung kaum gembel dan gelandangan, pada 1919. Resesi ekonomi 1930-an di Hindia Belanda membuat jalanan kota-kota besar ramai oleh gelandangan. Ini menjadi masa paling sibuk bagi pemerintah kolonial dalam memburu gelandangan. Mereka menyisir gelandangan dari jalan, memasukannya ke kamp-kamp kerja, dan menyingkirkannya dari masyarakat. Dalam pandangan pemerintah kolonial, gelandangan adalah inang virus kemalasan dan kerusakan moral bagi lingkungan sekitar. “Pusat-pusat kerja dan kamp-kamp kerja terutama ditujukan untuk menjaga pengangguran Eropa dari kemalasan, untuk mengurangi jumlah tunawisma dan orang-orang Eropa miskin di jalan-jalan serta untuk mencegah pengangguran membawa kerusakan moral bagi pemuda Eropa,” catat John Ingleson dalam Perkotaan, Masalah Sosial, dan Perburuhan di Jawa Masa Kolonial.





















