Hasil pencarian
9853 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Kaki Prabowo Muda
TAHUN 1970 menjadi tahun yang menggembirakan buat Subagyo Hadi Siswoyo, yang biasa dipanggil Subagyo H.S., dan Luhut Binsar Pandjaitan. Di tahun itulah keduanya berhasil lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Keduanya kemudian masuk Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), yang berbaret merah dan kini dikenal sebagai Kopassus. Karier keduanya cukup baik. Setelah sebelas tahun berdinas, pada 1981 keduanya sudah berpangkat mayor. Subagyo dan Luhut pada awal 1981 hendak dikirim ke Jerman Barat untuk belajar anti-teror. Mereka akan belajar kepada pasukan Grenzschutzgruppe 9 (GSG 9), polisi perbatasan yang terlibat dalam upaya melawan kelompok Black September yang mengacau Olimpiade Munich 1972. Selain keduanya, ada pula junior mereka di Kopassandha yang baru lulus Akabri pada 1974, yakni Kapten Prabowo Subianto. Serangkaian tes lalu diikuti ketiganya. Setelah itu, akhirnya diputuskan Subagyo tidak diikutkan dalam pelatihan tersebut. “Terus terang, kepergian dua rekan tadi sempat membuat saya down, kecewa,” aku Subagyo H.S. yang –ingin sekali belajar di sana– dalam biografinya, Subagyo HS KSAD Dari Piyungan.
- D.I. Pandjaitan dan Aktivis Mahasiswa Indonesia di Jerman
RUMAH dinas Kolonel Donald Isaac Pandjaitan sekali waktu kedatangan tamu seorang anak muda. Namanya Rudy, mahasiswa teknik penerbangan Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen yang berasal dari asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Rudy mengutarakan gagasan tentang perlunya Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) mengadakan Seminar Pembangunan. Pandjaitan menyambut baik gagasan tersebut. PPI Jerman Barat akhirnya menyelenggarakan Seminar Pembangunan pada Juli 1958, di Hamburg. “Pendekatan beliau (Pandjaitan) kepada mahasiswa begitu berkesan, sehingga nasihat dan pembinaannya mempengaruhi karakter dan sikap para pemuda dan mahasiswa Indonesia yang dekat dengan beliau,” kenang Rudy dalam pengantar biografi D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran yang ditulis Marieke Pandjaitan br. Tambunan. Rudy yang bernama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie itu kelak menjadi Menteri Riset dan Teknologi (1978-1998) kemudian Presiden RI ke-3 (1998—1999). Menurutnya, masalah pembangunan masa depan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Persoalan itulah yang dikemukakannya pada 1957, sewaktu berkunjung ke rumah Pandjaitan di Robert Koch Strasse No. 24, Venusberg, Bonn.
- D.I. Pandjaitan Cari Jodoh di Tengah Perang
MENGENAKAN pantalon dan kemeja lengan pendek, Mayor Pandjaitan mengulurkan tangan. Sikapnya tampak sigap penuh percaya diri. Ditatapnya sosok wanita itu lekat-lekat. “Pandjaitan,” katanya memperkenalkan diri. “Marieke boru Tambunan,” sambut si wanita. Itulah kali pertama pertemuan D.I.Panjaitan dengan Marieke yang kelak menjadi istrinya. Perkenalan itu bermula pada Mei 1946, ketika Pandajaitan pulang kampung ke Tapanuli untuk menjenguk adik-adiknya yang masih kecil. Saat itu, Pandjaitan menjabat komandan Batalion I Resimen IV TKR Riau merangkap komandan pertahanan kota Pekanbaru.
- Sudiro Muda Antara Belajar, Berorganisasi, dan Berdarmabakti
SEKIRA sebulan setelah proklamator Mohammad Hatta pergi ke alam keabadian, pikiran R. Sudiro Hardjodisastro mengawang ke masa lalu tatkala diminta salah satu putri Bung Hatta, Meutia Farida Hatta, untuk turut menulis ingatannya tentang Bung Hatta buat sebuah buku kenang-kenangan. Pikirannya “mengembara” ke masa tatkala Sudiro sebagai pelajar pertamakali mendengar nama dan kiprah Bung Hatta. Bukan semata lantaran Sudiro kenal lama dengan Bung Hatta. Permintaan juga datang dari fakta Sudiro merupakan bagian dari keluarga besar Bung Hatta berkat perkawinan Sri Edi Swasono dengan Meutia Hatta pada 1973. Sri Edi merupakan adik sepupu Sudiro, mengingat ayah Sri Edi, yakni Moenadji Soerohadikoesoemo, terhitung paman bagi Sudiro. Ingatan Sudiro tentang Bung Hatta sendiri dikisahkannya dalam kumpulan karangannya yang dibukukan berjudul Pelangi Kehidupan. Nama Bung Hatta, kisahnya, pertama didengarnya tatkala Hatta dipenjara di Belanda. Ia mengetahuinya bukan hanya dari media massa namun juga dari kawan-kawannya sesama pelajar di sekolah menengah keguruan Hogere Kweekschool (HKS) dan organisasi Jong Java.
- Profil Pahlawan Revolusi: D.I. Pandjaitan, Jenderal-Pendeta yang Gugur di Hadapan Keluarga
MASIH ingat salah satu adegan dramatis dalam film Pengkhianatan G30S/PKI: seorang perwira tinggi ditembak mati oleh gerombolan penculik persis di depan anak dan istrinya. Namun sebelum tewas diberondong, sang jenderal terlebih dulu berdoa dan melawan para penculiknya. Siapakah dia? Sosok jenderal yang digambarkan itu tak lain adalah Donald Icazus Panjaitan. Lahir di Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925, Pandjaitan dikenal sebagai perwira yang mahir berbahasa Jerman. Hal itu disebabkan karena tempat dia dibesarkan adalah lingkungan Rheinische Mission Geselchaft, sebuah kelompok zending yang berasal dari Jerman. Setelah lulus pendidikan dasar Hollandsche Inladsche School (HIS), Pandjaitan masuk sekolah menengah Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) tanpa tes. Itu terjadi karena nilai seluruh pelajaran yang pernah diikuti Panjaitan dianggap bagus.
- D.I. Pandjaitan Bernatal di Tengah Hutan
PADA masa revolusi kemerdekaan, berada di rumah berkumpul bersama keluarga adalah kesempatan langka yang sangat mahal. Hal seperti inilah yang dialami Kapten Donald Isaac Pandjaitan ketika Belanda melancarkan agresi militer yang kedua. Waktu itu Pandjaitan menjabat sebagai kepala staf umum yang mengurusi logistik Komandemen Sumatra. Pada 24 Desember 1948, Pandjaitan mengadakan misi ke Riau. Panglima Komandemen Sumatra Kolonel Hidayat Martaatmadja menugaskan Pandjaitan mencari senjata untuk persiapan perang gerilya. Pandjaitan disertai beberapa orang stafnya. Mereka antara lain Letnan Pieter Simorangkir, Letnan Sumihar Siagian, Sersan Mayor G.G. Simamora, dan Bustami -Wali Negeri Rao- sebagai penunjuk jalan. Pukul 06.25 pagi, rombongan Pandjaitan berangkat dari Rao, Pasaman, Sumatra Barat. “Mereka berlima menelusuri jalan tikus, memasuki rimba raya di lereng-lereng Bukit Barisan. Bustami yang mengenal wilayah gawat itu berjalan di depan,” tutur istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br, Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran.
- Ketika D.I. Pandjaitan Mengangkat Orang Jerman Jadi Intel
BONN, kompleks Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman Barat. Di kamar kerjanya, Kolonel Donald Isaac Pandjaitan tekun menulis. Atase militer Indonesia untuk Jerman itu kerap merancang brosur dan pamflet propaganda. Isinya mengemukakan keinginan penduduk asli Irian Barat (kini Papua) untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Pandjaitan berencana akan menyebarkannya di negeri Belanda. “Siapa yang akan menyebarkan pamflet dan brosur itu nanti? Felix Metternich,” ujar Marieke Pandjaitan br. Tambunan, istri Pandjaitan, dalam biografi D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran. Felix Metternich adalah orang Jerman yang dikaryakan di Kedubes RI bagian Atase Militer (Atmil). Dia telah bekerja di sana sejak Kolonel Askari, pendahulu Pandjaitan, menjabat Atmil. Pandjaitan mulai menjabat Atmil pada 1956. Ketika konflik Irian Barat bergolak, Pandjaitan memakai jasa Metternich dalam serangkaian operasi rahasia.
- D.I. Pandjaitan, Balada Jenderal Pendeta
SETELAH dipilih menjadi orang nomor satu di TNI AD, Letjen TNI Ahmad Yani dipanggil Presiden Sukarno. Pembicaraan seputar siapa saja perwira yang akan membantu Yani sebagai asisten. Yani menyodorkan satu nama sebagai Asisten I bidang intelijen: Donald Isaac Pandjaitan. Pandjaitan lahir di Balige, Sumatra Utara pada 9 Juni 1925. Karier militernya dimulai pada masa pendudukan Jepang ketika menjabat Shodanco (setara mayor) Peta (Pembela Tanah Air) di Pekanbaru, Riau. Dibesarkan dalam pendidikan misi Zending dari Jerman, Rheinische Mission Geselchaft (RMG), Pandjaitan terampil berbahasa Jerman. Dia menjadi atase militer Indonesia di Bonn, Jerman Barat antara 1956-1962.
- Nona Manis di Lapangan Ikada
KENDATI diangkat menjadi gubernur Jawa Barat yang pertama, Soetardjo Kartohadikusumo lebih banyak berdinas di Jakarta. Keberadaannya di ibu kota negara itu sehubungan dengan rencana kedatangan pasukan Sekutu yang akan mengambil alih kekuasaan Jepang di Indonesia. Selain itu, Soetardjo cukup dikenal oleh pejabat pemerintah militer Jepang di Jakarta karena sebelumnya menjabat sebagai syucokan (residen) Jakarta. “Dalam suatu rapat di kantor Bung Karno, kantor Mahkamah Agung sekarang, diputuskan akan memberitahukan dengan resmi tentang proklamasi kemerdekaan itu kepada pemerintah militer Jepang. Saya ditunjuk sebagai utusannya,” aku Soetardjo dalam otobiografinya Soetardjo: “Petisi Soetardjo” dan Perjuangannya yang ditulis Setiadi Kartohadikusumo. Pada bulan-bulan pertama bertugas di Jakarta, Soetardjo banyak menyaksikan kejadian penting bersejarah. Salah satunya peristiwa di Lapangan Ikada (kini kompleks Monumen Nasional), Gambir, pada 19 September 1945. Itulah perhelatan rapat akbar untuk memaklumatkan proklamasi kemerdekaan kepada masyarakat luas. Mobilisasi massa yang dikerahkan pada hari itu diperkirakan mencapai 200.000 orang.
- Gubernur di Tengah Operasi Anti Mata-Mata
DALAM menjalankan tugasnya, Gubernur pertama Jawa Barat Soetardjo kerap pergi-pulang melintasi Tasikmalaya-Bandung. Untuk alasan keamanan, keluarganya dimukimkan di Tasikmalaya. Sementara, Soetardjo berkantor dan tinggal sebentar di Bandung. Secara berkala, Soetardjo mengunjungi keluarganya. Kesempatan berkunjung dimanfaatkan untuk melihat kondisi keluarga seraya melepas rindu. “Sebulan sekali saya menegok keluarga di Tasikmalaya berkendara mobil lewat jalan selatan melalui Majalaya,” ujar Soetardjo dalam memoar Soetardjo: “Petisi Soetadjo” dan Perjuangannya yang dituliskan anaknya Setiadi Kartohadikusumo. Meski menjabat sebagai gubernur, ketika bepergian Soetardjo enggan memakai iring-iringan. Tujuannya agar tak memancing perhatian tentara Belanda dan Sekutu. Soetardjo hanya ditemani seorang agen polisi kantor gubernuran tanpa konvoi dan barisan pengawal.
- Berburu Mata-Mata di Era Revolusi
LANGIT masih terang ketika serangkaian kereta api memasuki Stasiun Kranji. Begitu berhenti, para anggota lasykar bersenjata langsung meminta semua penumpang untuk turun dan memeriksa identitas mereka satu persatu. Beberapa orang yang dicurigai langsung digiring ke kantor kepala stasiun dan dihadapkan kepada tim interogator. Di antara yang tercurigai adalah seorang lelaki paruh baya dengan seorang anak perempuannya. Mereka dianggap mata-mata NICA karena didapati ada kertas berwarna merah putih biru, simbol bendera Belanda, di dalam tasnya masing-masing. “Pas sesudah magrib, itu laki dan anak gadis-nya langsung dieksekusi dengan sebilah celurit persis di belakang stasiun,” ungkap Mat Umar, 92 tahun, salah seorang saksi kejadian tersebut.
- Mata-mata Pembunuh Sultan Demak
PADA suatu hari di tahun 1549. Raja Jipang Arya Penangsang memberikan perintah kepada Ki Rangkud, seorang kajineman (telik sandi, mata-mata, atau polisi rahasia). "Hai Rangkud. Bunuhlah Kakanda Pangeran Prawata. Pakailah keris pusakaku ini." Ki Rangkud menyanggupi, menerima keris pusaka bernama Kyai Setan Kober, lalu berangkat. Ketika dia sampai di Demak, Sunan Prawata sedang sakit dan bersandar pada permaisurinya. "Siapakah kau ini?" tanya Sunan Prawata. Ki Rangkud menyampaikan maksud kedatangannya. "Saya utusan Pangeran Arya Penangsang, disuruh membunuh tuanku."





















