top of page

Hasil pencarian

9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Adam Malik Hilangkan Sketsa-sketsa Karya Sudjojono

    Pada masa revolusi kemerdekaa, pelukis S. Sudjojono turut bergerilya di tengah pertempuran-petempuran melawan Belanda. Meski tak bisa menembak, ia memiliki senjata untuk berjaga-jaga. Namun, perannya yang lebih penting pada masa ini adalah menggambar sketsa-sketsa yang menjadi sumber sejarah dalam bentuk visual. Dosen FSRD ITB, Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya” di saluran Facebook  dan Youtube   Historia.id , Selasa, 21 Juli 2020, menyebut bahwa banyak sketsa yang dibuat Sudjojono merekam berbagai peristiwa di sekitar revolusi. Aminudin mencontohkan, kala itu Sudjojono sering mengisi ilustrasi dalam majalah Suluh Tentara. Tema-tema revolusi seperti situasi gerilya dan keadaan para prajurit banyak ia abadikan dalam sketsa. Sketsa-sketsa itu kemudian ia buat versi lukisannya setelah revolusi fisik usai.   Sayangnya, sketsa-sketsa penting periode 1946-1949 itu kini telah tiada. “Nah ini kita kehilangan, karena menurut pengakuan Sudjojono sendiri di tahun 1980-an, dalam satu wawancara dia mengatakan bahwa sebenarnya sketsa-sketsa itu pernah dibeli oleh Adam Malik,” ungkap Aminudin, kandidat doktor Universitas Leiden, Belanda. Sementara itu, Tedjabayu Sudjojono, anak pertama Sudjojono, mengaku sebagai pemilik sketsa-sketsa itu. Sketsa itu diberikan Sudjojono kepadanya. Namun suatu ketika dipinjam lagi untuk keperluan Adam Malik. “Betul sekali dan saya sakit hati karena seluruhnya sketsa-sketsa itu milik saya, Bung. Diberikan kepada saya, lalu dipinjam oleh Sudjojono. Lalu ketika saya tanyakan lagi tahun ‘65 beliau tidak mengaku. Bung Adam Malik saya tanya juga tidak mengaku,” kata Tedjabayu. Tedjabayu menerangkan bahwa sketsa-sketsa tersebut merupakan rekaman peristiwa pada periode ketika keluarga Sudjojono mengungsi di Desa Senden, Yogyakarta. Sketsa-sketsa itu kebanyakan menggambarkan taruna-taruna serta kadet-kadet Militer Akademi (MA) Yogyakarta. Menurut Aminudin, sketsa itu hilang karena kesibukan Adam Malik sebagai seorang diplomat. Adam Malik banyak melakukan perjalanan ke luar negeri yang menyebabkan barang-barangnya sering berpindah-pindah tempat. Hal inilah yang memungkinkan salah satu koper yang berisi sketsa-sketsa itu terselip dan hilang. “Jadi dia bolak-balik dan itu ada terselip dalam satu koper. Menurut pengakuan Pak Djon, Pak Djon juga nanyain  ke Adam Malik sketsa-sketsa beliau di mana saat itu. Kata Adam Malik, wah  sudah keselip di koper,” kata Aminudin. Hilangnya karya-karya Sudjojono juga tak hanya kali itu terjadi. Aminudin menyebut bahwa pada masa revolusi, sekitar 40 lukisan Sudjojono hilang. Kehilangan besar itu terjadi ketika Sudjojono tengah menyiapkan pameran tunggal. Namun, sebelum pameran terlaksana, Belanda melancarkan agresi militer kedua. Pameran dibatalkan, Sudjojono dan keluarga lalu mengungsi. Sementara itu, lukisan-lukisannya sempat disembunyikan di bawah tanah namun ketahuan oleh Belanda. “Lukisan itu disimpan, kemudian ditemukan dan dihancurkan oleh tentara-tentara Belanda, ditembak-tembak,” kata Aminudin. Selain lukisan, patung-patung pahatan Sudjojono juga tak luput dari amukan serdadu Belanda. Patung-patung itu dibuat ketika berada di Bogem, Yogyakarta, di mana ia banyak memahat batu-batu dari pinggir sungai sebagai bentuk eksplorasi media baru kala itu. Hilangnya karya-karya Sudjojono tentu sangat disayangkan. Selain merupakan bagian dari sumber sejarah dalam bentuk visual, karya-karya itu juga merupakan bagian penting yang bisa melengkapi timeline jejak Sudjojono sebagai seorang seniman.

  • Menanti Reuni Tyson vs Holyfield

    ANDAI samsak hijau yang bergantung pada seutas rantai atau punching ball oranye bisa bicara, mungkin ia akan teriak minta ampun setelah bertubi-tubi jadi sasaran pukulan petinju legendaris Mike Tyson. Walau usianya tak lagi muda, 54 tahun, berjuluk “si Leher Beton” itu sejak April 2020 sedang intens latihan di sasana Kings MMA, Huntington Beach, California, Amerika Serikat. Pukulan-pukulan kombinasi Tyson juga terus menerjang sepasang mitt tinju yang dikenakan pelatihnya kala sesi sparring . Derasnya peluh yang mengucur dari kepala dan tubuhnya kian memacu keganasannya “menembak” sasaran-sasaran itu dengan pukulannya, sebagaimana yang terlihat lewat video yang ia unggah di media sosial Instagramnya, @miketyson , Selasa (21/7/2020). Tyson sedang merencanakan serangkaian pertarungan. Tentu bukan pertarungan kompetitif, melainkan eksebisi untuk tujuan amal yang akan disalurkan lewat yayasan amalnya, TYSON Cares Foundation. Beberapa nama petinju dimunculkan untuk jadi lawannya di atas ring. Mulai dari Tyson Fury, Riddick Bowe, hingga Evander Holyfield yang telinganya digigit Tyson dalam pertarungan 23 tahun lampau yang populer sebagai “Bite Fight”. Evander Holyfield & Michael Gerard 'Mike' Tyson bersahabat di masa tua (Foto: Instagram @miketyson) Baca juga: Ada Trump di Sudut Ring Mike Tyson Jika keduanya bersua di atas ring kembali untuk kali ketiga, akan jadi momen bersejarah. Toh sejak Mei 2020, Holyfield yang kini berusia 57 tahun juga membuka diri menyoal pertarungan eksebisi Tyson vs Holyfield jilid III. “Mike dan saya sudah membicarakan tentang (eksebisi) ini dan sejak itu perwakilan saya dan dia juga sudah saling diskusi. Kami memang belum mencapai kata sepakat tapi yang pasti sudah ada pembicaraan ke arah sana,” kata Holyfield, disitat Essentially Sports , 19 Mei 2020.  “Banyak orang-orang besar dari negara-negara berbeda ingin kami menggelar pertarungan. Saya pribadi, ya, jika ada cara untuk kami bertarung lagi, saya bersedia. Saya yakin akan jadi ajang besar. Lagipula takkan ada yang mendapat keputusan menang atau kalah atau tersungkur KO. (Hanya) eksebisi,” tambahnya. Di Balik Tyson vs Holyfield MGM Grand Garden Arena di Paradise, Nevada, Amerika Serikat pada malam 9 November 1996 jadi saksi pertarungan pertama Tyson dan Holyfield. Keduanya tengah dalam puncak karier kedua. Baik Tyson maupun Holyfield sebelumnya sama-sama mati-matian bangkit dari penurunan performa di tinju kelas berat dunia. Namun, itu bukan pertemuan pertama mereka. Menurut James J. Thomas II, pengacara yang turut jadi manajer Holyfield di karier profesionalnya, dalam biografi The Holyfield Way: What I Learned about Courage, Perseverance, and the Bizarre World of Boxing , keduanya bertemu untuk pertamakali saat meniti karier di tinju amatir. “Evander dan Tyson bertemu di ring pada awal 1984, sebagai dua dari beberapa petinju amatir teratas Amerika Serikat yang berkumpul di Colorado Springs, sebuah fasilitas pelatihan jelang Olimpiade 1984 di Los Angeles. Sosok Tyson di usia 18 tahun sangat berotot, powerful , cepat, dan bertalenta. Ia jadi perhatian di antara peserta seleksi dan tak heran tiada seorangpun yang mau berisiko cedera jika sparring dengan petinju ganas asal Brooklyn, New York itu,” tulis Thomas. “Kecuali Evander, petinju kelas berat-ringan berprospek dari Atlanta, Georgia yang pendiam, sopan, dan khas laiknya bocah dari Selatan. Ketika pelatih Pat Nappy kesulitan mencari lawan latih tanding dengan Tyson, Evander mengajukan diri. Pelatih sempat menolak karena mereka beda kelas dan Tyson berbobot 25 pound (11,3 kg) di atas Evander. Namun Evander bersikukuh dan Nappy akhirnya mengizinkan dengan syarat, pertarungannya half speed (tidak 100 persen serius),” imbuhnya. Baca juga: Jalan Berliku Judoka Krisna Bayu ke Olimpiade Tetapi ketika lonceng dibunyikan, Holyfield justru bertarung dengan 100 persen kemampuannya. Keduanya sampai terlibat pergulatan sengit yang memaksa pelatih Nappy menghentikan sparring . Singkat cerita, Tyson gagal lolos seleksi tim Amerika, sementara Holyfield terpilih dan di olimpiade ia merebut medali perunggu. Keduanya lalu memilih jalan berbeda ketika masuk tinju profesional. Tyson tetap di kelas berat, sementara Holyfield dari kelas berat-ringan masih “bertualang” lagi di kelas jelajah sebelum masuk kelas berat di tahun 1989. Keduanya baru bertemu lagi 12 tahun setelah sparring di “pelatnas” tinju Amerika itu. “Holyfield dan saya sudah kenal lama. Kami berteman baik di (pelatnas) yunior Olimpiade. Dia memang selalu mendukung saya saat bertarung dan sebaliknya. Di tinju amatir dia sering kalah di mana semestinya dia bisa menang. Saat kami masih muda, kami takkan menyangka akan berhadapan dan sama-sama mendulang banyak uang,” ujar Tyson dalam otobiografinya, Undisputed Truth . Holyfield dan Tyson berkawan sejak masa muda di "pelatnas" tinju Amerika, di mana Holyfield berkalung perunggu Olimpiade 1984 (Foto: Instagram @miketyson/@evanderholyfield) Tyson saat itu belum lama keluar dari penjara akibat kasus pemerkosaan pada 1992. Karena campur tangan Donald Trump, pebisnis yang kini jadi presiden Amerika, Tyson bebas bersyarat pada 1995 meski hakim memvonisnya enam tahun penjara. Sekembalinya ke atas ring, Tyson merebut sabuk gelar kelas berat WBC setelah menganvaskan Frank Bruno hanya dalam tiga ronde pada Maret 1996. Di tahun yang sama, Tyson sukses meraih gelar WBA pada September setelah menyungkurkan Bruce Seldon lewat kemenangan TKO. Adapun Holyfield yang sempat pensiun pada 1995, comeback untuk mendaki tangga WBA agar bisa jadi penantang gelar. Debutnya gemilang meski menang lewat keputusan RTD (Referee Technical Decision) atas Bobby Czyz pada Mei 1996. Baca juga: Presiden Jago Tinju, Gulat Hingga Jiu-Jitsu Bagi Holyfield, bisa menantang Tyson akan jadi “jalan pintas” untuknya menggapai masa keemasan keduanya. Tak lama setelah melawan Czyz, Holyfield meminta Thomas manajernya untuk mengikat kesepakatan pertarungan dengan Tyson meski saat itu Tyson sudah dijadwalkan bertarung melawan Seldon pada September. “Dia bilang sangat yakin bisa mengalahkan Tyson jika saya bisa membuat kesepakatan pertarungannya. Saya tanya, kenapa dia berpikir bahwa dia akan mengalahkan petinju berjuluk ‘ The Baddest Man on the Planet ’ ketika tiada satupun petinju kelas berat top bisa bertahan sekian ronde. Evander mengoreksi saya dan bilang bahwa dia tak berpikir, namun dia tahu akan mengalahkannya,” sambung Thomas. Holyfield (kanan) saat melawan Bobby Czyz (Foto: boxinghalloffame.com ) Holyfield lantas mengatakan, sejak ia berhadapan dengan Tyson di tinju amatir, ia merasa suatu saat akan kembali berhadapan di arena profesional dan di tahun itu adalah saat yang tepat. Tiada rasa gentar karena Holyfield selalu melihat celah atas keuntungan psikis terhadap Tyson. “Tiada alasan untuk takut pada Mike Tyson. Dia petinju hebat dan sangat powerful , namun dia hanya manusia seperti saya. Ibu saya mengajarkan hanya takut pada Tuhan. Lagipula saya yakin benar Mike takkan melukai saya separah kakak saya Eloise saat kami kecil. Mike memang punya power yang besar, tetapi begitupun saya,” tutur Holyfield, dikutip Thomas. Baca juga: Tinju Kiri Ali di Jakarta Pada April dan Mei 1996, Thomas menjajaki rencana itu dengan promotor kondang Don King. Rencana itu nyaris batal lantaran Don King dianggap Holyfield tak adil dalam pembagian pendapatan pertarungan. Di muka, Don King menawarkan Holyfield mendapat USD5 juta, sementara Tyson USD30 juta dari pertarungan itu. Negosiasi alot berjalan sampai Don King bersedia menaikkan tawaran USD10 juta untuk Holyfield, serupa dengan yang diterima Seldon ketika melawan Tyson pada September 1996. Tyson vs Holyfield I pada November 1996 (Foto: Youtube @ElTerribleProductions/Instagram @lesboxeursdudimanche) Sementara, Holyfield bersikeras setidaknya ia bisa mendapat USD15 juta. Tetapi akhirnya Holyfield sudi menerima USD10 juta dengan opsi rematch jika menang dan akan mendapatkan kenaikan hingga USD20 juta. Tyson pun tak butuh waktu lama untuk menyatakan kesediaannya meladeni Holyfield. Dia “pede” bisa mengalahkan kawan lamanya itu. “Holyfield sedang tak dalam performa baik dalam beberapa pertarungan sebelum pertarungan kami. Saya menonton dia saat melawan Czyz dan Czyz benar-benar menghajarnya sebelum dia kalah (dari Holyfield) di ronde kesepuluh. Jadi saya tak latihan serius jelang lawan Holyfield. Saya juga tak menetapkan strategi khusus, sekadar maju dan memukul saja. Lagipula saya diunggulkan 25:1,” kata Tyson mengenang. Sebaliknya, Holyfield menyiapkan diri dengan sangat serius. Dia merekrut eks-jawara WBA Mike Weaver sebagai asisten pribadi dan eks-jawara WBC David Tua sebagai lawan latih tanding yang punya style bertarung mirip Tyson. Tandukan Dibalas Gigitan Pertarungan Tyson vs Holyfield jilid I memperebutkan gelar kelas berat WBA akhirnya dimenangi Holyfield secara TKO di ronde kesebelas. Sesuai kontrak dengan Don King sebelumnya, rematch digelar karena Hollyfield menang. Tyson sangat menantikan tarung ulang itu lantaran ia merasa dicurangi oleh wasit yang mengabaikan serangkaian tandukan kepala Holyfield. Tim pelatih Tyson juga mencurigai Holyfield menggunakan steroid. “Croc (Steve ‘Crocodile’ Fitch, red. ) yakin bahwa Holyfield mengonsumsi steroid. Salah satu petinju mantan atlet olimpiade Lee Haney juga menggunakannya. Dia bilang Holyfield terlihat normal ketika timbang berat badan namun saat dia masuk ring, dia tampak seperti Goliath,” singkap Tyson. “Saya ingin melawan Holyfield lagi, saya sangat marah. Walau masih nyeri, saya sudah mulai latihan lagi malam setelah pertarungan. Saya marah mengingat kehilangan gelar, namun saya tak ingin menengok ke belakang,” lanjutnya. Baca juga: SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi Tyson vs Holyfield II pada Juni 1997 (Foto: Instagram @mistahprince/@boxinglegacy) Tyson belajar dari pengalaman sehingga menyiapkan diri dengan lebih serius. Ia beralih pelatih dari Jay Bright ke Richie Giachetti. Meski begitu, di pertarungan itu Tyson harus kembali merelakan gelar WBA gagal direbutnya. Ia dinyatakan kalah lewat keputusan diskualifikasi. Arena MGM Grand Garden kembali jadi medan pertarungan Tyson Holyfield II, 28 Juni 1997. Di ronde ketiga ketika pertarungan sengit, Tyson berulang-kali terkena tandukan Holyfield. Alhasil pipi dekat mata kanan Tyson sobek. Tiap kali insiden itu terjadi, Tyson protes namun wasit Mills Lane selalu menyatakan tandukan itu tidak disengaja. Tyson yang kesal lantas membalas dengan menggigit kuping kanan Holyfield ketika lawannya kembali “bermanuver” menunduk dan hendak menyundul Tyson lagi. “Saya akan melakukannya lagi jika terprovokasi dan sedang berada dalam situasi yang sama. (Wasit) Mills Lane tak melindungi saya dari tandukan-tandukan Holyfield,” ketus Tyson. Baca juga: Ronde Terakhir Roger Mayweather Telinga kanan Holyfield setelah digigit Tyson (Foto: Instagram @evanderholyfield) Holyfield yang mengerang kesakitan berlari ke sudut ringnya dan dikejar Tyson. Ketika wasit sukar memisahkan Tyson, petugas keamanan pun naik ring untuk melerai keributan dan pertarungan dihentikan. Holyfield dinyatakan menang lewat putusan diskualifikasi dan Tyson disanksi larangan bertarung serta denda USD3 juta oleh Nevada State Athletic Commission, walau setahun kemudian sanksi itu dicabut. “Tetapi itu sudah berlalu. Hari-hari berikutnya sangat hebat. Saya juara dunia yang mendapat penghasilan USD33 juta. Jeleknya memang kuping saya jadi berbentuk runcing walau tentu ada hikmah di balik itu,” ujar Holyfield. Namun seiring keduanya pensiun dari tinju profesional, tiada rasa dendam di benak masing-masing legenda tinju dunia itu. Terlebih pada 16 Oktober 2009 dalam program TV “The Oprah Winfrey Show”, Tyson meminta maaf secara langsung pada Holyfield dan Holyfield dengan tulus memaafkan Tyson. Baca juga: Melacak Jejak Pencak Silat

  • Sukarno vs Majalah Time

    Di masa kekuasannya, Presiden Sukarno acap kali diberitakan secara miring oleh media asing. Dari sekian banyak, majalah terbitan Amerika Time dan Life menjadi media asing yang masuk daftar hitamnya. Sukarno mencurahkan kejengkelannya kepada Presiden John F. Kennedy ketika berkunjung ke Amerika Serikat pada April 1961. “Majalah Tuan,  Time dan Life terutama sangat kurang ajar terhadap saya,” ujar Sukarno kepada Kennedy sebagaimana dituturkan dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Siapa nyana, Time sebagai salah satu majalah ternama Amerika pernah menulis berita utama tentang Sukarno yang sumbernya berasal dari kabar isapan jempol. Ganis Harsono, juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) menjadi saksi bagaimana kekeliruan itu bisa terjadi. Dalam memoarnya, Ganis mengakui kelalaiannya meneruskan gosip belaka berbuah petaka. Baca juga:  Ketika Sukarno dan Kennedy Berdebat Sebagai juru bicara Deplu, Ganis adalah figur yang cukup dekat dengan wartawan. Para juru warta dalam negeri maupun asing kerap kali mendatangi Ganis untuk meminta siaran pers. Tentu saja berita yang berkaitan dengan hubungan luar negeri Indonesia.   Sekali waktu pada 1958, Ganis menyambangi kediaman Menteri Luar Negeri Soebandrio untuk menyiapkan bahan-bahan siaran pers. Karena Soebandrio masih menerima beberapa orang di ruangan tamu, Ganis masuk melalui jalan lain menuju ruang makan. Di sana, Ganis bersua dengan Ma’ruf, wartawan suratkabar Keng Po. “Saya cukup mengenal Ma’ruf. Dia adalah salah seorang kader inti Partai Sosialis Indonesia, dan di kalangan wartawan dia lebih dikenal sebagai seorang politisi,” kenang Ganis dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno . Ma’ruf bertanya kepada Ganis, apakah ada siaran pers yang dapat diberitakan. Ganis menyarankan Ma’ruf agar meminta keterangan lengkap kepada Menteri Soebandrio saja. Tiba-tiba, Ma’ruf melontarkan berita aneh yang berasal dari Nyonya Suprapti. “Siapa Nyonya Suprapti itu?” tanya Ganis. “Nyonya Suprapti adalah seorang dukun yang meramalkan akan segera terjadi perang antara Amerika dengan Republik Rakyat Cina (RRC), dan katanya RRC akan menang,” terang Ma’ruf. Baca juga:  Sepuluh Teori Konspirasi Amerika yang Terbukti Benar Mendengar itu, Ganis cuek saja. Dia hanya percaya fakta bukan gosip murahan. Namun untuk menyenangkan Ma’ruf, Ganis berjanji akan membicarakan gosip itu di tempat minum kopi. Sekadar main-main, dalam benak Ganis. Pertemuan dengan Ma’ruf maupun urusan di kediaman Soebandrio pun selesai begitu saja. Ganis kembali ke kantor Departemen Luar Negeri di Jalan Pejambon. Pada siang harinya, Ganis kedatangan wartawan Time J. Bell bersama dengan pembantunya – penerjemah bahasa – S.T. Hsieh, seorang Cina nasionalis yang tinggal di Jakarta. Mereka hanya membicarakan hal-hal yang ringan. Ganis mengatakan pada Bell bahwa tidak ada keterangan pers hari itu. Saat bercengkrama, Ganis melihat Hsieh sedang membaca sebuah buku. Ternyata itu buku horoskop yang biasa dipakai untuk meramal. Mendengar itu, ingatan Ganis terbawa kepada celotehan Ma’ruf tadi pagi. Begitulah, Ganis menyampaikan cerita Ma’ruf kepada Hsieh tanpa ditambah maupun dikurangi. Beberapa bulan berselang, Agustus 1958, Time muncul dengan berita utama mengenai Presiden Sukarno. Dalam sampul depan majalah itu, wajah Bung Karno ditampilkan seperti drakula yang memandang dengan tatap penuh ancaman. Mengenai potret Sukarno dalam sampul, bukanlah masalah berarti. Yang jadi persoalan, Time dalam laporannya memuat ramalan Nyonya Suprapti bahwa RRC akan mengalahkan Amerika Serikat. Dengan demikian. Sukarno akan bersorak-sorai.   Baca juga:  Sukarno, Majalah Playboy, dan CIA Ganis segera menelepon Hsieh. Dia mengatakan betapa bahaya menyiarkan berita isapan jempol dalam negara yang sedang keadaan darurat perang. Hsieh berkilah dengan mengaku bahwa Bell-lah yang menulis berita setelah memaksa dirinya menerjemahkan pembicaraan dengan Ganis. Sepekan setelah kejadian itu, Hsieh ditangkap. Dari Hongkong, Bell mendatangi kantor Deplu untuk minta pembantunya, Hsieh dibebaskan. Ganis yang menghadapinya keburu berang dan mengusir Bell. Namun Bell berdalih, katanya, keterangan tambahan itu bukan darinya melainkan editornya di New York. Jadi, Bell menolak bertanggung jawab namun bersikukuh membebaskan Hsieh dari tahanan. Time kemudian mengirim orang lain sebagai pengganti Bell di Indonesia. Seorang berkebangsaan Kanada dengan postur tinggi tegap bernama Paul Hermuses. Untuk mengurus pembebasan Hsieh, Hermuses melobi ke Istana. Melalui ajudan presiden Letkol Sugandi,  Ganis mendapat informasi “sumber dari laporan utama Time itu tidak lain ialah juru bicara Departemen Luar Negeri Indonesia sendiri, dan karena itu pembantu Time S.T. Hsieh harus segera dibebaskan.” Baca juga:  Sukarno dan Majalah Playboy “Saya harus menyalahkan diri sendiri karena telah menjadi korban tipu muslihat Ma’ruf yang telah menyebarkan gosip di ibukota,” ujar Ganis. Pada akhirnya semua pihak dirugikan akibat berita itu. Hsieh, pembantu Time tersebut tetap mendekam di penjara. Majalah Time , Bell, dan Hermuses dilarang masuk ke Indonesia. Di sisi lain, Bung Karno menuai kesan negatif dalam pergaulan internasional gara-gara liputan sensasional Time . Sementara itu, Ganis Harsono dinyatakan persona non grata alias orang yang tidak disukai di Istana, walaupun tidak secara resmi. Sukarno sendiri, kata Ganis, tidak pernah memperlihatkan kemarahannya terang-terangan. Meski demikian, selama dua tahun antara 1958—1960, Ganis diperlakukan dengan dingin setiap kali hadir dalam upacara-upacara resmi di Istana. Menteri Soebandrio juga “menghukum” Ganis dengan membebas-tugaskannya dari pekerjaan humas kepresidenan dalam perjalan Sukarno ke luar negeri. Baca juga:  Bentakan Menlu RI Buat Diplomat AS Dalam disertasinya yang dibukukan Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin 1953-1963 , Baskara Tulus Wardaya menelusuri ihwal sikap antipati media Amerika pada Sukarno. Menurut sejarawan Universitas Sanata Dharma ini, banyak kalangan di Amerika merasa gusar saat mengetahui sepulangnya dari kunjungan ke Amerika pada Mei 1956, Sukarno melakukan kunjungannya ke Uni Soviet dan RRC. Bung Karno yakin bahwa banyak rakyat Amerika yang melihat kunjungannya ke kedua negara komunis tersebut sebagai “balasan yang tidak sopan” atas keramah-tamahan mereka. “Media massa Amerika mulai mencercanya, dan ‘mulai mengatakan bahwa orang yang ngakunya percaya pada Tuhan itu ternyata adalah seorang dedengkot Komunis,’” tulis Baskara.   Sejak itulah media massa Amerika doyan melancarkan serangannya kepada Sukarno dengan berita-berita bernada provokatif.

  • Sudjojono, Proklamator Seni Rupa Modern Indonesia

    Pelukis Sindudarsono Sudjojono hidup dalam empat zaman berbeda. Dari zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Orde Lama, hingga Orde Baru. Perannya dalam dunia seni rupa Indonesia juga cukup penting. Ia sudah menulis wacana-wacana seni rupa Indonesia sejak muda dan melahirkan gagasan seni rupa Indonesia modern. Peneliti seni Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya” di saluran Facebook  dan Youtube   Historia.id , Selasa, 21 Juli 2020, menyebut bahwa berkat perannya itu, Sudjojono diibaratkan sebagai proklamator seni rupa modern Indonesia. “Pak Djon ini harus kita tempatkan sebagai, kalau dalam konteks politik, beliau itu seperti seorang proklamator. Beliau itu Sukarnonya seni rupa Indonesia. Dia yang pertama memproklamasikan keberadaan seni lukis Indonesia. Itu dia lakukan di tahun 1939,” kata Aminudin. Menggantikan Mooi Indie Tulisan-tulisan Sudjojono sejak 1939 terhimpun dalam buku Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman yang terbit pada 1946. Buku ini kemudian menjadi rujukan para sejarawan untuk memahami konteks lahirnya seni rupa modern Indonesia. Lebih jauh, jika Raden Saleh didapuk sebagai pelopor, melalui manifestonya Sudjojono adalah proklamator. Dalam tulisannya yang terbit dalam Majalah Keboedajaan dan Masjarakat pada Oktober 1939, Sudjojono mengimbau pelukis-pelukis Indonesia untuk tidak melukis dengan gaya mooi indie . Mooi indie sendiri kala itu tengah populer dan memiliki corak yang khas yang menggambarkan pemandangan Hindia Belanda yang molek. Sebagai gantinya, laki-laki kelahiran Kisaran, Sumatera Utara pada 1913 ini menganjurkan para seniman fokus pada persoalan-persoalan kebangsaan. Tentang kesadaran bahwa saat itu rakyat berada dalam penjajahan. “Sudjojono saat itu mengatakan bahwa kita harus keluar dari gaya ini ( mooi indie ). Itu menjadi sangat terkenal sekali karena tulisan ini seperti manifesto atau seperti proklamasi,” kata Aminudin. Namun, menurut Aminudin, hal ini seringkali disalahpahami oleh para sejarawan. Banyak yang mengira Sudjojono memaksakan atau mengharuskan realisme. Padahal, Sudjojono justru menawarkan gagasan tentang bagaimana membangun corak seni lukis Indonesia baru. Bukan Melawan Barat Kesalahpahaman tenyata tak hanya sampai di situ. Aminudin menyebut bahwa seringkali mooi indie sendiri sering diidentikkan dengan seni rupa Barat. Hal ini kemudian memunculkan kesimpulan bahwa Sudjojono melawan seni rupa Barat. Menurut Aminudin, kesalahan awal para sejarawan ini disebabkan oleh pembacaan terhadap Sudjojono tanpa melihat konteks. Padahal, tiap tulisan Sudjojono yang berbeda-beda tahun terbitnya memiliki konteks masing-masing. “Ada dua artikel ditulis di zaman Jepang. Itu sudah beda. Kemudian ada beberapa artikel ditulis di zaman Belanda. Satu artikel ditulis tahun 1946. Sudjojono sudah berubah cara berpikirnya. Nah , tapi sejarawan atau siapapun seringkali menyamaratakan, seakan-akan buku ini satu (bagian) sekaligus,” kata Aminudin. Jika dibaca konteksnya, Sudjojono sendiri tidak pernah bermasalah dengan seni rupa Barat. Pasalnya, menurut Aminudin, seniman Indonesia saat itu tidak bisa memberikan alternatif artistik untuk melawan seni lukis Barat atau Eropa yang dominan di Hindia Belanda khususnya Batavia saat itu. “Melawan dengan apa? Melawan dengan gambar wayang? Nggak mungkin. Sudjojono nggak mau itu. Sudjojono itu nggak mau banget menggambar wayang. Dia justru megatakan bahwa keindonesiaan dalam seni lukis hanya bisa dihasilkan dengan cara kita mempelajari Barat,” kata Aminudin. Menangkap Modernitas Sudjojono menegaskan bahwa dengan mempelajari Barat, seniman Indonesia akan memahami apa itu Timur. Sementara itu, menganggap Timur itu otentik justru akan berbahaya. Kala itu, seringkali seniman-seniman Barat di Batavia mendatangi museum untuk melihat karya-karya seni Nusantara dan menjadikannya inspirasi. Hal ini yang juga ditentang Sudjojono jika dilakukan oleh seniman-seniman Indonesia. Menurutnya, meski karya-karya itu warisan kesenian Indonesia, perlu adanya kekinian sebagai representasi zaman. “Kekontemporeran kita itu hanya bisa didapat, kata dia, kemodernan kita itu kalau kita melihat realitas itu sendiri. Apa realitas itu, yaitu kata dia, para pemuda yang ada di jalanan, sepatu orang kaya, mobil. Itu scenery modern saat itu di Hindia Belanda. Itulah kemodernan yang mau dia tangkap,” kata Aminudin. Visi modernitas itu kemudian juga dibarengi dengan semangat belajar yang tak membedakan mana Barat dan Timur. Aminudin mencontohkan, dalam lukisan yang berjudul Cap Go Meh, Sudjojono terpengaruh oleh lukisan Carnival in Flanders dan Intrigue karya pelukis Belgia James Ensor. Kedua lukisan Ensor itu pernah dipamerkan oleh kolektor Maurice Raynal antara tahun 1935 hingga 1940-an di Kunstkring, Batavia. “Dia (Sudjojono) melihat pameran itu dan kemudian dia mencoba meramu. Saya kira itu yang dia bilang, kita jangan segan-segan belajar sama Barat untuk menemukan ini (identitas) kita,” kata Aminudin. Sudjojono juga percaya, tema-tema yang diangkat oleh pelukis Barat akan tetap berbeda jika dibuat oleh pelukis-pelukis Indonesia. Hal inilah yang terlihat dalam lukisan Cap Go Meh yang dilukis dengan cara dan warna khas Sudjojono sendiri. Sudjojono juga mengagumi pelukis Jerman, Marc Chagall. Lukisan Sudjojono berjudul Di Depan Kelambu Terbuka disebut Aminuddin terinspirasi secara artistik dari lukisan Bella in Green karya Chagall. Modernitas yang ditawarkan Sudjojono serta anjurannya untuk belajar dari Barat agar dapat menemukan identitas seni lukis Indonesia inilah yang kemudian hari melambungkan nama Sudjojono. Namun , perjalanannya sebagai pelukis masih panjang melalui zaman Jepang, Revolusi, Orde Lama , dan Orde Baru kelak.

  • Dari Kopi hingga Anggur

    Kopi Tersebar ke Seluruh Dunia Kopi tersebar ke seluruh dunia secara tak terduga. Selepas tunai berhaji, seorang jamaah haji asal Mysore, India, menyelundupkan tujuh biji kopi ke kampungnya pada abad ke-15. Dia hanya berniat ingin menikmatinya sendiri. O rang - orang kampung mendorongnya lebih jauh. Sejak itu, kopi mulai dikenal di beberapa kota pelabuhan dunia seperti Venezia, Lisabon, dan Amsterdam. Orang-orang pun segera gandrung minum kopi. Melihat permintaan yang tinggi, pedagang-pedagang Eropa mencari cara mendatangkan kopi. Mereka membawa pulang kopi dari wilayah Timur Tengah seperti Israel, Yordania, Libanon, dan Syiria. Belanda kemudian membawa biji kopi dari Yaman ke Ceylon (Srilanka). Di sana, mereka membudidayakannya. Tak puas dengan Ceylon, Belanda meluaskan ekspansinya ke Nusantara. Bersama itu, mereka juga menjadikan Nusantara, terutama Jawa, sebagai tanah budidaya kopi pada abad ke-17. Tak beberapa lama, Belanda berhasil menguasai penjualan kopi dunia. Tradisi Minum Teh Teh memiliki beragam kisah muasal. Salah satunya menyebut berasal dari Tiongkok. Disebutkan seorang Kaisar Tiongkok pada 2737 SM, Shen Nung, tengah duduk di bawah pohon sembari memasak air. Tiba-tiba helai daun teh jatuh dan masuk ke dalamnya. Aroma wangi menyeruak saat daun itu diseduh. Seduhan itu lalu diminum. Rasanya pahit dan sepat. Namun , kaisar menyukainya karena tubuhnya terasa segar. Sekarang daun itu dikena l dengan Camellia sinensis , sedangkan seduhannya disebut teh. Meski telah diminum khalayak sejak lama, pengolahan daun teh baru berkembang pada masa Dinasti Tang (618-906). Teh diolah dengan cara ditumbuk lalu dicetak dalam bentuk bata. Setelah mengering, teh bisa diseduh. Kala itu teh sudah menjadi minuman mewah. Tak sembarang orang bisa menikmatinya. Keluarga kaisar meminumnya sebagai simbol status. Saat upacara pengadilan kekaisaran dihelat, teh wajib dihidangkan. Bersama keluarga kaisar, sastrawan mendapat kehormatan ikut meminumnya. Kebiasaan ini diperkenalkan ke Jepang pada masa Dinasti Song (960-1279). Secara bertahap, teh akhirnya menyebar ke wilayah Eropa dan belahan dunia lainnya. Budidaya teh di Indonesia Awalnya teh hanyalah tanaman hias yang ditanam di beberapa lokasi, termasuk Istana Gubernur Jenderal di Batavia. Harga teh yang tinggi di pasar Eropa mendorong pemerintah Hindia Belanda melakukan percobaan membudidayakan teh. Pada 1826, teh berhasil dibudidayakan di Kebun Raya Bogor. Setahun kemudian penanaman dilakukan di Cisurupan, Garut, lalu dalam skala besar di Purwakarta dan Banyuwangi. Keberhasilan ini mendorong Jacob Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, untuk mendirikan perkebunan teh komersial di Jawa. Pada 1835, untuk kali pertama teh dari Jawa diekspor dan sebanyak 200 peti dilelang di Amsterdam. Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch menjadikan teh sebagai salah satu tanaman yang harus ditanam di masa Tanam Paksa. Teh adalah salah satu komoditas ekspor penting. Penemuan dan Pemanfaatan Tuak Minuman keras ini khas Nusantara. Penduduk lokal meracik tuak dengan menyadap pohon aren –sejenis palem. Pohon ini tersebar di beberapa wilayah Nusantara. Air sadapannya disebut nira. Cara menyadap ini bertahan turun-temurun. Catatan historis tertua mengenai minuman ini berasal dari berita Tiongkok masa Dinasti T’ang (618-906 M). Berita itu menyebut penduduk Ho-ling –sebuah kerajaan di Jawa Tengah– gemar meracik minuman keras dari nira kelapa. Sementara itu, Prasasti Taji (901 M), Kembang Arum (902 M), dan Rukam (907 M) mengisahkan pemanfaatan tuak yang dihidangkan saat penetapan suatu sima (tanah perdikan/bebas pajak). Penyulingan Anggur Tertua Sejumlah arkeolog mengungkap beberapa tempat yang diduga sebagai penyulingan anggur tertua. Tempatnya tersebar di pelbagai penjuru dunia. Pada 1963, arkeolog menemukan sebuah penyulingan anggur kuno di Tepi Barat, Palestina. Tempat itu diperkirakan dibangun pada 1650 SM. Temuan lain pada 1996 mengungkap sisa-sisa penyulingan anggur berusia 7400 tahun di desa Neolitik Hajji Firuz, bagian utara Iran. Sedangkan temuan paling mutakhir pada Juni 2010 mengungkap wilayah Areni, selatan Armenia, sebagai penyulingan anggur berusia lebih 5500 tahun.

  • Dari Nina Bobo hingga Salam Metal

    Lagu untuk Menidurkan Anak Ada banyak kisah mengenai lagu ini. Mulai terkait lagu kematian hingga pemujaan terhadap setan. Tapi semua kisah itu tak bersandar pada catatan sejarah yang terang. Lagu itu sebenarnya sejenis lullaby , sebuah lagu yang enak didengar, menyejukkan hati, dan biasa didendangkan kepada anak kecil agar tertidur. Tiap bangsa punya lagu seperti itu. Tak ada catatan sejarah yang terang menyebut kapan lagu itu mulai dikenal masyarakat Indonesia. Tapi Yapi Tambayong dalam 123 Ayat Tentang Seni menyebut judul lagu itu berasal dari gabungan bahasa Portugis dan Spanyol; Menina (gadis kecil) dan Bobo (bodoh dalam pengertian disayang). Mungkin mula lagu ini bisa terjejaki dari sejarah interaksi penduduk Nusantara dengan bangsa Portugis dan Spanyol pada abad ke-15. Sejarah Titilaras di Indonesia Sebelum berjumpa dengan kebudayaan Barat (diatonik, tujuh nada), titilaras yang dikenal di Indonesia adalah pentatonik (lima nada). Sebutannya berbeda di tiap daerah: selonding di Bali, pelog dan slendro di Jawa, maoling di Minahasa, dan sorog atau madenda di Sunda. Yapi Tambayong dalam 123 Ayat Tentang Seni menulis, di antara semua titilaras yang dipunyai kebudayaan Indonesia, hanya slendro yang diketahui sejarahnya.” Dalam catatan Tiongkok terungkap titilaras itu dikenal pada masa pemerintahan Buddha, Syailendra, di sekitar Candi Borobudur pada abad ke­-8. Orang Jawa mengenal titilaras itu melalui seorang guru agama Buddha dari Tiongkok, Hwi Ming. Titilaras itu sudah dikenal masyarakat Tiongkok sejak 2700 SM. Fenomena British invasion British invasion adalah fenomena dalam dunia musik Amerika Serikat pada dekade 1960-an. “Invasi Inggris” ini merujuk pada grup band legendaris Inggris asal Liverpool, The Beatles. Mengusung genre rock n roll , lagu bertajuk “I Want to hold Your Hand” sukses merajai tangga lagu Amerika saat dirilis pada 26 Desember 1963. Dalam kurun dua bulan, singel itu mencapai penjualan album tertinggi di Amerika. Ketika melakukan tur ke Amerika pada Februari 1964, penampilan The Beatles disaksikan 74 juta pemirsa ketika tampil di acara The Ed Sullivan Show.The Beatles, sejak itu, menguasai industri musik Amerika lewat lagu-lagu mereka. Korps Marching Band Bermula Bentuk awal korps marching band tercatat bermula di Kesultanan Ottoman pada abad ke-13. Dalam setiap pertempuran, sebuah korps khusus akan mengiringi pasukan Ottoman dengan memainkan musik-musik yang menggetarkan musuh sekaligus meningkatkan semangat juang prajurit kesultanan. Korps ini dinamakan mehter , yang juga merupakan bagian dari korps elite Janissary , pasukan budak milik sultan. Pada awalnya, musik-musik mehter hanya dimainkan di medan pertempuran. Namun kemudian berkembang menjadi musik orkestra dan dipertunjukkan dalam acara-acara seremonial di istana. Dengan perantaraan perang antara Ottoman dan kerajaan-kerajaan Eropa, pada abad ke-17 musik mehter pun merambah dunia Barat dan mempengaruhi karya-karya komposer kenamaan Eropa saat itu, seperti Mozart dan Beethoven. Salam Metal Jadi Populer Salam berupa isyarat tangan yang mengangkat jari telunjuk dan kelingking ke udara kali pertama dipopulerkan Ronnie James Dio, vokalis Black Sabbath, grup musik asal Inggris yang sering disebut sebagai perintis genre musik heavy metal . Dalam setiap konsernya, Dio melakukan salam ini sebagai sarana berkomunikasi dengan penonton. Salam ini kemudian melekat dengan musik-musik metal; juga rock dan pop. Menurut Dio, dia tahu “salam metal” ini sejak kecil dari neneknya yang seorang keturunan Italia. “Saya diberitahu bahwa hal ini disebut malocchio . Jika seseorang dilanda nasib buruk karena pengaruh setan, nenek saya akan menunjukkan malocchio untuk menghindari nasib buruk tersebut,” ujar Dio dalam Louder Than Hell: The Definitive Oral History of Metal yang disusun Jon Wiederhorn dan Katherine Turman.

  • Ketika Cornel Simanjuntak Menodong Ibu Sud

    PADA akhir 1944, di bawah tekanan Jepang kehidupan rakyat Indonesia semakin terpuruk. Banyak orang kelaparan hingga meninggal karena beras susah didapat. Kesulitan itu juga dialami komponis Cornel Simanjuntak dan kawan-kawannya di Jakarta. Meski Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho , namun uang yang diperolehnya hampir tak lagi bernilai. Penjual beras lebih memilih menukar berasnya dengan barang berharga daripada uang. Karena itu, Cornel memilih menggunakan gajinya untuk membeli buku bekas dan pakaian bekas. Karena tidak ada beras, Cornel dan temannya, Binsar Sitompul dan Gayus Siagian, makan singkong dengan sayur kangkung yang hanya dibumbui garam. “Namun rupanya Cornel menyadari juga, bahwa ia perlu mencari jalan keluar dari kemelut itu. Pada suatu sore sepulang di rumah ia menyatakan, bahwa di Gang Thimas, Tanah Abang, ada barang dagangan berupa arang,” tulis Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang. Arang itu harus dijual dan mendapatkan untung karena modal pokoknya harus disetorkan kepada pemilik arang. Mereka yang biasanya bergelut di dunia kesenian itu pun harus rela menjadi penjual arang agar dapur kembali mengepul. Agar arang itu cepat laku, mereka menodong orang-orang yang dikenal. Cornel meyebut nama-nama yang kemungkinan mau membeli arang, seperti Lasmidjah Hardi yang turut berjuang ketika revolusi, dan Ibu Sud, pencipta lagu kenamaan. “Esok harinya kami berangkat ke Gang Thomas. Segera pula keranjang-keranjang berisi arang kami tumpuk di atas sebuah gerobak dorong. Cornel bekerja keras tanpa menghiraukan tangan dan pakaiannya yang menjadi hitam. Kami pun berangkat. Saya memegang bagian depan gerobak untuk menjaga keseimbangannya, dan Cornel mendorong dari belakang,” kata Binsar. Setelah basah kuyup oleh keringat, mereka sampai di Jalan Maluku, Menteng, tempat Ibu Sud tinggal. Tanpa bertanya dulu, mereka lalu menurunkan lima keranjang arang dan mengangkutnya ke dapur rumah Ibu Sud. Ibu Sud hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anak muda itu. Ia juga tidak menawar harga arang ketika Cornel menyebut nominal. Tak sampai di situ, pada kesempatan itu Cornel menodong lagi. “Ibu Sud, kami lapar nih,” kata Cornel. Ibu Sud segera pergi ke dapur. Kembali dari dapur, Ibu Sud membawa dua piring nasi goreng yang masih hangat dan baunya harum. “Aduhai, sudah lama kami tidak menikmati hidangan seenak itu,” kata Binsar. Melihat anak-anak muda kumal dan kelaparan itu Ibu Sud hanya termenung. “Hai Cornel, mana lagumu yang baru? Jangan asyik mengurus arang saja dong,” kata Ibu Sud. “Tunggu saja Bu, kalau sudah laku semua ini, akan saya buat lagu Romantika Penjual Arang ,” jawab Cornel. Mendengar jawaban Cornel, Ibu Sud hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Hubungan Cornel dengan Ibu Sud memang sudah erat sejak lama. Cornel banyak belajar musik dari Ibu Sud sejak pindah ke Jakarta. Biasanya, ketika Cornel selesai membuat lagu baru, Ibu Sud yang menjadi pendengar pertamanya. Ibu Sud juga yang menganjurkan Cornel mengikuti les menyanyi pada Ny. Kempers, seorang guru musik berkebangsaan Belanda.

  • CIA Ungkap Peristiwa APRA Westerling

    SETELAH melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan, Kapten Raymond Westerling, komandan Korps Speciale Troepen (Pasukan Khusus Belanda) kembali melakukan operasi brutal di Jawa Barat. Puncaknya ketika seorang komandan batalion dari Divisi 7 Desember melaporkan Westerling karena pasukan yang dipimpinya telah membunuh sepuluh warga sipil di jalanan kota Ciamis. Atas perintah Panglima Tentara Belanda di Batavia, Jenderal Simon Spoor, Westerling pun dibebastugaskan pada 11 November 1948. Westerling kemudian memasuki kehidupan baru sebagai warga sipil. Dia menikahi kekasihnya, Fernanda Yvonne Fournier, wanita keturunan Indo-Prancis. Fernanda adalah putri seorang pengelola hotel asal Prancis yang menikah dengan wanita pribumi (versi lain menyebutkan wanita Vietnam).

  • Bioskop Garuda, Dulu Primadona kini Tinggal Nama

    Bicara tentang film tak akan bisa lepas dari bioskop. Film menjadi salah satu kesenian yang memikat banyak orang hingga masa kini, sedangkan bioskop menjadi tempat untuk menikmati film. Sejarah penyebaran film berhubungan erat dengan pendirian bioskop di berbagai tempat. Film masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20. Bersama itu bioskop pertama muncul di Batavia dan menarik perhatian banyak orang. Waktu itu bioskopnya masih berupa rumah. Tapi apa yang dipertunjukan sungguh suatu keajaiban. Gambar idoep, itulah sebutan film saat itu. Maka, orang berbondong-bondong ke bioskop.  Orang-orang bermodal tebal mendirikan bioskop di berbagai tempat di luar Batavia. Makin hari, makin bagus bentuknya. Tapi seperti bisnis lainnya, bisnis bioskop juga merasakan masanya bangun dan jatuh, naik dan turun, manis dan pahit, hidup dan mati. Di Kediri, Jawa Timur, masa-masa itu terekam jelas dalam bioskop Garuda. Patung Panji Asmoro Bangun simbol kota Kediri, Jawa Timur. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda di Kediri, Jawa Timur. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda terletak di Jalan Yos Sudarso, kawasan Pecinan, tak jauh dari Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berbatasan dengan Kali Brantas. Pendirian bioskop ini sebati dengan tumbuhnya minat orang Kediri pada film selama era 1970-an. Selain Garuda, Kediri punya empat bioskop lain pada masa 1980-an. Tempat duduknya selalu terisi penuh. Baca juga:  Yang Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop “Dulu di Kediri itu tidak banyak tempat hiburan. Ketika bioskop dibangun, warga penasaran dan akhirnya masuk dan nonton film,” ujar Ismanto (48), salah satu guru di kota Kediri. Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berlokasi tidak jauh dari bioskop Garuda. (Fernando Randy/Historia). Bangunan Bioskop Garuda yang tampak angker. (Fernando Randy/Historia). Dari lima bioskop itu, Garuda paling elite. “Bioskop Garuda itu salah satu bioskop untuk yang punya duit lebih mas, karena harga tiketnya cukup mahal zaman itu, seingat saya harga tiketnya sekitar Rp350-an,” kata Ismanto. Baca juga:  Konflik Aceh Mereda Tapi Bioskop Terlupa Jika dikonversi ke nilai uang sekarang, nilainya sekira Rp35.000. Selain itu, film-film yang diputar bioskop Garuda pun berbeda dari bioskop lainnya. Mereka lebih sering memutar film-film terbaru dari kawasan Asia: Tiongkok dan India. Tapi seiring perkembangan zaman, bioskop Garuda mulai ditinggalkan orang pada 2000-an. Bangunan gedung bioskop Garuda yang tampak tidak terurus. (Fernando Randy/Historia). Lambang Garuda yang melekat pada pintu utama gedung bioskop. (Fernando Randy/Historia). Bioskop ini sekarang tak aktif lagi. Tapi bangunannya masih berdiri. Ada papan nama bertulis "Garuda" lengkap dengan logo burung Garuda yang juga merupakan lambang negara Indonesia. Baca juga:  Asal-Usul Profesi Tukang Catut di Bioskop Penyebab matinya bioskop Garuda antara lain maraknya pembajakan, kemunculan perangkat pemutar film rumahan, dan kalah bersaing dengan jaringan bioskop modern. Pengunjung Garuda pun berkurang. Pemasukan tak ada sehingga membuat manajemen Garuda limbung. Setelah didera kerugian, Garuda tersungkur dan mati. Salah satu sisi bangunan bioskop Garuda yang rusak. (Fernando Randy/Historia). Bangunan Garuda tampak tak terurus. Catnya terkelupas. Lumut menutup sebagian sisi dinding bangunan. Karat menggerogoti besi-besi untuk ornamen, pagar, dan fondasinya. Baca juga:  Mengenang Bioskop Drive-In ala Ciputra Bila malam tiba, bangunan ini menyeramkan. Tak sedikit warga yang ngeri ketika harus melewatinya pada malam hari karena bangunannya mirip dengan gedung berhantu dalam film horor. Cat yang sudah tampak terkelupas. ( Foto : Fernando Randy/Historia ) Sisi bangunan tampak sudah mulai mengelupas. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda yang jaya pada masanya kini tinggal kenangan. (Fernando Randy/Historia).

  • Lama Wabah di Masa Lalu

    SETELAH menjalani karantina selama beberapa bulan, orang-orang mulai bertanya kapan pandemi Covid-19 berakhir. Para peneliti di berbagai negara seperti di Inggris, China, Rusia, dan Amerika Serikat terus berusaha mencari jalan keluar dengan pengembangan vaksin. Di Indonesia sendiri, pengembangan vaksin sudah mencapai tahap III (pengujian pada manusia dengan jumlah besar) per Juli 2020 dan ditargetkan selesai pada 2022. Meski jalan untuk vaksinasi massal masih amat jauh, beberapa negara seperti Indonesia memilih melonggarkan karantina lebih awal karena pertimbangan ekonomi. Prediksi tentang berakhirnya wabah pun menjadi amat sulit dilakukan. "Saya pikir ada semacam masalah psikologis sosial seperti kelelahan dan frustrasi," kata sejarawan Universitas Yale Naomi Rogers pada The New York Times . Menurutnya, ketika kerugian ekonomi terus meningkat akibat pembatasan sosial, orang-orang memilih untuk kembali menjalankan aktivitas. Ada perbedaan pandangan antara masyarakat dan para ahli kesehatan. Yang pertama melihat masalah ekonomi dan sosial sementara para ahli kesehatan melihatnya sebagai krisis kesehatan yang membahayakan nyawa. Menilik akhir wabah di masa lalu, sejarawan membedakannya menjadi dua. Berakhir secara medis, yakni ketika jumlah kasus baru dan tingkat kematian menurun drastis; dan berakhir secara sosial, yakni ketika ketakutan akan penyakit berkurang. Wabah cacar yang pernah menyerang dunia temasuk yang berakhir secara medis berkat temuan vaksin yang bisa menangkal virus seumur hidup. Sejak muncul pertamakali tahun 1558 di Ternate dan Ambon, cacar menjadi penyakit mematikan karena ketiadaan obat dan vaksin. Pengendalian cacar baru dilakukan ketika ahli medis Inggris dokter Edward Jenner menemukan cara ampuh penanggulangan cacar pada 1796. Stefan Riedel dalam “Edward Jenner and the History of Smallpox and Vaccination”, menyebut pada Mei 1796, Jenner menemukan seorang pemerah susu bernama Sarah Nelms yang terserang cacar sapi. Ia kemudian meneliti cara penjinakan cacar sapi dan mengujicobanya pada anak salah seorang pelayannya. Keberhasilan penemuan Jenner menjadi titik terang pengendalian wabah cacar di seluruh dunia, temasuk di Hindia Belanda. Dalam “Dari Mantri hingga Dokter Jawa” yang dimuat dalam Humaniora  Oktober 2006, Baha’Udin menulis, pada 1818 ada 50420 pencacaran, tahun 1860 jumlahnya meningkat tajam jadi 479.768 pencacaran dengan 211.051 pencacaran ulang. Pada 1875 jumlah pencacaran makin naik hingga 930.853 orang yang menerima vaksin. Mulanya, vaksin dikirim tiap 2-3 bulan sekali dari Amsterdam, Rotterdam, Utrech, dan Den Haag. Namun pada 1879, pemerintah kolonial mendirikan Parc Vaccinogene di Batu Tulis, Bogor untuk meningkatkan produksi vaksin. Pemerintah juga menambah jumlah tenaga medis yang bertugas mendistribusikan vaksin (mantri cacar) dan mendirikan Dokter Djawa School di Batavia. Meski penyakit ini berhasil dikendalikan sejak abad ke-19, dunia baru dinyatakan bebas dari cacar pada 1979. Sementara, cerita lain datang dari wabah pes. Bermula di Malang pada 1910, pes lambat laun menjalar ke Semarang, Yogyakarta, dan wilayah lain. Menurut data pemerintah kolonial, sepanjang 1910-1939, korban pes di Jawa Timur sebanyak 39.254 orang, Jawa Tengah 76.354, dan Yogyakarta 4.535. Pada 1920-an, wabah pes menyerang Cirebon, Priangan, dan Batavia dengan angka kematian yang terus meningkat. Hingga puncaknya di Jawa Barat tahun 1933-1935, pes mengakibatkan 69.775 orang tewas. Di Jawa Timur, pes berhasil dikendalikan dengan vaksinasi, renovasi rumah, dan peningkatan kebersihan lingkungan. Bila pada 1910-1919 ada 37602 orang yang terjangkit pes, pada 1920-1929 angkanya turun menjadi 1521. Terence Hull dalam “Plague in Java” mencatat, pada dekade terakhir kekuasaan kolonial, angka kasus pes di Jawa Timur terus menurun hingga menjadi 131 sepanjang 1930-1939. Namun ketika angka kasus pes di Jawa Timur turun, wilayah Jawa Barat malah naik pesat. Sayangnya pada masa Jepang masalah kesehatan tak mendapat perhatian sehingga tak ada catatan tentang pes di masa tersebut. Pada pendemi Flu Spanyol 1918, karantina wilayah juga dilakukan pemerintah kolonial. Pejabat kesehatan memberi aturan khusus pada kapal-kapal yang menepi di pelubahan-pelabuhan Hindia Belanda berupa larangan menurunkan penumpang. Bila ada yang melanggar, denda menanti. Priyanto Wibowo dalam Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 menyebut, wabah yang paling hebat berlangsung kira-kira tiga minggu. Namun puncaknya baru berakhir kira-kira dua bulan dan pandemi influenza 1918 memang tidak pernah dinyatakan secara resmi berakhir. Menurut Priyanto, pandemi itu menghilang dengan sendirinya. Para sejarawan menyebut Flu Spanyol sebagai pandemi yang terlupakan. Dalam ingatan kolektif masyarakat Amerika Serikat sendiri, Pandemi Flu 1918 tidak banyak diperbincangkan terutama ketika masa pandemi itu sendiri. Namun karena beratnya kehidupan di masa Perang Dunia I, orang-orang memilih untuk kembali beraktivitas dengan beberapa penyesuaian untuk menghindari penularan virus. Menurut sejarawan Universitas Cambridge Mary Dobson, infeksi flu Spanyol kemudian menurun pada 1921 namun penularan Flu Spanyol terus terjadi hingga 1957. Tidak ada catatan pasti kapan sebuah penyakit benar-benar hilang. Menurut Naomi Rogers, klaim tentang berakhirnya wabah bisa amat sulit didefinisikan. “Siapa yang bisa mengklaim akhirnya?"

  • Ketika Si Bung Dikira Tukang Kebun

    Mendiang Kolonel (Purn.) Maulwi Saelan menjadi saksi bagaimana Presiden Sukarno amat menyukai kegiatan bercocok tanam. Menurutnya, setiap hari Bung Karno selalu meluangkan waktu untuknya. “Itu pohon beringin yang di Istana dia yang tanam,” ujarnya kepada Historia  beberapa tahun lalu. Kegiatan berkebun Bung Karno biasa dimulai pada pagi setelah sarapan. Kolonel KKO Bambang Widjanarko menjadi salah satu yang sering diminta Bung Karno menemaninya keliling memperhatikan tanaman di taman-taman Istana. Bambang menyatakan dalam Sewindu Dekat Bung Karno , Bung Karno akan marah bila mendapati ada pohon yang tak terawat atau rusak. Biasanya tukang kebun yang kebagian jatah merawat pohon yang kedapatan tak terawat akan langsung dipanggil dan diperintahkan untuk segera membenahi pohon itu. Berkebun merupakan salah satu aktivitas yang paling disukai dan rutin dilakukan Bung Karno. Sewaktu menjalani pembuangan di Ende, Flores, Bung Karno bersama Inggit istrinya menanami pekerangan rumahnya dengan sayuran. Dengan begitu Bung Karno bisa membunuh kejemuan di tempat pembuangan yang sepi sekaligus mencukupi kebutuhannya di tengah melompongnya kantong. “Sekalipun kami hanya punya uang sedikit, kami berhasil mencukupi diri sendiri. Kebutuhanku sederhana. Makananku terdiri dari nasi, sayur, buah-buahan, terkadang ayam atau telor dan ikan asin kering sedikit. Sayuran diambil dari yang kutanam di pekarangan samping rumah,” kata Bung Karno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Kegiatan itu terus berlanjut ketika Bung Karno tinggal di Jakarta pada masa pendudukan Jepang. Pohon-pohan yang ditanam dan dirawat bersama Ibu Fatmawati saban hari diperhatikan Bung Karno. Tukang kebun yang diupah membantu akan kena marah bila tak merawat pohon-pohon dengan serius. Pernah suatu kali Bung Karno memarahi tukang kebun karena kedapatan tak menuruti arahannya sehingga membuat pohon menjadi merana. Kebiasaan berkebun Bung Karno tetap berlanjut ketika pusat pemerintahan pindah ke Yogyakarta pada 1946. Pun ketika mengalami pembuangan di Berastagi, Sumatera Utara. Di sana, Bung Karno sempat menanam pohon beringin di tempat pembuangannya. Setelah pemerintahan kembali ke Jakarta, berkebun kembali dilakukan Bung Karno di kompleks istana. Namun, kegiatan itu tak hanya dilakukan Bung Karno di istana Jakarta. Istana Tampaksiring di Bali pun tak luput jadi tempat berkebun Bung Karno. Hal itu disaksikan antara lain oleh Horst Henry Geerken, perwakilan perusahaan Telefunken di Jakarta, yang sering diundang Bung Karno. Geerken menuliskannya dalam memoar berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno . “Sukarno senang bekerja di kebun pagi hari dan menanam banyak pohon dan menghabiskan waktu di Istanan dengan tangannya sendiri,” kata Geerken. Karena berkebun itu pula Bung Karno suatu hari mendapat sial. Suatu pagi ketika langit masih gelap, Bung Karno melihat sebuah kebun yang tak mendapat perawatan semestinya. Masih dengan pakaian seadanya, dia pun tergerak menanganinya. Namun di tengah aktivitas itu, sebuah tepukan mendarat di bahunya disertai suara seorang pria. “Hei, itu tanah saya!” kata pria bernama Made Galang itu yang diwawancara Geerken saat berusia 82 tahun. Bung Karno yang kaget lalu menoleh. Begitu mata kedua pria itu saling bertemu, Made langsung syok. Dia tak menyangka tukang kebun yang diperingatinya ternyata presidennya. Bung Karno tak sedikitpun marah dan hanya mengatakan, seperti dikutip Geerken, “Saya mau tolong saja.” Namun tetap saja hal itu membuat Made amat malu dan merasa bersalah.

  • Monumen Sukarno Resmi Berdiri di Aljazair

    SETELAH sempat tertunda, peresmian Monument Soekarno di Alger, Aljazair terlaksana pada Sabtu (18/7/2020) pagi waktu setempat atau sore WIB. Monumen tersebut menjadi penanda hubungan persaudaraan antardua negara yang terpisah 12 ribu kilometer jauhnya. Pembangunan monumen itu diinisiasi Kedutaan Besar RI (KBRI) Alger, didesain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan dipercantik sebuah patung Sukarno dari lempengan-lempengan besi karya pematung Dolorosa Sinaga. Peresmian itu dihadiri antara lain oleh Menteri Luar Negeri Aljazair Sabri Boukadoum, dan Gubernur Provinsi Alger Youcef Charfa. Ketua DPR RI Puan Maharani yang merupakan cucu Sukarno, hadir secara virtual dari Jakarta. Baca juga: Patung Bung Karno Berdiri di Aljazair Dalam pidatonya, Duta Besar RI untuk Aljazair Safira Machrusah menyampaikan, sosok Sukarno dihadirkan dalam monumen dan patungnya tak lain lantaran jalinan sejarah. Sukarno tak sekadar founding father bagi Indonesia, namun juga jadi mercusuar dunia yang melantangkan perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme yang mencengkeram bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. “Sukarno lahir dari keluarga yang sederhana dan tumbuh menjadi negarawan yang mulia. Melalui pengalaman hidupnya, ia membangun self-awareness terhadap pentingnya kemerdekaan dan kebebasan. Jiwa muda membawanya aktif terlibat dalam politik dan kemudian membentuk pemikiran-pemikirannya terhadap nilai-nilai kemerdekaan,” tutur Safirah. “Perjuangannya itu membuatnya ditahan dan dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda berkali-kali. Semua pengalaman itu membimbingnya menjadi lebih gigih berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Ia juga yang menggali dasar negara Indonesia sebagai negara berdaulat, tercermin dalam Pancasila,” tambahnya yang menguraikan satu per satu sila-silanya kepada hadirin. Plakat Monumen Sukarno di Alger, Aljazair (Foto: Youtube KBRI Alger) Nilai-nilai Pancasila itu masih universal dan relevan sebagai salah satu penguat persahabatan Indonesia-Aljazair. Ditambah Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang jadi dasar, keduanya menjadi alasan mengapa Sukarno aktif menyokong kemerdekaan negara-negara terjajah, termasuk Aljazair. “Pembukaan UUD 1945 menyebutkan tentang kewajiban Indonesia untuk aktif mendorong perjuangan bangsa lain menuju kemerdekaan. Dengan jelas disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tak sesuai dengan kemanusiaan dan keadilan,” lanjut Safirah yang sudah empat tahun bertugas jadi Dubes RI untuk Aljazair. Baca juga: Makna Patung Bung Karno di Aljazair Dua prinsip yang jadi pegangan bangsa Indonesia itu, sambung Safirah, jadi modal Bung Karno untuk lebih menyuarakan perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah lewat Konferensi Asia Afrika di Bandung pada April 1955. Konferensi itu turut mengundang Aljazair kendati negeri itu belum merdeka dari Prancis. “Banyak negara belum merdeka tahun 1955, namun suara mereka di Bandung meningkat menjadi tekanan internasional terhadap negara-negara Barat untuk mendengar suara bangsa-bangsa terjajah, terkait hak mereka untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri. Kami bangga memiliki Sukarno sebagai pendiri bangsa dan menjadi tokoh global yang memicu nilai-nilai universal tentang kemerdekaan dan membangkitkan spirit untuk terbebas dari kolonialisme dan imperialisme,” kata Safirah. “Indonesia dan Aljazair adalah dua saudara, berbagi semangat anti-kolonialisme yang sama dan memuliakan pentingnya persatuan dalam nilai-nilai nasionalisme. Indonesia dan Aljazair juga mengalami pertumpahan darah dalam perjuangannya dan saya senang upacara peresmian monumen ini bisa digelar di bulan yang sama dengan Hari Kemerdekaan Aljazair (5 Juli),” paparnya. Dubes RI Safirah Machrusah (kanan) memberi potongan tumpeng pertama untuk Menlu Aljazair sebagai simbolik peresmian (Foto: Youtube KBRI Alger) Diharapkan, monumen dan patung Sukarno yang berdiri tegak di jantung ibukota Aljazair itu bisa menjadi pengingat, terutama untuk generasi baru Indonesia dan Aljazair, demi merawat nilai-nilai perjuangan kedua negara yang punya satu tujuan: perdamaian abadi dan kesejahteraan di dunia. “Jika Anda memerhatikan, monumen ini berbentuk seperti bulan sabit dengan lima bintang, mencerminkan bendera Aljazair. Di setiap pilar pendeknya kami cantumkan teks Dasasila Bandung yang dihasilkan dari KAA 1955 sebagai deklarasi mempromosikan kemerdekaan, kesetaraan, perdamaian, dan kerjasama. Kini kami persembahkan bagi rakyat Aljazair, sebuah monumen sebagai simbol persahabatan abadi dan kerjasama yang saling menguntungkan,” tutup Safirah. Baca juga: Aljazair Merdeka Hal senada disampaikan Puan Maharani. Persamaan pemikiran dan perjuangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan imperialisme lewat KAA di Bandung pada 1955 yang digelar Presiden Sukarno, kata Puan, menjadi dasar yang tak lekang waktu bagi persahabatan dua negara yang dipisahkan batas-batas benua itu. “Kita sedang menatap masa depan. Namun kita semua tetap harus mengenang sejarah kita sebagai bagian dari landasan untuk kita membangun masa depan yang lebih baik. Indonesia dan Aljazair terpisah jarak yang begitu luas melewati daratan, benua, dan lautan. Akan tetapi sejarah menyatukan kita,” kata Puan menimpali. Ketua DPR RI cum cucu Bung Karno, Puan Maharani memberi sambutan secara virtual dari Jakarta (Foto: Youtube KBRI Alger) Menanggapi dua perwakilan Indonesia, Menlu Aljazair menyatakan, jika delegasi Aljazair tak diundang ke forum KAA 1955, perjuangan mereka masih akan mengalami perjalanan yang lebih panjang. Maka sudah sepatutnya sosok Bung Karno dikenang tak hanya demi narasi sejarah, tetapi juga jadi tumpuan persahabatan yang kelak akan dirawat para generasi muda kedua negara. “Pada April 1955 Presiden Sukarno mengundang sebuah delegasi dari Aljazair. Pada saat itu isu (kemerdekaan) Aljazair belum terlalu terkenal di dunia. Dan ketika Mohamed Yazid, ketua delegasi, naik ke podium, dia memanggil semua delegasi Aljazair masuk ke dalam ruangan dan ini adalah sesuatu yang luar biasa pada saat itu,” kata Boukadoum. “Dukungan dan sambutan yang diberikan Sukarno adalah bukti hubungan Indonesia dan Aljazair sangat kuat dan ini jadi dasar untuk membangun hubungan yang lebih kuat. Sejarah ini menjadi dasar supaya membangun dialog politik antara kedua negara dan membangun kerjasama yang semakin meninggi antardua negara, secara bilateral maupun secara multilateral, untuk membangun kepentingan bersama,” tandasnya. Baca juga: Djamila Bouhired Srikandi Aljazair

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page