top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pemuda Tionghoa Pun Berjuang

    JIKA menghubungkan era perjuangan kemerdekaan dengan etnis Tionghoa, orang-orang kerap hanya mengingat Pao An Tui (Badan Pelindung Keselamatan). Organ keamanan masyarakat Tionghoa yang didirikan pada 28 Agustus 1947 tersebut memang memilih jalan berlawanan dengan pemerintah Republik dan secara tegas memihak Belanda. “Orang-orang Tionghoa yang menjadi korban “masa bersiap” membentuk Pao An Tui dengan dalih untuk membela diri dari gangguan orang-orang Republik,” ujar Sulardi, penulis buku Pao An Tui 1947-1949, Tentara Cina Jakarta. Namun tidak seluruh orang Tionghoa mengikuti jalan Pao An Tui. Di Surakarta, sekelompok pemuda Tionghoa mendirikan organ perjuangan pro Republik bernama BPRT (Barisan Pemberontak Rakjat Tionghoa) pada 4 Januari 1946. Dalam waktu yang sama pula di Pemalang, para pemuda Tionghoa membentuk LTI (Lasjkar Tionghoa Indonesia).

  • Hoaks, Tantangan Pemuda Masa Kini

    PERKEMBANGAN teknologi informasi memudahkan hidup kaum muda. Hari-hari ini mereka menikmati hidup yang lebih nyaman ketimbang generasi sebelumnya. Tetapi hidup nyaman juga menjadi tantangan besar bagi anak muda dalam menjalankan perannya sebagai penjaga persatuan bangsa. “Musuh kehidupan yang luar biasa adalah kehidupan yang baik,” kata Alissa Wahid, aktivis sosial Jaringan Gusdurian, dalam talkshow ‘Peran Pemuda Dalam Sejarah Bangsa’ di pelataran parkir gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, 28 Oktober 2018. “Bingung ya, kalian?” tanya Alissa kepada puluhan peserta talkshow. Sebagian besar mereka siswa sekolah menengah atas dari berbagai daerah di Indonesia. “Kalau hidup kita nyaman, hidup kita enak, kita menikmati saja hidup itu sehingga tidak bisa mencapai hal-hal yang luar biasa,” lanjut Alissa.

  • Sukarno di Mata Pemuda-Pemudi

    SUKARNO pernah berkata bahwa bersama 1000 orang tua, ia bisa mencabut Semeru, tapi hanya dengan 10 pemuda, ia bisa mengguncang dunia. Kutipannya lalu menjadi salah satu yang paling terkenal dan diulang-ulang setiap tahun pada peringatan hari-hari bersejarah. Sukarno memandang peranan pemuda-pemudi penting bagi keberlangsungan hidup suatu bangsa. Dan barangkali kalimat itu hendak ia maksudkan menjadi cambuk untuk generasi penerus. Namun, sebelum bicara apakah cita-cita Bung Karno untuk mengguncang dunia itu telah terwujud atau belum, bagaimana pemuda-pemudi hari ini melihat sosok Bung Karno? Untuk menyambut Bulan Bung Karno, Historia.ID melalui talkshow “Sukarno Menurut Sepuluh Pemuda-Pemudi” pada Rabu, 10 Juni 2020, mengajak pemuda-pemudi dari berbagai daerah dan latar belakang untuk berbagi pandangan tentang Sukarno dan apa yang diwariskannya hari ini.

  • Kado Pemuda untuk Belanda di Bulan Puasa

    BELANDA melancarkan agresi militer pertama pada 21 Juli 1947 ketika umat Islam sedang puasa Ramadan 1366 Hijriyah. Setahun kemudian, pada 21 Juli 1948, tepat pada hari ulang tahun agresi militer Belanda yang juga pada bulan Ramadan 1367 Hijriyah, terjadi peristiwa menggemparkan, yaitu pelemparan granat di dekat bioskop Rex di Senen, Jakarta. Kira-kira pukul 22.00 WIB seseorang berjalan di Kramatplein, diikuti oleh dua orang di belakangnya. Atas petunjuk kedua orang itu, dia melemparkan granat ke arah kedai kopi yang terletak di persimpangan jalan. Granat mengenai meja, jatuh lalu meledak. Di antara orang yang sedang minum-minum di sana, lima orang serdadu KL (Koninklijk Leger atau Tentara Kerajaan Belanda) dan lima orang preman terkena pecahan granat dan menderita luka-luka. Dua serdadu yang luka berat dibawa ke rumah sakit, yang lainnya bisa langsung pulang ke tangsi. Di antara preman itu, seorang Indonesia dan seorang Tionghoa juga luka parah, yang lainnya, seorang Indonesia, seorang Tionghoa, dan seorang Belanda luka ringan.n.

  • Organisasi Mahasiswa di Balik Sumpah Pemuda

    ORGANISASI mahasiswa yang beperan penting dalam pelaksanaan Kongres Pemuda I (1926) dan II (1928) adalah Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Ia didirikan oleh mahasiswa RHS (Sekolah Tinggi Hukum) dan Stovia (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Batavia, serta THC (Sekolah Tinggi Tekhnik) di Bandung. Pendirinya antara lain Soegondo Djojopoespito, Sigit, dan Soewirjo. Didirikan pada 1925, PPPI baru diresmikan pada September 1926. “PPPI satu-satunya perkumpulan mahasiswa di Batavia yang anggotanya semuanya adalah mahasiswa yang beraliran nasionalis,” kata anggota PPPI, Ide Anak Agung Gde Agung, dalam memoarnya, Kenangan Masa Lampau. “Di dalam perkumpulan mahasiswa ini, masalah nasionalisme, kolonialisme, dan perjuangan kebangsaan dibicarakan secara serius dan tidak ada waktu dan kesempatan bagi para anggota perhimpunan ini untuk berfoya-foya atau mengadakan pesta-pesta.” PPPI, disebut dalam 45 Tahun Sumpah Pemuda, mengusahakan persatuan Indonesia dan ini berarti PPPI berpolitik dan “PPPI bukan merupakan korps mahasiswa Indonesia yang mau bersenang-senang saja. PPPI harus berjuang untuk kemerdekaan tanah air. Di samping berjuang, anggota-anggotanya harus tetap rajin belajar agar mendapatkan ilmu yang diperlukan buat perjuangan.”

  • Kisah Rumah Tempat Lahirnya Sumpah Pemuda

    BANGUNAN di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta lebih ramai dari biasanya pada Selasa siang, 27 Oktober 2015. Pengunjungnya murid sekolah, wartawan, dan umum. Tiga ibu-ibu dari instansi pemerintahan asik berfoto di ruang tamu. Tuan rumah sibuk berbenah untuk memperingati Sumpah Pemuda dengan pameran bertajuk “Kisah Perjuangan SM Amin.” Sekira 89 tahun silam, bangunan bergaya Eropa itu juga kedatangan banyak orang. Para pemuda dari berbagai daerah hadir mengikuti Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Sejak 1925, rumah itu sudah ramai. Pemiliknya, Sie Kong Liang, menjadikannya tempat indekos mahasiswa. “Awalnya Jong Java, baru tahun 1927-an dari berbagai daerah. Mohammad Yamin, A.K. Gani kos di sini,” ujar Dwi Nurdadi, pekerja dan pemandu Museum Sumpah Pemuda. Dengan biaya sekira f.7,50 per bulan, mereka menempati kamar-kamar di bagian belakang.

  • Kata Pemuda Zaman Kolonial tentang Sumpah Pemuda

    SEORANG pengendara sepeda melaju di Jalan Kawi, tak jauh dari asrama pelajar STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia Belanda) —sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat No. 106— di Batavia. Usia pengendara masih remaja belasan tahun. Dia memasang kain berwarna merah-putih di bagian depan sepeda. Polisi menghentikan si remaja dan menurunkan kain itu dari depan sepeda. “Demikianlah nasib ‘anak-anak nakal’ yang merasa dirinya terpanggil untuk setia kepada Sang Merah-Putih,” kenang Frits K.N. Harahap dalam “Bersifat Temporerkah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928?” termuat di 45 Tahun Sumpah Pemuda. Dia ingat peristiwa itu terjadi menjelang Ikrar pemuda di asrama pelajar STOVIA pada 28 Oktober 1928. Frits mendengar bahwa sekelompok pemuda akan menggelar rapat untuk membentuk organisasi kepanduan nasional di asrama pelajar Stovia. Dia dan teman-temannya telah bergabung di sebuah organisasi kepanduan bentukan Pemerintah Hindia Belanda. Tapi mereka merasa kurang puas dengan aktivitas di organisasi tersebut sehingga memutuskan datang ke lokasi rapat.

  • Peringatan 90 Tahun Sumpah Pemuda

    MENGINGAT 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda berarti mengingat semangat kaum muda di masa lampau. Dalam upaya meraih kemerdekaan, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk mengadakan kongres. Tujuannya menyatukan para pemuda dalam satu payung organisasi. Kongres Pemuda pertama pun terselenggara pada 1926. Dua tahun berselang, para pemuda kembali berkongres untuk kali kedua pada 27-28 Oktober 1928. Semangat mereka untuk berkumpul membahas perjuangan kemerdekaan tak tergerus meskipun harus menempuh perjalanan jauh. Ada yang dari Sunda, Sumatra, dan Ambon. Total pemuda yang hadir mencapai 750 orang tapi hanya 75 orang yang namanya tercatat. Dan dari sepuluh perempuan yang hadir, hanya tujuh yang terjejaki. Kongres Pemuda kedua melahirkan keputusan yang kemudian disebut Sumpah Pemuda. Istilah Sumpah Pemuda muncul setelah kongres untuk menyebut hasil kongres bersejarah yang punya semangat persatuan. Dari kongres ini kita bisa melihat semangat para pemuda untuk melakukan perubahan bagi bangsanya dengan membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Sembilan puluh tahun setelah Sumpah Pemuda, semangat pemuda itu masih dibutuhkan Indonesia. Masih banyak masalah yang harus dihadapi kaum muda, seperti pengangguran, kemiskinan, dan perpecahan akibat perseteruan antarkelompok. Peran pemuda menjadi penting sebagai generasi penerus yang menentukan kemajuan bangsa di masa mendatang. Untuk itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Historia mengadakan talkshow pada 28 Oktober 2018 pukul 09.00-10.00 WIB di Gedung Kemendikbud sebagai peringatan atas semangat para pemuda di masa lalu. Narasumber yang mengisi acara adalah Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud), Alissa Wahid (aktivis Gusdurian), dan Ratih Ibrahim (presidium Mafindo). Bagi anda yang tak bisa hadir, bisa mengikuti talkshow secara live streaming.

  • Lima Kiper dengan Rekor Gol Paling Subur

    AIR muka Alisson Becker tampak emosional. Kiper Liverpool berpaspor Brasil itu mengangkat telunjuknya ke langit dan disambut pelukan rekan-rekannya. Ia bukan baru melakukan penyelamatan heroik di bawah mistar gawang, melainkan mencetak gol yang membawa kemenangan timnya atas West Bromwich Albion pada matchday ke-36 Premier League di Stadion The Hawthorns, Minggu (16/5/2021). Gol Alisson lahir dari peluang “textbook” yang berawal dari tendangan pojok Trent Alexander-Arnold di menit ke-90+5. Alisson berlari sejauh 80 meter dari sarangnya menuju kotak penalti lawan. Umpan Alexander-Arnold itu tepat menuju kepalanya. Tandukan Alisson pun meluncur keras ke sisi kiri gawang, membuat kiper West Brom Sam Johnstone mati langkah. Selain jadi gol perdana dalam kariernya, gol itu membuat Alisson tercatat jadi kiper Liverpool pertama yang menorehkan gol sepanjang 129 tahun sejarah klub.

  • Pionir Sarung Tangan Kiper

    IBARAT belahan jiwa bagi seorang kiper, sarung tangan selalu menemani dalam segala situasi kemelut di muka gawang. Sebuah perlengkapan sepele dan jarang diperhatikan orang namun bagian tak terpisahkan dari kiper dalam sepakbola dan menarik sejarahnya, sampai PSSI mengunggah pengetahuan asal-mula sarung tangan kiperlewat berbagai akun media sosialnya. Menurut keterangan yang diunggah PSSI, kiper pertama yang menggunakan sarung tangan adalah Amadeo Carrizo, kiper River Plate dan timnas Argentina, pada tahun 1940. “Sarung tangan berbahan wol tersebut digunakan sebagai penghangat untuk menghadapi cuaca dingin. Bahkan jari tangan para penjaga gawang dapat terasa beku hingga kesulitan saat menangkap bola. Seiring berjalannya waktu, pada 1973, perusahaan sarung tangan asal Jerman menggandeng Sepp Maier, penjaga gawang timnas Jerman Barat untuk merancang sarung tangan khusus penjaga gawang sepak bola. Sarung tangan ini dirancang agar bisa membantu dan meningkatkan performa di bawah mistar gawang,” tulis PSSI di Facebook, Twitter dan Instagram-nya, Selasa (14/7/2020).

  • Kiper Keblinger Blunder

    SUDAH jadi “protapnya” bahwa seorang kiper tugasnya ya menghalau bola di bawah mistar gawang. Namun seiring perjalanan waktu, banyak kiper hobi keluar dari sarangnya untuk mengamankan bola. Evolusi terus berkembang, kiper ikut bantu bikin gol seperti yang diupayakan kiper Jerman Manuel Neuer kala menghadapi Korea Selatan (Korsel) di Kazan Arena, Rabu (27/6/2018). Namun dewi fortuna tak menaungi kiper cum kapten tim Die Mannschaft itu. Di pengujung laga saat masih tertinggal 0-1, Neuer keluar areanya untuk membantu rekan-rekannya berharap menyamakan skor. Saat mengolah bola di bidang lapangan lawan, bolanya direbut Ju Se-jong yang kemudian mengirim umpan panjang ke arah gawang Jerman. Son Heung-min yang bebas tanpa pengawalan langsung menyambut umpan itu dan dengan mudah melesakkan bola ke gawang kosong. Sontak, Jerman keok 0-2 di matchday terakhir Grup F Piala Dunia 2018 itu. Sang juara bertahan gagal di fase awal, mengulang catatan pahit delapan dasawarsa silam di Piala Dunia 1938 di Prancis. Selain mengacungi jempol buat kegigihan para “Pendekar Taeguk” (julukan Korea), mata publik tertuju pada blunder keblinger Neuer.

  • Kiper Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

    SEPANJANG sejarahnya, Manchester United (MU) telah melahirkan banyak pemain hebat mulai penyerang hingga kiper. Kiper-kiper utama klub berjuluk “Setan merah” itu acap jadi incaran klub-klub besar. Terakhir, Real Madrid menggoda kiper utama MU David de Gea agar tak memperpanjang kontrak senilai 14 juta poundsterling dan hengkang ke Santiago Bernabeu, markas Madrid. Sebelum De Gea, deretan kiper hebat MU itu antara lain Tim Howard, Fabien Barthez, Edwin van der Sar, Peter Schmeichel, Alex Stepney, dan Harry Gregg. Kecuali Gregg, semua kiper itu pernah menorehkan gelar dan mengalungi medali. Gregg tak sempat menorehkan prestasi dan justru mengalami sebuah tragedi. Tapi tragedi itu justru membuatnya menjadi satu-satunya kiper MU yang memiliki prestasi yang tak dimiliki kiper-kiper lain.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page