top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menilik Sejarah Purworejo yang Diklaim sebagai Pusat Keraton Agung Sejagat

    MENGAKU sebagai Sinuhun, Totok Santosa Hadiningrat mendirikan dan memimpin Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Jawa Tengah. Keraton yang belum selesai pembangunannya itu berpusat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo. Totok mengaku sebagai juru damai dan punya kekuasaan atas seluruh negara di dunia. Totok juga mengklaim KAS punya alat-alat kelengkapan di Eropa, dan Persatuan Bangsa-Bangsa sebagai parlemen dunia yang menyokong mereka. Selain itu, Pentagon juga diklaim sebagai dewan keamanan KAS, bukan milik Amerika. Pendirian KAS menjadi bahan lelucon masyarakat karena otak-atik gathuk yang tak masuk akal. Masyarakat Purworejo dan lebih khusus Kecamatan Bayan sendiri tak ada yang percaya dengan omongan Totok. Jumeri, warga Bayan yang rumahnya bertetangga dengan Keraton jadi-jadian itu, mengatakan, sebagaimana diberitakan rmol Jateng, bahwa hanya dua orang tetangganya yang bergabung dengan Totok, lainnya tidak. Kelucuan pada penyelewengan sejarah ini kemudian berakhir setelah Totok dan delapan anggota KAS, termasuk Fanni Aminadia yang menjadi Kanjeng Ratu, ditangkap polisi pada Selasa (14 Januari 2020) petang. Bila menilik sejarah, Purworejo dulunya termasuk Negaragung Bagelen. Nama Purworejo dipakai sebagai pengganti nama Brengkelan, pusat kota Bagelen. Wilayah ini bertetangga dengan Banyumas di sebelah barat dan dengan Keraton Mataram di sebelah timur. Bagelen bersama Banyumas, Kedu, Mataram, Pajang, Sukowati, dan Gunung Kidul masuk dalam kekuasaan Mataram abad ke-17 yang diperoleh berkat perjanjian dan pernikahan. Sementara daerah timur Mataram lebih banyak diperoleh melalui penaklukan. Kondisi Bagelen pada awal abad ke-19 dikisahkan Kapten Godfrey Baker dari Batalion ke-7 Infanteri Ringan Benggala dalam laporannya kepada Raffles.  Dalam perjalanannya ke timur pada 1815, Baker melalui aliran Suangai Cingcingguling menuju Bagelen sebagai tanah-jabatan Negaragung Mataram. Selama berkuda sejauh enam puluh mil ke kota penyeberangan Brosot di Kali Progo, Baker terperangah menyaksikan daerah paling makmur dan berpenduduk padat. Dilaluinya Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan (Jalan Daendels) yang membentang sepanjang pinggir pantai selatan. Menurut catatan Baker, hampir seluruh wilayah itu tampak ditanami padi dan kedelai.  Rawa-rawa menjadi penghasil ikan yang diolah menjadi gereh (ikan asin) dan diperdagangkan sepanjang pantai selatan hingga ke muara Sungai Serayu. Sebagian ikan asin itu juga dijual ke kecamatan di pedalaman seperti Ledok (sekarang Wonosobo). Wilayah ini amat kaya. Hampir sama seperti Kedu, Bagelen merupakan gudang padi dan bahan pangan di timur Jawa Tengah. Tak hanya hasil padi, wilayah ini juga memproduksi kain tenun dan kedelai dalam jumlah besar. Di desa-desa, pertenunan kapas menjadi tulang punggung industri kerajinan kain rami (linen), selempang batik katun, baju perempuan, dan kain sarung. Sebelum Perang Jawa (1825-1830), beberapa sentranya terletak di Desa Jono (kini di Kecamatan Bayan, Purworejo), Tangkilan, dan Wedi.  Ketiga wilayah ini, seperti diceritakan Peter Carey dalam Kuasa Ramalan, dihuni banyak penduduk Tionghoa. Pasca-Perang Jawa, sentra kain rami terletak di Tanggung, dekat jatung Kota Purworejo kini. Namun demikian, wilayah Bagelen juga tumpang tindih antara Keraton Mataram dan Kasunanan Surakarta. Batas wilayah kedua kerajaan itu tak jelas. Peter Carey mengisahkan, pada sekira 1820-an ada seorang Mantri Desa Karang Bolong di pantai selatan Jawa (kini Kebumen), yang dulu masuk dalam wilayah Bagelen, dilaporkan oleh rakyatnya. Penduduk Karang Bolong menyalahkan Demang Juni karena enggan menaruh banyak sesajen pada Ratu Kidul sebagai penyebab kegagalan panen. Penduduk mengajukan protes kepada patih Surakarta, bukan Mataram, yang menandakan Karang Bolong sebagai wilayah kekuasaan Surakarta. Musafirul Huda dalam skripsinya “Perlawanan Raden Adipati Cokronegoro Terhadap Pasukan Pangeran Diponegoro Di Bagelen”, menyebut batas kekuasaan Mataram dan Surakarta yang tidak begitu jelas sering membawa pertikaian di kalangan penguasa lokal. Herdi Sahrasad dalam “Bagelen: Historia Para Intelektual dan Jenderal Yang Dilupakan”, menyebut pada masa kolonial, kawasan agraris di pedalaman Jawa ini mengalami kemiskinan akibat penjajahan. Maka tak jarang, protes-protes dari masyarakat pun terjadi. Dari kondisi semacam ini, lahirlah intelektual dan jenderal pro-kemerdekaan. Beberapa tokoh ternama kelahiran Bagelen, seperti Kasman Singodimedjo (PPKI), Boentaran Martoatmodjo (BPUPKI), Oerip Sumohardjo, dan filsuf  Nicolaus Driyarkara. Namun kedudukan Bagelen berubah pada 1 Agustus 1901. Nama Bagelen hanya digunakan untuk menyebut salah satu kecamatan di Purworejo. Wilayahnya pun dimasukkan ke dalam Karesidenan Kedu dan tidak punya silsilah dengan Keraton Agung Sejagat.

  • Kala M. Jusuf Nyaris Direnggut Maut

    TANPA pemberitahuan sebelumnya, Pangdam Hasanuddin Kolonel M. Jusuf disertai Komandan PM Kodam Hasanuddin Letkol CPM Sugiri, As-Ops Koandait (Komando Antar Daerah Indonesia Timur) Letkol Suraksono, dan Kepala Kepolisian Sulawesi Selatan/Tenggara Kombes Pol. Mardjaman mendatangi pos komando Yon 330 Siliwangi –yang ditugaskan memberi bantuan kodam setempat dalam mematahkan pemberontakan Kahar Muzakkar– di Enrekang, 2 April 1964. Kedatangan mereka mengagetkan para pimpinan Yon 330 yang saat itu sedang rapat. Setelah makan siang bersama, Jusuf mengatakan dirinya minta disediakan satu kompi pasukan untuk mengawalnya esok. “Besok aku akan mengadakan pertemuan dengan Andi Selle agar ia kembali ke jalan yang benar. Sebagai putera Sulawesi saya ingin mengajaknya baik-baik untuk bersama-sama membangun Sulawesi ini. Pertemuan ini dipersiapkan oleh Letkol Eddy Sabar, komandan Brigif 011, namun saya tidak tahu pasti bagaimana kelanjutan dari pertemuan ini. Karena itu siapkan satu kompi 330 untuk pengamanan, dan tugaskan seorang perwiramu yang baek untuk mendampingi saya!” kata Jusuf, dikutip Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf Panglima Para Prajurit . Andi Selle merupakan Dan Yon Bau Massepe di Korps Cadangan Nasional Sulawesi Selatan yang dipimpin Kahar Muzakkar. Selle dan Kahar kemudian berpisah jalan. “Dalam minggu-minggu sebelum hari yang telah ditetapkan untuk integrasi resmi Korps Cadangan Nasional, pertentangan intern yang pertama di kalangan pengikut-pengikut Kahar Muzakkar terjadi ketika Andi Selle memihak Pemerintah dalam persoalan apakah integrasi Korps Cadangan Nasional Sulawesi Selatan akan dilakukan batalyon demi batalyon atau tidak,” tulis Cornelis van Dijk dalam Darul Islam, Sebuah Pemberontakan . “Penggabungan Batalyon Bau Masseppe Andi Selle ke dalam Tentara sebagai Batalyon 719 pada 7 Agustus 1951 hanyalah memperbesar pertentangan antara Kahar dan Tentara, selanjutnya.” Dalam perjalanan waktu, besarnya kebebasan yang dimiliki para komandan batalyon, termasuk Selle, membuat mereka menyalahgunakan posisi militer yang ada untuk mencari keuntungan pribadi. Seperti Andi Sose, Andi Selle juga tumbuh menjadi warlord yang merugikan masyarakat dan negara. Dalam Paths and Rivers: Sa’dan Toraja Society in Transformation, Profesor Roxana Waterson dari National University of Singapore menggambarkan keduanya sebagai oportunis, serakah, menggunakan posisi militer untuk terlibat dalam perdagangan barter yang amat menguntungkan, berusaha mengendalikan ekspor regional dengan mengorbankan pemerintah pusat, mematok harga lokal, dan menarik pajak barang dalam perjalanan ke kota-kota dataran rendah. “Laporan Staf Angkatan Darat tahun 1961, yang saat itu jelas-jelas dianggap sebagai liabilitas, menggambarkannya sebagai seorang oportunis dan petualang ambisius, siap memperkaya dirinya dengan cara apa pun yang mungkin dan selalu mencari peluang untuk mendapat untung dari kedua belah pihak, apakah pemerintah atau gerilyawan,” lanjut Roxana. Oleh karena itulah Dan Yon 330 Siliwangi Mayor Himawan Soetanto menaruh curiga besar saat Jusuf menerangkan rencana perundingannya dengan Selle. “Bakalan rame nih!” kata Himawan kepada wakilnya, Yogie S. Memet, mengomentari keterangan Jusuf. Namun, Himawan tetap mematuhi perintah Jusuf dengan mempersiapkan pasukan yang diminta. Dua kompi dipersiapkannya untuk perundingan itu, yakni Kompi E/330 di bawah Lettu Mukardanu sebagai kompi pengawal dan Kompi D/330 di bawah Lettu Anwar Rasyim sebagai kompi cadangan. Sepuluh prajurit terbaik diplot menjadi pengawal pribadi Jusuf. Sementara untuk pendamping Jusuf, Himawan menugaskan Kapten Jayadi. Pada pukul 07 pagi keesokan harinya, Jusuf berangkat ke Pinrang, tempat perundingan, dikawal satu peleton dari Kompi E/330. Para pengawal pribadi Jusuf yang dipimpin Peltu Daud Supriyanto menggunakan jip Gaz dan jip yang digunakan Jayadi. Anggota kompi yang lain naik truk. Jusuf sendiri menggunakan sedan Dodge milik gubernur Sulawesi Selatan yang dipinjamnya untuk keperluan resmi. Sedan itu berada di belakang jip Jayadi dan di depan truk kompi. Di sedan itu juga ikut Letkol Sugiri dan Kombes Mardjaman, keduanya duduk di baris supir. Begitu konvoi mendekati lokasi perundingan, Desa Lappangeng, para prajurit Siliwangi mulai curiga karena ratusan pengawal Selle dengan beragam senjata sudah bersiap di sepanjang jalan. “Pasukan Siliwangi yang cuma satu kompi itu ditambah sejumlah kecil pasukan dari Raiders Hasanuddin akhirnya berbaur dengan pasukan Andi Selle di tepi-tepi jalan. Semua bersenjata lengkap dan berdiri dengan raut muka tegang,” tulis Atmadji. Kecurigaan prajurit Siliwangi makin bertambah ketika melihat mobil Jusuf dibuntuti sebuah power wagon berisi tujuh pengawal Selle bersenjata bren, yang kemudian menjaga pintu bangunan tempat perundingan. “Andi Selle datang dengan memakai baju merah dengan disertai oleh salah seorang kepercayaannya Sersan Mayor Mansyur,” tulis Badan Pembina Corps Siliwangi Jakarta Raya dalam Album Kenangan Perjuangan Siliwangi . Kecurigaan itu akhirnya tak berbuah apa-apa. Tak lama kemudian, Jusuf dan Selle beriringan keluar dari tempat perundingan sambil tersenyum dan berbincang. Keduanya lalu menaiki mobil Jusuf, yang di dalamnya ada Sugiri, Mardjaman, dan supir. Mobil itu akan membawa mereka ke rumah Bupati Pinrang H. Andi Makkulau, sekitar delapan kilometer dari tempat perundingan, untuk makan siang atas permintaan Selle. Jusuf duduk di kursi belakang kiri dan Selle di belakang kanan. Di sebuah pertigaan dalam perjalanan, mobil Jusuf bukannya berbelok ke kanan malah lurus. Mobil seolah-olah menuju Pare-Pare lalu ke Makassar. Para pengawal Selle pun mengkhawatirkan pemimpinnya akan dibawa lari ke Makassar untuk ditangkap. Sebuah jip pengawal Selle lalu mendahului mobil Jusuf. Jip itu mendadak berhenti. Beruntung supir masih sempat menghentikan mobil Jusuf sehingga tak menabrak mobil di depannya. Sejurus kemudian, tulis Atmadji, “Jusuf melompat turun dan memerintahkan pengawal untuk menangkap Selle, dan Selle juga turun dari sisi yang lain dan memberikan perintah.” Tembak-menembak jarak dekat antara pengawal Jusuf dan pengawal Selle pun tak terhindarkan. “Tiga penumpang di mobil Dodge terkena peluru semua karena tidak sempat ke luar mobil. Kolonel Sugiri tewas, Kombes Pol. Mardjaman mengalami luka-luka di tangan, sementara supir Langa, luka di kepala hingga topinya robek. Mobil Dodge penuh dengan lubang-lubang peluru. Dan pihak pengawal pribadi juga gugur Praka Adang B dan sejumlah prajurit Kujang lainnya mengalami luka-luka ringan,” sambung Atmadji. Hampir bersamaan dengan perintah Jusuf kepada Daud agar menangkap Selle, Selle pun memerintahkan prajuritnya untuk menembak Jusuf. “Hampir bersamaan dengan bunyi senjata otomatis yang ditujukan ke sedan, salah seorang pengawal Jusuf yaitu Praka Syamsudin melempar granat ke arah jip yang memotong konvoi yang kemudian disusul dengan tembakan Thompson Sersan Kopong Poyong, juga pengawal Jusuf yang lain.” Tembak-menembak makin sengit setelah pasukan pengawal Jusuf yang tertinggal jauh di belakang tiba. Sementara tangan kanannya memegang senapan, Peltu Daud langsung melompat dan merangkul Jusuf untuk memberi perlindungan sambil menarik panglima ke arah mobil Gaz. Dalam upaya perlindungan itulah Daud roboh setelah dadanya diterjang peluru pengawal Selle. Jusuf terpaksa meneruskan perjalannya ke jip Gaz tanpa perlindungan. “Menurut Jusuf, sewaktu ia berjalan menuju jip Gaz, Andi Selle malah meneriakkan komando kedua: ‘Ikuti dia dan tembak!’ Para pengawal kemudian terus mengalihkan tembakan ke arah Jusuf. Tetapi ia sendiri merasa ada sesuatu yang panas di belakang lehernya dan punya insting bahwa ada sesuatu yang melindungi nyawanya,” tulis Atmadji. Begitu Jusuf masuk ke dalam jip, supir langsung menancap gas sekuat mungkin menerobos apa saja yang ada di depan tanpa menghiraukan hujan peluru di sekitarnya. Jusuf dan penumpang lain dalam jip pun selamat. Sementara, para prajurit Siliwangi dan pengawal Selle masih baku tembak meski hanya beberapa menit. Namun karena pasukan Siliwangi lebih menguasai cara menembak dan menguasai posisi, korban lebih banyak jatuh dari pihak Selle. Tak lama kemudian, Selle dan para pengawalnya yang tersisa melarikan diri ke hutan. “Tetapi dalam tembak-menembak yang terjadi Andi Selle, yang berhasil melarikan diri, tertembak bahunya,” tulis Van Dijk.

  • Empat Kerajaan Buatan tanpa Pengakuan

    DI tengah kisruh beragam skandal, mulai Jiwasraya, Asabri, hingga kegagalan KPK menggeledah DPP PDIP, publik tanah air digegerkan oleh kemunculan Kerajaan Agung Sejagat (KAS). Totok Santoso Hadiningrat dan istrinya, Dyan Gitarja, yang mendirikan kerajaan di Bayan, Purworejo, Jawa Tengah itu mengklaim kerajaan mereka sebagai penerus Kerajaan Majapahit dan dengan kekuasaan meliputi seluruh dunia. KAS memiliki misi untuk menciptakan kedamaian di kolong langit. Kemunculan KAS menambah panjang daftar micronations (negara mikro) atau negara fiksi/khayalan yang berdiri di dalam sebuah negara berdaulat. Sejak abad ke-19, klaim semacam KAS sudah bertebaran di segenap pojok bumi baik yang klaim sungguhan maupun sekadar propaganda iklan. Bentuk mereka beragam, mulai dari republik hingga monarki. Dari ratusan negara khayalan itu, sedikitnya eksis lima negara berbentuk kerajaan dan mengklaim punya dasar historis atas berdirinya kerajaan mereka. Empat di antaranya, mirip KAS yang mengaku memegang warisan janji 500 tahun pasca-runtuhnya Majapahit. Berikut empat kerajaan itu: Principato di Seborga Kerajaan atau lebih tepatnya Kepangeranan Seborga merupakan negara yang didirikan bekas seorang petani bunga hias Giorgio Carbone pada 1963. Monarki itu mengklaim lahan seluas 14 kilometer persegi di Liguria, kawasan di barat laut Provinsi Imperia, Italia. Carbone yang menasbihkan diri sebagai Pangeran Giorgio I, sebagai pemimpin hingga wafatnya pada 2009. The Telegraph dalam obituari sang pangeran menyebut bahwa Carbone punya klaim historis dari dokumen di arsip Gereja Vatikan. Arsip itu menyebutkan bahwa desa yang kemudian menjadi kota Seborga berdiri di atas lahan milik para biarawan Ordo Santo Benediktus sejak diberikan Count Guidone dari Ventimiglia pada tahun 954. Meski dianggap sudah berdaulat pada tahun 954, Seborga disebut baru memiliki bentuk pemerintahan principality (kepangeranan) sejak tahun 1079. Carbone mengklaim Principato di Seborga bukan bagian dari Italia berdasarkan Risorgimento atau perjanjian penyatuan sejumlah kerajaan maupun republik di Italia untuk melebur ke Kerajaan Italia pada 1861, lantaran Seborga tak disebutkan dalam perjanjian itu. Pemerintah Italia tak pernah menanggapi gerakan Carbone meski kepangeranan itu punya bendera –biru dengan garis silang putih seperti panji Santo Bernardus– plus moto negara “ Sub Umbra Sede” (Berdiam di bawah keteduhan). Pemerintah justru melihatnya sebagai daya tarik turisme. Setelah Pangeran Giorgio I mangkat, pemimpinnya dipilih lewat pemilu 25 April 2010. Marcello Menegatto menang dan memperoleh gelar Pangeran Marcello I hingga Nina Menegatto menggantikannya setelah memenangkan pemilu berikutnya, November 2019. Hingga 2018, tercatat 297 orang menjadi warga kepangeranan dengan mata uang Seborga Iuigino itu. Untuk pertahanan, kepangeranan punya pasukan sukarela Corpo delle Guardie. Principality of Sealand Sejak 1960-an Kepangeranan Sealand disebut banyak pihak sebagai negara mikro terkecil, teraneh, dan paling dikenal luas. Kepangeranannya dideklarasikan Paddy Roy Bates, penyiar stasiun radio ilegal Radio Essex . Negaranya berdiri di atas sebuah platform bekas benteng militer Inggris, 11 kilometer lepas pantai Suffolk. Mengutip John Ryan dkk dalam Micronations: Lonely Planet , mulanya platform itu sekadar salah satu bagian menara dari HM Fort Roughs. Benteng itu dibuat pada 1943 di masa Perang Dunia II sebagai benteng pertahanan yang ditempatkan sejumlah meriam antiudara untuk menangkal invasi udara Jerman Nazi. Pada 1956, benteng itu dinonaktifkan dengan ditenggelamkan. Namun menara dan platform tak tenggelam sepenuhnya. Lama tak berpenghuni, platform itu didatangi Bates dan keluarganya pada 2 September 1967. Di sanalah keduanya mendeklarasikan kemerdekaan Roughs Tower dari Inggris dan mendirikan Kepangeranan Sealand. Delapan tahun berselang, barulah kepangeranan memperkenalkan konsitusi, bendera nasional, lagu kebangsaan, mata uang, dan paspornya. Beberapakali negara itu diancam invasi pihak lain. Operator radio bajakan lain, Ronan O’Rahilly, sempat ingin merebutnya dengan kekerasan beberapa bulan setelah Bates mendirikan negara. Ancaman itu akhirnya dilerai pasukan Marinir Inggris dengan tembakan peringatan. Namun, Inggris tidak menindak mereka lantaran perairan tempat platform itu berada di perairan internasional dan belum masuk wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Inggris. Perlahan, negara itu mulai menerima banyak warga baru yang tentu memunculkan perkara baru. Pada Agustus 1978, warga bernama Alexander Achenbach yang ingin menyulap platform itu menjadi kasino dan hotel mewah, melakukan kudeta saat sang pangeran dan keluarganya tengah ke Suffolk. Sang pangeran mampu merebutnya kembali. Sepeninggal Bates, tampuk pimpinan dilungsurkan ke putranya, Pangeran Michael, sejak 2012 hingga kini. Crown Dependency of Forvik Negara Mahkota ( Crown Dependency ) Forvik didirikan Stuart Hill pada pada 21 Juni 2008 dengan mengklaim Pulau Forewick Holm seluas 1 hektar di Selat Sound of Papa yang tak berpenghuni. Lokasinya sekitar 200 meter di selatan Pulau Papa Stour dan Semenanjung Sandness, Skotlandia. Mengutip Steven Roger Fischer dalam Islands: From Atlantis to Zanzibar , Hill mengklaim berhak mendirikan negara dengan pemerintahan sendiri terlepas dari Inggris Raya, berdasarkan perjanjian historis Raja Denmark dan Norwegia Christian I dengan Raja Skotlandia James III pada 1459. Hill menyebut, dalam perjanjian itu Raja Christian I menggadaikan pulau itu beserta Kepulauan Shetland sebagai mahar pernikahan putrinya, Margaret, dengan James III. Lantaran penggadaian itu tak pernah ditebus, Hill meyakini status Pulau Forewick Holm masih jadi sengketa dan dia berhak punya pemerintahan sendiri laiknya Isle of Man atau Kepulauan Channel. Sampai 2015, Hill yang mendapuk diri sebagai perdana menteri, mengklaim sudah punya 218 warga negara. Imperatorskiy Prestol Imperatorskiy Prestol yang berarti Takhta Kekaisaran, didirikan oleh Anton Bakov,  pebisnis dan Ketua Monarkhicheskaya Partiya atau Partai Monarki di Rusia, pada 2011. Mulanya, Bakov memproklamirkan negara monarki konstitusional Romanovska Imperiya atau Kekaisaran Romanov, yang diklaim sebagai penerus Tsarisme Romanov. Kekaisaran itu ditumbangkan Revolusi Bolsheviks pada 1917. Menukil situs resmi negara, romanovempire.com , wilayah kekuasaannya mewarisi kawasan-kawasan yang dijelajahi AL Tsarisme Rusia di masa lalu yang tak menjadi bagian Uni Soviet, di antaranya dataran Antarktika, Inggris Raya, Amerika Utara, dan beberapa pulau di utara Jepang. Warganya tak lain adalah massa Partai Monarki Rusia. Sejak 2014 mereka mengklaim sudah punya 4.000 warga berpaspor Kekaisaran Romanov. Bakov sendiri mendapuk diri sebagai perdana menteri. Pada 31 Maret 2014, Bakov mengangkat Pangeran Nikolai Kirillovich Romanov sebagai Tsar Nikolai III. Nikolai yang punya nama lain Pangeran Karl Emich itu masih cicit buyut Tsar Alexander II. Dengan pengangkatan tsar itu, nama negara Romanovska Imperiya pun diubah menjadi Imperatorskiy Presto dan simbol negara berupa elang berkepala dua. Sementara, benderanya mirip bendera AL Rusia, bendera putih bermotif St. Andrew’s Cross. Berdirinya kekaisaran itu tak pernah ditanggapi pemerintah Rusia. Presiden Vladimir Putin menolak mentah-mentah permintaan lahan di Yekaterinburg oleh Nikolai III untuk dijadikan ibukota dan didirikan istana.

  • Ilmu Eksak Tertua

    Manusia Nusantara sudah mengenal ilmu perbintangan sejak 35.000 tahun lalu. Di salah satu lukisan cadas tertua, Leang-leang di Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, ditemukan penggambaran proses perburuan babi dan rusa, telapak tangan, dan gambar-gambar geometris. Diperkirakan itu melambangkan bintang dan matahari. Sementara itu, peradaban Mesopotamia mencatat pengetahuan astronomi untuk pertama kali pada 4.000 tahun silam. Mesopotamia bahkan telah mengenal planet-planet seperti Dewi Isthar atau Inana, sekarang dikenal dengan nama Venus. “ Mereka juga telah memperkenalkan konsep makrokosmos dan mikrokosmos yang mencapai India pada awal milenium pertama . Kemampuan leluhur mempelajari langit dan angkasa merupakan ilmu eksak paling tua yang ada di muka bumi,” kata Ayu Dipta Kirana, kurator Museum Sonobudoyo, Yogyakarta . Karin menjabarkan sejarah perkembangan pengetahuan astronomi lewat pameran temporer Etnoastronomi bertajuk “Angkasa Raya, Ruang dan Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Salah satunya soal bagaimana astronomi mempengaruhi religi masyarakat kuno hingga kini. Menurut Karin,dimulai sejak kepercayaan animisme dan dinamisme, praktik penyembahan terhadap matahari sudah dijumpai. Komunitas pendukung kebudayaan itu meyakini kalau matahari memberikan kehidupan terhadap mereka. Aliran kepercayaan ini kemudian berkembang secara konseptual menjadi agama dunia yang lebih kompleks. Nekara, salah satu dari corak kebudayaan logam awal, merupakan salah satu perangkat dalam upacara. Nekara ini dihiasi dengan berbagai unsur alam dan angksa, seperti simbol matahari, rembulan, dan bintang. (Wikipedia). Nekara, salah satu dari corak kebudayaan logam awal, merupakan salah satu perangkat dalam upacara. Nekara ini dihias dengan berbagai unsur alam dan angksa, seperti simbol matahari, rembulan, dan bintang. Praktik peribadatannya kemudian turut pula dipengaruhi oleh konsep langit dan arah mata angin, seperti dalam agama Hindu atau Buddha. “Ada pengetahuan kuno mengenai konsep kosmologi yang menjadi dasar spiritual beberapa kepercayaan kuno. Manusia adalah bagian dari sebuah jagad besar (makrokosmos) alam semesta ini, manusia juga representasi dari jagad kecil (mikrokosmos),” kata Karin. Karenanya, manusia percaya kalau nasib dan garis hidupnya sudah ditentukan dan dibaca oleh langit. “ Konsep makrokosmos dan mikrokosmos merupakan konsep tua dari masa Babilonia yang kemudian menyebar ke India, mempengaruhi perkembangan agama Hindu-Buddha juga ,” lanjut Karin . Misalnya dalam pembangunan bangunan suci. Biasanya orang kuno menggunakan konsep mandala . Mandala adalah representasi dari alam semesta yang diwujudkan dalam konstelasi dewa-dewa berdasarkan tingkatannya. Konsep ini merupakan imajinasi visual mengenai alam raya. Sebagaimana yang dijabarkan dalam pameran, Candi Borobudur menjadi contoh bangunan Buddhis yang memperlihatkan konsep mandala dengan jelas. Dikenal arca lima tokoh Tataghata yang mewakili unsur pokok alam semesta: Wairocana, Aksobhya, Ratnasambhawa, Amitabha, dan Amoghasiddhi. Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa arca Wairocana menguasai zenith dengan sikap tangan memutar roda dharma . Aksobhya menguasai arah timur dengan sikap tangan kanan seakan menyentuh bumi. Ratnasambhawa menguasai arah selatan, dengan sikap tangan mengajar. Amitabha menguasai arah barat dengan sikap tangan bersemadi. Lalu Amoghasiddhi menguasai arah utara dengan sikap tangan menolak bahaya. Karena menjadi bagian dari jagad besar, gerak konstelasi bintang pun bisa dijadikan pertanda masa depan. Segala peristiwa dan kejadian dapat diprediksi dan berjalan sesuai dengan tatanan kosmik yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Dalam pameran yang masih berjalan hingga 10 Februari 2020 itu dijumpai cawan zodiak atau yang disebut dengan prasen. Ini biasanya menjadi perlengkapan upacara adat masyarakat Tengger, yang mendiami dataran tinggi di sekitar kawasan Pengunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur. Prasen digunakan sebagai wadah air suci oleh Dukun Pandita. J.G. de Casparis, epigraf asal Belanda, dalam Indonesian Chronology menjelaskan prasen umumnya dibuat pada era Majapahit, abad ke-14 hingga ke-15. Ia berbahan perunggu. Pada permukaannya terdapat simbol-simbol zodiak. Di antaranya Mesa (domba jantan, Aries), Vrsabha (lembu jantan, Taurus), Mithuna (anak kembar, Gemini), Karka (ketam, Cancer), Simha (singa, Leo), Kanya (gadis, Virgo), Tula (timbangan, Libra), Vrscika (kalajengking, Scorpio), Dhanusa (busur panah, Sagitarius), Makara (uadng, Capriconus), Kumbha (guci, Aquarius), Mina (ikan, Pisces). “Kehadiran tanda-tanda zodiak mirip jam matahari berhubungan dengan pengukuran waktu, misalnya penggunaannya dalam upacara keagamaan, mengetahui waktu kapan matahari memasuki setiap tanda zodiak,” jelas Casparis. Angkasa yang menjadi dasar konsep waktu hadir dalam konsep spiritual hingga masa kini. Tanda-tanda pergantian waktu diterjemahkan praktik ibadahnya. Karin mencontohkan dengan waktu-waktu kapan azan, sebagai penanda waktu salat dalam Islam, dikumandangkan. “Dalam Islam, perubahan waktu amat penting sebagai pondasi spiritual, termasuk untuk menentukan waktu perayaan ibadah seperti Ramadan,” kata Karin. Menurutnya, pengamatan bintang dan benda-benda langit di alam raya membantu manusia untuk mewujudkan kepercayaan mereka. Tak heran, sejak dulu mereka yang ahli mengamati pergerakan benda langit mendapat tempat penting di masyarakat. Di Jawa Kuno dan Bali Kuno dikenal jabatan wariga . Daud Aris Tanudirjo, arkeolog Universitas Gadjah Mada, menjelaskan tugas wariga adalah menentukan waktu dan tempat yang baik untuk memulai suatu pekerjaan. Caranya dengan membaca kejadian alam yang berulang atau gerakan benda-benda di langit. Beberapa prasasti menyebut profesi itu. Misalnya, prasasti-prasasti dari masa pemerintahan Rakai Kayuwangi (856-883) dan Rakai Watukura (901-910). Di sana disebut beragam jabatan di desa. Menurut ahli epigrafi, Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti , jika dijumlahkan semuanya kira-kira lebih dari 30 jabatan, di antaranya wariga . “Kita saat ini sudah memegang pengetahuan luar biasa itu dalam alat bantu berupa kompas atau GPS, misalnya. Smartphone kita memuat semua pengetahuan itu terasa sangat sederhana, tapi dulu, tak semua orang bisa memahami pengetahuan langit,” kata Karin. Pembaca bintang dan benda langit pada masa lalu tak cuma penting dalam spiritual, tapi dalam keseharian bahkan politik. Langit menentukan waktu tanam, waktu perjalanan, navigasi, menerjemahkan konsep pagi, siang, malam, untuk beradaptasi terhadap lingkungan, hingga meramal nasib kerajaan.

  • Makam Plumbon Jadi Situs Memori CIPDH-UNESCO

    PADA 1980-an, sebuah makam dengan tumpukan batu di hutan Plumbon, Semarang hanyalah sebuah tempat bagi orang-orang yang mencari peruntungan nomor togel. Sesekali ada orang berziarah, namun tak dikenal siapa mereka. Pasca Reformasi, tepatnya pada 2000, Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 (YPKP 65) yang diketuai Sulami, mantan Sekretaris Jenderal Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), sempat mengidentifikasi keberadaan makam yang diduga berisi kerangka korban-korban pembunuhan massal 1965 tersebut. Namun, tak ada kelanjutan dari indentifikasi kala itu, hingga pada 2014, sekelompok aktivis yang membentuk Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) mulai membuka memori masa silam dari makam di tengah hutan jati itu. PMS-HAM memerlukan waktu 7,5 bulan untuk melakukan penelitian mengenai identitas para korban serta melakukan pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah. “Jadi kami mencari kolega korban, keluarga korban, kemudian minta izin dari RT, RW, lurah, camat sampai walikota, Polsek, Polres, Polda, Koramil, sampai Kodam, dan kami tembuskan juga ke Mabes TNI,” ujar Yunantyo Adi Setiawan, Koordinator PMS-HAM kepada historia.id. PMS-HAM kemudian berhasil mengidentifikasi delapan nama dari 24 korban yang diperkirakan dikubur di makam tersebut. Mereka adalah Moetiah, Soesatjo, Darsono, Sachroni, Joesoef, Soekandar, Doelkhamid, dan Soerono. Moetiah adalah guru TK Melati dan anggota Gerwani di Patebon, Kendal. Soesatjo adalah patih yang merangkap pengurus PKI Kendal. Joesoef adalah carik di Desa Margorejo dan anggota PKI di Cepiring. Soerono adalah anggota PKI dari Kedungsuren. Sachroni adalah anggota PKI dari Mangkang. Sedangkan, Darsono, Soekandar, dan Doelkhamid , merupakan anggota Pemuda Rakyat. Yunantyo menyebut kedelapan korban dan belasan lainnya dibunuh tanpa proses hukum yang jelas. “Tidak ada pengadilannya. Baru dicurigai tapi sudah dibunuh. Jadi,sebagai upaya kemanusiaan kita waktu itu, rekonsiliasi dalam bentuk memanusiakan makam mereka,” terangnya. Awalnya PMS-HAM hendak melakukan penggalian terhadap makam tersebut. Namun, karena Komnas HAM tidak merespons permohonan izin yang diajukan, maka dipilih opsi pemasangan nisan. PMS-HAM juga berkaca dari peristiwa di Wonosobo pada 2000. Kala itu YPKP65 melakukan ekskavasi kuburan massal di Hutan Kaliwiro, Wonosobo. Ketika hendak dimakamkan ulang di daerah Kaloran pada 2001, terjadi penolakan dari Forum Ukhuwah Islamiyah Kaloran (FUIK). Beberapa kerangka bahkan dibakar. Maka untuk pemasangan nisan makam Plumbon, PMS-HAM melakukan dialog dengan Pemuda Pancasila dan Front Pembela Islam (FPI) terlebih dahulu. “Kita hanya bicara kemanusiaan saja , tidak bicara konflik masa lalu,” terangnya. Doa lintas agama pada acara pemasangan nisan makam korban pembunuhan massal 1965 di Plumbon, Semarang, 1 Juni 2015. (Dok. Yunantyo Adi Setiawan). Pada 1 Juni 2015, acara pemasangan nisan dilangsungkanbersamaan dengan Hari Lahir Pancasila. Dengan mengundang warga, tokoh lintas agama, serta berbagai elemen masyarakat dan ormas, acara dapat berjalan dengan lancar. PMS-HAM juga melibatkan pemerintah daerah, pimpinan Perhutani Kendal selaku pemilik lahan hutan, serta pihak kepolisian dan TNI. Akhirnya, sebuah batu nisan dari marmer bertuliskan delapan nama korban pembunuhan berhasil didirikan. “Intinya waktu itu kita resmikan dengan doa bersama lintas agama bersama warga bahwa tempat itu mulai 1 Juni 2015 menjadi tempat terbuka sebagai upaya kemanusiaan terhadap korban itu,” jelas Yunantyo. Nisan ini menjadi monumen pertama korban pembunuhan masal 1965 yang didirikan secara resmi atas izin pemerintah. Acara ini juga sekaligus menjadi peristiwa rekonsiliasi kultural bagi korban, masyarakat dan pemerintah. Pada 1 Mei 2019, Yunantyo mendapat surel dari The International Center for the Promotion of Human Rights (CIPDH) yang berada dibawah United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), yang meminta materi terkait makam Plumbon tersebut. CIPDH-UNESCO kemudian menetapkan makam itu sebagai situs memori terkait pelanggaran HAM berat. CIPDH-UNESCO didirikan pada 2007 di Buenos Aires, Argentina, untuk meningkatkan kesetaraan dan nondiskriminasi melalui program-program yang mempromosikan kesetaraan gender, keberagaman dan antarbudaya. CIPDH-UNESCO mengandalkan potensi pendidikan warisan budaya dan sejarah sebagai elemen penting dalam membangun identitas kolektif. Selain itu,CIPDH-UNESCO juga memprioritaskan pendidikan HAM sebagai pendorong untuk mempromosikan budaya koeksistensi demokratis dan akses yang setara terhadap HAM. Untuk itu, CIPDH-UNESCO berupaya memvisualisasikan situs-situs terkait dengan memori pelanggaran HAM berat di seluruh dunia sebagai bagian dari warisan budaya kolektif komunitas dalam bentuk peta interaktif. Proyek ini juga bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang bagaimana masyarakat berurusan dengan masa lalu mereka, kebijakan publik apa yang diberlakukan untuk menjaga memori dan untuk mengumumkannya, serta kesepakatan dan konsensus apa yang memungkinkan ingatan ini dikenal. Proyek ini mendata berbagai warisan meliputi arsip, warisan budaya tak benda, monumen, museum dan situs dengan tema perbudakan, genosida dan atau kejahatan massal, konflik bersenjata, dan persekusi politik. Makam Plumbon masuk dalam kategori situs persekusi politik bersama kuburan massal Priaranza del Bierzo di Spanyol dan Space for Memory and for the Promotion and Defense of Human Rights (Former ESMA) di Argentina. Selain makam Plumbon, CIPDH-UNESCO juga memasukan Aksi Kamisan dalam peta mereka. Aksi dengan pakaian dan payung hitam di depan Istana Negara itu masuk dalam kategori warisan budaya tak benda dengan tema persekusi politik.

  • Sepuluh Benda Bersejarah Hasil Repatriasi dari Belanda

    MUSEUM Nasional kini tengah melakukan kajian konten dan kajian konservasi terhadap 1.499 benda bersejarah hasil repatriasi dari Belanda. Sebagian besar benda memang belum memiliki data provenance (asal usul) yang lengkap. Beberapa data bahkan baru berupa perkiraan dari pihak Museum Nusantara, Delf. "Banyak koleksi yang belum jelas provenance -nya (asal usulnya). Perlu kajian khusus untuk memperdalam informasi koleksi itu sendiri," jelas Nusi Lisabila Estudiantin, Kepala Bidang Pengkajian dan Pengumpulan Museum Nasional Indonesia. Nantinya, kata Nusi, benda-benda tersebut akan diklasifikasikan dalam tujuh kelompok, yakni prasejarah, etnografi, arkeologi, numismatik dan heraldik, geografi, keramik dan sejarah. Berikut ini sepuluh dari 1.499 benda bersejarah yang diperoleh dari situs resmi Museum Nusantara ( collectie-nusantara.nl ): 1. Model Perahu dari Cengkeh Model perahu yang disusun dari kuncup-kuncup cengkeh. ( collectie-nusantara.nl ). Model perahu dengan pendayung dan tiga tiang ini terbuat dari susunan cengkeh. Tiap-tiap kuncup cengkeh disatukan dengan cara dijahit menggunakan benang. Benda berukuran 19 x 39,5 x 9 cm ini berasal dari paruh pertama abad ke-20. Terdapat dua model kapal dengan bentuk berbeda serta satu model bentuk set peralatan merokok dan satu set peralatan minum teh. Semuanya berasal dari Ambon, Maluku. 2. Ukiran Tanduk Rusa Tanduk rusa dengan ukiran dari Bali. (Fernando Randy/Historia). Dua tanduk rusa sepenuhnya dihiasi dengan ukiran. Ukiran-ukiran merepresentasikan pangeran, putri, raksasa, dan garuda dan lain sebagainya tersebar pada dua tanduk. Data Museum Nusantara menyebut ukiran tanduk ini "berkualitas tinggi". Dua tanduk tersebut kemungkinan merupakan tanduk rusa Jawa atau rusa Timor ( Cervus timorensis syn . Rusa timorensis ) yang dibuat atau dibawa dari Bali. Kedua tanduk ini diperkirakan berasal dari abad 19–20. 3. Kapak Batu Kapak batu berasal dari 5.000-1.000 SM. ( collectie-nusantara.nl ). Sebuah kapak terbuat dari batu yang diperkirakan berasal dari 5.000-1.000 SM. Kapak ini berbentuk cembung memanjang. Sementara bagian depannya datar dan bagian sisinya sempit dan rata. Data Museum Nusantara menyebut kapak berukuran 3 x 9 x 5,5 cm ini berasal dari Pulau Kalimantan. 4. Peralatan Perak Batak Beragam peralatan perak dari Batak. ( collectie-nusantara.nl ). Terdapat 12 objek berbeda yang digantung dengan rantai yang disatukan oleh cincin logam. Berisi berbagai peralatan seperti pembersih telinga, penjepit rambut, tusuk gigi, kotak tembakau hingga kotak kapur. Peralatan terbuat dari perak ini berasal dari paruh kedua abad ke-19 (sebelum 1890). Kemungkinan dibuat atau dibawa dari Karo, Sumatra Utara. 5. Liontin Ikan Berkepala Naga Liontin ikan berkepala naga dari Jawa Timur. ( collectie-nusantara.nl ). Sebuah liontin berbentuk ikan dengan kepala naga berukuran 10,5 x 13 x 0,4 cm. Liontin ini kemungkinan juga digunakan sebagai jimat keberuntungan. Liontin ini terbuat dari tembaga dan perak dan berasal dari paruh pertama abad ke-20. Kemungkinan berasal dari kebudayaan Peranakan di Jawa Timur. Liontin sejenis disebut sebagai "kalung baderan" atau kalung ikan mas. 6. Gayor Gong Gayor gong yang dibuat oleh seniman M.B. Djadjeng Lesono. ( collectie-nusantara.nl ). Gayor gong atau stand gong ini menurut data Museum Nusantara diproduksi pada 1925 oleh seniman M.B. Djadjeng Lesono dari Yogyakarta. Sementara gongnya disebut dibuat di Bogor dari perunggu. Gayor gong dihiasi ukiran dengan karakter dua orang penjaga dengan pedang di bagian atas. Terdapat  pula karakter naga di kedua sisi. Bagian tengah berupa lubang bundar untuk gong. Kemudian pada bagian atas merupakan pahatan karakter merak dengan ekor mengembang. Gayor gong ini berukuran 173,5 x 140 x 27 cm. 7. Laci Perhiasan Piramida Laci perhiasan berbentuk piramida. ( collectie-nusantara.nl ). Laci berbentuk piramida ini merupakan kotak perhiasan pernikahan. Namun, ada kemungkinan juga merupakan kotak obat. Laci berukuran 43 x 39 x 38 cm ini diperkirakan berasal dari Bali atau Jawa Timur. Dibuat atau dibawa ke Belanda pada paruh pertama abad ke-20. Terdapat satu lagi laci berbentuk piramida yang berasal dari Palembang. 8. Sisir Sisik Penyu Sisir yang terbuat dari cangkang penyu sisik. ( collectie-nusantara.nl ). Sisir dekoratif ini dibuat dari cangkang penyu sisik ( Eretmochelys Imbricata ). Bagian atas sisir melengkung dan memiliki motif cut-out . Di bagian tengah terdapat bentuk sebatang pohon kehidupan. Sementara di kedua sisi berupa ayam jantan yang berdiri di atas seekor rusa. Sisir dekoratif lainnya menunjukan motif garuda di bagian tengah, kuda poni dan seorang gadis. Sisir berukuran sekitar 15 x 13,5 x 5 cm ini kemungkinan berasal dari Sumba, dibuat atau dibawa ke Belanda pada paruh pertama abad ke-20. 9. Jas Hujan Sabut Kelapa Jas hujan sabut kelapa dari Belitung. ( collectie-nusantara.nl ). Benda ini berasal dari paruh kedua abad ke-19 (sebelum 1895). Jas hujan berdimensi 125 x 120 cm ini berasal dari daerah Dendang, Pulau Belitung (dulu Biliton). Jas hujan yang dibuat dari sabut kelapa ini berasal dari kebudayaan China dan menurut data Museum Nusantara, jas hujan ini memang digunakan oleh penambang China di Pulau Belitung. 10. Model Rumah Adat dan Perahu Model perahu dagang dari Kota Baru, Sumatra Barat. (Fernando Randy/Historia). Terdapat setidaknya 16 model perahu serta 12 model rumah dan masjid yang tururt dikembalikan. Model-model perahu mewakili bentuk perahu dari Bugis, Makassar, Sangihe, Bacan, Jawa, Madura, hingga Sumatra. Model perahu paling besar berupa perahu dagang dari Kota Baru, Sumatra Barat. Model perahu berukuran 197 x 53 cm bahkan memiliki dua atap. Diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-19. Sementara model rumah, masjid, dan lumbung merepresentasikan berbagai kebudayaan di Nusantara. Sebagian besar dibuat atau dibawa ke Belanda pada paruh kedua abad ke-19. Selain benda-benda di atas, masih ada ratusan tekstil, mata uang, litograf, perabot rumah, perhiasan, dan senjata. Pihak Museum Nasional telah menyiapkan gedung baru berlantai tiga yang akan difungsikan sebagai storage di belakang Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kedepan, juga akan dilakukan berbagai kegiatan penunjang penelitian dan konservasi museum di storage baru ini. "Nanti akan ada untuk pelatihan konservasi, sekolah konservasi, untuk museum-museum di Indonesia dari sana. Semacam workshop ," ujar Siswanto, Kepala Museum Nasional. Setelah kajian konten dan konservasi selesai, Museum Nasional rencananya akan menggelar pameran benda-benda hasil repatriasi pada Juni mendatang.

  • Petualangan Evertsen, dari Arktik hingga Arafura

    JANUARI hari ke-15, TNI AL rutin memperingati Hari Dharma Samudera, hari ketika Insiden Laut Arafura terjadi 58 tahun lampau. Insiden tersebut menewaskan Deputi I KSAL Komodor Yosaphat Sudarso setelah kapalnya, KRI Matjan Tutul, dikaramkan kapal perang Belanda Hr. Ms. Evertsen . Evertsen merupakan kapal fregat Koninklijke Marine (KM) atau angkatan laut Belanda  bernomor lambung F-803. Hingga saat ini Evertsen tercatat sebagai kapal terakhir yang memuntahkan peluru dalam pertempuran resmi yang melibatkan Belanda. Setahun setelah Pertempuran Laut Arafura atau yang oleh Belanda disebut “Vlakke Hoek Incident”, Evertsen dipensiunkan dan dibesituakan. Keputusan tersebut mengakhiri petualangan Evertsen sejak Perang Dunia II, Perang Korea, hingga Irian Barat. Mulanya, Evertsen merupakan kapal perusak dari kelas-S milik Royal Navy (Inggris). Namanya HMS Scourge . Menukil H. T. Lenton dalam British & Empire Warships of the Second World War , kapal itu dibuat galangan kapal Cammel Laird di Birkenhead pada 1941 dan rampung tahun berikutnya. Kapal dengan nomor lambung G-01 itu dinamai HMS Scourge saat masuk kedinasan sebagai bagian dari Armada Teritorial Inggris pada 14 Juli 1943. Dua mesin uap Admiralty 3-drum boilers- nya mampu melajukan kapal sepanjang 110,6 meter, lebar 10,9 meter, dan bobot 1.740 ton itu hingga kecepatan maksimal 36 knot . Kapal perusak HMS Scourge G01 milik AL Inggris sebelum berpindah tangan ke AL Belanda mulai 1946 (Foto: Imperial War Museum) Scourge dipersenjatai empat meriam 120mm Mark XII, sepasang meriam Bofors 40mm, empat pasang meriam Oerlikon 20mm, 16 tabung torpedo 21 inci, serta empat pelontar depth charge (bom dalam) berkapasitas 70 bom. Tugas pertamanya di luar perairan Inggris terjadi pada Desember 1943. Scourge turut serta dalam “Konvoi JW 55B”. Konvoi itu merupakan upaya Sekutu mengirim bantuan untuk Uni Soviet yang punya musuh sama dengan Sekutu: Jerman Nazi. Konvoi yang membawa 19 kapal dagang itu dilindungi 32 kapal perang beraneka jenis dari AL Inggris, Amerika, Kanada, dan Norwegia, di mana Scourge termasuk. Setahun berselang, Scourge turut serta dalam invasi Sekutu ke Normandia (D-Day), 5-6 Juni 1944. Scourge bagian dari Gugus Tugas-S, yang bertugas melindungi konvoi Sekutu menyeberangi Selat Inggris dan menyokong pembomban jelang pendaratan. Setahun usai Perang Dunia II, Evertsen diambil-alih Belanda. Beberapa sumber menyebutkan, Evertsen dibeli, bukan dihibahkan. “ Hr. Ms. Evertsen adalah salah satu kapal perang yang diambil-alih oleh AL kerajaan (Belanda, red. ) dari AL Inggris. Sebelumnya sebagai HMS Scourge , kapal itu terlibat dalam konvoi bantuan Sekutu menuju Murmansk. Evertsen di bawah pimpinan Letnan Laut I G. P. Küller pada 21 April tiba di Tanjung Priok dan disambut Panglima AL Belanda di Hindia Belanda Laksamana Madya A. S. Pinke,” sebut suratkabar Het Dagblad , 24 April 1946. Dipermak jadi Fregat Saat baru berpindah tangan ke AL Belanda, Scourge diganti namanya menjadi Hr. Ms . (di beberapa sumber disebut HNLMS) Evertsen dengan nomor lambung D-802. Nama itu untuk kelima kalinya digunakan Belanda untuk menamai kapal perangnya sejak abad ke-19. Nama Evertsen diambil dari nama dua kakak-beradik pelaut yang dianggap Belanda sebagai pahlawan di abad ke-17, Johan dan Cornelis Evertsen. Kala Belanda kembali ke Indonesia, Evertsen berbasis di Modderlust, Surabaya dan ikut dalam serangkaian patroli di Laut Jawa. Hingga 1949, ia juga beberapakali memulangkan para bekas interniran dan tawanan Jepang ke Eropa. Para awak Hr. Ms. Evertsen D802 kala bertugas di Perang Korea (Foto: NIMH) Setahun berselang, Evertsen ikut andil menyokong Sekutu di Perang Korea, sebagai bagian dari Gugus Tugas-96 di Armada ke-7 AL Amerika. Tugasnya memblokade jalur suplai musuh di Laut Kuning dan memberi sokongan salvo dari laut ke pasukan darat PBB. Usai Perang Korea, Evertsen kembali ke Belanda dan pada Oktober 1957 diubah menjadi fregat di galangan kapal Den Helder. Hal itu sebagai dampak kebijakan Belanda yang hendak memperkuat militernya di Irian Barat sekaligus “membesituakan” sejumlah kapal perang tuanya. “ Hr. Ms. Evertsen , Piet Hein, dan Kortenaer yang sebelumnya bertugas sebagai kapal perusak, telah dirombak. Kapal-kapal itu kini telah menjadi fregat pada 1 Oktober karena masih dibutuhkan armada kerajaan,” sebut suratkabar De Tijd , 14 Oktober 1957. Awal 1960, Evertsen yang sudah diubah menjadi fregat dan digganti nomor lambungnya menjadi F-803, berangkat dari Amsterdam ke Hollandia (kini Jayapura) via Terusan Panama. Ia jadi satu dari tiga kapal perang untuk memperkuat perairan Irian Barat, selain fregat Kortenaer dan kapal perusak Utrecht. Ketiga kapal inilah yang menghantam KRI Matjan Tutul pada malam 15 Januari 1962 di Laut Arafura. Dari ketiganya, Evertsen yang maju duluan dan melepas salvo pertama ke tiga kapal ALRI. Suratkabar De Volksrant , 6 April 1960 memberitakan, Evertsen sudah sering berpatroli di perairan Irian dan dikomandani Kapitein-luitenant (setara letnan laut) J.A. van Beusekom. “Pukul 22.07 Evertsen pertama kali memuntahkan peluru meriamnya kepada Matjan Tutul karena diduga akan mengadakan serangan torpedo karena haluan yang mengarah padanya. Pukul 22.10 sebuah tembakan Evertsen tepat mengenai buritan Matjan Tutul . Pada 22.30 tembakan tepat Evertsen mengenai bagian tengah…pukul 22.35 tembakan Evertsen tepat kena anjungan Matjan Tutul ,” sebut Julius Pour dalam biografi Laksamana Sudomo, Mengatasi Gelombang Kehidupan. KRI Matjan Kumbang dan KRI Harimau jelang Pertempuran Laut Aru/Laut Arafura (Foto: Repro "Mengatasi Gelombang Kehidupan") Setelah KRI Matjan Tutul tenggelam 15 menit berselang, Evertsen sebetulnya ingin mengejar dua MTB lain milik ALRI (kini TNI AL) namun Gubernur Nieuw Guinea Belanda Dr. Pieter Johannis Platteel memerintahkan Evertsen , Kortenaer, dan Utrecht kembali ke Hollandia. Setelah tugas di Irian, Evertsen dilelang seperti kapal-kapal perang lain yang sudah renta. Pada 12 Juli 1963 atau sehari setelah mengakhiri masa tugasnya di AL Belanda, ia dibesituakan. “Kemarin, kapal ini dipensiunkan AL kerajaan dan kemudian dilelang secara terbuka oleh inspektorat wilayah setempat (Hendrik-Ido-Ambacht, red ). Setelah dibongkar, 2,5 ton besi tuanya dibeli seharga 245.555 gulden oleh Frank Rijsdijk dalam pelelangan itu,” sebut suratkabar De Volksrant , 13 Juli 1963.  Nama Evertsen tetap digunakan AL Belanda. Setelah kapal fregat F-803 itu, Belanda menggunakannya lagi untuk frigat kelas-Van Speijk, HNLMS Evertsen F-815, yang dipakai sejak 1967 tapi dijual ke Indonesia –dan dinamai KRI Halim Perdanakusuma 355 – pada 1989. Setelah itu, nama Eversten dipakai oleh sebuah fregat kelas-De Zeven Provinciën bernomor lambung F-805, HNLMS Evertsen, yang digunakan sejak 2005 sampai sekarang.

  • Agen KGB di Indonesia Dieksekusi Mati

    SALAH satu operasi rahasia CIA (Dinas Intelijen Pusat Amerika Serikat) yang paling sukses terhadap Uni Soviet dilakukan di Indonesia. Operasi bersandi HABRINK ini berhasil mendapatkan informasi dari pejabat militer Indonesia mengenai alutsista dan persenjataan Uni Soviet yang dijual kepada Indonesia, termasuk sistem rudal, kapal selam, kapal perusak, kapal penjelajah, dan pesawat pembom.

  • Apa Kabar Michael Schumacher?

    NAMA Schumacher terpampang di kokpit mobil Formula One (F1) Scuderia Ferrari. Schumacher bahkan sudah menjajal beberapa varian jet darat Ferrari sejak 2019. Belum lama ini, ia mencicipi tiga mobil berjuluk “kuda jingkrak” itu di rangkaian sesi tes resmi musim 2020 di Bahrain. Namun, Schumacher itu bukan si legenda Michael “Schumi” Schumacher yang masih terbaring usia kecelakaan, atau Ralf Schumacher yang kembali dari masa pensiunnya. Schumacher itu ialah Mick Schumacher, anak kedua Schumi dari perkawinannya dengan Corinna Betsch. Mengutip GP Today , Sabtu (11/1/2020), Mick sebelumnya menjajal mobil Ferrari F2004 yang pernah dipakai ayahnya, mobil F2002 sebelum dilelang pihak Ferrari, serta mobil SF-90 yang dipakai duo Sebastian Vettel dan Charles Leclerc pada musim lalu. “Sulit mengatakan mana favorit saya. Mobil 2019 luar biasa. Juga bisa mengendarai F2002 dan F2004 selalu jadi mimpi saya,” ungkap Mick. Mick Schumacher, anak kedua Michael Schumacher yang mengikuti jejak ayahnya di balap mobil (Foto: formula1.com ) Apakah ini pertanda Ferrari bakal merekrutnya sebagaimana tim itu merekrut ayahnya pada 1996? Masih terlalu dini untuk menjawabnya. Usia Mick baru genap 20 tahun. Masih banyak jenjang yang mesti dilewati jebolan akademi balap Ferrari itu untuk bisa mengikuti jejak ayahnya. Mick saat ini masih mengaspal bersama tim Prema Racing di Formula 2. Schumacher yang Dirindukan Sudah enam tahun Schumacher tergolek di kamar perawatan. Koma sebagai dampak cedera trauma otak dialaminya setelah kecelakaan kala berski di Pegunungan Alpen pada 29 Desember 2013. Sempat dirawat intensif di Centre Hospitalier Universitaire de Grenoble, lantas dirujuk ke Centre Hospitalier Universitaire Vaudois, Schumi akhirnya dirawat secara privat di kediamannya di Gland, Swiss. Schumi dikabarkan sudah siuman, namun masih mengalami kelumpuhan. Sempat lima tahun tiada kabar, pada September 2019 Schumi dikabarkan dibawa lagi ke Hôpital Européen Georges-Pompidou, Paris untuk terapi stem cell atau sel punca dan Januari 2020 ini ia kembali menjalani terapi serupa. “Ada satu sampai tiga tahun rencana untuk periode regenerasi (terapi, red. ). Saya secara rutin mengunjungi Schumacher dan bicara pada keluarganya tentang kemajuan yang saya lihat dari kondisinya,” ungkap Profesor Jean-Francois Payen, dokter yang menangani Schumacher, dikutip Express , Senin (13/1/2020). Schumacher mengalami cedera trauma otak usai bermain ski di pegunungan Alpen pada Desember 2013 (Foto: Ferrari) Bagi penggila F1, nama Schumi ibarat dewa di lintasan. Tujuh gelar juara dunia yang digapainya melampaui rekor para legenda pendahulunya macam Juan Manuel Fangio (5 kali), Alain Prost (4), Jack Brabham, Niki Lauda, dan Ayrton Senna (masing-masing 3); sudah cukup banyak berbicara. Schumi memulai debutnya di F1 bersama tim Jordan pada 1992. Petualangannya dilanjutkan bersama tim Benetton. Bersama Ferrari selama satu dekade (1996-2006), Schumi mencetak banyak prestasi hingga namanya melegenda. Kariernya ditutup di tim Mercedes (2010-2012) setelah pensiun sementara pada 2006-2010. Sepanjang kiprahnya merebut tujuh gelar juara dunia (1994, 1995, 2000-2004), Schumi mencetak 68 kali pole position (posisi start terdepan) dan 91 kemenangan dari 155 kali naik podium. Namun cerita tentang Schumi bukan sekadar angka, melainkan penuh warna hingga dipuja banyak pembalap lintas generasi. Jago Balap di Usia Dini Schumi lahir di Hürth-Hermülheim, Jerman pada 3 Januari 1969 dari pasangan Rolf dan Elisabeth Schumacher. Sang ayah berprofesi sebagai pekerja bangunan yang hobi utak-atik mesin otomotif. Ayahnyalah yang memperkenalkan Schumi dengan mobil balap saat membelikan dia  hadiah mainan mobil berpedal di usia empat tahun. “Mainan mobil itu dipasangi mesin motor. Sayangnya ia menabrakkannya ke sebuah pohon. Namun kejadian itu membuatnya makin senang dengan balapan. Orangtuanya membawanya ke trek go-kart di Kerpen-Horrem, untuk didaftarkan ke klub balap sebagai anggota termuda,” ungkap Jack Goldstein dan Frankie Taylor dalam 101 Amazing Facts about Michael Schumacher. Melihat Schumi tumbuh dengan bakat di lintasan, Rolf dan Elisabeth mendukung penuh putranya. Untuk itu, Rolf sampai nyambi bekerja sebagai montir go-kart. Sementara, Elisabeth membantu dengan menjadi pelayan kantin di sirkuit Kerpen. Dukungan itu berbuah manis, Schumi jadi juara termuda antarklub di usia enam tahun. Saat hendak naik ke level pro, Schumi yang butuh mesin go-kart baru seharga 800 deutschemarks, menghadapi masalah. Orangtuanya tak mampu membelikannya mesin itu. Mereka tentu bingung. Schumacher memulai kiprahnya di balapan karting (Foto: michael-schumacher.de ) Beruntung, bakat Schumi dipantau seorang pebisnis lokal, Jürgen Dilk. Dilk, kata James Allen dalam biografi Michael Schumacher , merupakan orangtua Guido, salah satu pembalap cilik yang dikalahkan Schumi pada kejuaraan itu. Dilk memberi pertolongan pada Schumi. “Saya akan membayarnya dengan trofi-trofi, di mana hal itu jadi kesepakatan yang bagus. Lalu saya disponsori olehnya untuk maju ke balapan pertama saya. Dia mendanai 25 ribu deutschemarks dan membantu saya mencari sponsor lain. Ia sosok yang sangat penting bagi saya,” ujar Schumi, dikutip Allen. Batu sandungan lain menghadang Schumi saat berusia 13 tahun. Usianya mengancamnya tak bisa mengikuti kejuaraan Karting Junior lantaran regulasi balap di Jerman mensyaratkan, untuk bisa tampil di kejuaraan Karting Junior Jerman harus punya lisensi go-kart. Lisensi itu bisa didapat setelah seseorang berusia 14 tahun. Schumi pun mencari cara untuk mendapatkan lisensi dengan menyeberang ke  Luksemburg. Di sana, usia 13 sudah boleh mengajukan lisensi. Setelah mendapatkannya, Schumi kembali ke Jerman dan kemudian memenangi kejuaraan itu. Sejak saat itu, nyaris semua kejuaraan go-kart di Jerman maupun Eropa yang diikuti Schumi selalu berbuah trofi. Setelah direkrut tim Eurokart milik pebisnis otomotif Adolf Neubert pada 1987, Schumi memutuskan berhenti sekolah dan memilih menekumi dunia balap 100 persen. Hasilnya, Schumi menjuarai Formula König bersama tim Hoecker Sportwagenservice setahun berselang. Tahun berikutnya, Schumi masuk ajang Formula 3 bersama tim WTS Racing. Benetton jadi tim kedua Schumacher kala merintis kegemilangan di pentas F1 (Foto: michael-schumacher.de ) Willi Weber, pemilik tim WTS Racing, menjadi sosok penting bagi karier Schumi. Dialah yang membuka mata Schumi untuk masuk F1, hal yang sebelumnya tak pernah diimpikan Schumi. Weber ingin melihat ada pembalap Jerman berjaya di lintasan F1. Maklum, di era 1980-an itu pentas F1 masih didominasi pembalap-pembalap Brasil, Prancis, Inggris, dan Italia. “Saya sendiri balapan selama 20 tahun dan F1 selalu jadi misi saya, target utama, namun saya terlalu tua untuk jadi pembalap lagi. Jadi saya bermimpi membawa seorang pembalap muda Jerman ke F1. Michael memberikan saya firasat bahwa dialah orangnya,” kata Weber mengenang, dikutip Allen. Weber pun memasukkan Schumi ke program balapan Mercedes junior pada 1990. Kombinasi Weber dan kerja keras Schumi di beragam ajang, di antaranya World Sports-Prototype Championship dan World Sportscar Championship, membuahkan hasil ketika Schumi berhasil masuk F1 dan direkrut Eddie Jordan dari Mercedes dengan “mahar” USD150 ribu untuk pindah ke tim Jordan-Ford pada 1991. Namun debut Schumi di Belgia berjalan buruk, ia gagal finis di lap pertama. Karier Schumi di Jordan lalu sempat terhambat dokumen kontrak yang ternyata belum legal antara Jordan dan Mercedes. Schumi kemudian “dibajak” tim Benetton. Di Benettonlah Schumi memenangi balapan pertamanya, di Sirkuit Spa, Belgia pada 1992. Dari sana, kemenangan demi kemenangan pun terus dikoleksi Schumi hingga namanya melegenda.

bottom of page