top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Para Pionir Timnas Sepakbola Indonesia

    NAMA Maulwi Saelan lebih dikenal sebagai perwira militer yang menjabat wakil komandan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno. Namun, tak banyak yang tahu bahwa Saelan adalah kiper Tim Nasional (Timnas) sepakbola Indonesia. Bahkan, Saelan menjadi penjaga gawang merangkap kapten saat Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0 dalam Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Saat itu, Uni Soviet diperkuat Lev Yashin, kiper berjuluk “laba-laba hitam” yang kelak meraih predikat pemain terbaik dunia Ballon d’Or 1963. Kiprah Maulwi Saelan dalam Timnas Indonesia diulas dalam buku Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951–1960 karya jurnalis Dimas Wahyu Indrajaya dan Aulli Reza Atmam. Tak hanya Saelan, buku ini juga merekam kisah para pemain lain yang menjadi generasi pertama Timnas Indonesia di bawah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), induk organisasi sepakbola Indonesia. Sebelum menjadi pemain bola, mereka berasal dari berbagai macam latar belakang. “Ada kapten kita di tim nasional periode 1951–1956 itu namanya Kapten Sidi. Dia itu tentara dari Solo. Letnan Sidi pernah terlibat dalam penumpasan PKI Madiun 1948 dan terlibat dalam penumpasan Kahar Muzakkar. Ada pedagang seperti Tan Liong Hau, yang beberapa bulan lalu meninggal dunia. Kiat Sek, seorang dokter gigi lulusan Universitas Trisakti. Posisinya dulu [istilahnya] spill kalau sekarang itu anchor, gelandang bertahan,” terang Dimas dalam diskusi bukunya di Museum Naskah Proklamasi, Jakarta Pusat (21/10).

  • Siapa Bachtaruddin Said Tokoh PKI Sumatera Barat?

    DI tengah makin gawatnya persoalan pandemi virus corona, isu politik tentang Sumatera Barat (Sumbar) menyembul di publik. Setelah perkara pernyataan Ketua DPR RI Puan Maharani soal provinsi itu bikin heboh, muncul isu anggota DPR RI dan politikus PDIP Arteria Dahlan yang disebut punya kakek pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sumbar. Isu bermula dari penjelasan budayawan Minang Hasril Chaniago dalam forum Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (8/9/2020) terkait demokrasi di tanah Minang. Hasril memaparkan bahwa meski orang Minang berbeda ideologi politik, hubungan personal dan silaturahimnya tak putus. Seperti di keluarga Arteria, contohnya. Keluarganya Masyumi namun ada Bachtaruddin Said, kakek Arteria, yang PKI. Arteria membantah pernyataan Hasril. Walau sama-sama asal Maninjau, Sumbar, Arteria mengaku tak punya hubungan darah dengan Bachtaruddin. “Tidak benar saya cucu tokoh PKI. Kakek-nenek, orangtua saya berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumbar. Memang ada tokoh PKI dari Maninjau bernama Bachtaruddin. (Tetapi) tidak ada hubungan kekeluargaan antara Bachtaruddin dengan kakek-nenek saya,” aku Arteria dalam keterangan tertulis kepada Historia.ID.

  • Jenderal Besar Itu Bernama Gatot Soebroto

    SELAIN nama Sukarno-Hatta dan Jenderal Sudirman, nama Jenderal Gatot Soebroto juga menghiasi nama jalan-jalan protokol di kota-kota besar. Mulai dari ibukota Jakarta, Medan, Bandung, Banjarmasin, hingga Makassar. Belum lagi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta, turut menggunakan nama Gatot Soebroto. Jelas bukan tanpa alasan. Semasa hidupnya, Jenderal Gatot Soebroto dikenal dekat dengan banyak kalangan, dari Presiden Sukarno hingga masyarakat. Yang membuat sosok Jenderal Gatot dicintai banyak orang adalah ia opsir jago tempur yang sifatnya “kebapakan” sehingga dituakan. Sisi lain yang jadi nilai plus Jenderal Gatot adalah profesionalitasnya. Itulah kesan yang didapat sejarawan Rushdy Hoesein mengenai sosok Jenderal Gatot. Gatot sosok yang paling dituakan dan paling dihormati pasca-wafatnya Jenderal Sudirman pada 1950. “Itulah Gatot Soebroto. Dia dikagumi semua perwira, termasuk Sudirman, Sarbini, Soeharto, itu mengakui Pak Gatot seorang perwira profesional. Ngomongnya kasar tapi hatinya baik. Disayang sama Bung Karno. Bung Karno percaya dia anti-komunis. Dia enggak memberi maaf sama sekali untuk peristiwa (Pemberontakan PKI) Madiun. Kepada orang ekstrem kanan dia berantas, ekstrem kiri juga dia berantas. Jadi dia prajurit betul ya,” kata Rushdy dalam kesempatan berbeda kala disambangi Historia.ID di kediamannya.

  • Politik Gentong Babi di Parlemen

    DALAM rapat Badan Anggaran DPR RI awal Mei 2010, sejumlah fraksi mengusulkan dana aspirasi yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 sebesar Rp8,4 triliun atau tiap anggota DPR (560 orang) mendapat jatah Rp15 miliar. Fraksi yang paling gigih memperjuangkannya adalah Partai Golkar. Alasannya untuk program percepatan pembangunan di daerah pemilihan. Kritik pun berdatangan. Demonstrasi dilakukan, menyebut dana aspirasi ini sebagai “gentong babi”, yang rawan korupsi alias hanya memenuhi celengan para politisi. Istilah “gentong babi” (pork barrel) mengacu pada pengeluaran yang diusahakan oleh politisi atau anggota parlemen untuk konstituennya sebagai imbalan atas dukungan politik, baik dalam bentuk kampanye atau suara pada pemilihan umum. Tujuannya agar mereka dapat terpilih kembali dalam pemilu berikutnya. Praktik politik ini dikecam karena cenderung menguntungkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum serta rawan penyelewengan dan salah sasaran.

  • Jempol Dijepit Telunjuk dan Jari Tengah

    PADA suatu kesempatan, pembesar Majapahit, Pamandana didekati perempuan gila. Dia memberi isyarat penuh makna: menjepit jempol tangan kanannya di antara jari telunjuk dan jari tengah. Kisah ini termuat dalam novel sejarah Majapahit: Bala Sanggrama karya Langit Kresna Hariadi. Isyarat penuh makna tersebut jelas rekaan dan anakronisme. Sebab, bukti dari isyarat cabul itu baru terdapat pada meriam Si Jagur di Museum Fatahillah, Jakarta. Meriam ini terbuat dari hasil melebur 16 meriam kecil, sebagaimana tulisan Latin pada meriam itu: Ex me Ipsa renata sVm (dari saya sendiri aku dilahirkan kembali). Meriam ini dibuat Manuel Tavares Bocarro di Makau, Tiongkok. Master pengecor senjata Portugis ini berasal dari Goa, India, di mana dia belajar membuat meriam dari ayahnya, Pedro Tavares Bocarro. Meriam itu dipersembahkan dan ditempatkan di benteng St. Jago de Barra di Makau, sebelum akhirnya dibawa ke Malaka. Nama Si Jagur diduga hasil penyederhanaan dari nama orang suci St. Jago de Barra.

  • Makna Bercinta dalam Kamasutra

    KUIL-kuil di Khajuraho, suatu desa di India bagian Madhya Pradesh, tersohor dengan pahatan-pahatan patungnya yang bermuatan eksotis. Begitu pula relief di candi Hindu dari abad ke-10, Muktesvara Deula di Orissa, India. Indonesia juga punya: Candi Sukuh di Jawa Tengah, juga dari masa Hindu. Seni pahat ini punya alasan tertentu. Filosofinya, alamiah dan lazim bagi seseorang untuk menjalani kehidupan penuh kama atau gairah cinta. Tapi dia akan jadi objek yang terkekang bila tak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya. Mengutip apa yang diutarakan Vatsyayana dalam Kamasutra: "Dapat dilihat bahwa mereka yang terlalu menyerahkan diri pada kehidupan seksual yang berlebih-lebih, sesungguhnya mereka memusnahkan diri mereka sendiri." "Itulah makna arsitektur dari kuil di Khajuraho, perlambang yang menunjukkan seni eksotis hanya terletak di bagian luar dari kuil, tempat pahatan-pahatan ini jauh dari kuil dalam dan patung-patung dewata suci Hindu," kata L.G. Saraswati Dewi, dosen filsafat Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Agama Hindu dalam kuliah umum "Erotika dari Timur: Kamasutra" di Komunitas Salihara, Jakarta, 3 Maret 2012.

  • Jembatan Keledai Tan Malaka

    TOKOH pergerakan Tan Malaka menggunakan “jembatan keledai” untuk menulis buku magnum opus-nya: Madilog. Madilog berasal dari jembatan keledai: yakni MAterialisme, DIalektika, dan LOGika. Tan Malaka sebenarnya ingin seperti Leon Trotsky dan Mohammad Hatta. Keduanya bisa mengangkut berpeti-peti buku ke tempat pembuangan. “Saya menyesal karena tak bisa berbuat begitu dan selalu gagal kalau mencoba berbuat begitu,” tulis Tan Malaka dalam Madilog. Ketika kali pertama dibuang ke Belanda pada 22 Maret 1922, Tan Malaka membawa buku-buku agama: Al-Qur’an, kitab suci Kristen, Budhisme, Confusianisme, Darwinisme. Juga buku perkara ekonomi dan politik yang berdasarkan liberalisme, sosialisme, atau komunisme; riwayat dunia; serta buku sekolah dari ilmu berhitung sampai ilmu mendidik. Buku-buku itu terpaksa dia tinggalkan karena ketika pergi ke Moskow dia harus melalui Polandia yang memusuhi komunisme.

  • Penemuan 16 Titik Kuburan Massal di Purwodadi

    DINI hari, sekira pertengahan awal November 1965. Desa Toroh, daerah Purwodadi, Jawa Tengah, masih sangat sepi. Bulan purnama pun masih terang. “Saya dijemput empat orang polisi dari Purwodadi. Mereka sampai di rumah sekitar pukul 03.00 pagi. Sejak itu saya langsung dibawa ke Kamp Lusi, yang terkenal dengan nama Gudang Seng di Kota Purwodadi,” ujar Kandar Sumarno, 77 tahun, kepada Historia. Kandar mendekam di Kamp Gudang Seng sejak November 1965 hingga Januari 1966 tanpa proses hukum. Pada Februari 1966, dia menghabiskan masa hukuman 14 tahun di Penjara Nusakambangan, lepas pantai selatan Jawa Tengah. Selama di Kamp Gudang Seng, dia menyaksikan setiap malam truk-truk tentara mengambil sekira 50 orang kawan-kawannya untuk dieksekusi.

  • Saltik Tiket

    MUSNI Umar, rektor Universitas Ibnu Chaldun, melakukan tipo atau saltik (salah ketik) saat membuat cuitan untuk mengkritisi mahalnya tiket pesawat Jakarta-Aceh yang mencapai Rp9,6 juta. Maksudnya kata tiket, malah salah ketik menjadi toket. Toket pun trending topic. “Mahal sekali. Pantas diprotes. Ada warga Aceh yang siasati mahalnya toket Aceh-Jkt. Kalau mau ke Jakarta lewat KLAI Malaysia baru ke Jakarta. Katanya jauh lebih murah,” cuit @musniumar (29/4). Kesalahan satu huruf membuat arti kata berubah jauh. Tiket adalah karcis kapal, pesawat terbang, dan sebagainya. Sedangkan toket adalah tetek, susu, dan payudara. Kata toket tak ada dalam KBBI karena kata ini adalah bahasa prokem yang muncul pada 1980-an.

  • Potret Pahit Penyintas 1965 dalam You and I

    MENYIAPKAN makan siang, meminumkan obat sirup hingga mengoleskan krim pereda nyeri. Begitu rutinitas sehari-hari Kaminah merawat Sri Kusdalini yang sudah mulai digerogoti penyakit di pengujung usianya. Rutinitas itu dijalani Kaminah dengan tulus ibarat seorang adik kandung yang menyayangi kakaknya. Kaminah aslinya tak punya pertautan darah dengan Kusdalini. Tembok rumah sederhana di gang sempit di kota Solo dengan cat terkelupas di sana-sini dan atap yang hampir ambruk jadi saksi bahwa kedua perempuan renta itu punya sejarah panjang yang membuat keduanya sudah seperti kakak-adik kandung. Keduanya menjalani hidup dalam kemiskinan. Beruntung sejumlah tetangga dekat Kaminah dan Kusdalini begitu peduli. Tidak hanya sering berbagi kebutuhan hidup, mereka juga bergotong-royong memperbaiki atap rumah Kusdalini tanpa imbalan sepeser pun.

  • Wenger dan Lima Pelatih Terawet Sejagat

    ARSENE Wenger adalah Arsenal dan Arsenal adalah Wenger. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para legenda The Gunners lainnya, Wenger sudah ibarat orang suci bagi klub asal London Utara itu. Juni nanti, di akhir musim 2017/2018, akan jadi periode pamungkasnya membesut Arsenal. “Saya telah memberikan tahun-tahun terbaik dalam hidup saya pada klub ini. Saya datang saat berusia 46 tahun dan bekerja tujuh hari seminggu –bukan enam hari atau enam setengah hari. Tujuh (hari seminggu) selama 22 tahun! Saya merasa seperti menghadiri pemakaman saya sendiri karena semua orang bicara tentang saya,” cetus Wenger di situs klub, arsenal.com, Minggu 22 April 2018. Sepanjang kiprahnya, Wenger dijuluki Les Professeur (sang professor) lantaran beragam kebijakannya turut mengubah wajah sepakbola Inggris. Pelatih kelahiran Strasbourg, Prancis 22 Oktober 1949 itu datang ke Arsenal pada Oktober 1996 untuk menggantikan Bruce Rioch.

  • Lima Gebrakan Revolusioner Wenger

    DIPUJA dan dihujat. Dua hal itulah yang selang-seling diterima Arsene Wenger sepanjang 22 tahun mengasuh klub London utara Arsenal FC. Sanjungan setinggi langit menghampirinya kala dia membawa The Gunners dua kali menyabet double winners –raihan trofi Premier League dan FA Cup– pada musim 1997/1998 dan 2001/2002. Pujian kian deras kala Arsenal menutup musim 2003/2004, tim ini mengukir rekor tak terkalahkan sepanjang musim, mengulang Preston North End 115 tahun sebelumnya. Namun, cercaan dan makian langsung menghampiri Wenger begitu prestasinya jeblok. “Wenger Out!” kata slogan yang pernah diusung fans Arsenal saat performa tim itu buruk. Belakangan, terutama pada 2017, tekanan terhadapnya untuk menyudahi masa bakti di Emirates Stadium kian intens. Sejumlah kelompok fans menginginkan pergantian rezim Wenger. Les Professeur (sang professor), julukan yang diberikan media Inggris pada Wenger yang tak pernah berhenti menggali pelajaran sepakbola modern, resmi meninggalkan Arsenal pada 13 Mei 2018. Kepergiannya tak hanya meninggalkan kenangan manis buat fans Arsenal, dia meninggalkan banyak hal berharga buah inovasinya kepada sepakbola Inggris. Apa saja warisan revolusioner Wenger yang dikenang?

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page